
Riana Anggraini namanya, usianya kini menginjak 53 tahun. Sudah tak muda lagi, tapi jiwanya tetap bermuda. Masih sempat nongkrong bersama rekan sosialitanya. Masih suka sama lawan jenis, walaupun dia sudah dua kali jadi janda.
"Sinta, nanti tolong batalkan semua schedule saya. Hari ini saya mau fokus dengan urusan Melani " ujar Riana dari sambungan telepon.
"Baik, Bu. Tadi ada non Lisa kesini cari Ibu. Cuma sepertinya dia bawa pengacara masuk ke ruangan ibu." jelas Sinta.
"Apa! kenapa tidak kalian cegah?"
"Maaf, kami tidak berani. Soalnya pintu di kunci dari dalam. Bukan wewenang kami mencegah mereka." jelas Sinta.
"Oke ... Oke ... Nanti biar aku yang urus soal itu. Pokoknya batalkan semua schedule hari ini." Ulti Riana. "Baik, bu." Sinta pun memutuskan sambungan telepon dari atasannya. Riana menarik nafas dalam-dalam. Belum selesai satu masalah satu lagi masalah yang datang. Sejenak mobil pun di berhentikan, Riana memejamkan matanya.
"Mas, kamu lihat masalah yang sudah di timbulkan? Anak kamu si Lisa sudah bertindak kelewatan. Dia tidak pernah mau kerja di kantor selama ini. Kenapa dia bertindak seolah dia yang punya perusahaan. Eh, iya emang dia anak pemilik perusahaan. Tapi sayangnya, dia tidak akan bisa berbuat apa-apa sebelum Diko dewasa." ucap Riana sembari memandang langit.
Riana kembali melajukan mobilnya menuju kantor polisi. Kemacetan kembali melanda kota jakarta. Padahal sudah diatasi dengan adanya jalan layang. Namun sebagian kendaraan masih memilih jalan biasa.
Suara hentakan kaki memasuki kantor polisi. Tampak seorang wanita yang tidak muda lagi berjalan seperti panik. Siapa yang tidak panik saat meeting di kantor dia dapat kabar kalau putrinya di tangkap polisi. Apalagi kalau kabar itu di ungkapkan depan relasi bisnisnya.
"Lani... Lani kamu benar-benar bikin mama encok kali ini. Harusnya Diko juga di interogasi, kan dia yang menyebabkan kejadian ini. Mama benar-benar kecewa sama kamu, Nak." Riana hanya bisa ngedumel dalam hati.
"Permisi saya wali dari Nona Melani, bisakah bertemunya dengan anak saya." kata Riana menyapa salah satu petugas kepolisian.
"Ibu duduk dulu, Nona Melani sedang di ruang interogasi." kata petugas tersebut.
"Apa! Anak saya masih di interogasi. Kenapa lama sekali, padahal yang harus di interogasi bukan anakku, tapi di Diko. Apa kalian takut sama anak kecil? Badan saja yang besar tapi letoy!" Riana menoyor salah satu petugas kepolisian.
"Jaga sikap anda, Bu!" protes teman si polisi.
__ADS_1
"Tapi, benarkan? Kalian takut sama anak kecil makanya anak saya yang jadi sasaran. Saya tidak mau tahu, bebaskan anak saya, dia tidak bersalah, tapi Diko yang salah." amuk Riana.
Suara amukan Riana menghebohkan seisi kantor polisi. Tentu saja siapapun yang melihatnya menebak perempuan itu sosok yang angkuh dan sombong.
Amukan itu juga menyita perhatian Bu Laksmi dan Panji. Sesaat Panji membisikkan pada mertuanya kalau wanita itu ibu dari Melani. Perempuan yang sudah mencelakai Echa.
Mendengar hal itu Bu Laksmi bergemuruh hebat. Emosinya memuncak mengingat siapa yang membuat anaknya harus masuk ruang operasi. Panji kalah kuat menahan ibu mertuanya untuk melabrak Riana.
"Jadi kamu ibunya, Melani?" suara perempuan meredam amarah Riana.
"Laksmi?" Riana membulatkan matanya. Siapa yang tidak kaget saat bertemu dengan rival dari masa lalu.
PLAAAAK!
"Pelakor!" amuk Bu Laksmi.
"Iya, ini aku. Perempuan yang kamu rebut suaminya. Perempuan yang kamu buat punya suami berasa janda. Kamu belum puas, Riana! Merebut mas Wahyu dan membuat anakku terlantar. Sekarang kamu kirim anakmu untuk menghancurkan anakku. Dasar perempuan laknat! aku tidak akan membiarkan kamu hidup untuk menghancurkan Echa!" Bu Laksmi menjambak rambut pirang Riana. Begitu juga sebaliknya, Riana pun tak mau kalah pun membalas apa yang di lakukan Laksmi.
"Tolong! Tolong!" Pekik Riana yang kesakitan rambutnya di tarik sama Bu Laksmi. Beberapa petugas kepolisian melerai keduanya. Bu Laksmi masih emosi ingin kembali melabrak Riana. Akan tetapi Panji dengan sigap menahan tubuh ibu mertuanya.
"Dia ... Dia yang sudah merebut ayahnya Echa! Dan sekarang anaknya juga yang buat Echa celaka. Lepaskan, Ibu, Ji. Ibu harus kasih pelajaran untuk wanita laknat itu!" Panji dengan sekuat tenaga memasukkan Bu Laksmi ke dalam mobil. Dia sudah kadung malu atas keributan yang di lakukan ibu mertuanya.
"Saya mohon ibu harus mengendalikan diri. Saya juga ingin mereka yang mencelakai Echa di hukum. Tapi tidak dengan sikap ibu seperti tadi. Yang malah ibu dan Tante Riana yang masuk penjara. Tolong, bantu usaha saya untuk menegakkan keadilan untuk Echa." mohon Panji.
"Saya tahu mungkin ibu marah sama Tante Riana. Saya tidak tahu ada masalah apa kalian di masa lalu. Yang pasti saya minta tolong sama ibu supaya kooperatif dalam masalah ini. Saya minta dengan mohon sangat pada ibu. Demi Echa, Bu."
"Astaghfirullah, Nak." Bu Laksmi istighfar berkali-kali. Beberapa kali mengusap wajahnya serta mengurut dadanya. Dia terlanjur emosi ketika tahu kalau ibunya Melani adalah Riana. Perempuan yang sudah merebut Wahyu, suaminya. "Apa Echa tahu soal ini? Saya mohon sama nak Panji jangan cerita sama Echa kalau dia punya saudara lain."
__ADS_1
"Ibu yakin kalau itu saudaranya Echa? Bisa jadi itu anaknya dengan suaminya sekarang. Saya kenal Bu Riana, dulu mendiang suaminya kenal baik dengan om Adrian. Walaupun hanya kenal dengan suaminya saja."
"Andai kamu tahu siapa Adrian sebenarnya,Ji."
...****...
Riana sudah bisa menemui putrinya. Dengan penampilan acak acakan karena habis di labrak Laksmi. Mantan istri mendiang suaminya. Apakah dia yang salah dalam hal ini. Tidak, bagi Riana justru Wahyu lah yang mendatangi dirinya. Merajut cinta yang kandas karena di tentang keluarga Wahyu.
Lani melihat penampilan mamanya yang awut awutan mengerutkan dahinya. Apa yang terjadi dengan Riana. Apakah ada masalah di kantor? pertanyaan demi pertanyaan terlintas di benaknya.
"Ya ampun, Ma. Angin ****** beliung mana yang menyapa mama." goda Lani.
"Ini bukan saatnya main-main Lani. Kamu kalau kejadian itu salahnya Diko, kenapa tidak berontak saat di tangkap. Mama bisa tuntut Lisa dan Diko supaya mempertanggungjawabkan perbuatan mereka. Kamu tahu, Lisa tadi membawa pengacara untuk masuk ke ruang kerja mama."
"Ya ampun, Ma. Kenapa dia sekarang sibuk sama perusahaan papa. Dulu kemana saja, pas mama sempat pusing dengan urusan kantor setelah papa meninggal dunia. Mama kesini mau bebaskan aku, kan?" Lani tertawa datar.
"Tentu, Nak. Mama mau balas sakit hati pada Laksmi. Gara-gara dia, papa kamu tidak dapat warisan dari nenek kamu. Malah kesannya terbuang. Dan kamu tahu warisan keluarga papamu di kendalikan oleh Malik. Mungkin untuk anaknya Laksmi."
"Ma, tolong bebaskan aku dari sini. Aku nggak salah, aku hanya minta Diko menumpahkan minuman ke gaun Theresia. Itu saja, jika kejadian selanjutnya itu kecelakaan semata. Tanya saja sama Diko."
"Kamu tenang saja, Nak. Mama akan lakukan apapun untuk membebaskan kamu."
"Tidak ada yang bisa membebaskan perempuan berbahaya seperti dia!" suara bariton terdengar di belakang mereka.
...****...
Maaf ya saya lama update. Dunia real life benar-benar menyita beberapa minggu ini. Terimakasih masih tetap setia dengan kisah Panji dan Echa.
__ADS_1