
Mobil yang di kendarai Panji melaju ke tempat tujuan. Mengantarkan sepupu iparnya menuju perumahan elit di kota Jakarta. Bukan tempat asing yang sukar di jelajahi. Karena sejatinya sudah menjadi rumah kedua untuk persinggahannya. Matanya melirik ke arah gadis muda yang duduk di belakang. Sejak gadis itu sampai banyak yang dia dengar cerita tentang masa kecil mereka.
Panji tak begitu banyak ingat keakrabannya dengan Indri. Saat kecil dia hanya tahu ayahnya saja, tak pernah dia melihat sosok ibunya. Menurut cerita versi para tetangga, ibunya terkena "Pulo Gantung" di mana mereka mendapati sang ibu bernama Suci sudah gantung diri saat Panji berusia enam bulan.
Hari-harinya hanya bermain bersama teman sebayanya salah satunya, Tika. Saat Panji SD, Bu Laksmi mulai bekerja di rumah mbok Darmi. Melayani segala kebutuhannya. Walaupun rumah mereka sederhana, sebenarnya harta mbok Darmi sangat banyak. Panji malah di sekolahkan di Ungaran. Sekolah yang bergengsi saat itu, begitu juga dengan SMP nya. Beda dengan anak sekitarnya yang bersekolah di tempat tinggal mereka.
Setiap Bu Laksmi datang ke rumah pasti membawa bayi kecil nan cantik. Bayi yang selalu di letakkan di ayunan kain di kamar mbok Darmi. Panji yang sudah kelas empat SD sangat senang dapat teman baru. Dia telaten mengasuh bayi kecil tersebut. Sesekali ayahnya pulang ke desa mereka bawa banyak makanan dan baju baru untuk Panji. Tanpa malu Panji meminta sang ayah membawa oleh-oleh untuk Echa kecil. Echa itu panggilan yang Panji berikan kepada sang bayi. Efek pelafalannya yang cadel saat itu.
"Adek cantik." kata Bu Laksmi saat menggendong Echa kecil.
"Edek cantik, Ya, buk." timpal Panji kecil.
"Adek, Nak."
"Susah buk, Echa aja, Yah! Edek cantik, Yah!" ucap Panji bersemangat.
Saat kelas enam SD, ayah Panji meninggal dunia akibat kecelakaan kerja. Ayahnya bekerja di perusahaan properti di kota Purwakarta. Jauh dari kota kelahirannya. Sebulan sekali beliau pulang ke rumah. Setelah tamat SMA keluarga besar Harsa datang ke rumah. Bertiga dengan Adrian saat itu. Mereka mengaku keponakan mbok Darmi. Panji langsung percaya karena Bu Laksmi juga mengenal pakde Harsa.
Terkadang kalau dapat liburan dia bisa pulang memberi oleh-oleh untuk Bu Laksmi dan Echa. Tapi Panji dapat kabar Echa tinggal bersama ayah kandungnya. Padahal dia selalu merasa rindu bertukar kabar pada adik kecilnya.
"Kalau dulu aku bisa mengenal Echa lebih cepat dari Savira. Mungkin aku sudah menikah lebih cepat." batin Panji.
"Sekarang gadis kecil yang aku asuh malah jadi istriku."
"Masuk, Ji." ajak Tika setelah sampai di kediaman kerabatnya.
Panji menelan salivanya. Pasalnya dia kenal dengan pemilik rumah ini. 10 rumah dari kediamannya Dewi Savitri. Mana si pemilik rumah kenal baik dengan dirinya.
Tika memperkenalkan Panji pada sepupu suaminya. Tentu dia memperkenalkan lelaki itu sebagai suami dari sepupu. Seorang lelaki paruh baya menyapa Panji dengan ramah.
__ADS_1
Panji diajak berkumpul di teras belakang. Kebetulan semua keluarga istrinya ikut bergabung dengan acara tuan rumah. Paklik Malik terlihat langsung akrab dengan keluarga besannya. Lelaki paruh baya itu langsung menyambut menantu keponakan dengan sumringah.
"Panji ini kalau tidak salah pernah jadi calon mantunya Dewi kan?" tebak pak Herman.
"Iya, Om." jawab Panji lirih.
"Owh. Anaknya Dewi sudah menikah. Kamu sendiri apa kabar? Bukankah terakhir kita bertemu waktu ada acara di kediaman Dewi." lagi-lagi dia mengangguk.
"Alhamdulillah, Om. saya sehat wal Afiat. Om sendiri apa kabar?"
"Ya saya beginilah." pak Herman meletakkan tangannya di belakang pundak istrinya. "Nikmati masa tua di rumah."
"Panji ini suami dari sepupu saya, Pak." kata Tika memperkenalkan Panji sebagai iparnya.
"Jadi kamu sudah menikah, Ji?" tanya pak Herman.
"Alhamdulillah sudah, Om." jawab Panji.
"Ma, tidak usah membahas yang bukan urusan kita. Dia datang bertamu bukan untuk diajak bergosip. Maaf, ya, nak Panji. Istri saya memang kurang akur sama Dewi Savitri. Biasalah soal perempuan." Panji hanya mengangguk kecil. Dia paham bagaimana kalau perempuan saling membenci pasti akan mencari pasukan.
"Kalau boleh tahu istri kamu anak pengusaha mana. Kamu itu nak Panji jangan sembarangan pilih istri. Ingat bibit bebet dan bobotnya. Lelaki yang mapan akan bertemu dengan wanita yang setara." kata Bu Herman.
"Kan sudah di bilang kalau Panji itu suami dari sepupunya Tika, Ma." kata pak Herman.
Bu Herman langsung menebak dari kalangan mana istrinya Panji. Bibirnya menyunggingkan senyuman penuh arti. Entah apa yang ada di pikiran Bu Herman. Wanita itu menatap sinis ke arah Tika.
Tika tidak suka dengan cara pandang Bu Herman. Itu sama saja merendahkan Echa, adik sepupunya. Kalau Bu Herman tahu istri Panji adalah gadis dari kampung pasti makin banyak bacotnya. Tika mengkode Panji untuk meninggalkan rumah. Karena adiknya sudah diantar dengan selamat.
"Maaf, Bu. Saya baru ingat mau jemput istri dan mertua saya di pusat perbelanjaan. Kasihan mereka pasti meninggu." elak Panji.
__ADS_1
"Oh, iya, Nak Panji. Salam untuk istri dan mertuanya. Maafkan ucapan istri saya tadi. Dia memang begitu. Sekali lagi saya minta maaf soal tadi." kata pak Herman.
"Nggak apa-apa, Om. Saya tidak bisa memaksa orang mengikuti jalan pikiran kita. Dalam hidup memang ada yang pro ada yang kontra. Saya pamit, Om. Oh ya maaf, om masih bekerja sama dengan PT Bramantyo?"
"Alhamdulillah masih. Saya lebih suka cara kerja anaknya daripada Johan. Ya mungkin karena masih muda cara berpikirnya beda sama orang dulu. Tapi memang pabriknya sejak lepas dari perusahaan Shabab lebih bagus." Panji hanya menganggukkan kepalanya. Dia juga sependapat dengan pak Hermansyah. Pengusaha pabrik teh kemasan di Jakarta. Putra Herman adalah teman Panji semasa kuliah.
Panji pamit dari kediaman Hermansyah. Mobil Panji melewati sebuah rumah yang tidak asing di matanya. Lama dia menghentikan mobilnya menatap rumah yang nampak atasnya saja. Benarkah dia belum move on seperti yang di katakan istrinya. Lelaki kembali menghidupkan mesin mobilnya. Tampak Bi Inah sedang berjalan membawa barang belanja.
"Bi," sapa Panji menyembulkan kepalanya di balik kaca mobil.
"Den Panji, kok di sini? Mau ke tempat Bu Dewi. Bu Dewi sejak selesai resepsi tidak pulang ke rumah. Soalnya nemenin non Dira di Lembang. Non Vira sudah di boyong suami ke rumah mereka di Cibubur. Cuma ada non Tina dan kedua anaknya di rumah." cerocos Bi Inah.
"Enggak, Bi. Aku antarkan sepupu dekat daerah sini. Bibi habis belanja ya, Uti mana? Kok belanja sendiri."
"Uti ngasuh si kembar, Den. Saya. ..."
Panji langsung keluar mobil mengambil belanjaan bawaan Bi Inah.
"Saya antar, ya. Banyak nih bawaan bibi." Bi Inah mengangguk. Kapan lagi bisa naik mobil gratis.
****
"Kamu sudah hubungi suami kamu, Cha?" tanya Bu Laksmi.
"Belum, kita naik angkot saja lah, Bu. Tempat lokasi kerabat Tika sama jarak ke pasar jauh bu. Bisa lebih dari satu jam sampainya."
Echa bisa saja menelepon Panji. Tapi dia tidak mau manja mengandalkan suaminya. Lagian jarak apartemen ke pasar lebih dekat. Lebih mudah pulangnya. Echa juga tahu password kunci pintu apartemennya.
"Tunggu..."
__ADS_1
"Bu, jarak pasar ke tempat mas Panji lebih dekat. Jadi kita naik grab saja. Tuh Bu, mobilnya sudah sampai." Echa membawa barang belanjaan di bantu sang sopir memasukkan di belakang mobil.
"Terserah kamu saja, Cha. Tadi bukannya suami kamu bilang dia yang akan menjemputnya. Istri yang baik harus nurut sama perintah suaminya. Kamu kok sejak nikah jadi lebih ngeyel, ya."