After Wedding (Panji Dan Echa)

After Wedding (Panji Dan Echa)
BAB 58


__ADS_3

"Ya Allah, Sayang. Badan kamu panas banget. Apa ini karena ulahku tadi malam. Maafkan aku, Cha." Panji memeluk tubuh Echa.


Setelah Riana pergi, Panji membawa Echa ke tempat tidur. Seperti janjinya pada dokter Panca tadi, akhirnya yang di tunggu datang.


Panji mempersilahkan dokter tersebut memeriksa istrinya.


"Suhu tubuh naik hingga lebih dari 37,7 derajat Celcius. Biasanya, demam dipicu oleh reaksi tubuh dalam melawan berbagai macam infeksi, organ tubuh yang sedang meradang, atau saat sedang mengalami alergi. Dan ini sepertinya ada gejala asam lambung pada istri anda."


"Cuma itu dok, tidak ada gejala lain. Tadi saya melihat istri saya seperti dari kamar mandi memegang perutnya. Kayaknya habis muntah gitu." Tebak Panji.


"Bisa jadi itu salah satu gejala asam lambungnya. Di harap kedepannya untuk tidak mengkonsumsi minuman seperti teh, susu ataupun kopi. Itu sangat tajam untuk penderita asam lambung." jelas dokter.


Jadi Echa bukan hamil. Batin Panji.


Raut wajah Panji terlihat sedikit kecewa setelah mendengar penjelasan dokter. Tadi dia terlanjur senang saat melihat Echa seperti akan muntah muntah. Berharap apa yang diinginkan segera terwujud.


"Apa bapak berharap istri anda hamil?" tanya dokter Panca. Seakan bisa baca pikiran Panji.


"Begini, Pak. Setiap pasangan tentu ingin memiliki momongan secepatnya. Pernikahan itu ibadah dan bonusnya adalah keturunan. Pernikahan tentu bukan mengandalkan saling cinta saja."


"Tapi mental pasangan juga harus di kuatkan. Ketika istri sakit berilah perhatian, anda berada di luar sementara anda tahu istri anda kurang sehat. Jika ada apa-apa bagaimana? dari ujian seperti ini saja bisa melihat bagaimana mental seorang suami. Maaf dengan ucapan saya tadi. Tapi kalau hal ini saja anda abaikan, tapi malah mengharap pamrih."


Menikah dan punya anak adalah impian setiap orang dalam hidupnya. Dengan memiliki seorang anak, rumah tangga yang dijalani pun jauh lebih berwarna dan bahagia dari sebelumnya. Makanya, tidak heran bila setiap pasangan ingin selalu cepat menikah dengan seseorang yang dicintainya. Namun, menjadikan menikah dengan tujuan ingin punya anak sebenarnya salah.


Tidak ada yang bilang, bahwa punya anak itu tidak penting. Namun, perlu diketahui menikah itu bukan hanya perkara soal reproduksi dan punya anak.


Banyak tujuan lainnya yang sering dilupakan oleh pasangan suami istri, seperti ingin menghabiskan waktu bersama dengan seseorang yang dicintai, dan ketenangan jiwa serta menyempurnakan agama.


Jika tujuan menikah hanyalah punya anak, maka ketika suatu saat nanti menikah dan tak punya anak, tentunya akan bercerai dan marah pada pasangan, bukan? Oleh karena itu, ubahlah mindset agar bisa berpikir lebih terbuka saat menjalani hidup, terutama pernikahan.

__ADS_1


"Jadi saya harap anda harus bersabar. Saya tidak tahu apakah istri anda mengandung atau tidak. Karena kita harus menunggu dia bangun terlebih dahulu. Melihat kondisinya saat ini memang gejala asam lambung. Ini resep yang bisa di berikan pada istri anda. Makanannya di jaga untuk sementara ini jangan kasih yang pedas ataupun asam." Dokter Panca pun pamit setelah memeriksa Echa.


Panji menarik nafas dalam-dalam. Kalau memang Echa belum terbukti hamil tak masalah. Mereka masih bisa usaha setelah Echa sembuh. Hanya saja dia sudah merasa layu setelah di siram air.


"Apa salah kalau aku berharap?" batin Panji sambil berbaring di samping Echa.


Panji merebahkan tubuhnya di samping Echa. Bantal yang tadi menyangga kepala Echa kini berpindah ke lengan kekar. Terasa suhu badan Echa belum menurun. Sedangkan lengan yang satu lagi sudah membelit pinggang istrinya.


Waktu terus bergulir. Langit sudah mulai menampakkan cahaya kekuningan.Cahaya menantul di balik tirai kamar. Angin berhembus pelan. Panji memicingkan matanya, dia ingin bangun tapi takut menggangu sang istri. Mengingat lengannya menggantikan fungsi bantal.


Baru beberapa menit matanya terbuka di kejutkan dengan suara telepon. Bukan hanya Panji yang terbangun, Echa pun sontak membuka matanya. Dia cukup kaget melihat Panji sudah berbaring di sebelahnya.


"Mas, sudah pulang." ucap Echa lirih.


Echa akan bangkit tapi di tahan oleh Panji. Meminta sang istri tetap berbaring sementara dirinya langsung membuka handphone. "Dari ibu," lapor Panji.


"Assalamualaikum,Bu."


"Waalaikumsalam, Ji. Kamu lagi di mana? rumah atau kantor?"


"Aku di rumah, Bu. Ada apa?"


"Echa nggak apa-apa, kan. Dari tadi kepikiran Echa terus. Takut dia kenapa-kenapa." Panji melirik kearah Echa. Handphone pun berpindah tangan.


"Bu, ini Echa."


"Ya Allah, Nak. Kamu baik-baik saja kan?"


"Echa baik, Bu. Kenapa ibu kedengarannya cemas?"

__ADS_1


"Nggak tahu, Nak. Dari tadi ibu kepikiran sama kamu. Takut kamu kenapa-kenapa. Apalagi Panji kan di kantor. Kamu jangan masuk kerja lagi, Nak. Di rumah saja." Echa yang mendengar hal itu melemparkan pandangan ke arah Panji. Kenapa sang ibu tiba-tiba melarang dia masuk kerja.


"Mas, ngadu apa sama ibu?" bisik Echa. Panji menggelengkan kepalanya. Dia merasa tidak mengadu apapun sama ibu mertuanya.


"Nanti kita bicarakan lagi." bisik Echa.


"Ya, bu. Kalau soal kerja untuk sementara ini aku masih lanjutkan. Masih ada tugas yang belum selesai." Panji mendengar hal itu hanya menghela nafas panjang. Kali ini dia harus kalah suara dari istrinya.


"Alhamdulillah kalau kamu tidak apa-apa. Yasudah kalian jangan lupa shalat. Barusan adzan Magrib di desa tetangga ada tahlilan mendoakan Afan yang katanya kritis. Kamu sudah tahu, Nak?"


"Sudah, Bu. Tadi mas Panji sudah kesana."


"Oh iya. Ibu mau sholat terus pergi ke tempat tahlilan. Untung dia nggak jadi sama kamu, Cha. Cepat jadi janda, masih muda sudah sakit parah. Kritis pula." Echa dan Bu Laksmi menyudahi pembicaraan mereka.


"Kamu belum cerita sama aku apa yang terjadi sama kak Afan, Mas." todong Echa.


"Nanti saja. Kamu sekarang kurang sehat. Kata dokter kamu asam lambung. Jadi tidak memikirkan hal lain. Pikirkan kesehatan sendiri, sayang. Dan aku tidak mau istriku yang cantik ini kenapa-kenapa." Echa merasa risih saat Panji memeluknya.


"Mas, bisakah tidak dekat-dekat."Echa memilih menjaga jarak dari suaminya.


"Kok gitu? Sini sayang," semakin Echa menghindar semakin Panji mendekatinya.


"Mas kalau dekat-dekat kamu tidur di luar!"


"Ya ampun, Cha. Segitunya sama suami sendiri. Apa aku harus mandi? Yasudah aku mandi dulu mungkin karena tadi dari rumah sakit." Panji mengendus bajunya. "Masih wangi kok, padahal ini pakai AC. Jadi tidak terasa keringatnya. Sayang aku mandi dulu."


"Mandi di kamar mandi luar saja!" perintah Echa.


"Astaga ini rumahku kok kayak lagi ngekost." umpat Panji.

__ADS_1


__ADS_2