After Wedding (Panji Dan Echa)

After Wedding (Panji Dan Echa)
BAB 62


__ADS_3

Saat ini Panji sudah berada di besi roda empat. Tertahan dalam kemacetan jalan besar. Langit yang tadinya kekuningan mulai berayap dalam kegelapan. Suara adzan magrib berkumandang. Ah, dia harus cepat pulang. Mengingat tadi Echa pulang terlebih dahulu. Efek kehamilan yang membuat istrinya mual kepanjangan.


Beberapa hari yang lalu Panji pun menceritakan soal Riana yang menemui Echa. Tentu tempat cerita adalah sang mertua.


"Apa! Jadi Riana mendatangi Echa? Apa yang dia katakan pada anakku?"


"Dia bilang kalau Echa punya saudara, Bu. Tapi belum tentu juga itu saudara Echa. Mengingat dia juga punya suami lagi. Bisa jadi itu cuma untuk menakuti Echa."


"Darimana dia tahu tempat kamu?"


"Suaminya teman om Adrian, Bu. Jadi saya sudah kenal lama."


"Adrian lagi? kenapa yang berhubungan dengan Adrian selalu membahayakan orang lain?" nada bicara Bu Laksmi terdengar gusar.


"Selalu membahayakan? Maksud ibu apa? Apa sebelum sudah ada kasus seperti ini?" tanya Panji.


"Maaf, Nak. Ibu ada urusan lain." Bu Laksmi langsung menutup telepon.


"Tapi, Bu ..." Dari seberang sana sudah mengakhiri saluran telepon.


Panji mendengus kasar. Satu lagi yang masih menjadi misteri. Kenapa ibu mertuanya seperti mengenal Adrian. Memang dulu yang menjemput dirinya bersama pakde Harsa dan Bude Leni ikut juga Adrian. Tapi apa orang disana juga mengenal Adrian.


Kembali ke masa sekarang. Panji masih terjebak dalam kemacetan. Langit sudah sangat gelap menandakan waktu magrib sudah lewat. Sesekali menarik nafas lega ketika jalanan mulai melonggar. Dia bisa pulang ke rumah. Dalam bayangannya, sang istri pasti menanti kepulangannya. Sejak positif hamil, Echa di minta pulang sebelum waktu ashar. Beruntung istrinya menurut. Apalagi sekarang ada Atik yang kembali kerja di rumah mereka.


"Echa kenapa tidak angkat telepon, ya?" Panji kembali menghubungi istrinya. Tetap saja tidak diangkat.


"Tik, istri saya tidak apa-apa kan?" Panji memilih menghubungi Atik.

__ADS_1


"Tidak apa-apa, pak. Bu Echa sedang makan. Katanya lapar. Sejak pulang tadi banyak sekali yang mau dia coba." lapor Atik. "Tidak apa, Tik. Mungkin anakku yang lapar." sahut Panji terdengar legowo. Saluran telepon pun terputus karena Panji kembali fokus dalam setiran mobilnya.


Begitu sampai, dia pun langsung menuju ke unit apartemennya. Entah kenapa sejak Echa hamil semangat hidupnya semakin bertambah. Saking bahagianya sebagai calon ayah.


"Assalamualaikum," Panji mengetuk pintu rumahnya.


"Waalaikumsalam," Panji mengerutkan dahinya suara wanita yang bukan istrinya.


"Ibu?" Panji kaget melihat ibu mertuanya yang membuka pintu.


"Iya, ini ibu. Kenapa emangnya?" buru-buru Panji menyalami ibu mertuanya.


"Kenapa tidak kabari kalau mau kesini? Kan bisa aku jemput."


"Kalau saya kesini kasih tahu kalian bukan surprise namanya. Kamu tidak suka saya datang kesini?" Panji buru-buru menggelengkan kepalanya. Sebenarnya Panji sedikit risih dengan kehadiran ibu mertuanya. Untuk saat ini mengenyampingkan rasa risih itu. Mungkin ada benarnya kalau ibu di tempat mereka. Siapa tahu Echa urung pergi kerja. Panji selalu kalah suara kalau berdebat dengan Echa.


"Sudah pulang, Mas." Echa menyambangi suaminya di ruang tengah. Panji sudah duduk sambil melepaskan jasnya. Echa langsung membantu suaminya dengan mengambil tas dan jas milik Panji.


"Bude," sapa Panji dalam sambungan telepon.


"Ji, Alhamdulillah. Barusan saya dapat kabar, perempuan itu mencabut tuntutannya pada Afan. Sebentar lagi Afan di nyatakan bebas."


"Alhamdulillah, aku akan kabari pengacara, bude. Secepatnya Afan akan pindah ke rumah sakit yang paling bagus."


"Terimakasih, nak Panji. Kamu sudah banyak membantu kami."


"Sama-sama, Bude."

__ADS_1


Echa menunggu Panji menceritakan apa yang di bahas dengan Bu Saskia. Mengikuti suaminya masuk ke kamar mereka.


"Mas, ada apa? Apa terjadi sesuatu sama kak Afan?" tanya Echa.


"Gadis yang di lecehkan Afan mencabut gugatannya. Secepatnya Afan akan bebas. Dan aku sudah minta sama kerabat yang lain untuk mengurus kepindahan rumah sakit."


"Alhamdulillah, Mas. Semoga setelah ini kak Afan segera bertobat. Aku cukup kaget saja kalau dia pernah melecehkan wanita. Kasihan perempuannya, pasti trauma berat. Takutnya nanti ada pria yang mendekatinya lalu tahu masa lalunya. Kalau pria itu menerima apa adanya bagus. Tapi kalau tidak, itu akan menambah trauma." cerocos Echa tanpa peduli perubahan raut wajah Panji.


"Ehm... ibu jam berapa sampai?" Panji mengalihkan pembicaraan.


"Jam tiga sore tadi, Mas. Aku saja kaget ibu bisa sampai di sini. Takut dia nyasar, secara selama ini kalau ke Jakarta cuma tahu alamat kontrakanku. Ibu tahu aku hamil, padahal aku belum ngomong. Apa kamu yang kabari ibu?" Panji mengangguk kecil. "Kamu tidak keberatan kan kalau ibu kesini, Mas." lagi-lagi hanya di balas gelengan kepala.


"Yasudah, Mas. Aku keluar dulu ketemu..." Panji menahan Echa. Langsung membekap pinggang istrinya. "Aku kangen sama kamu, Cha. Sejak dalam perjalanan kepikiran sama kamu terus. Apalagi kamu tidak angkat teleponku." Echa pasrah saat Panji sudah mengepung rongga mulutnya.


"Cha, ajak suamimu makan malam." mau tidak mau mereka menyudahi adegan panas di balik pintu kamar. Untung saja Panji tidak menarik ke atas ranjang seperti biasanya. Rasanya tidak enak asyik di kamar sementara ada tamu di rumah.


"Mas, makan dulu ya." ajak Echa sambil merapikan bajunya.


"Aku mandi dulu, Sayang. Gerah soalnya, kamu duluan saja gabung sama ibu. Nanti aku menyusul. Oh ya, besok kita ajak ibu jenguk Afan, Ya. Bu Saskia nanyain kamu terus. Tidak apa-apa, kan. Tapi kalau kamu masih baper ketemu sama Afan. Aku tidak bisa maksa."


Echa mengerutkan dahinya. Siapa juga yang baper ketemu sama Afan. Toh, dia dan Afan tidak terlibat hubungan apapun. Hanya perkenalan singkat karena di jodohkan dengan keluarga.


"Iya, aku ikut besok. Jangan bilang aku baper sama Afan lagi. Aku tidak pernah punya perasaan apapun pada kak Afan." Echa mengklasifikasi agar suaminya tidak terus menggangunya. "Iya, maaf. Aku tahu dari dulu kamu cuma cinta sama satu orang." Panji mengerlingkan matanya.


Echa membantu ibunya mempersiapkan makan malam untuk Panji. Ada Atik yang juga ikut membantu. Bu Laksmi menanyakan keberadaan Panji. Echa pun mengatakan kalau suaminya sedang mandi.


"Cha, ibu harap kamu pikirkan apa yang ibu bilang tadi. Kamu tidak usah kerja lagi, kehamilan muda mesti di jaga baik-baik. Ibu akan menemani kamu sampai kamu lepas nifas."

__ADS_1


"Terimakasih, Bu. Lagian Atik juga akan ikut ke kantor. Itu perintah mas Panji." sahut Echa langsung duduk di kursi makan.


"Bagusnya kursinya di ganti yang ada busanya. Biar kamu nyaman duduk. Tidak enak kursi yang bahan kayu ataupun besi. Wanita hamil itu perlu kenyamanan." sahut Bu Laksmi.


__ADS_2