
"Re, kamu sudah mengerjakan tugas dari pak Panji?" tanya Rini melalui pesan singkatnya.
"Belum ada pak Panji kirim apa yang mau di kerjakan. Lagian di rumah ada ibu dan saudaraku yang lain." balas Echa.
"Bu Laksmi ada di sana. Aku kangen masakan khas dia. Kan biasanya kalau dia jenguk anaknya pasti bawa lauk pauk yang banyak."
"Iya, ibu sudah tiga hari di sini. Nanti aku kirim masakan ibu ke kantor. Lagian masa cuti ku masih beberapa hari. Bisa lah kalau dapat izin main ke sana."
"Nggak usah aku saja yang kesana. Kangen tahu sama .... Eh, maaf suami kamu ngebolehin nggak aku datang kesana." Rini baru teringat temannya masih belum berani bawa orang lain apartemen.
Sejak tahu There menikah banyak yang ingin dia ketahui. Salah satunya siapa suami temannya. Kenapa There terkesan merahasiakan sosok lelaki itu. Apakah karena nikah paksa jadi belum ada kedekatan antara keduanya. Atau jangan-jangan sebenarnya suami There bukan lelaki muda.
Kan banyak sekarang perempuan muda nikahnya sama duda yang punya cucu. Atau mungkin bapak-bapak masih suami orang.
Eh, tapi aku tahunya There bukan anak yang seperti itu. Aku percaya dia pasti nikah dengan lelaki yang baik. Walaupun sebagai pengganti.
Kembali ke Theresia, setelah mencegah Rini yang mau ke apartemennya. Dia kembali merenung, ada rasa lelah petak umpet kayak begini. Dia iri sama beberapa temannya yang memperkenalkan suaminya.
Echa merasa ada yang berat dari belakang. Tentu saja ulah suaminya yang mulai menunjukkan kebucinannya. Walaupun rada geli tapi dia juga menikmati perlakuan Panji. Tangan Panji sedikit menjalar ke bagian kenyal.
"Ehmmm... bucin boleh tapi lihat situasi." suara manis mengomentari pasangan suami istri tersebut.
"Kalau belum menikah nggak akan paham. Sudah mandi belum anak gadis." Panji duduk di samping Indri. Menarik segelas susu hangat yang akan di serobot Indri. "Ini ada tuannya. Kalau mau minta sama kakakmu." Indri menyengir kuda. Mana dia tahu kalau itu punya Panji.
"Ini punya kamu, Ndri. Oh ya Paklik di hotel mana?" tanya Echa.
"Nggak jadi di hotel. Diajak sama kak Tika ke tempat saudara suaminya. Apa ya nama perumahannya? Griya Samara, iya itu namanya."
"Ooooo ... Griya Samara. Kamu tahu kan mas tempatnya?" Panji yang di tanya diam seribu bahasa. Tentu Echa kini tengah menyindirnya tentang lokasi itu. Panji memilih masuk ke kamar mandi demi menghindari pembahasan tentang rumah mantannya.
"Mas, Indri minta dianterin kesana. Kamu bisa kan?" suara Echa di depan pintu kamar mandi.
"Bisa. Tapi bukannya kamu mau belanja bareng ibu. Aku antar kamu dulu, ya." masih bersahutan dari kamar mandi.
__ADS_1
"Cha, orang lagi di kamar mandi jangan diajak ngobrol. Pamali! Tunggu dia keluar dulu. Ini malah ngobrol di pintu kamar mandi." Bu Laksmi sudah duduk di meja makan bersama Indri. Menikmati bolu pandan yang di pesan Echa melalui market online.
"Maaf, Bu. Takutnya kalau nggak di ingetin dia lupa." Echa melihat penampilan sang ibu lebih anggun dari biasanya. Dengan Maxi polos berwarna krem. Pinggang berkerut kanan kiri. Bedanya sang ibu belum berhijab, kalau bicara hidayah dia saja belum berhijab. Tapi memang sang ibu tampak cantik.
"Apa ibu mau ikut kesana juga? Bukannya kita mau ke pasar tradisional?"
"Lah, udah di kota masih ke pasar tradisional? kenapa nggak di mall aja belanjanya?" timpal Indri.
"Mahal!" jawab Echa dan Bu Laksmi.
"Kan kak Panji bos. Duitnya banyak, jadi nggak masalah kalau mahal."
"Kalau ada yang harga terjangkau kenapa harus cari yang mahal."
Panji yang sedari tadi sudah siap merasa di cuekin. Pasalnya ketiga perempuan tiga generasi itu masih asyik debat antara belanja pasar dan belanja mall. Lelaki itu memilih membuka lemari berkasnya. Matanya tertuju pada kotak cincin yang sudah berkotak kaca.
"Rasanya tidak mungkin aku kasih ke Echa, karena ukuran tangan mereka berbeda. Andai dulu aku tidak di pengaruhi om Adrian mungkin cincin ini sudah pada tempatnya. Ya Allah, aku ngomong apa sih? Aku sudah punya Echa, kenapa masih juga teringat dia. Apalagi dia sudah bahagia dengan pernikahannya."
Panji menutup lemarinya. Berbalik melihat Echa tak jauh dari posisi berdirinya.
"Mas, antarkan kami ke pasar lalu antarkan Indri ke tempat Paklik Malik berada." Echa meninggalkan Panji yang terpaku di depan lemari.
"Jadi cincin itu punya Savira? Masih di simpan bahkan di hias secantik mungkin. Walaupun Savira sudah menikah tapi hati mas Panji belum move on. Echa sepertinya kamu harus kerja lebih keras lagi." batin Echa.
Echa sudah membawa tas totte bag untuk ke pasar. Penampilannya terlihat sederhana tak menampakkan kalau dia istri seorang pengusaha muda. dress Tunik plisket bunga berwarna Sago membuat kulit putihnya terlihat mencolok. Panji mempersilahkan Echa duduk di depan. Tapi Istrinya meminta sang ibu yang di depan. Sedangkan dia duduk bersama Indri di belakang sopir.
Mobil melaju membelah jalanan kota. Panji sudah biasa menemukan jalan potong agar cepat sampai. Hari minggu jalanan besar sangat padat. Kemacetan terjadi di sejumlah titik di Jakarta dan sekitarnya. Suara klakson dari para pengendara terdengar saling bersahutan. Bahkan, laju kendaraan juga sesekali harus terhenti karena macet. Demi menghindari hal itu maka jalan potong menjadi solusi perjalanan.
Mobil sudah berhenti di pasar. Echa dan Bu Laksmi pun turun meminta Panji mengantarkan Indri ke tempat kerabat Tika.
"Tapi kalau sudah selesai kabari biar aku jemput." kata Panji.
"Nggak usah, aku bisa naik ..."
__ADS_1
"Pokoknya aku jemput. Kamu nggak boleh sembarang naik kendaraan umum."
"Iya, Mas. Kamu hati-hati ya, bawa anak gadis orang, Lo. Nanti kalau ada apa-apa kasihan belum punya pacar." Indri melotot mendengar ocehan kakak sepupunya. Dia kan masih muda, masih panjang perjalanan. Umurnya saja baru 20 tahun.
"Mas, nggak di cemasin?" sahut Panji.
"Kalau kak Panji yang celaka, malah banyak pria yang antri sama kak Echa." jawab Indri di belakang.
"Bisa jadi peluang kak Afan balik lagi .... Kaaaaak hati-hati! ingat pesan kak Echa tadi." pekik Indri di kagetkan Panji membawa mobil dengan kecepatan tinggi.
****
Langkah kakinya sudah memasuki pelataran panti. Di dampingi oleh Fadlan, sahabatnya, beserta Rahma juga bu Cahyadi. Sementara di rumah sudah ada Afan yang menjenguk Bu Ismi. Itu juga instruksi dari Bu Cahyadi untuk datang ke panti.
"Assalamualaikum," suara sapaan terdengar di depan pintu.
Salah satu anak panti memanggil Bu Ismi serta meminta beliau ikut ke depan menyambut tamu. Bu Ismi tidak berpikir panjang hanya menuruti permintaan anak panti. Layaknya seorang pengantin di tuntun menemui pasangannya. Begitulah yang Bu Ismi lakukan saat ini.
"Ibu!" sapaan penuh haru membuat wanita itu terdiam.
"Ibu, ini aku." Bu Ismi berjalan mendekati Ayla, anak semata wayangnya.
"Ini kamu, Nduk. Kamu selamat, Nduk. Ibu pikir pak Bahar mendapatkan kamu. Yang ibu dengar dia mau mengejar kamu. Ibu takut kamu tidak selamat."
"Alhamdulillah, Bu. Tuhan melindungi aku. Kita akan buka lembaran baru." jawab Ayla.
Afan masih di dalam ruangan mendengar sebuah suara yang tidak asing baginya. Suara manis yang membuatnya tergerak menuju ruang depan. Langkah kaki Afan terhenti.
Bahkan dua pasang mata saling bertabrakan.
"Ibu ... Fadlan ... An ... Tar ...kan aku ke kamar."
"Nak ... Itu Afan." kata Bu Ismi.
__ADS_1
"Bu, saya mau istirahat. Kita ke kamar saja." Ayla berjalan melewati Afan.