
"Kamu sudah sampai Mia?" Panji menghubungi Mia memastikan perihal keributan di kantor.
"Aku terjebak macet, Kak. Kalau bisa kak Panji langsung ke kantor. Bisa-bisa istri kakak sudah babak belur. Soalnya aku dapat kabar mereka mau viralkan There. Penyakit orang zaman sekarang masalah pribadi saja pakai viral di sosmed." jelas Mia.
"Oke. Aku sedang dalam perjalanan juga. Pokoknya kalau kamu sudah sampai duluan kabari saja." Panji menutup teleponnya.
Panji pun melenggang di jalanan bersama mobilnya. Mengemudi dengan kecepatan sedang. Paling tidak dia bisa sampai di kantor secepatnya. Menyelamatkan Echa dari kelakuan anak buahnya. Sedikit kaca mobil dia turun supaya bisa menghirup udara segar.
Di tengah menunggu lampu merah pintu kaca mobil di ketuk beberapa anak kecil. Panji menghela nafas panjang, tembakan kalau anak kecil itu meminta sumbangan. Pandangannya beralih ke kursi belakang. Beberapa paket produk madu yang mau dia kasih sama kliennya. Tapi karena fokus mau pada rencana pernikahannya.
Kalau cinta sudah di rekayasa
Banyak bocah di sulapnya dewasa.
Budi yang kaya Adat budaya
Tak lagi terjaga.
Panji mengeluarkan satu cup madu pada setiap anak. Tentu anak-anak terheran-heran. Bukannya duit yang mereka terima malah satu mangkuk kecil berisi madu masih ada sarangnya.
"Kak pakai uang saja," salah satu dari mereka mengembalikan produk milik Panji.
"Kalian tahu fungsi madu buat anak-anak. Biar tidak gampang sakit. Apalagi kalian sering kena matahari dan debu di jalanan. Itu biar kalian punya tubuh yang kuat." kata Panji.
"Ini kasih sama ibu dan ayah kalian. Suruh ke tempat saya. Nanti saya akan kasih pekerjaan sama mereka biar anaknya tidak di suruh ke jalanan lagi." Panji belum lelah memberi penjelasan pada anak-anak pengamen jalanan.
Panji kembali melanjutkan perjalanannya. Dimana dia harus menjadi penengah permasalahan istrinya.
Jalanan terlihat sepi membuat dia tetap harus tetap fokus menyetir.
Sebuah gedung yang tidak begitu besar seperti kantor pada umumnya. Mobil berwarna putih silver pun memasuki pelataran gedung. Panji pun memberhentikan mobilnya tepat di parkiran. Hanya ada dua mobil yang berjejer, milik Panji dan milik Lani.
Lani memang bukan dari keluarga biasa. Gadis muda itu bisa bekerja atas rekomendasi Randi saat itu. Dimana Lani adalah salah satu mahasiswanya Randi. Jatuhnya tingkat Lani diatas Hanum, gadis yang pernah mendekati dirinya. Kehidupan Panji dulu nya di kelilingi beberapa wanita.Tapi bukan Panji yang mengejar mereka malah sebaliknya. Hanya Savira, gadis yang benar-benar di dekati Panji.
__ADS_1
Yang Panji tahu Lani merupakan keturunan pahlawan Nasional. Tidak perlu di jelaskan siapa sosok itu. Pastinya kalau soal bibit bebet dan bobot mungkin masuk dalam diri Lani. Bahkan mamanya Lani menyodorkan anaknya untuk di nikahi Panji.
"Pak,"
Panji tertegun saat satpam kantor menyapa dirinya. Setelah keluar dari mobil dan bertegur sapa dengan satpam kantor. Panji memasuki pintu belakang pabrik.
"Kalian tahu kan, kalau dulu Echa itu tergila-gila sama pak Panji. Sok sok benerin pakaian pak Panji, sekarang dia masih tidak sadar kalau yang dia goda adalah suami orang." suara Lani menggema di ruang aula kantor.
Panji masih memperhatikan dari jauh. Diapun sebenarnya sudah geram dengan sikap Lani. Lagi-lagi dia ingin misi hadiah untuk Echa.
"LANI!"
Suara bariton berdiri diantara para karyawan tata usaha. Sambil melemparkan pandangan tajam pada gadis itu. Echa melihat kedatangan suaminya merasa lega. Walaupun dia sedikit takut dengan tatapan tajam lelaki itu.
Sementara Lani mendengar suara bariton itu menurunkan volumenya. Wajahnya yang tadinya angkuh dan sombong kini malah diam serta menurunkan pandangan matanya ke lantai.
"Ya Allah itu pak Panji, bisa mati aku kalau dia tahu aku berantem di ruangannya. Padahal aku cuma menggerebek There yang masuk ke ruangannya. Aduh, Lani kenapa kamu takut sih. Kamu kan benar, aneh saja kalau nanti aku yang di hukum sementara pelakor ini enggak sama sekali. Eh, tapi kalau pak Panji membela si pelakor aku makin yakin ada sesuatu diantara mereka."
"Pak, dia mencurigakan. Masuk ke dalam ruangan anda seperti maling. Saya yang kebetulan lewat tentu merasa harus mencegah hal ini. Kita kan tidak tahu apa tujuan There masuk ke ruangan anda. Bisa jadi dia punya maksud terselubung dan sebelum itu terjadi saya harus mencegahnya. Apakah yang saya lakukan itu salah?"
Panji tersenyum kecil. Tentu memang pemikiran Lani tidaklah salah. Akan tetapi dia kenal There bukan bermaksud seperti itu. Sepertinya ada kesalahpahaman.
"Alasan! kamu teriak ke orang-orang kalau There itu pelakor. Kamu bahkan meminta orang-orang di kantor untuk menviralkan There. Kenapa jawaban kamu berbanding terbalik. Mereka semua saksinya pak Panji!" Rini akhirnya bersuara.
Panji berjalan menuju Echa. Gadis itu sedang duduk di kursi bersama Rini. Echa menunduk tanpa berani menegakkan kepalanya. Dia yakin suaminya pasti marah karena dianggap lancang masuk ke dalam ruangannya.
"Cha," suara Panji pelan. Saking pelannya tidak ada yang mendengar.
"Maaf, Pak. Saya tadi lancang masuk ke ruangan bapak. Tadi kan bapak menitipkan bekal makanan bapak pada saya. Saya pikir bapak ada di ruangan ternyata tidak ada orang. Saat itu juga Lani masuk menuduh saya yang tidak-tidak. Bahkan dengan lancang Lani duduk di kursi anda. Saya meminta Lani supaya tidak seenaknya duduk di kursi bos. Dan saat itu di menendang saya. Dari itu kami saling membalas. Maafkan saya, Pak." suara isakan kecil terdengar.
"Apa benar itu, Lani?"
"Bohong, Pak!"
__ADS_1
"Oke, saya sudah mendapatkan keterangan dari kalian berdua. Hanya satu lagi siapa yang terbukti bersalah. yaitu cctv. There tahu kalau ruangan saya memakai cctv. Jadi kita buktikan melalui alat ini."
Panji membuka sambungan cctv melalui handphonenya.
"Jam berapa kejadian tadi?"
"Sehabis makan siang, Pak." jawab Rini.
Panji langsung mengaktifkan ponselnya untuk berkoneksi dengan cctv ruangannya. Mata membulat saat tahu kejadian sebenarnya. Menurut Panji keduanya sama-sama salah. Karena di cctv tampak Echa yang terlebih membuat Lani terjatuh dari kursi.
"Kalian berdua sama-sama salah dalam hal ini. Theresia, saya kan bilang tunggu saya balik ke kantor. Dan kamu Lani, kalau kamu memang merasa curiga sesuatu kenapa tidak lapor saya. Disini kamu juga salah main hakim sendiri. Dan maaf saya akan skor kalian." kata Panji.
"Theresia, saya akan kasih kamu libur selama satu minggu ke depan. Tapi tetap saya beri tugas, dan kamu Lani saya akan tempatkan kamu di bagian gudang selama enam bulan untuk percobaan."
"What gudang! pak saya perempuan masa di kasih pekerjaan di gudang."
"Dulu There juga di gudang sama dengan kamu. Tapi dia tetap menjalankan tugasnya. Tidak pernah mengeluh. Padahal dia lebih tua dari kamu. Kamu pilih saya turunkan jabatan atau ..."
"Iya, pak. Saya kembali kerja di bagian gudang." suara Lani melemah.
"Re, Temui saya di ruangan sekarang." Panji berlalu diikuti Theresia dari belakang.
"Mas," Echa memanggil suaminya di depan ruang kerja Panji.
"Kalau Mas Panji meminta masuk ke ruangan hanya untuk memarahi aku. Lebih baik aku pulang dan membicarakan soal ini di rumah. Karena tidak baik membahas masalah rumah tangga di kantor. Kamu sendiri kan pernah bilang bedakan masalah kerja dan pribadi." kata Echa.
"Masuk!" Panji membuka pintu meminta Echa masuk ke ruangannya.
Mau tidak mau Echa pun menuruti perintah suaminya. Mereka sekarang duduk saling berhadapan.
"Cha, mungkin aku terlihat egois dengan keputusan ini. Tapi dalam seminggu ini banyak yang harus kita persiapkan. Aku harap kamu ngerti."
"Ngerti katamu, Mas? dia cuma di hukum pindah bagian gudang sementara aku dalam satu minggu di larang ke kantor. Kalau kami memang sama-sama salah hukumannya juga sama." protes Echa.
__ADS_1