
Pertama kali Echa yang sudah terlebih dahulu terbangun. Efek semalam bertempur untuk yang kedua kalinya. Bayangkan suaminya tanpa lelah menggempurnya selama hampir tiga jam. Echa merasa tubuhnya semakin berat untuk bangkit.
Untungnya dia tinggal di apartemen. Coba kalau itu di kampungnya, sudah pasti jadi bahan omongan warga kanan kiri. Biasanya dia di bangunkan kokokan ayam di kost nya. Atau kalau hari kerja dia di bangunkan suara speaker dari ibu. Para gadis berjejer di depan kamar mandi menenteng alat mandi mereka. Karena kamar mandi kost nya cuma dua.
Echa mengerjap matanya, dari tirai kamar mereka sudah terlihat pantulan cahaya terang. Echa kembali merebahkan tubuhnya. Kepalanya menatap sosok yang masih pulas di sampingnya. Jemari lentiknya berjalan menelusuri pahatan indah yang bernama suami.
"Awwww ...." pekik Echa. Bagaimana tidak, jemarinya terpesorok di bibir Panji. Entengnya lelaki itu menggigit jemarinya.
"Pagi istriku," suara serak-serak basah menyeringai kecil. Di tambah tatapan genit membuat Echa tertawa.
"Sini," Panji menarik pinggang Echa lebih dekat. Kepala Echa di pindahkan ke pundak suaminya.
"Mas, aku capek." bisik Echa.
"Sama sayang, aku juga capek." jarak wajah mereka semakin dekat.
"Terima kasih atas pembuktiannya." bisik Panji.
"Bukankah itu sudah kewajiban aku sebagai istrimu, Mas."
Baik Echa maupun Panji masih asyik berada di bawah selimut. Tubuh mereka masih polos serta di tutupi selimut berwarna putih. Echa Terlebih dahulu terbangun, menatap sinar matahari yang menyilaukan pandangannya. Dengan sisa tenaga tubuhnya bangkit, walaupun ternyata dirinya susah berjalan. Keduanya mengerjapkan matanya, pantulan sinar matahari yang menyilaukan mata mereka.
Pagi ini Echa dan Panji sudah membersihkan diri. Hanya dia mengeluhkan tanda kepemilikan begitu jelas dan banyak di leher kiri dan kanan. Belum lagi yang berada di bawah dagunya terlihat berwarna merah. Masih berada di kamar, Echa merapikan kancing baju suaminya. Panji ada pertemuan di sebuah cafe dengan pak Barata.
"Aku sekalian mau undang pak Barata ke pernikahan kita." kata Panji mengambil tas kerjanya.
"Kok lihatnya begitu, istriku?" Panji menyenderkan punggungnya di dekat nakas.
"Menurut, Mas?" Echa melototi Panji sembari menunjuk bekas kerjaan suaminya.
"Waaaw, hasil karya yang keren. Apa masih kurang atau mau di tambah lagi."
"Maas" Echa memukul dada Panji dengan gaya manja.
"Tapi kamu suka, kan?"
__ADS_1
"Bagaimana aku berani keluar, Mas. Nanti pulang dari kantor jadi kan mau fitting gaun pengantin?" ucap Echa sambil membereskannya lemari pakaian. Panji mengambil baju sekali tarik roboh semuanya.
"Enggak." jawab Panji datar.
Echa mendadak mematung. Menghentikan pekerjaannya lalu duduk di pinggir ranjang. Bukankah Panji yang bilang kalau dalam beberapa hari akan mempersiapkan pernikahan. Kenapa berubah lagi.
"Terus aku ngapain, Mas?"
"Kamu harus mengikuti masa pingitan sekarang. Pamali calon pengantin keluyuran." kata Panji sambil memeriksa penampilannya di depan kaca.
Echa menarik nafas panjang. Dia sudah bosan dengan masa pingitan. Sebelum menikah dengan Panji dia sudah melalui masa itu. Sekarang dia hanya menunggu resepsi pernikahan mereka. Masa harus di pingit lagi. Sedangkan suaminya tetap pergi ke kantor.
"Aku sudah di pingit waktu di kampung. Kan aku sudah jadi istri kamu, masa pakai pingitan juga. Terus bagaimana harus fitting kalau tidak boleh keluar rumah. Mas sendiri juga tidak boleh kemana-mana." Echa melipat kedua tangannya di atas dadanya. Baginya tidak adil dia di pingit sementara suaminya tetap melenggang keluar rumah.
"Sekali-sekali kamu nurut apa kata suami bisa nggak sih? kalau aku bilang kamu di rumah saja, jangan kelayapan. Apalagi besok ibu sama keluarga lainnya akan datang banyak yang harus di persiapkan. Aku kerja, bukan jalan-jalan. Mana Echa yang nurut sama aku."
"Maaf, Mas." cicit Echa.
Panji berangkat kerja meninggalkan Echa sendirian di apartemen. Daripada dia bengong mending berbenah membereskan rumah. Echa masih berjalan tertatih-tatih. Rasanya masih belum kuat untuk beraktivitas. Tapi dari pada tidak mengerjakan sesuatu.
"Apakah ini cincin untuk pernikahan kami, nanti?" batin Echa.
Echa menatap cincin yang melingkar di jari manisnya. Cincin yang di berikan ibunya ketika Panji menggantikan Afan.
"Mungkin sebentar lagi mas Panji akan melingkarkan cincin baru di jemariku. Bukan cincin dadakan yang terpaksa ibu wariskan kepadaku." Walaupun sebenarnya sudah terlanjur kepo. Akan tetapi dia tidak mau lancang akan barang yang belum pasti.
...****...
Di Pabrik Madu Berkah.
Mia sudah sampai di kantor terlebih dahulu. Banyak tatapan sinis mengarah pada dirinya. Mia tak perduli dengan hal itu. Dia bekerja sudah se profesional mungkin. Selama Panji tidak mempermasalahkan.
"Kita lihat mana hebat dia sama Theresia?" suara sinis dari staf lain.
"Alah sama saja. Dimana-mana sekretaris itu suka menggoda bos nya. There juga apalagi si Mia."
__ADS_1
"Mia itu adiknya bos. Nggak mungkin lah ..."
"Adik sepupu itu doang dia mah." bisik yang lain.
Mia sebenarnya sudah biasa jadi target pembullyan verbal. Dari sejak papa nya menikah dengan wanita yang cocok di jadikan Kakak. Dari saat papanya masuk penjara karena memprioritaskan Panji. Itu sudah di makan sekenyang- kenyangnya. Bahkan dia sudah lama tidak tahu kapan terakhir menangis. Mungkin masih kecil, di mana rata-rata anak perempuan memang terkenal cengeng.
"Mbak Mia itu ada WO yang ingin bertemu pak Panji." kata Rini.
Mia merogoh handphonenya. Tumben jam segini bos nya belum sampai. Apa sedang bersama Theresia?
"Maaf, Pak. Pak Panji sepertinya tidak datang. Bagaimana kalau salah satu perwakilan kantor menemani anda ke kediaman pak Panji." kata Mia.
"Rini, coba suruh Lani kesini." perintah Mia.
Beberapa saat kemudian Rini sudah bersama Lani menghadap Mia. Kedua gadis itu menunggu apa yang akan di instruksikan Mia.
"Lani, kamu tahu apartemen, pak Panji?" Lani menggelengkan kepalanya. Tidak ada yang tahu di mana kediaman atasannya.
"Nanti saya kasih alamatnya. Kamu antar mereka untuk menemui pak Panji. Paham?"
"Kenapa bukan anda saja. Bukankah anda sekretaris pak Panji?"
"Kamu berani membantah saya? Mau saya laporkan ke pak Panji?" ancam Mia.
"Sudahlah, Lani turuti saja." kata Rini.
"Iya juga, Ya. Sekali menyelam minum sekalinya. Aku juga penasaran seperti apa Istrinya pak Panji." batin Lani.
...****...
Jika dalam seminggu saya belum bisa update Bingkai cinta untuk Sarmila dan After wedding, Tolong di maklumi. Besok saya dan suami berangkat pindah ke kota.
Apalagi senin anak sudah mulai masuk sekolah baru.
Tetap terus pantengin kisah mereka, jangan lupa kirim vote, gift dan like. Ikut komentar juga sebagai partisipasi kalian mengiringi kisah mereka.
__ADS_1