
Panji memasuki ruang kerjanya. Sebelumnya dia pergi mencari Mia yang di yakini biang kerok masalah tadi. Bukankah Mia tahu ada Echa disana. Seharusnya dia izin dulu sebelum bertindak.
"Mia, kakak mau bicara!" suara tegas Panji tidak membuat dirinya segan. Masih dengan sikap santai Mia mempersilahkan atasannya bicara.
"Kakak mau bicara apa? pasti soal urusan pihak WO tadi kan? salah kak Panji sendiri tidak tepat waktu. Masa atasan tidak datang padahal sudah mau jam sembilan pagi. Apa itu yang kak Panji contohkan kepada bawahan anda. Jadi tidak salah kan saya minta mereka ke rumah kakak."
"Apa aku sering telat begini, enggak, Mia. Justru ada yang aku urusin makanya telat. Kamu malah suruh orang pergi ke apartemen. Saya paling tidak suka bawa urusan kerja ke rumah. Kamu juga tahu itu."
"Bentar? apa karena kakak takut kalau ada yang tahu Echa itu istrimu. Emang kenapa sih kalau mereka tahu? Justru itu bagus, dia tidak akan di cap jelek sama orang di kantor. Kakak dengar, ya. Sampai saat ini mereka masih menggosipkan Echa. Harusnya kak Panji sebagai suami meredam masalah. Kasihan Echa, istri sah tapi di perlakukan seperti simpanan." cerocos Mia.
"Itu urusan saya. Bukan urusan kamu, Mia. Di sini saya sebagai atasan kamu. Kalau di luar baru sebagai saudara."
"Maaf, kalau saya dianggap terlalu ikut campur urusan rumah tangga kakak. Tapi saya cuma kasihan sama Echa, kakak nikahi dia sah, tapi di umpetin kayak perempuan simpanan. Sama kayak papa, ternyata punya anak sebelum nikah sama mama." kata Mia.
Panji tidak peduli dengan curhatan Mia. Dia memilih pergi dari ruangan sekretarisnya. Dia sudah mumet dengan permasalahan yang ada, tak mau di buat mumet dengan urusan orang lain. Mia melihat atasannya sudah tidak di tempat hanya menarik nafas dalam-dalam. Padahal dia bisa minta tolong sama Panji mencari siapa mbok Darmi. Dari situ dia bisa tahu kalau kakak beda ibunya masih ada atau sudah tiada.
"Aku harus cari tahu soal wanita bernama mbok Darmi. Itu petunjuk akurat." batin Mia.
"Mia, ini ada beberapa barang yang harus kamu antarkan ke apartemen. Saya minta kamu yang antar sendiri jangan ajak yang lain." pesan singkat dari atasannya membuat Mia mengendurkan otot-otot tubuhnya. Atas nama profesional kerja, Mia pun menyanggupinya permintaan bosnya. Tubuhnya yang bohay pun berjalan meninggalkan ruang kerjanya.
"Segini?" Mia melotot saat tahu ada banyak barang yang akan di bawanya.
"Iya, ini gaun mahal untuk acara dinner setelah resepsi. Itu seragam untuk keluarga besar istriku. Di tambah beberapa pakaian baru untuk ibu mertuaku." kata Panji mantap.
"Kenapa kakak tidak minta mereka saja membeli sendiri. Malah kakak yang repot cari pakaian mereka."
"Kamu ini ngeyel terus kalau di kasih tugas. Kamu mau saya pecat! Masih untung saya kasih kamu pekerjaan, coba kalau kamu cari kerja di luar bakal susah. Karena kamu anak ..."
__ADS_1
"Kakak mau bilang saya anak narapidana kan? Kakak tidak lupa kan yang buat papa masuk penjara siapa? kakak! Kalau papa tidak mati-matian mau carikan kakak jodoh sampai harus menculik Savira. Sekarang dia mungkin sedang bersama Tante Anne menanti kelahiran anak mereka. Kalau saja ... Dan harusnya kak Panji ikut di penjara karena secara tidak langsung kakak juga terlibat."
"Cukup! Oke saya minta maaf soal ucapan tadi. Saya cuma tidak suka kamu melupakan kita sedang di kantor bedakan masalah pribadi dengan urusan kerja. Saya cuma minta kamu antarkan barang ini ke apartemen. Kenapa jadi bahas yang lain sih?"
"Maaf, aku cukup emosional tadi. Bukan maksud tidak bisa memisahkan urusan pribadi dengan urusan kerja. Cuma saya merasa apa yang anda lakukan berlebihan. Sekarang mereka minta di adakan resepsi. Mungkin bentar istri kakak minta ibunya di belikan rumah atau mungkin diajak tinggal bareng kalian. Saya cuma tidak ingin lelaki yang sudah seperti keluarga ini di manfaatkan. Salah satunya kakak menaikkan jabatan There dari sekertaris menjadi manajer." Mia pergi membawa barang yang dititipkan Panji kepadanya. Walaupun sempat emosi meledak-ledak, dia tetap harus menjalankan tugasnya. Bukan karena dia takut di pecat, akan tetapi Mia berprinsip tetap profesional apapun yang terjadi.
Mia membawa barang dari kantor menggunakan grab. Lokasi kantor dan apartemen Panji lumayan jauh. Dari harganya di lansir hampir 70 ribu. Kalau balik lagi bisa diatas 150 ribu total. Mana Panji tidak memberikan ongkos. Mia hanya bisa berkeluh kesah dalam hati.
"Assalamualaikum,"
Mia berdiri di depan pintu unit apartemen Panji. Meletakkan barang bawaan di lantai. Meregangkan otot tubuhnya, katanya isinya baju, tapi serasa membawa barang lebih berat dari baju.
Ceklek!
Seorang wanita paruh baya membuka pintu. Wanita itu menyambut Mia dengan ramah. Mia langsung memperkenalkan diri sebagai sekretaris Panji.
"Sepupu? dari pihak mana? kalau dari ibu dan ayahnya Panji saya kenal semua."
"Saya keponakan bude Leni." kata Mia.
"Leni, ya? Berarti kamu anaknya Clarissa. Wah cantik ya."
"Terimakasih, Bu."
"Kalau boleh tahu ayah kamu namanya siapa? waktu Clarissa nikah saya nggak bisa datang soalnya kerja di luar kota."
"Ayah saya namanya Adrian Lesmana."
__ADS_1
Deg! Bu Laksmi terdiam mendengar nama itu. Echa memperhatikan reaksi ibunya menatap heran. Kenapa begitu kaget mendengar nama Adrian. Apakah ibunya punya masa lalu bersama om Adrian. Echa menepis pikiran anehnya, pastinya dia akan menanyakan hal itu pada ibunya di waktu yang tepat.
"Bu, saya kesini mengantarkan paket dari pak Panji." kata Mia memecahkan keheningan.
"Terimakasih, Mia. Kamu sudah makan belum? makan dulu, yuk. Ini kami tadi masak rawon sama lalapan sambal petis favorit Mas Panji."
"Eh, anu .. Aku harus secepatnya balik ke kantor. Kalau tidak bisa ngomel kak Panji nanti." Mia mau mengelak dari tawaran Echa. Lihat jenis makanannya saja tidak menggugah seleranya.
"Ngapain juga aku nyoba makanan kampungan itu." batin Mia.
...****...
"Undangan?" tanya Echa.
Panji perlu menjelaskan pada istrinya kalau yang menikah adalah Vira tapi dia sendiri belum tahu siapa pengantin prianya. Itu yang dia dengar dari pak Burhan selaku relasi bisnisnya. Berharap dengan resepsi itu bisa memupus rasa over thinking dalam diri istrinya.
"Iya, dari Tante Dewi." kata Panji lirih.
"Bu Dewi mau nikah lagi atau Savira yang mau nikah?" tebak Echa.
"Kenapa kamu bisa menebak seperti itu?"
"Ya, karena mbak Dira sudah menikah begitu juga dengan pak Feri. Bahkan mereka sudah punya anak yang lucu kan?"
"Kamu tidak cemburu setelah tahu aku mau datang ke acara yang akan diadakan Bu Dewi."
"Enggak, Mas. Karena Vira sudah masa lalu kamu." kata Echa.
__ADS_1
"Terimakasih, ya, Sayang." Panji mengalungkan tangannya di pinggang istrinya. Di tambah kecupan di dahi.