
Panji baru saja menyelesaikan shalat malamnya. Harus berkejaran dengan waktu karena mepet hampir masuk dini hari. Tubuh tegapnya di balut kemeja koko berwarna merah tua. Tambahan sarung motif menyerupai batik senada dengan baju yang di kenakannya.
Setelah melipat sajadah Panji langsung mendekati sang istri. Echa sudah kembali terlelap. Panji hanya menarik nafas dalam-dalam. Sejak Echa di rumah sakit sampai hari ini dia belum ada menjamah tubuh istrinya. Itu pun karena kesibukannya di kantor belum lagi dia ke kantor polisi mengecek kasus yang di perbuat Lani.
Setiap pulang dari kantor Panji selalu mendapatkan Echa yang sudah tertidur. Dia pun tak ingin mengganggu istirahat istrinya. Kadang Panji masuk ke ruang kerja mendiang ayah angkatnya. Menyelesaikan pekerjaan dari kantor. Sebenarnya dia enggan mengerjakan pekerjaannya di rumah. Akan tetapi sudah beberapa hari dia sulit tidur malam, dan di ganti melanjutkan aktivitas di depan laptop.
Panji merebahkan tubuhnya di samping Echa. Mereka saling berhadapan diatas ranjang. Hanya saja sosok di depannya masih terpejam sementara dirinya memandang istrinya dengan intens. Jemari panji menelusup di lekuk wajah Echa. Memindahkan rambut yang menutup telinga. Rambut Echa yang panjang batas lengan tangan. Rambut yang termasuk tipis.
"Kamu makin cantik saja, Cha. Padahal tidak pakai make-up. Tadi Paklik bilang kamu sangat cemas karena aku belum pulang. Terimakasih, Cha, kamu mengkhawatirkan aku, berkat doa dan rasa khawatir aku bisa pulang.
Ternyata benar kata Pandawa, punya istri itu enak. Ada teman berbagi, ada doa di setiap langkah kita selain dari doa orangtua. Kamu jadi penyemangat hidupku saat ini." kata Panji.
Tadi saat Panji bertemu dengan Pandawa dalam rapat kerjasama. Seperti yang di ketahui sebelumya kalau Panji terlibat kerjasama dengan perusahaan milik mantan rivalnya. Itu juga awalnya Panji juga tidak tahu kalau Pandawa anak dari pemilik PT. Dirgantara. Dulu mereka cukup dekat sebelum tahu kalau mencintai gadis yang sama yaitu Savira. Setelah semua terkuak hubungan keduanya renggang.
"Bagaimana rasanya punya istri manja seperti Savira?" tanya Panji di sela-sela istirahat.
"Bagaimana, ya? kak Panji masih kepo sama Vira?" Pandawa merasa pertanyaan Panji seperti masih ingin tahu tentang Istrinya.
"Bukan. Tapi ..."
"Tapi apapun yang ada dalam diri Vira, aku terima apa adanya. Dia bisa menerima aku yang dulu pernah mau menyusup ke keluarga Tante Dewi. Kenapa aku harus mencari kekurangan istriku?" nada suara Dawa tidak terima dengan sikap Panji.
"Oke, maaf. Aku bukan bermaksud untuk ikut campur dalam rumah tangga kalian. Aku hanya bertanya karena yang aku tahu, Vira tidak terlalu suka dalam urusan pekerjaan rumah tangga. Karena dia terdidik menerima semua fasilitas. Makanya aku nanya begitu." ralat Panji.
"Maaf, aku terbawa emosi tadi, kak Panji." jawab Dawa sambil menarik nafas dalam-dalam. Lelaki itu membentulkan cara duduknya serta memulai obrolannya.
"Vira itu nggak baperan anaknya. Nggak gampang cemburuan, tadi kadang kelewat posesif mah iya. Kak Panji tahu, lima menit aku baru keluar dari kantor sudah terdengar deringan telepon. Nanya jam berapa pulang, apa sudah masuk mobil atau belum?"
"Waktu di resepsi kak Panji, aku ketemu mantan. Aku tidak tahu kalau kak Panji mengenalnya di mana. Yang pasti saat perempuan itu menyapa aku, Vira malah bersikap lebih manja dari biasanya."
"Itu tandanya kan dia cemburu, Dawa. Lalu bagaimana dengan Elsa? Bukankah kamu dan Elsa pernah menjalin hubungan. Apa tidak ada canggung diantara kalian bertiga?"
"Enggak, kak. Karena kita selesai baik-baik. Jadi nggak konflik diantara kami bertiga. Malah Elsa yang menyatukan aku dan Vira saat itu. Dia mau jadi perantara untuk mendekatkan kami. Walaupun masih terganjal restu mama Dewi saat itu.
Coba kak Panji resapi setiap kebersamaan dengan Theresia. Misalnya kasih obrolan ringan untuk mempererat hubungan. Semakin terasa kalau punya istri itu enak, kak." Dawa menepuk pundak Panji. Lelaki itu berdiri sambil menopang tongkat penyangga kakinya.
__ADS_1
Jadi kaki Dawa belum sembuh. Ini namanya Vira yang ngemong.
Astaghfirullah, kenapa aku jadi mikir seperti itu sih. Ingat kamu sudah janji sama Bu Laksmi agar lebih ketat menjaga Echa.
Dawa terhenti sejenak. Lelaki itu menoleh kearah Panji.
"Kalau punya istri kita tidak perlu cari perbandingan dengan yang lain. Hargai orang yang berada di sisi kita saat ini, Kak. Aku menghargai perhatian kak Panji pada Vira. Tapi kak Panji juga harus menghargai perasaan There yang mungkin menunggu kepulangan suaminya. Kalau sudah punya istri kita akan mendapat sejuta perhatian. Wanita itu kalau sudah terikat dia akan setia pada pasangannya." kata Pandawa lalu meninggalkan Panji sendirian.
Ucapan Pandawa seakan menuduh dirinya masih perhatian sama Vira. Padahal dia hanya bertanya bagaimana setelah menikah dengan Vira. Apa pertanyaannya sudah termasuk kepo. Panji rasa tidak.
"Dasar Pandawa saja yang baperan!" rutuk Panji.
Pernikahan mengajarkan setiap orang untuk tidak menjadi pribadi yang egois, dan belajar arti dari memberi. Menikah berarti kita menghargai orang yang kita nikahi melebihi diri kita sendiri.
Jika sebelumnya saat belanja kita hanya memikirkan keperluan kita, kini kita juga akan memikirkan keperluan pasangan. Bila sebelumnya kita memasak untuk satu orang, kini kita juga memikirkan apa yang suka dia makan atau tidak.
Selain itu, kita juga akan belajar untuk memahami perasaan pasangan, dan mengambil keputusan berdasarkan pertimbangan hal terbaik bagi kalian berdua, dan bukan diri sendiri saja.
Kembali pada masa sekarang.
"Kamu tahu, Cha. Tadi di kantor ada Bintang, dia minta kamu yang menangani proyek. Aku juga kaget, Cha. Kok bisa dia tahu sama kamu. Apa selama aku tidak ada di kantor dia ada datang. Tapi aku percaya kamu tidak akan tergoda sama playboy. Kamu kan sudah punya aku? Suami yang gantengnya Paripurna." Panji terus mengoceh walaupun di depannya tetap nyenyak.
Sementara di kamar lain, sepasang suami istri belum memejamkan matanya. Keduanya masih sibuk menyiapkan barang untuk keberangkatan besok.
"Mas," sapa Rusmini.
"Iya, Bu." Paklik Malik menjawab tapi tangan tetap sibuk.
"Tadi Mbakyu cerita kalau dia bertemu sama Riana. Katanya Riana itu istri kedua mas Wahyu. Apa bener, Mas?"
"Iya," Jawab Paklik datar.
"Pasti sakit banget, ya di pertemukan sama orang yang sudah merusak rumah tangganya. Aku kalau di posisi Mbakyu juga akan merasakan hal yang sama. Bagaimana bertemu orang yang berkesan dalam hidup suaminya. Berkesan yang negatif. Aku harap kamu nggak gitu ya, Mas." Paklik Malik hanya menganggukkan kepalanya. Walaupun dia sudah mengubur perasaannya dalam-dalam pada Laksmi.
Sekarang sebagai tanggung jawab pengganti kakaknya. Sebagai penebus apa yang di lakukan ibu dan kakak tirinya. Dia siap pasang badan untuk Laksmi dan Echa. Tentu sebagai adik tidak lebih dari itu.
__ADS_1
"Sudah, Bu. Kita tidak usah ikut campur urusan mereka. Apa ibu sudah selesai membereskan barang kita. Bapak capek sekali, aku duluan tidur." Paklik Malik merebahkan tubuhnya di atas ranjang. Sementara Rusmini kembali menyelesaikan pekerjaannya.
"Pak, apa sudah tidur. Tadi jeng Suriah menelepon katanya dia berniat melamarkan Indri untuk anaknya, Danang. Kalau ibu lihat nak Danang itu sopan santun bagus. Tapi yaitu rada kemayu. Menurut bapak bagaimana?
"Kamu tanya sama Indri dulu. Jangan ambil keputusan sendiri." suara Paklik Malik membelakangi Rusmini.
"Iya, Pak. Nanti pas pulang ke Jogja kita bahas lagi." sahut Rusmini. Wanita itu merebahkan tubuhnya di atas ranjang. Keduanya saling membelakangi punggung.
Pagi ini ....
Pukul 07.00 pagi, suasana di sebuah kamar tampak lenggang. Sinar matahari menembus jendela, pelan-pelan sosok pemilik mata bening itu terbuka. Pandangannya berarah pada ranjang di sampingnya.
Ranjang yang sudah kosong tanpa ada sosok lelaki di sampingnya. Echa memutar pandangan ke sekeliling kamarnya. Tidak ada siapapun. Tidak ada suara deburan air atau suara shower di kamar mandi.
Suara decitan pintu menandakan bahwa ada yang mau masuk ke kamar. Echa merapikan cara duduknya. Mengambil kaca di nakas memperhatikan apakah penampilannya kusut atau tidak.
"Mbak Echa sudah bangun?" suara gadis muda di tambah membawa nampan berisi sarapan. Ada bubur ayam dan segelas susu hangat.
"Iya, Atik. Terimakasih. Ibu dan Paklik masih di bawah kan? Mas Panji juga lagi di bawah kan?" Echa bertanya bertubi-tubi.
"Pak Panji sudah berangkat jam enam tadi. Ibu Laksmi dan keluarga pak Malik masih dibawah. Mereka mau berangkat ke Jogja." jelas Atik.
"Ibu juga?"
Atik masih mengocok bubur ayam. Kata Bu Laksmi kalau Echa suka bubur yang sudah diaduk. Maka itu dia menjalankan apa sudah di jelaskan mertua majikannya.
"Kurang tahu, Bu. Saya cuma tahu mereka sudah bersiap-siap."
"Kenapa Mas Panji tidak membangunkan aku. Kan jadi melewatkan subuh. Kenapa beberapa hari ini aku hanya bertemu mas Panji di malam hari. Dan setiap pagi pasti dia sudah berangkat. Apa dia sesibuk itu?"
"Tik,"
"Iya, Bu."
"Nanti siang antarkan saya ke kantor Mas Panji."
__ADS_1
"Iya, Mbak." Atik pun melayangkan suapan pada Echa.