After Wedding (Panji Dan Echa)

After Wedding (Panji Dan Echa)
BAB 64


__ADS_3

"Hanya seorang ibu yang bisa memahami seperti apa keadaan anak-anaknya."


...****...


Echa merapikan pakaian yang di kenakan suaminya. Tangan Panji membelit pinggang Echa lebih kencang. Echa hanya menggelengkan kepalanya. Melihat sikap suaminya lebih bucin dari biasanya. Entah dia belum berani mengartikan apakah sikap Panji. Apakah memang bucin atau sekedar perhatian karena dia sedang mengandung.


"Cha, kamu kalau memang mau masuk kantor di temani sama Atik ya. Atau ibu kalau mau ikut juga tidak apa-apa. Tapi ingat lewat makan siang kamu harus pulang. Wanita hamil tidak boleh gampang lelah. Kalau ada tugas yang belum selesai titip sama Sasya." titah Panji.


Echa hanya memandang tanpa berkedip ke arah Panji. Suaminya masih dalam mode cerewet. Bukankah dia harus profesional, tanpa harus diingat menyandang sebagai istri atasan. Echa tidak mau nanti di cap aji mumpung sama teman kantornya.


"Dan kalau nanti ada yang protes kalau kamu kerja pulang cepat. Suruh dia menghadap ke saya." masih mode ultimatum.


"Mas, aku juga nggak masalah. Jangan-jangan main ancam kayak gitu, Lah. Nanti wibawanya hilang, nah suamiku sudah rapi. Aku hari ini tidak jadi ke kantor, Mas. Mau di rumah saja, tidak tahu rasanya malas kemana-mana."


"Good job, itu baru istri kesayangan Panji." Panji menjentik hidung Echa. Melabuhkan kecupan di dahi istrinya.


Echa dan Panji keluar dari kamar sambil menggandeng tangan.


"Wah, mantu dan anak ibu tampaknya bahagia sekali. Ibu senang kalau kalian seperti ini. Ayo nak Panji kita sarapan dulu." Bu Laksmi menuntun Echa duduk di kursi. Diikuti oleh Panji.


"Bu, Atik mana?ajak dia makan bareng." kata Echa sembari menyandukkan nasi ke piring Panji. Lauk pauk pun terlihat menggugah selera. Seperti sambal telur balado, ayam goreng, tumisan sayur, semua sudah di siapkan sama Bu Laksmi sejak bangun subuh. Tentu Echa dan Atik juga terlibat meskipun tidak banyak.


"Atik tadi ke kamar mandi. Panggilan alam katanya. Ji, bagaimana keadaan Afan?"

__ADS_1


"Afan akan pindah ke rumah sakit yang paling bagus. Tapi masih menunggu putusan sidang dulu. Katanya ibu yang jebak Afan masih di korek keterangannya. Kok aku merasa ada yang mencoba menahan kasus ini, ya?"


"Ibu siapa?" tanya Bu Laksmi.


"Ibu dari pacarnya Afan. Katanya Afan minum teh dari pemberian ibu perempuan itu. Terus mendatangi kamar pacarnya. Kebetulan mereka tinggal di panti milik Bude Saskia. Maka terjadilah tragedi asusila tersebut." Bu Laksmi hanya mengangguk sambil menyantap satu sendok nasi plus potongan telur.


"Sayang, kemarin aku ada baca berkas lamaran kerja. Ada satu kandidat yang status pendidikan terakhirnya anak Peternakan. Jarang-jarang perusahaan kita dapat pelamar yang sejalur. Kebanyakan yang masukkan lamaran anak ekonomi atau anak administrasi. Kayak kamu dulu."


"Perempuan apa laki-laki?" tanya Echa seperti menyelidik.


"Perempuan kayaknya sih? lupa aku. Jadi aku sudah minta Mia memanggil orang itu untuk melakukan tes wawancara. Kalau bisa sih, dia akan menggantikan Sasya jadi asisten kamu."


"Mas, kamu suruh Atik buat menemani aku ke kantor. Tapi kamu malah nambahkan aku asisten lagi. Pusing aku, Mas. Kebanyakan anak buah padahal semua bisa aku kerjakan sendiri." protes Echa.


"Karena kamu sedang hamil, Cha. Jadi aku harap kamu tidak banyak aktivitas. Harusnya kamu resign, tapi tetap ngotot ngantor. Sekarang ada ibu, tidak ada alasan untuk tetap kerja. Kasihan ibu di rumah sementara anaknya sibuk." cerocos Panji.


Echa hanya menundukkan kepalanya. Layaknya anak kecil yang di marahi. Tangannya terus bermain seakan ingin menghempaskan beban pikirannya.


"Bu, sudah. Jangan di marahi Echa nya. Dia sedang hamil. Jangan bikin banyak pikiran. Nanti berpengaruh sama kandungannya."


"Ji, zaman ibu dulu nggak pakai kayak gitu. Kalau salah ya tetap di tegur. Toh ini juga buat kebaikan kalian. Ibu hanya ingin Echa jadi istri yang baik buat kamu. Kalau Echa salah kan ibu juga yang malu sebagai orangtuanya."


Panji bersimpuh di lutut Bu Laksmi. Meyakinkan ibu mertuanya bahwa dia bisa mendidik Echa dengan baik.

__ADS_1


"Bu insyallah saya akan mendidik Echa dengan baik. Sejauh ini Echa sudah menjadi istri yang baik untuk saya. Walaupun masih ada drama-drama kecil dalam rumah tangga kami. Itu bumbu mempermanis hubungan kami berdua." ucap Panji.


"Sebenarnya ibu bisa saja percaya sama kamu, Ji. Tapi setelah banyak hal yang dialami Echa. Jujur ibu sangsi sama kamu. Contohnya kenapa Echa bisa terkena pecahan kaca, kalau kamu berada di samping Echa mungkin tidak akan kejadian. Kenapa Echa bisa di pertemukan dengan Riana? Itu pasti di luar pengawasan kamu, kan?"


"Karena hal itu yang membuat ibu datang ke sini. Setelah kamu mengabari soal Riana, ibu semakin tidak tenang. Apalagi sekarang Echa sedang hamil. Kamu ke kantor. Apa itu bisa menjamin keselamatan Echa?"


"Maaf, Bu." Panji hanya menundukkan kepalanya.


 Ibu adalah sosok wanita yang luar biasa bagi keluarga maupun anak-anaknya. Seorang ibu pasti akan melakukan berbagai cara untuk membahagiakan anak-anaknya. Perjuangan seorang ibu pun tidaklah mudah karena ia mengandung, melahirkan dengan taruhan nyawa, merawat sejak kecil dari pagi hingga petang, tanpa ada rasa mengeluh sama sekali.


Seorang ibu tidak pernah ingin melihat anaknya terluka. Terlebih lagi jika ia memiliki anak perempuan yang nanti biasanya akan pergi untuk tinggal bersama suami. Ibu akan selalu merasa cemas dengan keadaan putrinya tersebut.


Keharmonisan hubungan pernikahan sesorang sangatlah dipengaruhi oleh orang sekitarnya, jika orang di sekitarnya dapat memberikan afirmasi positif. Maka pasangan yang sudah menikah tersebut juga dapat menjalankan kehidupan pernikahannya dengan bahagia dan harmonis.


"Bu, maafkan Echa kalau sudah bikin khawatir. Sampai ibu harus datang ke sini dari Jogja. Meninggalkan rumah."


Bu Laksmi tersenyum menggenggam erat tangan Echa. "Daripada ibu sampai demam mikirin kamu. Makanya ibu datang ke sini. Ibu juga rindu sama kamu, Nak.


Kalau biasanya bangun pagi ada kamu yang sibuk di dapur. Walaupun nggak terlalu pintar masak. Tapi sekarang tiap ibu mau ke dapur kok nggak semangat. Makan sendiri, semua serba sendiri."


Bu Laksmi menarik nafas panjang. Seakan ada beban berat yang menghimpit.


"Kamu dan Panji itu sama, Cha. Ibu di tinggalkan ayah kamu demi cinta pertamanya. Sedangkan Panji dia di tinggalkan ibunya sejak umur enam bulan. Karena surat talak dari suami pertamanya, yaitu Adrian Lesmana."

__ADS_1


Panji yang masih asyik menyantap makanan tiba-tiba menghentikan aktivitasnya.


"Apa!" pekik Panji.


__ADS_2