After Wedding (Panji Dan Echa)

After Wedding (Panji Dan Echa)
BAB 37


__ADS_3

"Sayang!" suara bariton yang pertama tertangkap di indera pendengarannya.


"Echa!" suara lembut nan hangat pun ikut memanggil namanya.


Echa membuka matanya pelan-pelan. Suara bariton dan suara lembut terus saling bersahutan. Seakan menuntunnya untuk membuka mata.


"Sayang!" seru Panji.


Pada akhirnya pandangannya sangat jelas. Orang-orang yang sayang padanya, orang-orang yang dia sayangi berkumpul di dalam satu ruangan. Dinding putih menjadi pemandangan pertama saat membuka pintu. Echa mengerutkan dahinya.


Ruangan apa, ini?


Aku dimana?


Apakah ini rumah sakit?


Ya Allah, apa yang terjadi sampai bisa di sini?


Ingatannya beralih pada kejadian malam resepsi pernikahannya. Di mana dia menemukan anak kecil yang kakinya terluka. Lalu beralih pada pahanya yang mengeluarkan darah. Mengingat hal itu membuat nafas terasa sesak. Suara monitor jantung pun seperti berlomba-lomba dengan nafasnya. Panji langsung meraih tangan Echa.


Salah satu kerabat Echa pun sigap mencari keberadaan dokter. Panji pun mencoba menenangkan Istrinya.


"Mas, anak itu! Anak itu!" Echa bicara masih terbata-bata. Sudah posisi memeluk suaminya, terasa tubuh istrinya masih gemetaran.


"Sayang, kamu tenang saja. Anak itu sudah berada di tangan ibunya." kata Panji.


"Ibunya? Mas, aku bermimpi kejadian itu melihat Lani menggendong anak itu. Apa itu pertanda kalau Lani ibu dari anak itu."


"Lani? kenapa kamu bermimpi melihat Lani?" tanya Panji.


"Aku tidak tahu, Mas. Mimpi itu persis kejadian malam itu. Dan aku melihat Lani menggendong anak itu." suara Echa masih ketakutan.

__ADS_1


Panji masih mencoba menenangkan Istrinya. Ucapan Echa yang melihat Lani dalam mimpi pun memang sulit dipercaya. Mungkin karena istrinya dan Lani punya masalah jadi terbawa dalam mimpi. Bukankah asal mimpi dari pikiran seseorang.


Panji menoleh ke arah Echa. Masih dengan ketakutannya, tangan Echa menggenggam erat seakan tak ingin lepas.


Tidak mungkin Lani punya anak? Setahu aku Lani itu masih single. Memang dia punya kakak yang single parent. Tapi apakah itu anak kakaknya?


Panji langsung mengambil handphone-nya di nakas rumah sakit. Dia ingat beberapa hari yang lalu menugaskan Mia menyelidiki soal kejadian pesta. Sayangnya Mia tidak juga mengangkat teleponnya.


Kak aku tidak masuk kerja besok lusa. Lusa peringatan kepergian mama.


"Astaga, aku lupa. Kalau hari ini peringatan kematian Tante Clarissa. Wajar kalau Mia tidak bisa di hubungi."


Panji terkesiap saat deringan telepon di meja nakas samping ranjang pasien. Dengan cepat dia mengangkat telepon jauh dari jangkauan istrinya.


"Iya, Rini. Ada apa?"


"Ini, Pak. Saya menggantikan Mbak Mia untuk mengecek cctv di tempat resepsi. Karena Mbak Mia ada urusan keluarga. Menurut pantauan cctv, anak itu di bawa sama Lani, Pak."


"Apa! Lani!" Panji menampakkan keterkejutannya. Tidak menyangka kalau ada Lani di balik kejadian ini.


"Oke, Kamu langsung lapor polisi. Bawa bukti cctv dari hotel. Kabari saya perkembangan selanjutnya." Panji menutup telepon. Lelaki itu kembali berjalan menuju kamar rawat istrinya.


"Kenapa, Nak?" tanya Bu Laksmi pada menantunya.


"Tidak apa, Bu. Bagaimana keadaan Echa?" Panji mengalihkan pandangannya ke arah istrinya yang kembali terlelap.


"Dokter kasih dia obat tidur. Setelah bangun Echa ngotot bilang kalau ada temannya yang di dalam kejadian. Itu pun dia lihat di mimpi. Sepertinya dia masih syok. Tapi sebenarnya Echa kalau punya masalah selalu begitu. Kebawa sampai mimpi. Ibu penasaran kenapa sampai bermimpi tentang temannya."


"Bu, saya mohon sementara tetap di sini. Sampai Echa pulih. Ibu mau kan tinggal sama kami?" Bu Laksmi mengangguk. Padahal Echa pernah bilang sama dia kalau Panji keberatan soal ibu mertuanya ikut tinggal bersama mereka.


"Ibu akan menjaga Echa sampai sembuh, Nak."

__ADS_1


"Terimakasih, Bu." Panji dan Bu Laksmi saling berpelukan.


Bu Laksmi dan Panji duduk tak jauh dari ranjang pasien. Sebelah kanan Bu Laksmi dan sebelah kiri ada Panji. Keduanya melempar pandangan ke arah Echa yang sudah di kasih obat penenang oleh dokter.


"Kata dokter apa, Bu?"


"Dokter bilang Echa ada trauma setelah kejadian itu. Echa itu takut sama darah. Dulu ibu pernah ngotot minta Echa masuk sekolah perawat. Karena ibu lihat di tes CPNS jurusan perawat banyak yang minat. Baru satu semester Echa beberapa kali kedapatan pingsan setiap melihat darah. Ibu tidak enak sama Paklik Malik. Dia punya teman yang bisa memasukkan Echa untuk masuk sekolah perawat. Ternyata saat Echa tinggal sama ayahnya trauma itu menimpanya."


"Bu, maaf kalau pertanyaan saya sensitif. Apa ibu pernah tahu kabar ayahnya Echa?"


"Ayahnya Echa sudah meninggal dunia saat Echa masih kuliah. Permintaan ayahnya Ingin bertemu dengan Echa diabaikan. Mungkin Echa masih marah saat tahu dia punya ibu dan adik kandung beda ibu."


Panji pikir selama ini dia lah yang paling pelik kehidupannya. Tapi seperti sebuah pepatah "Sekali-kali melihat ke bawah."


Menjadi seorang pejuang kehidupan memang tidak mudah, kita akan selalu dihadapkan dengan sebuah pilihan penuh resiko. Kesedihan juga kesendirian sampai harapan yang perlahan pupus seakan sirna oleh kelelahan hati dan pikiran. Sabar tak kunjung mendatangkan hasil, sedangkan tangan ini tidak mampu membungkam ribuan mulut yang membicarakan tentang diri kita.


Saat Panji berada di bawah. Merasa dunia tidak pernah adil padanya. Ketika dia di tikung temannya masa kuliah. Temannya bilang tidak mau ikut pencalonan ketua BEM kampus. Mendukung Panji maju menjadi kandidat. Nyatanya temannya malah jadi lawan tanding yang begitu menjatuhkan dirinya. Panji kalah karena fitnah yang menjatuhkan dirinya saat pencalonan.


Dia kalah jadi bahan tertawaan satu kampus. Apalagi kalau kabar ibunya gantung diri. Apalagi kalau bukan kabar tentang ibunya mengalami depresi saat dia masih bayi. Mau bertanya sama siapa? satu-satunya keluarganya adalah sang nenek kini sudah tiada.


Pada akhirnya berita itu hilang sendiri. Orang-orang juga sudah terlalu ingat pada gosip tentang dirinya. Ada pun yang jadi penguat adalah Kanaya, gadis yang dia cinta saat itu. Sayangnya dia tidak kuat meyakinkan gadis itu untuk menunggunya sampai sukses.


Ketika baru menampakkan karir, dia bertemu dengan Astrid, gadis yang membuatnya move on dari Kanaya. Malah sudah tahap lamaran. Sayangnya Panji mendengar Astrid pernah terjun kehidupan bebas dan sudah tidak perawan.


"Itu dulu, Kak. Sewaktu aku masih terjerumus di dunia bebas. Sebelum pada akhirnya aku sempat mati suri dan bertobat." kata Astrid saat itu.


"Apapun alasannya aku tidak bisa meneruskan hubungan ini. Maaf, sebaiknya kita batalkan saja rencana pernikahan kita." kata Panji saat itu. Lelaki itu meninggalkan kediaman Astrid.


"Saya minta maaf kalau sudah menyakiti perasaanmu. Tapi tetap tidak bisa mengubah keputusan saya. Saya tunggu pengembalian mahar dalam satu bulan ini."


"Kamu akan merasa bagaimana sakitnya di tinggalkan orang yang kamu cintai. Kamu akan merasakan pedih melihat orang yang kamu cintai bahagia dengan orang lain, Kak." Isak tangis sumpah serapah keluar dari mulut perempuan yang sudah mengenakan hijab.

__ADS_1


Kembali ke masa sekarang. Ibu Laksmi pamit pulang karena di jemput Paklik Malik. Hanya Panji sendiri yang kini berada di ruangan bersama Echa. Panji duduk sambil menggenggam erat jemari istrinya. Sesekali mengecup siku jemari perempuan halalnya.


"Cha, aku janji tidak akan oleng ketika melihat Savira. Entah kenapa Cha apa yang aku alami tentang Savira seperti karma yang dia sumpah Astrid dulu. Aku tidak mau terulang sama kamu, Cha. Karena saat ini memang aku sangat mencintaimu. Bukan Savira. Jika aku oleng lagi, tolong ingatkan aku. Agar tidak salah arah." Panji hanya bisa membatin. Dia yakin kalau terus terang Echa akan salah paham lagi.


__ADS_2