After Wedding (Panji Dan Echa)

After Wedding (Panji Dan Echa)
BAB 32


__ADS_3

Rini memasuki aula gedung tempat atasannya mengadakan resepsi. Sama seperti pegawai yang lainnya, dia juga penasaran siapa Istri bos-nya yang katanya di panggil Echa. Cantikkah sosok itu? mana cantik dengan Theresia yang katanya juga punya rasa dengan atasannya.


Bukan rahasia lagi bagaimana sikap There selama jadi sekretaris Panji. There sering menyiapkan makanan untuk bos nya. Meskipun temannya itu selalu bilang itu permintaan bos nya. Tidak ada yang mempercayai ucapan There.


Rini mencari teman-temannya, melemparkan pandangan setiap sudut aula. Tidak ada yang dia kenal, beberapa orang memakai jas pesta. Rini menebak pakaian orang-orang itu tidak sebanding dengan pakaiannya. Mungkin berapa kali lipat dari gajinya.


"Apa aku tanya There saja, ya? Dia datang nggak, ya?" tanya Rini sambil mengeluarkan gawainya.


Rini memberanikan diri menerobos para tamu agung. Kenapa di sebut tamu agung? Karena dari penampilan mereka sudah pasti bukan orang sembarangan. Langkah kaki gadis usia 25 tahun itu terus menelusuri lautan manusia.


"Ini pada kemana, sih?" gerutu Rini mencari teman-temannya.


"Rini," suara bariton memanggil dirinya.


Rini mencari arah suara. Pandangannya beralih pada lelaki yang sudah memakai tuxedo putih. Di kantongnya terselip bunga di kantong kanannya. Lelaki itu tampak gagah membuat Rini terpana.


"Rini," sapa Panji.


"Kok bapak disini? Bukannya harusnya siap-siap."


"Saya justru sengaja cari kamu untuk meminta jadi pendamping pengantin."


"Saya?" Rini menunjuk dirinya sendiri.


"Iya, saya mau kamu yang jadi pendamping pengantin. Bisa?"


"Aduh, pak. Saya tidak kenal sama istri bapak. Lagian kenapa harus saya?"


"Karena saya percaya sama kamu. Apa kamu keberatan?"


"Aduh gimana ya, pak? Saya penampilannya begini apa pantas jadi pendamping pengantin?"


"Kamu tenang saja, Rini. Kamu juga akan di make over satu ruangan dengan istri saya. Istri saya pasti senang sekali kalau kamu ikut berpatisipasi dalam acara ini.


Sebagai hadiahnya saya akan memberi penginapan gratis."


"Iyakah, pak?" Panji mengangguk sambil mengajak Rini menuju ruangan make up.


Di sebuah lorong, Rini menatap takjub. Bagaimana tidak? Pintu hotel yang di peruntukan orang kaya. Dia nanti akan menginap di sana. Beristirahat santai di sebuah kamar mewah mungkin.


"Ah, tidak mungkin pak Panji akan memberi kamar mewah. Paling juga kamar yang paling murah di hotel ini. Eh, tapi paling murah mungkin sekitar harga 500-an. Ya ampun Rin, di kasih penginapan gratis aja banyak ngeluh." batin Rini


Rini sudah berada di depan pintu ruang make up. Sejenak dia tarik nafas dalam-dalam, jantungnya berdegup kencang, seperti akan bertemu seseorang yang spesial. Tapi di tepisnya perasaan itu. Rini menoleh kearah Panji.


"Masuk saja, Rin." ajak Panji.

__ADS_1


Rini pun memasuki ruang make up. Dari belakang tampak seorang wanita yang sudah memakai gaun lengkap. Ada beberapa orang masih menata penampilan sosok itu.


"Mbak cantik sekali," puji salah satu staf perias.


"Terimakasih," jawab Echa.


"Suara itu kok kayak Theresia, ya?" batin Rini.


"Sayang," sapa Panji memeluk istrinya dari belakang. Lelaki itu bahkan tidak malu dilihat orang-orang.


"Mas, ini masih banyak orang. Malu ih." Echa menggeliat ketika Panji mengecup pundaknya yang polos.


"Sayang, aku ada kejutan buat kamu." bisik Panji.


"Apa itu?" Echa pun ikut berbisik.


"Lihat ke belakang."


Seperti instruksi suaminya Echa pun membalikkan badannya. Tentu setelah Panji melepaskan pelukan mesranya.


Wajah rini dan Echa saling kaget. Rini tidak menyangka kalau perempuan yang di peluk Panji adalah Theresia. Begitu juga sebaliknya, Echa tidak menyangka kalau Rini di pertemukan dalam status sudah jadi pengantin Panji.


Rini masih belum percaya siapa yang dia lihat. Masih dalam mematung pikiran Rini sudah kemana-mana. Melihat bagaimana Panji memperlakukan temannya dengan baik. Melihat betapa keduanya memancarkan aura kebahagiaan.


"Rin," Echa kembali mengulang panggilannya.


"Re, jadi ..."


Echa mengangguk malu. Tebakannya Rini pasti berpikir macam-macam tentang dirinya. Sama seperti orang-orang yang menggosipkan dirinya di kantor.


"Iya, Rin. Saya perempuan yang di nikahi pak Panji. Saya perempuan yang tadinya tidak jadi menikah karena di batalkan pengantin lelaki. Dan Mas Panji lah yang menggantikannya. Maaf, Rin saya tidak pernah menggoda pak Panji. Tapi dia cinta pertama saya sejak kecil. Karena kami bertetangga di kampung." Echa bicara sambil menundukkan kepalanya. Dia masih belum berani melihat reaksi temannya.


"Saya menikahi Echa atau There juga tidak terpaksa, Rin." Panji pun ikut bersuara. Dia tidak mau Echa saja yang berusaha klarifikasi.


"Saya sudah mencintai Theresia sejak dia jadi sekretaris. Dari perhatian dia selama ini, baik secara lisan maupun non lisan. Saat saya down putus dari Savira, dia yang menguatkan saya. Kamu tahu Rini, kenapa saya meminta kamu menemui Echa di sini. Karena saya percaya kamu baik pada istri saya."


"Mbak, bisa make over sahabat saya?" pinta Echa.


"Bisa Mbak." MUA langsung menuntun Rini duduk di kursi untuk di rombak penampilannya.


"Terimakasih, Mas." bisik Echa.


"Nggak gratis itu." Panji mengerlingkan matanya.


"Hah! Maksudnya?"

__ADS_1


"Ah, kamu kok nggak peka sih? Yasudah aku mau check ibu dan yang lainnya." Panji hendak keluar di tahan Echa.


"Kamu tuh pengantin, Mas. Nggak boleh banyak gerak. Nanti acara belum kelar kamu sudah keburu ambruk. Kata orang usia masuk 35 itu tulang mulai cepat rapuh. Di tandai dengan gampang lelah."


"Hey, aku masih kuat. Jangankan di pesta nanti. Sehabis pesta pun aku tetap kuat." Panji memperlihatkan otot lengannya. Echa hanya tertawa menanggapi ucapan suaminya.


"Nggak percaya? mau aku ..." Echa mencubit pinggang lelaki Panji meminta suaminya memfilter ucapan. Tidak enak di dengar orang banyak.


"Sayang, aku keluar dulu, ya. Soalnya ...." Panji menarik nafas dalam-dalam. "Pakde Cahyadi juga datang dia mau ketemu di lain ruangan." Echa membulatkan matanya. Masih punya muka mantan calon mertuanya datang ke pernikahannya.


"Mas, undang mereka?" Panji menganggukkan kepalanya. Echa perlu tahu tentang hubungan keluarga dari ayahnya Panji. "Aku dan Afan... Sepupu" jelas Panji.


"Kenapa kamu tidak cerita sejak awal, Mas?" protes Echa.


"Maaf, Sayang. Protesnya di simpan dulu. Tidak enak sama yang lain." bisik Panji. Echa mengurutkan dadanya. Dia baru sadar sekarang sedang berada di resepsi.


"Tidak apa kan aku tinggal dulu. Kan ada Rini yang akan menjadi pendamping pengantin. Aku tunggu di aula." Panji melabuhkan kecupan di dahi istrinya.


Sepeninggalan Panji Echa di minta duduk sambil menunggu di panggil oleh pengelola acara. Rini yang sudah selesai di rias pun duduk di samping temannya. Tangan halusnya menggenggam erat jemari Echa. Seakan masih belum percaya yang jadi istri atasannya adalah temannya sendiri.


"Re, aku tidak menyangka kalau kamulah Istri pak Panji. Rasanya bagaimana, Re?"


"Tidak bisa di ungkapkan dengan hal apapun, Rin. Kamu kan sudah tahu bagaimana proses aku bisa menikah dengan Mas Panji. Terasa mendadak dan penuh kejutan."


"Berasa kayak Cinderella ya, Re. Di mana kamu pernah bilang sama aku mencari kakak tetanggamu yang merupakan cinta pertamamu. Tapi kamu juga pernah nangis saat mendengar pak Panji mempersiapkan pertunangannya dengan Savira. Nyatanya, kamu lah yang mendampinginya di pelaminan." kata Rini mengenang masa-masa masih satu kost dengan Echa. Mereka pernah satu kost sebelum Rini mendapatkan kost-kostan dengan harga terjangkau.


"Dan kakak tetanggaku adalah Mas Panji, Rin." ungkap Echa.


"Re, selamat, ya semoga ini menjadi yang pertama dan terakhir buat kalian berdua."


"Terimakasih, Rin. Terimakasih sudah menjadi teman baikku selama ini." Rini dan Echa saling berpelukan.


"Mbak Echa, sudah waktunya turun. Pengantin pria sudah menunggu di bawah." kata pihak Wedding Organizer.


"Rin, kok aku grogi ya?"


"grogi mu akan berbayar, Re. Mereka yang mencemoohmu akan bungkam setelah ini." kata Rini.


Suara pembawa acara terdengar menggema. Echa yang masih di lantai atas pun di tuntun untuk turun dari tangga. Tampak Panji sudah menunggu di pintu bawah. Gaun mereka berwarna putih dengan bridal dress yang panjang dan berekor. Tangan Panji pun menyambut sang istri.


"Kamu cantik sekali, Sayang." puji Panji.


Dan sambutlah pasangan yang sedang berbahagia hari ini.


Panji Agung Laksono dan .....

__ADS_1


__ADS_2