After Wedding (Panji Dan Echa)

After Wedding (Panji Dan Echa)
BAB 33


__ADS_3

Suara alunan lagu kamu yang ku tunggu menggema di aula gedung resepsi. Echa tidak tahu kalau itu adalah lagu favorit Panji saat menyatakan perasaan pada Savira. Panji memejamkan mata sejenak mengingat setiap bersama seseorang lagu itu selalu di nyalakan.


Sebenarnya dia tidak merequest lagu itu. Itu hanya sumbangan lagu dari band pengiring acara. Matanya memandang ke semua undangan acara. Kakinya terhenti pada sepasang laki-laki dan perempuan yang hadir disana. Gaun cantik berwarna putih membuat Panji terpana. Mumpung istrinya belum turun dia masih bisa memandang sosok itu dari jauh.


"Vira," batinnya terus meronta.


Beberapa tamu ikut bernyanyi bersama iringan musik di acara. Tak terkecuali Savira, di belakang punggungnya ada sosok yang terus menyandarkan kepalanya di pundak wanita itu. Tentu saja itu adalah Pandawa, lelaki yang dia anggap merebut Savira. Padahal saat itu sedikit lagi dia dan Savira akan ke jenjang yang lebih serius.


"Kakak harus ingat, kalau sekarang sudah jadi suami orang lain. Kak Panji tidak lupa kalau Echa sangat sensitif soal Savira. Jadi jangan sampai kakak jadi duda dalam waktu yang singkat." suara bisikan terdengar dari telinga kanannya.


"Ya ampun, Mia. Bisa tidak kalau mau muncul assalamualaikum dulu. Bukan ngagetin kayak gini." protes Panji.


"Ya itu karena kak Panji masih memikirkan wanita lain di acara pesta pernikahan sendiri. Kalau masih berharap sama Savira kenapa malah nikah sama orang lain. Kasihan istri kakak kalau dia tahu hati suami milik perempuan lain. Apalagi perempuan yang sudah jadi istri orang." Mia duduk di kursi sambil melipat kedua kakinya. Bahkan belahan bawahan gaun memperlihatkan mulusnya paha gadis itu.


"Kak Panji lebih baik fokus sama acara ini. Jangan karena bertemu mantan membuat acaranya hancur berantakan." Mia berdiri meninggalkan kakak sepupunya.


Panji berjalan menuju arah tangga. Di mana istrinya akan turun di dampingi beberapa pendamping seperti Rini dan juga Indri. Sesekali merapikannya jas nya di pantulan kaca di tempat dia berdiri.


Masih terdengar lagu "Kamu Yang Aku Tunggu". Panji meresapi setiap lirik lagu. Dulu dia memang sangat berharap kalau Savira memang sosok yang dia tunggu selama ini. Mampu mengobati rasa trauma pada kegagalan di masa lalu. Di masa dua kali Panji sempat gagal menikah. Dengan Kanaya dan dengan Astrid.


Langkah ketukan sepatu menandakan istrinya sudah siap. Panji menoleh kearah tangga, Echa tampak cantik dengan balutan gaun pengantin dengan ekor yang panjang.


Echa Tampil dengan balutan wedding gown bernuansa putih klasik dengan look strapless. Gaun dengan model off shoulder itu memiliki train yang panjang hingga menjuntai ke lantai bak putri raja. Gaun tersebut semakin cantik dengan hiasan mutiara dan payet yang mengisi keseluruhan gaun. Untuk semakin menambah kesan layaknya putri kerajaan, rambutnya ditata rapi dengan sanggul dan headpiece yang disematkan di kepala.


Jas yang dikenakan Panji untuk resepsi didominasi oleh tuxedo bewarna putih. Dengan selipan bunga di kantong kanannya. Keduanya saling bertukar pandang ketika bertemu di depan pintu tangga. Tangan Panji meraih jemari pengantinnya. Tepat saat Echa sudah tidak berjarak lagi di hadapan Panji.


"Terimakasih, Mas." Echa sedikit menunduk malu-malu.


"Sama-sama, Sayang." Panji dengan mata genitnya membuat Echa kembali menundukkan kepalanya. Keduanya sambil tersenyum malu-malu.


Mereka melangkah menuju altar pernikahan. Tapi di tengah jalan Paklik Malik meminta Panji menunggu di aula. Sementara dirinya yang akan mengantarkan anak dari kakaknya kepada suaminya.

__ADS_1


"Paklik pernah nonton drama Korea kesukaan Indri, seorang ayah mengandeng putrinya di hari pernikahan. Karena ayah kamu sudah di surga, jadi biarkan paklik yang menggantikan untuk mengiringi keponakanku ini. Kamu cantik sekali, Cha. Paklik pangling. Mirip sama ibu kamu saat menikah dengan ayahmu."


"Terimakasih, Paklik."


"Sama-sama. Ayo nanti kasihan suami kamu menunggu di sana."


"Iya, Paklik."


Buat anakku, Theresia ketahuilah bahwa surgamu kini telah berpindah ke suami. Jadilah istri yang taat dan bertanggung jawab.


Kami semua berdoa semoga Allah bantu melindungimu dan suami. Paklik tidak bisa lagi menjemput kamu pulang sekolah. Datang ke sekolah untuk jadi wali kamu. Kalau kamu pulang terlambat ibu kamu gelisah meminta Paklik mencari keberadaan putrinya.


Paklik Malik menyeka air matanya. Gadis kecil yang dulu di sayanginya kini sudah punya kehidupan baru. Menjadi seorang istri, menuju bakti pada suaminya.


"Mas Wahyu, saya sudah menunaikan tugas menjadi Paklik sekaligus ayah buat Echa. Sekarang dia sudah punya tempat berlindung yaitu suaminya." Paklik Malik menatap langit aula gedung resepsi. Berharap kakaknya melihat kebahagiaan Echa dari surga. mereka sampai di altar pernikahan. Panji pun sudah berdiri menunggu istrinya.


Suara MC menggema di aula pernikahan.


Yang saya hormati, para undangan yang kami muliakan. Selamat pagi, selamat datang di acara pernikahan yang sakral dan penuh berkah ini.


Pertama-tama, marilah kita panjatkan puji syukur kehadirat Allah SWT, karena rahmat-Nya, kita bisa menghadiri acara keluarga besar (nama) dan ibu (nama) di pernikahan anaknya yang bernama (nama pasangan pengantin) dalam keadaan sehat walafiat...


Hari ini adalah hari yang sangat spesial bagi kedua keluarga, karena akan menyatukan dua insan yang saling mencintai dan berjanji untuk saling mengisi dan mendukung.


Seperti yang sudah kita ketahui, keduanya sudah melangsungkan ijab kabul dua Minggu yang lalu di kota Yogyakarta. Dimana keduanya besar di sana. Saat ini mereka sudah resmi menjadi suami istri. Sah di mata agama dan negara. Semoga kalian menjadi keluarga sakinah mawadah warahmah.


Amin.


Dan sambutlah pengantin kita. inilah pasangan yang sedang berbahagia.


Panji Agung Laksono dan

__ADS_1


Theresia!"


Suara riuh tepuk tangan menyambut kedatangan pasangan yang sedang berbahagia ini. Semua tamu undangan menatap takjub akan kecantikan dan ketampanan pasangan tersebut. Salah satunya Elsa yang juga ada di antara para tamu undangan.


"Akhirnya kak Panji menemukan pelabuhan terakhirnya. Istrinya cantik." puji Elsa.


"Terus, kamu kapan nyusul?" sahut Vira.


"Aku? O nanti dulu, aku kan belum wisuda. Mau jadi wanita karies dulu. S2 dulu."


"Aku juga belum wisuda, Sa."


"Jangan kebanyakan planning, Sa." sahut Dawa.


"Ya biarin," Elsa menjulurkan lidahnya ke arah pasangan tersebut.


"Kak Dawa jangan terlalu nempel sama Vira. Istri kakak nggak akan hilang." Elsa rada risih melihat kemesraan keduanya.


"Biasa sayang, kalau jiwa jomblo lagi membara." sahut Dawa pada istrinya. Elsa hanya mencibir menanggapi tingkah pengantin baru tersebut.


 Sementara di sudut lain, beberapa wanita masih syok saat tahu siapa istri dari atasannya. Banyak yang tidak terima dengan status Theresia.


"Nggak salah? pak Panji lihat darimana sih? Cantik enggak, kampungan juga iya. Aku yakin ada yang tidak beres dengan pilihan pak Panji." sahut Lani.


"Sudahlah, kamu terima saja kalau Theresia sekarang nyonya Panji Agung Laksono. Bukan setara sama kita lagi." kata Ajeng.


"Itu Rini yang jadi pendamping pengantin. Oooo ... Jadi Rini sudah tahu kalau Theresia itu istri pak Panji. Diam-diam dia merahasiakan ini sama kita." Lani menatap sinis ke arah Rini.


"Kenapa sih kamu benci banget sama Theresia?" tanya Amel.


"Karena dia yang menggeser posisiku di kantor. Dulu pak Panji menjanjikan aku untuk jabatan bagus di kantor. Tapi nyatanya apa? malah di kasih staf biasa"

__ADS_1


__ADS_2