After Wedding (Panji Dan Echa)

After Wedding (Panji Dan Echa)
BAB 3


__ADS_3

Kamu cantik sekali, Nduk," puji Ismi pada putrinya.


Ayla hanya menundukkan kepalanya. Sekalipun tak ada rona bahagia di wajah. Bagaimana dia bisa bahagia kalau lelaki yang akan menikahi adalah lelaki lebih tua dari ayahnya.


"Ay, ibu minta maaf kalau harus melakukan ini. Hutang kami banyak sama beliau. Ibu sudah berusaha bayar pakai uang yang di berikan sama pak Cahyadi. Tapi beliau tidak mau menerima uang kami, dia mau menikahi kamu. Maafkan, Ibu, ya, Nak,"


Ayla masih tidak bergeming. Terbayang di benaknya bagaimana hidupnya setelah ini, ketakutan terus menerangi pikirannya. Hidup satu rumah dengan lima istri pak Bahar.


"Bu, izinkan saya pergi dari sini," mohon Ayla.


Ismi tidak bisa berbuat apapun, kalaupun Ayla dia bebaskan sudah pasti Ismi yang menjadi sasaran selanjutnya.


"Ibu mohon kamu sekali ini nurut, ya, Nak. Kamu tidak mau kan kalau mereka melakukan sesuatu sama ibu," mohon Ismi.


Ayla tidak tahu harus berbuat apa. Pasrah dengan apa yang akan terjadi. Seandainya dia bisa meminta bantuan pada orang lain, sudah di lakukan sejak awal. Sejak dia dan ibunya terusir dari kontrakan karena sudah ada yang membayar lebih mahal.


Ayla tahu kalau itu perbuatan seseorang yang dia hormati. Bahkan dia tahu kalau ini ada hubungannya dengan Taufan. Tapi dia bisa apa? dia hanya gadis miskin yang bisa bersekolah kampus paling bergengsi seantero Jogjakarta.


Di sana dia berkenalan dengan seorang lelaki yang baik. Lelaki idaman setiap wanita, semua yang ada pada lelaki itu sempurna. Baik, taat agama, prestasi bagus, dan siapa sangka lelaki itu menautkan hati pada dirinya.


Saat itu, dia hanya mahasiswa baru yang tergabung dalam forum organisasi mahasiswa. Dimana di ketuai oleh Taufan. Ya namanya Muhammad Taufan Andalas.


Dari bertemu dalam organisasi, Taufan sering menawarkan diri mengantar pulang. Kadang lelaki itu sudah muncul di tempat budenya. Dimana Ayla tinggal selama kuliah. Dari sana cinta mereka bersemi. Setelah tamat kuliah, Taufan berjanji akan melamar dirinya setelah Ayla wisuda.


Empat tahun menjalin hubungan hingga termasuk waktu LDR. Setelah Taufan menyelesaikan kuliah, pemuda itu mendapat pekerjaan di Kalimantan pada perkebunan sawit.


"Aku sudah minta ibuku datang menemui kamu. Apa dia ada datang ke rumah?" pesan singkat dari Afan.


"Belum, kak Afan kapan pulang?"


"Bulan depan. Kenapa kamu sudah tidak sabar bertemu denganku?"


"Iya, aku rindu sama kakak,"


"Dan aku akan menepati janjiku dulu,"

__ADS_1


Bu Cahyadi akhirnya datang ke kontrakan Ayla. Gadis yang berprofesi sebagai tenaga pendidik di desa K pun senang. Ucapan kekasihnya tidak sekedar omong kosong.


Bu Cahyadi ternyata sangat baik. Dia datang menyampaikan pesan Afan untuk melamar Ayla.


"Kamu manis sekali, Nak. Tidak salah kalau anakku menautkan hati sama kamu. Ibu saja pertama melihat kamu langsung jatuh cinta,"


Sepatah dua kata akhirnya Ayla menerima lamaran Afan. Berencana memberitahu soal lamaran setelah Afan pulang ke Jogja.


Dan sore itu, sepulang dia dari mengajar, Ayla menemukan barangnya sudah di depan kontrakan.


Rupanya, mereka diusir dari rumah kontrakan. Hal ini karena tempat mereka sudah ada yang bayar dua kali lipat.


"Tapi kan saya sudah lunas, Bu," kata Ayla.


"Saya tidak mau tahu. Pokoknya kalian pergi dari sini!" usir pemilik kontrakan


Ayla dan ibunya membawa barang-barang mereka meninggalkan kontrakan.


"Harusnya kita tidak usah menerima lamaran Afan. Kan jadi gini endingnya!" kata Bu Ismi.


"Tadi pas ada orang yang lihat kontrakan kita. Ibu ngelihat mobil pak Cahyadi. Apa kamu lupa kalau dulu pak Cahyadi pernah menghina mendiang ayahmu. Karena mau pinjam uang untuk berobat kamu,"


"Tapi kata kak Afan uang berobat itu dari ayahnya,"


"Ibu yakin itu uang pribadi Afan. Makanya dia nolak saat kamu balikin duitnya. Coba kalau pak Cahyadi, pasti di kasih bunga."


Kembali ke masa sekarang. Saat Ayla di beri tumpangan tempat tinggal sama pak Bahar. Tidak terpikirkan kalau dia akan di jadikan istri ke enam oleh lelaki paruh baya itu.


Demi melunasi hutang orangtuanya, Ayla harus menerima nasibnya. Ayla memandang cermin dari atas sampai bawah. Gadis itu bolak-balik melepaskan kegelisahannya.


Sebuah nomor yang dia buka. Hatinya gamang antara menghubungi lelaki itu atau pasrah dengan keadaan.


"Kak Afan tolong aku!" batinnya.


"Bu Ismi, di cari sama Bu Laila," panggil Bu Nurul.

__ADS_1


Ismi meninggalkan Ayla di kamar pengantin. Tampak Bu Nurul menatap sinis kearah Ayla.


"Kalau kamu masih punya harga diri tolong jangan teruskan pernikahan ini. Saya tahu tujuan kamu mau menikah dengan pak Bahar karena uang kan? kamu itu masih muda, tapi sudah murahan," Ayla menggenggam erat ujung baju pengantinnya.


"Kamu mau saja di jual ibu kamu, apa kalian setipe mau jual dirinya demi hidup enak. Jangan mimpi!" Bu Nurul berbicara pelan seakan berbisik. Dia tidak mau rencananya hancur karena kehadiran Ayla.


"Anda boleh menghina saya, tapi jangan menghina ibu saya," Ayla berbicara lantang.


"Oh, kamu pikir saya takut, bukan saya saja yang akan membuat hidup kamu di neraka. Tapi kakak yang lain serta anak dan menantu kami juga akan membuat hidup kamu di neraka,"


Bu Nurul langsung meninggalkan kamar pengantin Ayla. Tampak gadis itu masih merenungkan semua ucapan Bu Nurul.


Beberapa saat kemudian terdengar teriakan dari kamar pengantin. Bu Ismi yang namanya di panggil pun mendatangi kamar pengantin. Hanya baju yang tadi di kenakan Ayla sudah terpajang di tempat tidur. Tubuh Bu Ismi lemas mengetahui kalau anaknya kabur.


Dapat dia bayangkan amukan pak Bahar karena masalah ini. Terlebih dia yang akan jadi sasaran lelaki tua itu.


"Ya Allah, Nak. Kenapa kamu malah pergi? tidakkah kamu kasihan sama ibu?" ucap Bu Ismi lirih.


"Kamu minta di kasihani sama anakmu, ismi. Tapi kamu sendiri tidak kasihan sama anakmu sendiri, dia masih muda, masa depannya cerah, dan kamu hampir menghancurkannya," kata Bu Nurul.


Bu Ismi hanya diam dan terisak-isak. Bu Nurul pun langsung mendekati wanita seumur dirinya.


"Sebelum pak Bahar marah lebih baik kamu tinggalkan tempat ini," bisik Bu Nurul.


Di sebuah jalan tampak seorang gadis berhijab berlari seperti ketakutan. Tanpa alas kaki di tengah teriknya udara panas. Dia tidak peduli soal itu, yang di pikirkan saat ini pergi menjauhi tempat pak Bahar.


Lama dirinya terhenti di tengah sawangan.


Nafasnya terengah-engah, sebentar-sebentar dia menghentikan langkahnya. Tangannya merogoh kantong. Baru di sadari kalau handphone tertinggal di tempat pesta.


"Ya Allah, bagaimana caranya aku bisa tahu keadaan ibu?


Mereka pasti sudah melakukan sesuatu pada ibu. Ya Allah lindungilah ibuku dari marabahaya," Doa Ayla dalam hati. Dia merasa keadaan sudah lebih tenang dan jauh dari keramaian. Kakinya mulai lelah bersamaan dengan tubuhnya yang juga lelah.


Ayla mendapatkan tempat istirahat yang aman. Gadis itu duduk di balik pohon beringin. Udara panas terik di siang hari membuatnya lelah setelah jauh berjalan meninggalkan tempat pak Bahar.

__ADS_1


"Ya Allah, jika memang jalan hidupku seperti ini yang engkau gariskan, aku hanya bisa berharap secercah harapan. Tak perlu yang indah, pasti bisa menjadi tempat aku berlindung saat ini,"


__ADS_2