After Wedding (Panji Dan Echa)

After Wedding (Panji Dan Echa)
BAB 55


__ADS_3

"Cha, kamu nggak apa kan kalau aku bantu pengobatan Afan? kalau kamu keberatan aku hanya bantu biaya saja tidak sampai pemilihan kamar dan segala macam." kata Panji meminta izin dari istrinya.


"Tidak masalah, Mas. Bukankah kalian bersaudara? kenapa aku harus melarang? Lakukan apa yang menurut kamu baik, Mas. Cuma maaf kalau urusannya keluarga Tante Dewi aku menolak. Yang ada kamu nyari kesempatan." kata Echa melempar pandangan ke arah jalanan.


"Kamu masih cemburu sama Vira? Tapi kan dia sudah punya suami, Cha. Hey, kalau dia masih cinta sama aku, nggak mungkin dia mau nikah sama Pandawa. Nggak mungkin dia nolak, aku saat mau balikan dulu. Itu tandanya dia sudah ..."


"Tapi kamu yang masih baper sama dia, Mas." potong Echa.


"Capek aku ngomong sama kamu, Cha. Suudzon terus, aku senang kalau kamu cemburu artinya ada cinta buat aku. Tapi kalau sikap kamu kayak gini itu sudah berlebihan, Cha." Panji berdiri di depan balkon kamar. Sementara Echa dengan perasaan kesal pergi ke dapur. Mempersiapkan sarapan karena sudah jam tujuh pagi. Gara-gara ulah suaminya dia jadi kesiangan dan tidak sempat sholat subuh.


Pagi ini mereka sudah berada di depan meja makan. Echa sudah mempersiapkan sarapan untuk suaminya. Walaupun jalannya sedikit tertatih karena di ronde sama Panji tadi malam. Echa sudah protes karena sudah lelah, tapi sayangnya Panji tetap melanjutkan aksinya. Alasannya supaya Echa tertanam bibit calon anak mereka.


Seperti sebelumnya mereka merencanakan akan pergi ke rumah sakit. Setelah mendapatkan kabar kalau Afan sudah berada di rumah sakit Bhayangkara Jakarta Pusat. Setelah itu baru akan ke rumah sakit.


"Mia, hari ini saya tidak akan ke kantor. Jadi kamu handle semua schedule dengan klien yang lain. Kamu ajak Rini atau Sasya untuk membantu." telepon Panji.


"Emang kak Panji mau kemana?" tanya Mia.


"Saya ada urusan penting. Pokoknya kamu atur lagi jadwal hari ini."


"Baik, Pak. Ada lagi?"


"Tidak. Sementara ini cukup." Mia dan Panji saling menutup komunikasi.


Panji kembali menyambangi istrinya yang berkutat di dapur. Tampak Echa hanya sibuk dengan aktivitasnya. Tak peduli kalau Panji sudah duduk di meja makan.


Echa tersentak merasa bahunya berat. Tentu saja sang suami sudah membelitkan lengannya di pinggang Echa. Echa tak melakukan perlawanan. Menerima apa yang di lakukan suaminya. Masih menggunakan piyama couple bersama sang istri.

__ADS_1


"Kok belum mandi?" tanya Echa.


Panji menyeruput kopi buatan istrinya. Aroma kopi Arabika kesukaannya sudah mengusik indera penciumannya sejak dari kamar. Echa sepertinya sudah tahu kalau suaminya suka dengan jenis kopi tersebut. Tadinya dia memang masih mau menggoda sang istri. Bukankah itu salah satu bumbu kebahagiaan dalam rumah tangga.


"Kamu juga belum mandi, apa mau mandi bareng?" Panji berlagak genit.


"Ya kan kita kesiangan. Perutku lapar makanya langsung ke dapur. Masak dulu siapin sarapan buat suamiku tersayang." Echa menjentik hidung Panji.


"Istriku kok hari ini genit banget. Apa karena service tadi malam?" Echa menoleh. Perasaan dia nggak genit seperti yang di tuduh Panji. Kalau pun rada manja kan wajar sama suami sendiri. "Biasa aja." Echa tetap menyibukkan diri di kitchen set.


"Jadi kita mandi bareng, ya." Panji kembali menempelkan tubuhnya di balik punggung istrinya.


"Enggak, yang ada nggak jadi mandi. Mas mandi duluan. Kan katanya mau urus soal kak Afan. Aku nggak ikut ya, Mas. Capek banget, besok saja ya ke rumah sakit." bukan sekedar alasan. Memang badannya terasa remuk sekali.


Panji meletakkan tangannya diatas dahinya. Badan Echa sedikit hangat. "Kamu sepertinya kurang sehat, Cha. Aku tidak bisa pergi kalau melihat kamu seperti ini."


" Nggak apa aku sendirian di rumah. Lagian nggak kemana-mana kayaknya. Paling juga tiduran lagi.


"Bagaimana kalau aku suruh orang ke rumah sakit. Tidak mungkin aku meninggalkan kamu sendirian di rumah. Nanti kalau ada apa-apa bagaimana?" Panji khawatir kalau meninggalkan Echa sendirian di apartemen.


"Mas, mereka itu keluargamu. Sangat membutuhkan bantuanmu. Katanya kamu mau suruh Rini menemani aku. Sekarang aku telepon Rini biar kesini. Mas sekarang mandi biar aku siapkan bajunya. Biar ..." Panji mengeratkan pelukannya. "Perasaanku nggak enak. Aku tidak jadi pergi. Aku bisa minta salah satu staf dan aku punya teman yang bekerja di sana. Jadi aku menemanimu. pasti kamu seperti ini gara-gara aku tadi malam." Panji masih merasa tidak enak.


"Gini saja, Mas. Kan rumah sakitnya dekat. Masih sekitar Jakarta pusat kan? Mas bisa kesana sebentar saja. Mas hormati mereka sebagai keluargamu. Please!" mohon Echa.


"Yasudah, aku akan pergi sebentar. Kamu jangan buka pintu kalau bukan aku yang pulang. Sekarang kamu makan dulu. Ini ada kotak obat, biasanya kalau merasa kurang sehat aku minum parasetamol. Agak manjur sih. Kalau ada apa-apa telepon aku. Paham!"


"Iya, Mas. Paham. Sudah kamu mandi dulu. Bau acem!" Echa mengibaskan tangannya ke udara. Panji hanya tersenyum nakal. "Memang kamu tidak? Kan sama-sama belum mandi. Mana tadi pasti berkutat sama bumbu. Lebih bau mana? Diajak mandi bareng nggak mau." Echa mendorong suaminya masuk ke kamar. Bahkan memaksa Panji masuk kamar mandi. Panji sengaja membekukan bobot badannya. Echa masih berusaha membuat suaminya sampai di kamar akhirnya ambruk bersama tubuh Panji diatasnya. Lelaki memamerkan wajah jahilnya.

__ADS_1


"MAAAAAAASS!"


...****...


Waktu sudah pukul 2 siang. Panji pun sudah meninggalkan apartemen sejak dua jam yang lalu. Tentu dengan tujuan menemui keluarga Afan di rumah sakit Bhayangkara. Echa sudah mandi. Karena ulah jahil suaminya untuk kesekian kalinya lelaki itu kembali mengguncang ranjang mereka. Bahkan sampai lututnya sudah bergetar.


Echa merasa tubuhnya sedikit lemas. Suara bel pintu apartemen membuatnya mau tak mau beranjak ke monitor. Tampak seorang wanita membelakangi pintu. Echa bingung apa harus membuka pintu atau tidak. Namun terdengar suara dari monitor.


"Saya ibunya Lani. Bisakah kita bicara sebentar?"


Mau tidak mau dia pun membuka pintu. Tampak wanita itu masih membelakanginya. Echa seperti tidak asing dengan sosok itu.


"Maaf, Tante ada apa datang kesini? kalau mau bertemu Mas Panji dia tidak ada di tempat."


Wanita itu berbalik. "Saya mau bertemu dengan istrinya."


"Tante Riana?" ucap Echa penuh tekanan.


Riana mencoba ramah pada si pemilik rumah. Walaupun dia tahu sang pemilik tidak akan pernah menyukai kehadirannya.


"Apa kabar anak tiriku?" sapa Riana dengan santai.


Tanpa menunggu reaksi Echa, Riana langsung masuk ke dalam rumah. Menatap kagum isi rumah anak tirinya. Dalam hatinya merasa kagum atas apa yang di dapat Echa.


"Enak, ya. Gadis kampung seperti kamu bisa dapat lelaki kaya. Padahal dulu Panji sempat saya jodohkan dengan anak saya. Tapi malah kamu yang dapat. Sama dengan ibunya, merebut apa yang aku punya." Riana menyender di dinding sambil melipat kedua tangannya.


"Tante mau apa? Sebentar tadi Tante bilang mamanya Lani. Jadi?"

__ADS_1


"Jadi kalian itu satu ayah. Saudara kandung, dia adikmu, Theresia."


"Adik? jadi aku dan Lani?" Echa merasa seperti kupu-kupu berputar di atas kepalanya. Semakin lama semakin berat. Entah dia tak tahu lagi apa yang terjadi. Terakhir samar-samar dia mendengar suara laki-laki. Gelap!


__ADS_2