After Wedding (Panji Dan Echa)

After Wedding (Panji Dan Echa)
BAB 15


__ADS_3

Di sebuah kamar dalam apartemen milik pengusaha madu nampak gelap tanpa pencahayaan. Hanya cahaya di balik tirai kamar berwarna putih. Kamar besar yang berukuran luas, lebih luas dari kamar Echa di kampung. Tempat tidur besar yang bisa di tempati lebih dari dua orang. Bahkan masih ada ranjang di bawahnya.


Di samping ranjang terdapat satu kabinet bagian kanan tepat berhadapan dengan jendela kamar mereka.


Belum lama Echa menempati apartemen milik suaminya. Walaupun Echa sering di suruh bolak-balik mengambil file tertinggal di rumah. Tapi tidak pernah terpikir olehnya menjadi istri seorang Panji Agung Laksono.


Panji menurunkan tubuh Echa di ranjang yang bertaburan kelopak mawar merah. Pelan-pelan dia melepaskan tautan bibirnya agar Echa bisa bernapas. Keduanya saling bertatapan dengan intens. Tak akan dia lewatkan momen ini sedikitpun.


"Cha," suara Panji menggema di indera pendengaran istrinya. Bulu kuduk Echa meremang seketika. Bukan karena mendengar suara hantu atau setan. Tapi aroma nafas suaminya sudah membuatnya melambung.


"Iya, Mas." Echa menunduk malu.


"Kamu sudah siap menjadi istriku seutuhnya?" Echa menegakkan kepalanya. Entah kenapa dia mulai merenggangkan tubuhnya dari Panji.


Tanpa bertanya atau menunggu reaksi istrinya. Dengan cepat Panji menarik tubuh Echa lebih dekat lagi. Sekarang tidak ada jarak diantara mereka. Panji membelai rambut Echa penuh kasih sayang. Mendaratkan kecupan manis di dahi istrinya. Panji kembali mendaratkan bibir manis Echa. Tangannya menekuk tengkuk Echa. Mereka pun semakin intim, Panji ******* bibir Echa lebih agresif.


Echa menikmati apa yang di berikan suaminya. Masih memejamkan matanya Echa sudah berada di bawah kungkungan tubuh Panji. Ciuman Panji semakin menjadi dan panas. Tangan lelaki itu menjalar ke arah gaun yang di kenakan Echa. Dress berwarna putih menjadi saksi indahnya cinta halal mereka.


"Mas,"


"Iya, Sayang."


"Apakah aku boleh...."


"Aku milikmu seutuhnya, Mas. Lakukanlah apa yang seharusnya ..."


"Benarkah?" wajah Panji berbinar.


Belum sempat dia menenggelamkan tubuhnya menyatu pada Echa. Pertanyaan istrinya membuat dia terdiam sejenak.


"Mas, apa kamu sudah cerita sama orang di kantor tentang kita?"


Echa memperhatikan gelagat suaminya tak merespon pertanyaannya.


"Mas, apa kamu malu mengakui aku sebagai istrimu?"


"Tidak, Cha. Aku tidak pernah malu mengakui kamu sebagai istriku. Aku hanya cari momen yang tepat untuk mengumumkan pernikahan kita. Mungkin momen resepsi nanti adalah waktu yang tepat. Aku harap kamu bersabar, Sayang."


"Aku harap, Mas. Tidak merahasiakan pernikahan kita. Aku bukan ingin pamer semua orang kalau suamiku ternyata bos ku. Akan tetapi aku merasa kamu membuat aku serasa seorang simpanan, Mas."


"Maaf, Sayang. Bukan maksudku seperti itu. Aku hanya mencari waktu yang tepat itu saja. Aku janji akan mengumumkan pernikahan kita pada orang di kantor. Bahkan media pun akan aku undang."


"Nggak usah. Ngapain pakai media segala. Emangnya kita orang penting?"


"Kamu adalah harta yang paling penting lebih dari apapun. Aku bahagia bisa menikahi kamu, Cha. Ya mungkin ini yang namanya takdir."


"Mas bukannya demam?" Echa mengingatkan kondisi tubuh Panji.


"Sudah sembuh." jawab Panji sambil mengulum senyum.

__ADS_1


"Oh, aku mau ..."


"Jadi kan?" Panji menagih yang belum selesai.


"Jadi apa?" Echa masih belum paham.


"Belah durennya, kamu tadi sudah mancing aku nih. Kasihan adikku sudah berdiri." Panji mengedipkan matanya. Echa bingung dengan ungkapan kata suaminya.


"Adik? kita cuma berdua Lo disini? tidak ada siapa-siapa." Echa memeriksa setiap sudut kamarnya. Siapa tahu suaminya sudah menyembunyikan seseorang.


"Ini?" Panji menuntun Echa mengenalkan sang "Adik". Muka Echa merah padam setelah tahu siapa yang di maksud suaminya.


"Iiihhhh... kamu ini, Mas! aku kirain apa!" wajah kesal Echa di sambut tawa lepas dari Panji.


"Uuuuluuuh .... Uluuuh .. Istriku kalau ngambek makin cantik. Rasanya tidak sabar aku mau ...."


"Apa!" Echa melototi Panji sambil merebahkan diri di atas ranjang membelakangi Panji.


Darahnya terasa berdesir ketika Panji menarik tubuhnya. Sekarang posisi mereka saling berhadapan. Tangan Panji memeluk pinggang Echa serasa dirinya sedang memeluk guling. Belaian lembut serta kecupan di dahinya seperti pemanasan awal. Tanpa menunggu lelaki itu kembali melabuhkan ciuman pada istrinya. Tak ada perlawanan dianggap sebagai penerimaan.


"Mas," Echa tiba-tiba merintih kesakitan.


"Ka ... mu pucat sekali, Cha." Panji panik melihat Echa merintih memegang perutnya.


"Aku padahal belum ngapain kamu, Cha. Aduh ini kok bisa sakit, apa kamu belum makan. Atau mungkin ada makanan sarapan yang tidak cocok dengan lambungmu?" Panji semakin panik ketika Echa sudah tak sadarkan diri.


"Dokter cepat ke tempat saya! istri saya pingsan!" Panji menelepon dokter kenalannya.


"Saya tidak mau tahu! datang kesini atau saya akan menviralkan anda di sosmed! Barusan saya menghubungi pihak rumah sakit kalau anda tidak masuk karena mau liburan." ancam Panji.


Echa sebenarnya tidak pingsan. Matanya terbuka sebelah melihat kepanikan suaminya. Rasanya dia mau tertawa melihat hal itu.


"Emang enak Aku kerjain. Lebih panik aku yang susah payah menata kamar dan rumah. Kamu malah tidak pulang semalaman." batin Echa lalu kembali memejamkan matanya.


"Cha, bagaimana ini? kamu kenapa pakai pingsan segala sih." omel Panji pada istrinya.


Satu jam kemudian


"Pak Panji bisa anda keluar sebentar?" kata dokter Rima yang memeriksa Echa.


"Saya mau tahu apa yang terjadi sama istriku, Dokter." Panji ngotot tidak mau keluar kamar.


"Bu Echa minta anda keluar dulu. Ini kan soal perempuan, dia malu kalau anda mendengar pembicaraan kami."


"Mas, aku mohon." Echa melipatkan kedua tangannya untuk meminta suami keluar terlebih dahulu.


"Iya ..." Panji pun keluar dari kamar. Membiarkan istrinya bicara sama dokter Rima.


"Saya lihat anda baik-baik saja. Sebenarnya apa yang membuat anda bersikap seperti itu. Lihat suami anda sangat panik." Dokter Rima melipatkan kedua tangannya. Echa hanya menyengir kuda.

__ADS_1


"Saya belum siap, Dok. Masih takut kalau di jamah sama suami saya. Tadinya sudah siap paripurna termasuk menghias kamar ini. Hanya untuk menyenangkan suami. Tapi entah kenapa rasa takut itu mulai datang."


"Bu Echa apa anda pernah jadi korban pelecehan sampai membuat rasa takut seperti ini." Echa menggeleng.


"Lalu kenapa anda merasa takut? bukankah sejatinya seorang istri harus menyiapkan diri pada suaminya. Bukankah lumrah kalau suami anda mendapatkan hak nya."


"Saya takut, Dok. Ibu saya hamil karena tuntutan keluarga. Dan saya belum siap menyerahkan diri pada Mas Panji kalau hanya sekedar tuntutan sebagai istri." kata Echa.


"Ya Allah, anda berasal dari keluarga broken home. Memang susah kalau trauma melekat pada anak broken home. Lebih baik anda cerita permasalahan ini pada pak Panji. Karena kalau di pendam sendiri akan jadi bumerang dalam rumah tangga anda."


Ceklek!


"Dokter istri saya kenapa?"


"Istri anda hanya kelelahan saja. Tidak ada masalah yang serius. Sepertinya dia belum mengisi perutnya, kata Bu Echa dia baru mengganjal dengan sekoteng tadi pagi. Oh ya maaf sebenarnya bukan saya yang menggantikan dokter Lady, melainkan dokter Albert. Tapi setelah tahu pasiennya perempuan dokter Albert meminta saya yang datang." jelas dokter Rima.


"Syukurlah kalau ternyata dokter Albert tahu hal itu." ucap Panji.


"Saya permisi dulu pak Panji. Sebelum ritual lebih baik anda mengajak Bu Echa makan dulu." kata dokter Rima.


Ritual? Panji mendengar hal itu merasa malu. Dia tadi hanya mengendalikan nafsu tapi memikirkan kondisi istrinya.


Sepeninggalan dokter Rima, Panji memeriksa bahan yang ada di kulkas. Ada beberapa sayuran dan daging ayam. Menyiapkan nasi dan juga bumbunya.


Tidak butuh waktu yang lama nasi goreng plus ayam goreng original pun tersaji. Meja kecil yang bisa di bawa ke dalam kamar serta jus stroberi kesukaan Echa pun ikut menemani. Sajian rapi bak chef sungguhan.


"Semoga Echa suka", ucap Panji penuh harap.


Panji membawa meja nampan ke kamar. Pemandangan pertama tampak istrinya berada di balkon di teras kamar.


Panji meletakkan nasi goreng diatas tempat tidur. Lalu menghampiri istrinya yang tengah melamun.


"Sayang, makan dulu ya," ajak Panji sambil menuntun istrinya kembali ke dalam kamar.


"Ini kamu yang masak, Mas?" Echa menatap hidangan dengan heran.


"Iya, kamu makan ya. Kata dokter tadi kamu sepertinya lemas dan pingsan karena belum makan. Aku tidak mau di cap suami yang nggak peduli sama istrinya."


"Ini masakannya ikhlas nggak?"


"Ya ikhlas dong sayang. Demi kamu aku rela bertarung dengan api dan kuali." Panji membanggakan diri.


"Aku cicip ya, Mas." Echa mengambil satu sendok nasi goreng buatan suaminya.


"Eh, bentar dulu." baru saja satu sendok hampir mendarat di mulut Echa.


"Kenapa, Mas?"


"Biar aku yang suapin kamu."

__ADS_1


"Ya Allah, maafkan aku. Tadi emang niat mengerjai kamu tapi malah dapat perhatian seperti ini." Batin Echa merasa bersalah.


__ADS_2