After Wedding (Panji Dan Echa)

After Wedding (Panji Dan Echa)
BAB 18


__ADS_3

Panji menarik nafas dalam-dalam. Sungguh tidak dia sangka kalau istrinya bikin keributan di kantor. Entah apa masalahnya dan apapun masalahnya tidak perlu pakai otot kan. Lelaki itu memilih duduk di kursi tunggu yang di sediakan kantor. Jemarinya menari nari di layar pipih tersebut.


Sebuah nomor yang dia percaya bisa kasih informasi. Masih menunggu respon si pemilik telepon nyatanya tidak diangkat sama sekali.


"Apa mungkin dia lagi sama Echa? ya Allah, Cha kamu ngapain sih pakai berantem segala." Panji memijit pelipis dahinya.


Tampak beberapa orang lalu lalang bersama pasangannya. Tentu pasangan yang datang meminta jasa Wedding Organizer untuk pernikahan mereka. Tadinya dia mau ajak Echa, mengingat tujuan awal memang bukan ke WO tapi pertemuan dengan pak Barata. Berhubung cafe pertemuan dekat dengan lokasi kantor Wedding Organizer. Ibarat kata sambil menyelam minum air.


Langkah berjalan menuju sekertarisnya. Tampak Mia sibuk dengan gawainya. Panji pun duduk di samping Mia.


Menyadari keberadaan Panji, gadis itu menghentikan aktivitasnya.


"Ada apa?" tanya Mia dengan ekspresi datar.


"Echa berantem sama Lani di ruang kerjaku." suara Panji terdengar berat.


"Kan, apa kataku. Kalau milih pasangan itu lihat bibit bebet dan bobotnya. Aku yakin pasti si tere rojing itu mau pamer kalau kakak adalah suaminya. Bukan bikin bangga malah malu-maluin." Mia terus mencerocos tanpa filter.


Mendengar hal itu respon Panji hanya mengurut dahinya terus menerus. Kabar perkelahian istrinya saja sudah bikin pusing kepala. Sekarang ocehan adik sepupunya juga ikut bikin pusing.


"Jadi bagaimana? apa kak Panji mau kembali ke kantor? atau tetap melanjutkan rencana semula? cuma ya paling sebentar lagi There akan di cap perempuan gatal yang masuk ke ruangan suami orang. Meskipun sebenarnya itu juga ruangan suaminya."


"Kita temui Rian dulu, aku sudah terlanjur janji soalnya."


"Masalah rumah tangga harus di selesaikan terlebih dahulu, Kak Panji. Baru urus yang seperti ini. Kak Panji kesannya mau lepas tangan." protes Mia.


"Aku bukan mau lepas tangan, Mia. Tapi sudah terlanjur disini. Resepsi aku dan There itu rencananya minggu depan. Tentu aku harus bikin konsep yang matang. Aku sudah janji sama Echa dan ibunya."


"Nah, kan mereka pasti sudah berharap banyak sama kakak. Mereka tahu kalau kakak mampu bikin pesta mewah. Makanya kakak di minta nikahi anaknya. Ya kan?"

__ADS_1


"Lama-lama lambe mu bisa aku buat geprek!" Panji mencubit bibir Mia sampai gadis itu menjerit kesakitan. Terasa kuku Panji sangat tajam.


"Turuti perintah saya atau ..."


"Atau aku akan di pecat kan? lagu lama itu." Mia tidak pernah menunjukkan rasa segannya pada Panji. Sejak dulu memang mereka selalu berdebat setiap bertemu.


Panji melangkah masuk ke lift. Sebelum masuk lift Panji meminta Mia pulang ke kantor untuk menyelesaikan masalah Echa dan Lani.


"Kok aku sih, Kak? itu istri kakak Lo, nggak ada urusan sama aku! gimana sih jadi suami!" Mia merasa ada yang menahan tangannya. Tatapan memelas dari Panji membuatnya pasrah menuruti kemauan lelaki itu.


"Oke, aku yang akan urus! heran punya istri kampung..."


"Mia!" suara Panji meninggi membuat gadis itu bungkam seketika.


"Iya, aku pulang ke kantor." Mia langsung bergegas keluar dari pintu gedung EO. Masih dalam keadaan hati yang gondok, rasanya dia mau sekali melemparkan amarah ke There. Perempuan yang dia anggap menyusahkan dirinya dan juga Panji.


"Mas, silahkan masuk ke dalam. Sudah di tunggu sama pak Rian." kata asistennya.


"Masuk," suara dari dalam mempersilahkan dirinya untuk masuk ke dalam ruangan.


Panji sudah duduk di hadapan seorang lelaki muda. Tubuhnya berisi kulitnya sawo matang dengan rambut ikal. Mata Panji menjurus ke sebuah photo wanita di terpampang di meja kerja lelaki itu.


"Kamu bukannya yang dulu mau daftar pesta pertunangan bersama Savira kan?" tebak Rian.


Panji tersenyum kecil. Rupanya ingatan lelaki itu masih kuat. Padahal sudah hampir satu tahun dia dan Vira berpisah. Kepalanya menggangguk kecil membenarkan ucapan lelaki itu.


"Anda masih ingat ternyata. Well saya datang kesini meminta anda mengelola pesta resepsi pernikahan. Saya mau konsep pernikahan adat Jawa yang kental." Jelas Panji.


"Apakah anda akan menikah dengan Savira?" tanya Rian.

__ADS_1


"Bukan. Saya sudah menikah dan belum mengadakan resepsi. Jadi saya percayakan pada anda untuk resepsi ini. Saya kenal anda sebagai mantan tunangannya Dira. Saya juga pernah menghadiri pertunangan anda di kediaman Tante Dewi Savitri."


"Well, tujuan anda kesini untuk resepsi pernikahan. Bukan membahas masa lalu saya. Jadi ada tinggal mengurus konsep yang diinginkan pada asisten saya." kata Rian.


"Oke, saya nanti akan mendatangi asisten anda. Kalau begitu terimakasih atas waktunya. Saya permisi dulu." Panji dan Rian pun berjabat tangan. Ketika membuka pintu Panji melihat seorang perempuan muda yang membawa dua anak laki-laki.


Panji tidak perlu menebak siapa mereka. Toh, itu bukan urusan dia. Lelaki itu melenggang sepanjang lorong kantor. Mengakhiri langkahnya di lift.


Sekarang dia sudah berada di parkiran tepat di depan mobilnya. Sebelum kembali ke kantor langkah kakinya terhenti karena ada telepon dari ibu laksmi. Benda pipih itu sudah menempel di daun telinganya.


"Assalamualaikum, Bu." sapa Panji.


"Waalaikumsalam, Nak Panji. Maaf ibu mengganggu sebentar. Tadi ibu mau hubungi Echa tapi tidak diangkat. Nak Panji di kantor apa di rumah. Kalau di rumah ibu mau ngomong sama Echa."


"Saya ada urusan di luar kantor. Echa tadi di kantor, Bu."


"Apa Echa minta kerja lagi sama kamu?"


"Iya, Bu. Tak masalah buat aku daripada dia bosan di rumah saja. Ibu kapan ke Jakarta?"


"Ini yang mau ibu bicarakan nak Panji. Paklik Malik juga mau ikut begitu juga keluarga yang lain. Dan ..."


"Dan apa, Bu? kalau soal tempat menginap aku bisa carikan. Sebagian di rumah saya saja. Karena kami cuma punya dua kamar." jelas Panji.


"Ini, Nak Panji, aduh bagaimana ibu ngomongnya. Begini keluarga pak Cahyadi juga mau ikut. Plus dengan nak Taufan. Ibu bilang sama mereka kalau itu harus di bicarakan sama Panji dan Echa.


Mereka bilang masih keluarga inti kamu. Makanya merasa wajib ikut. Kalau ibu di posisi mereka sudah pasti tidak punya muka untuk hadir di acara kalian."


"Bu, Pakde memang sudah menghubungi aku. Dia kaget saat tahu aku yang menikah dengan Echa. Bahkan dia minta di undang juga untuk resepsi kami. Aku nggak enak, Bu. Jadi aku undang saja keluarga Afan."

__ADS_1


__ADS_2