After Wedding (Panji Dan Echa)

After Wedding (Panji Dan Echa)
BAB 54


__ADS_3

Suasana malam di salah satu unit apartemen tampak lengang. Pada jam segini orang sudah pada istirahat. Tapi tidak dengan keduanya. Baik Echa maupun Panji sibuk dengan gawainya. Panji sesekali melirik istrinya masih sibuk dengan tab nya. Begitu juga sebaliknya. Echa mau membahas sesuatu tapi masih ragu.


"Mas," Echa memulai obrolan.


"Iya," Panji masih sibuk dengan gawainya. Echa mengambil gawai suaminya. Meminta fokus pada dirinya.


"Apa aku sudah bisa masuk kantor, Mas?" tanya Echa saat santai di malam hari.


Dia sudah bisa berjalan dengan baik. Masih mencoba sabar menunggu keputusan suaminya untuk bekerja kembali. Tapi sampai saat ini belum ada bahasan dari Panji soal pekerjaannya.


Panji masih diam seribu bahasa. Lagi-lagi suara helaan nafas terdengar dari wanita di sebelahnya. Echa kembali mengambil tab nya. Percuma di bahas kalau Panji masih sibuk sendiri.


"Cha," Panji melirik Echa yang masih asyik dengan tab nya. Kepalanya memanjang seperti Luffy one piece. Ingin tahu apa yang di kerjakan sang istri.


"Cha," Panji menyolek istrinya.


"Eh, maaf, Mas Panji." Echa langsung meletakkan tab nya di nakas samping ranjang.


"Kamu senyum sendiri dari tadi, nggak merhatiin ada suami di samping. Nggak boleh gitu lah, Cha. Aku mau ngomong tapi kamu malah sibuk sendiri." Panji membuang muka seakan kesal dari tadi di cuekin.


"Nggak kebalik, Mas. Tadi aku mau ngomong kamu juga sibuk sendiri sama handphone. Giliran aku punya kesibukan kamu yang ngambek. Kayak anak kecil tahu enggak." sungut Echa.


Panji menangkup kedua pipi Istrinya. Rasa gemes melihat ekspresi wajah Echa yang masih kesal. Padahal dia mau bilang ke Echa untuk mulai program kehamilan. Tapi sepertinya ada hal yang lain akan di bahas sama Echa.


"Mas, aku mau masuk kantor lagi. Kakiku kan dah sembuh seminggu ini. Jadi boleh ya aku, kerja lagi." tatapan harap-harap cemas tak membuat Panji langsung menuruti kemauan Istrinya.


"Lagian ibu kan sudah pulang ke Jogja. Aku nggak ada teman. Atik dah selesai tugasnya. Jadi aku boleh kan kerja lagi?"


"Cha, kamu tidak usah masuk kantor lagi, Ya. Kita mulai program kehamilan. Kamu mau kan hamil anakku." Panji mengeratkan pelukannya pada Echa. Namun, Echa melepaskan pelukan Panji pelan-pelan. "Apa tidak terlalu cepat, Mas. Kita baru dua bulan menikah."


"Bukannya bagus lebih cepat lebih baik. Kita program saja dulu soal hasil kan bisa belakangan. Yang penting ada usahanya." kata Panji mengedipkan matanya.


"Sudah kepengen ya, Mas."


"Emang kamu nggak pengen?" tangan Panji berselancar di sela rambut istrinya.


"Pengen juga dong, tapi karena aku belum hamil boleh kan aku kerja. PR ku masih banyak di sana. Please!" mohon Echa dengan tatapan puppy eyes.

__ADS_1


Panji meletakkan gawainya. Dia juga mengambil tab milik Echa dan menyimpannya. Tangannya menggenggam erat jemari Echa. Keduanya saling bertatap lebih dekat.


"Tadi aku ketemu teman lama. Teman sesama kampus dulu. Dia punya anak yang lucu-lucu. Aku aja gemes sama anaknya apalagi kalau kamu ikut tadi. Temanku namanya Rangga, dia juga program bareng Istrinya. Malah mereka sebelum nikah sudah daftar ikut promil. Lihat kebahagiaan mereka aku jadi ingat kamu, Cha." cerita Panji.


"Aku?" Panji mengangguk.


"Istriku kan suka sama anak kecil. Biasanya kalau perempuan suka sama anak kecil sifatnya penyayang. Aku yakin Allah akan cepat mempercayakan keturunan buat kita. Menambah kebahagiaan dalam rumah tangga kita."


"Amin. Jarang Lo ada suami yang lebih semangat program kehamilan daripada istrinya. Jadi mulai kapan kita memulai programnya, Mas?"


"Sekarang." jawab Panji mantap.


"Hah! Mana ada rumah sakit yang buka malam-malam begini. Kamu ada-ada saja, Mas." tawa Echa.


"Ya kan nggak harus ke rumah sakit." Panji mengedipkan mata. Echa menelan salivanya. Itu tandanya Panji menginginkan dirinya.


Panji menepuk paha. Instruksi kalau Echa harus duduk diatas sana. Pelan-pelan Echa menggeser posisinya dari samping kini berada di depan dada suaminya. Keduanya saling melempar senyum, menunduk malu-malu kucing. Kedua lengan Echa di tuntun naik ke leher Panji. Kini jarak mereka sangat dekat. Tak perlu waktu lama Panji menarik dagu Echa. Menikmati bibir istrinya yang terasa manis.


"Bentar?" Panji melepaskan bibir Echa pelan-pelan.


"Kenapa, Mas?"


"Ada apa, Mas?"


"Pakde Cahyadi telepon. Tumben malam-malam dia telepon."


"Sudah angkat saja siapa tahu penting, Mas."


Panji langsung mengangkat telepon dari pak Cahyadi.


"Assalamualaikum, Panji."


"Pakde kenapa kok berat gitu suaranya." tebak Panji.


"Kami dalam perjanjian rujuk rumah sakit di Jakarta, Ji. Afan kritis. Dari pihak rumah sakit Bhayangkara peralatan tidak memadai."


"Innalilahi, Yasudah saya dan Echa akan susul kesana. Sementara pakde dan bude nginap di rumah pakde Harsa saja."

__ADS_1


"Baik, Panji. Terimakasih.'' Pak Cahyadi dan Panji saling menutup teleponnya.


"Kak Afan kenapa, Mas?" tanya Echa.


"Tidak tahu, Cha. Kata pakde kritis mereka dalam perjalanan ke Jakarta. Katanya di rumah sakit terdahulu alatnya tidak memadai." jelas Panji.


"Ya Allah, kasihan sama kak Afan. Dia orang baik. Walaupun sempat mengecewakan aku karena membatalkan pernikahan secara sepihak."


"Ada hikmahnya juga, Istriku. Kalau tidak begitu kita tidak ada disini bersama. Aku pas tahu kamu mau nikah sama Afan sudah galau minta ampun."


Echa menjelit ke arah Panji. Seingatnya sampai di Jakarta semua hal yang berhubungan dengan Savira masih ada. Masih mementingkan urusan keluarga Dewi Savitri. Bagaimana dia bisa percaya kalau suaminya bisa galau.


"Yasudah, Mas. Kita ke ... Eh, Mas." Panji semakin erat memeluk Echa.


"Kita kan belum mulai, kasihan adekku."


"Terus pakde Cahyadi bagaimana?" Echa balik bertanya.


"Kan mereka masih di jalan. Masih jauh jarak jakarta dan Yogyakarta. Jadi kita tuntaskan dulu planningnya, Sayang." rengek Panji.


Astaga suamiku.


Echa merasakan betapa hebatnya Panji membuat dirinya melayang. Tangan kekar sangat erat turun dari bibir hingga goncangan di pinggulnya. Saat ini dia sudah terkungkung di bawah tubuh Panji. Hentakan demi hentakan yang membuat keduanya semakin liar.


Tangan Panji tetap bekerja tanpa melepaskan pagutan dari bibir Echa. Keduanya semakin menggeliat dan terbakar hasrat. Echa berusaha mengimbangi permainan Panji. Namun tetap saja Panji yang lebih dominan dari dirinya.


"Cha," bisik Panji.


"Iya, Mas." cicit Echa.


"Nikmat sekali malam ini. Boleh aku nambah?" bisik Panji.


"Hah! ini aja baru mulai kok malah bilang nambah." kata Echa.


"Ini saja bibit nya mau keluar. Boleh, ya?" Echa mengangguk.


Echa merasakan seperti aliran listrik yang menghentak tubuhnya. Saking kuatnya Echa memegang rambut Panji lebih kuat lagi.

__ADS_1


" I love you Theresia."


__ADS_2