After Wedding (Panji Dan Echa)

After Wedding (Panji Dan Echa)
BAB 36


__ADS_3

Pagi ini, Melisa sudah bangun terlebih dahulu. Setelah tadi malam membawa Diko pulang ke rumah. Dia memang sering menitipkan Diko di kediaman ibu tirinya, Riana. Dan juga Diko cukup akrab dengan adik sambungnya, Melani. Tapi sungguh kejadian tadi malam membuatnya tahu kalau sebenarnya mereka tak suka Diko di sana. Cukup tadi malam terakhir menitipkan Diko.


Bukan dia tak mau mengasuh anaknya. Sebagai single parent yang sudah tiga tahun bercerai dengan suaminya. Melisa juga harus menjadi tulang punggung untuk Diko. Tidak mau hanya menunggu uang bulanan dari mantan suaminya. Apalagi lelaki itu sudah menikah dan punya anak. Dia yakin sebentar lagi suaminya akan jarang mengirimkan nafkah untuk Diko.


Di sebuah kamar ukuran 3x4, tampak anak kecil laki-laki sedang tertidur pulas. Lama dia memandang sosok kecil yang keluar dari rahimnya. Sesekali menarik nafas dalam-dalam.


Flashback on


Sepulang kerja seperti biasa Melisa menjemput Diko untuk di bawa pulang. Sebagai pekerja kantoran biasanya dia bisa pulang sebelum jam enam sore. Tapi efek lembur membuat dirinya harus pulang diatas jam sembilan.


Lisa memarkirkan mobilnya di teras kediaman papanya. Rumah yang kini di tempat adik sambungnya dan ibu tirinya. Saat papanya masih ada, Lisa sering main ke sana mengajak Diko yang masih hitungan bulan. Papanya sudah pensiun dan menikmati masa tuanya. Sejauh ini dia melihat ibu tirinya baik pada papanya. Pada dirinya juga, sangat sayang pada Diko.


Namun, setelah sang papa meninggal dunia. Lisa sudah jarang main ke rumah itu. Saat Heri, sang suami memilih berpisah karena sudah menikah dengan wanita lain. Lisa menerimanya, dia yakin masih ada hari esok untuk menjunjung masa depannya. Apalagi Heri tidak mempermasalahkan hak asuh ke tangan Lisa. Karena lelaki itu sudah punya anak dari wanita lain.


Kembali ke malam ini, Lisa menanyakan keberadaan putra semata wayangnya.


"Ma, Diko sudah tidur, ya?" tanya Lisa memeriksa kamar lamanya.


"Diko diajak adikmu ikut ke pesta pernikahan bos nya. Diko yang minta ikut. Mungkin karena dia melihat adikmu sudah cantik dan mengira ada pesta anak-anak." jelas Riana.


"Tapi ini sudah lewat jam sepuluh, Ma. Masa belum pulang juga." Protes Lisa.


"Yasudah, coba kamu telepon Lani." Lisa menuruti permintaan mamanya. Tangannya menari di atas layar pipih. Suara deringan dari sana masih terdengar. Lisa mematikan lagi lalu menelepon ulang. "Tidak diangkat, Ma." rengek Lisa.


"Sabar saja, kan ada Lani di sana. Anakmu pasti aman, kok." kata Riana.


"Kamu dimana?" tanya Lisa saat teleponnya di angkat adik sambungnya.


"Di pestalah." jawaban terdengar enteng dari seberang sana.


Kapan kamu pulang? Ini sudah malam kasihan Diko di sana. Kalau mau pesta jangan bawa anak kecil." amuk suara wanita di seberang sana.


"Iya sebentar lagi aku pulang bawa anak itu pulang. Makanya cari suami jangan sibuk kerja, anak kena getahnya!"


"Eh, aku cuma minta bawa pulang anakku. Dari tadi perasaanku nggak enak. Diko nggak apa-apa kan? Lagian bawa anak kecil ke pesta, ngapain."


"Bawel,Ah. Masih untung mau jagain anak yang super rese ini!" jawab Lani langsung mematikan teleponnya.

__ADS_1


"Gimana?" tanya Riana.


Lisa tidak langsung menjawab pertanyaan Riana. Tubuhnya di hempaskan ke sofa ruang tamu. Tangannya memijit dahinya. Perasaannya tidak karuan saat ini. Entah kenapa ada rasa takut yang menderanya.


"Lebih baik kamu istirahat di kamar. Nanti kalau Diko sudah pulang mama bangunkan kamu." Lisa mengangguk kecil. Dia menurut saja ketika di minta menunggu kepulangan adik dan anaknya.


Lisa tentu tidak bisa istirahat. Matanya di upayakan tetap terjaga, siapa tahu Diko sudah sampai bisa langsung di bawa pulang. Tangannya merogoh handphone, sudah pukul lewat sebelas malam tapi Diko belum juga sampai.


Sayup-sayup Lisa mendengar pembicaraan mamanya sedang menelepon.


"Jadi bagaimana?" tanya Riana.


"Apa ada Malik di sana? jadi Echa itu anak siapa? Anaknya Malik, ya? berarti kalian saudara dong? sepupu jatuhnya."


"Nama ibunya Laksmi! Kalau benar ibu setuju sama kamu. Mereka yang buat ayah kamu menjadikan ibu yang kedua! Mereka enak hidup bahagia dan punya kehidupan berkecukupan. Sedangkan kita tidak bisa mengotak-atik punya papanya Lisa. Karena harta jatuh ke tangan Diko."


"Mumpung kamu membawa Diko pergunakan dia untuk menghancurkan mereka." kata Riana penuh semangat.


Lisa yang mendengar hal itu mengatupkan kedua tangannya. Tidak di sangka kalau mama tirinya mengincar harta papanya. Selama ini dia mengenal Riana sebagai ibu yang baik.


"Aku harus selamatkan Diko!" Lisa mengambil tas nya menyusul Diko dan Lani.


"Mau susul Diko." jawab Lisa terbata-bata.


"Tunggu sajalah, Diko dan Lani sudah di jalan pulang." Riana masih mencoba menahan anak sambungnya.


"Aku nggak mau Diko di jadikan alat sama kalian!"


Riana menaikkan alisnya. Kaget melihat reaksi anak sambung. Apa mungkin Lisa mendengar pembicaraan mereka? Riana berharap Lisa tidak akan tahu soal tujuan dia menikah dengan papanya.


"Kamu ngomong apa sih?" Riana pura-pura kaget.


"Saya bilang jangan memanfaatkan anak kecil. Saya tidak tahu tujuan kamu pada keluarga bos nya Lani. Itu bukan urusan saya. Tapi yang pasti saya akan melaporkan kalian ke kantor polisi."


Suara mobil terdengar dari depan. Lisa langsung menghambur ke arah mobil adik sambungnya. Sambil melipat kedua tangannya, tatapan tajam kearah mobil tersebut. Pintu mobil terbuka, tampak anak kecil berjalan terseok-seok dengan kaki di perban penuh. Tentu dia heran dengan kaki anaknya.


"Diko kaki kamu kenapa, Nak?" tanya Lisa dengan hati-hati.

__ADS_1


Diko yang tadinya menoleh kearah Lani kini kembali menundukkan kepalanya. Ada rasa takut mendera anak usia empat tahun itu. Tak ada jawaban dari Diko.


"Diko lepas dari pantauan aku, kak. Terus diam-diam ngambil susu coklat menabrak pengantin yang sedang menjamu tamu. Kakak tahu apa yang terjadi? Diko terjatuh kena pecahan kaca gelas. Dan pengantin perempuannya terluka. Itu gara-gara siapa? Gara-gara anak sialan ini!"


"Lani! dia bukan anak sialan. Tapi kamu yang tidak becus menjaganya. Lagian ngapain bawa anak kecil ke pesta malam. Pesta yang bukan ranah dia."


"Dikonya yang mau ikut. Dia nangis di tinggal sendirian. Mama tadi sedang ada urusan ya makanya aku bawa. Lagian biasanya kamu pulang sore kok tumben malam belum pulang."


"Aku lembur, makanya pulang malam." Lisa berjongkok sejajar dengan Diko. Lisa merasa anaknya seperti ketakutan.


"Mama, tadi tante itu juga kena kaca. Darahnya banyak, Diko takut." Lisa langsung memeluk putra semata wayangnya.


Flashback off


Diko bangun melihat mamanya melamun. Dia ingin berjalan tapi kakinya masih terasa sakit.


"Mama,"


"Anak mama sudah bangun, kamu tidak usah sekolah dulu, ya. Mama sudah minta izin tidak kerja."


"Mama, Diko mau ngomong."


"Ngomong apa, nak?"


"Mama, Diko diancam sama Tante Lani. Katanya kalau Diko nggak mau nurut sama dia. Nanti Diko di tinggal sendirian di tempat itu. Takut aku, Ma."


"Emang Tante Lani suruh kamu apa?"


"Kata Tante Lani, Tante yang pakai baju pengantin itu orang jahat. Tante pengantin itu sudah mengambil kepunyaan Tante Lani. Katanya orang jahat harus di basmi.


Tante Lani suruh Diko menabrak Tante pengantin. Biar baju kotor. Tapi kalau soal jatuh, Diko terpeleset dan gelasnya pecah. Tante pengantin mau pegang Diko. Tapi dia malah terpeleset." cerita Diko pada mamanya. Selama ini dia selalu cerita apapun pada mamanya.


"Ya Allah, nak." Lisa memeluk Diko dengan erat. Dia tidak menyangka Lani memanfaatkan Diko untuk urusan iri dengkinya.


"Kata Tante Lani, Diko kalau cerita sebenarnya sama mama. Nanti di tinggalkan kantor polisi."


...****...

__ADS_1


Maaf, Ya. Lama tidak up. Di rumah sedang bergantian sakit. Terakhir aku yang drop.


Terimakasih masih menunggu cerita dari Echa dan Panji.


__ADS_2