After Wedding (Panji Dan Echa)

After Wedding (Panji Dan Echa)
BAB 16


__ADS_3

Seperti janji Panji pada Echa sebelumnya. Bahwa jabatan manajer akan di emban pada Theresia. Echa berdiri di depan pintu ruangannya. Tangannya membuka pintu kaca di temani oleh Sasya yang akan jadi asistennya.


Apakah seorang manajer perlu asisten? apa sih yang harus di kerjakan asisten manajer. Posisi ini menjadi tangan kanan dari seorang manajer. Ini membuat seorang asisten manager dituntut memiliki kemampuan kepemimpinan saat harus menggantikan manajer. Tidak hanya membantu pekerjaan manajer, asisten manager juga bertugas membantu atasan dengan jabatan yang lebih tinggi lainnya.


Tapi setahu Echa, sewaktu Sardi jadi manajer tidak pakai asisten. Apa karena Sardi seorang lelaki? entahlah. Sebelum Echa jadi sekretaris Panji, Sardi selalu ikut bersama atasannya. Setiap kegiatan pasti ada Sardi dan Panji.


Tak lama Sardi naik jabatan dan Echa pun di daulat menjadi sekertaris. Itu pun juga perlu audisi, dimana dia bersaing dengan Lani yang lebih senior disana. Saat itu Echa tak terlalu terobsesi dengan jabatan sekretaris. Beda dengan Lani yang sangat menginginkan posisi itu.


Setelah terpilih Echa merasa dapat musuh baru. Sikap Lani yang tidak menyukainya pun semakin menjadi. Dia tidak peduli, selama apa yang di lakukannya bukan hal yang curang kenapa harus takut.


Tergantung pekerjaannya sih? karena pabrik yang di dirikan Panji bukanlah pabrik besar yang punya nama. Akan tetapi Panji sudah masuk dalam ikatan pengusaha muda yang pernah diikuti oleh Pandawa, rival suaminya.


"Waaaah, hebat ya. Dua tahun kerja baru beberapa bulan jadi sekretaris sudah langsung naik jabatan manager." Echa serta Sasya menoleh kearah suara. Echa tahu siapa yang muncul di ruangan barunya.


"Oh, Mbak Lani." ucap Echa bersikap biasa saja.


"Iya, emang siapa? pak Panji? hahahaha... Pak Panji itu dah punya istri. Sudah pasti istrinya level nya diatas kamu. Ups .. kamu katanya dah nikah juga? tapi masih kerja? Itu tandanya suami kamu nggak mampu kasih makan istrinya. Kalau suami kamu kaya sudah pasti nggak akan mau kerja di kantor kecil seperti ini." Lani terus mencerocos tanpa memperdulikan reaksi Echa.


"Terus?" Echa membaca berkas yang sudah bertumpuk diatas meja.


Lani melotot karena merasa di acuhkan. Sasya juga tidak bisa banyak komentar karena dia pun segan dengan Lani. Walaupun dia juga merasa aneh kenapa Echa bisa naik jabatan.


"Bu Theresia apa yang bisa saya kerjakan?" tanya Sasya.


"Hari ini kamu bebas dari tugas. Kamu boleh kembali pada pekerjaan sebelumnya. Nanti kalau saya ada butuh bantuan pasti hubungi kamu." jelas Echa.


"Saya boleh kembali ke tempat biasa, bu?" Echa mengangguk. Sasya pun pamit meninggalkan ruangan kerja atasannya.


Echa berdiri di dekat jendela. Tampak dari luar Panji akan pergi diikuti oleh Mia sebagai sekertaris barunya. Mia berjinjit membenarkan sepatunya tak lama masuk ke dalam pintu belakang sopir. Dari pemandangan itu sejenak membuat Echa lega. Mencoba positif thinking dan percaya pada suaminya.

__ADS_1


"Re, ada klien dari pabrik daerah colomadu mau bertemu. Karena pak Panji sedang keluar jadi kamu saja yang menemui mereka." Kata Rini.


"Oh, gitu ya. Oke aku bereskan berkas dulu, ya. Lagian kok nggak ada konfirmasi dari pak Panji?"


"Nggak tahu, Re. Biasalah namanya pengantin baru. Lagi sibuk sama Istrinya. Lagi masa manis-manisnya." kata Rini.


"Hehehe... bisa jadi," Echa dan Rini pun melenggang meninggalkan ruangan.


Echa masuk ke ruang pertemuan. Beberapa pria berjas pun duduk di sofa. Dua diantaranya sudah berumur, rambut memutih sedangkan satu pria masih muda di lansir umurnya sekitar 25-an.


Echa menyalami satu persatu kliennya. Termasuk lelaki muda di depannya. Mereka saling berbincang mengenai tujuan datang ke pabrik Madu Berkah. Tentu dari pengamatan gadis itu, lelaki muda tersebut berwawasan tinggi. Sudah bagus jabatan yang di dapat sebagai wakil direktur.


"Nama saya Bintang," lelaki itu memperkenalkan diri.


"Theresia," jawab Echa ikut mengenalkan diri.


"Tidak masalah, saya akan sering datang kesini untuk memastikan program kami bisa di terima." kata Bintang.


"Wah, Pak Bintang, maaf kalau menurut saya anda tidak perlu sering datang. Sebab biar pak Panji yang menghubungi pihak perusahaan." kata Echa.


"Iya, saya boleh minta kontak anda. Biar saya bisa memastikan langsung. Ya kalau tidak, anda bukan manager profesional."


"Re, jangan di kasih." bisik Rini.


"Aku merasa itu modus dia, Re. Ingat kamu sudah bersuami." Rini masih mencoba mengingatkan.


"Ya Allah, hampir saja. Untung kamu ingatkan. Terimakasih, Rini." ucap Echa sambil mengurut dadanya.


Setelah klien barunya pergi, Echa kembali ke ruangan. Memeriksa berkas yang sempat dia tinggalkan. Sesekali tatapannya ke handphone berharap Panji meneleponnya. Lebay, sih kayak orang lagi galau tapi dia kan sudah sah jadi istri Panji. Wajar kalau cemas menunggu kabar suami.

__ADS_1


"Ya Allah, tadi aku sudah coba positif thinking. Tapi kenapa aku malah sekarang negatif thinking. Cha, kamu harus percaya sama suami kamu. Panji kan nggak suka sama Mia. Dia menjadikan Mia sebagai sekretaris karena sudah menganggap adik sendiri. Cha, kamu tidak boleh suudzon sama pak suami."


Echa mengusap wajahnya dengan kasar. Lalu meneguk segelas air putih.


"Coba aku yang jadi sekretaris. Mungkin pikiran ini tidak terus menggangguku. Ah, tidak Echa, bersyukur kamu nggak di larang buat bekerja." Pikiran-pikiran aneh serasa menarik ulur hatinya.


Sudah jam makan siang. Echa sudah membawa dua bekal biar bisa makan bareng suaminya. Baru dia sadar kalau di kantor status pernikahan mereka belum di ketahui.


"Apa aku letakkan di ruang Mas Panji saja?" Echa mengintip di jendela ruangannya. Belum ada tanda suaminya pulang. Sesekali menarik nafas dalam-dalam.


"Aku yang terlalu berharap sama semua ini? mungkin, Cha. Ingat Cha, kalau tidak ada Panji, mungkin kamu tidak punya muka untuk tetap melanjutkan hidup." Echa terus bermonolog.


"Re, makan siang yuk?" ajak Rini.


"Rini, ini aku sudah bawa bekal buat kamu. Tadinya mau aku kirim ke suamiku. Cuma tadi pas aku hubungi, dia sedang di luar bersama rekannya."


"Kamu sepertinya kecewa, ya, Cha?" Rini mencoba menyadarkan temannya.


"Enggak, Rin. Biasa saja, belum rezeki dia dapat makan gratis dari aku."


Rini tidak melanjutkan pertanyaannya. Kalau dia yang di posisi temannya sudah pasti akan kecewa. Cuma Rini masih belum paham seperti apa rumah tangga temannya. Tebakan Rini karena keduanya masih belum saling mengenal makanya kesannya kaku.


Setelah Rini pamit meninggalkan Echa di ruang kerja. Gadis itu membuka bekal milik Panji. Berjalan menuju tempat suaminya. Layaknya maling dia berjalan berharap tidak ada yang melihat. Hingga sampai di sana cepat-cepat dia masuk meletakkan bekal.


Pandangannya menerapkan ke sekelilingnya. Sepertinya Panji belum memajang photo pernikahan mereka.


"Ah, iya aku lupa. Bukankah kami menikah tanpa baju pengantin. Aku hanya pakai kebaya sedangkan dia hanya baju batik. Cha, please kamu harus bangun!"


"Ngapain kamu di ruang pak Panji, There!"

__ADS_1


__ADS_2