After Wedding (Panji Dan Echa)

After Wedding (Panji Dan Echa)
BAB 49


__ADS_3

Suasana di sebuah taman masih tampak ramai. Sebagian mereka duduk hanya untuk melepas penat setelah seharian bekerja. Atau membawa anak-anak untuk bermain di sana. Di salah sudut taman, wanita muda duduk dalam kendali kursi roda. Kepalanya menunduk, rasanya dia mau menangis tapi entah kenapa tidak bisa. Dadanya sudah terlanjur sesak mengingat apa yang dia lihat tadi.


Sementara perempuan muda yang lain duduk di atas rumput. Menunggu atasannya mengeluarkan sepatah kata. Di lipat tangannya batas dada sesekali memperhatikan wanita di hadapannya.


Tapi yang dia dengar hanya isakan kecil. Se cemburu itukah wanita itu, sama seperti saat dia panas setelah tahu dokter Oki sudah punya pasangan. Bahkan sudah di lamar. Dia juga kenal sama Dona, tapi tidak menyangka saja kalau Dona sudah di lamar dokter Oki.


"Kenapa ya laki-laki tidak pernah puas? Padahal Bu Theresia sudah cantik. Selama saya kerja sama Bu Theresia dan pak Panji, saya lihat kalian termasuk harmonis saling mencintai. Tapi pas lihat tadi saya mencoba berpikiran tidak suudzon sama pak Panji." Atik buka suara.


"Perempuan tadi mantan tunangan mas Panji. Perempuan tadi juga sudah bersuami. Tapi kenapa dia masih memberi peluang sama mas Panji untuk masuk. Kenapa dia tidak ...." Echa tidak melanjutkan ucapannya.


"Bisa jadi niat pak Panji hanya menolong saja. Saya lihat tubuh wanita itu banyak luka-luka. Mungkin jika posisi terbalik misalnya yang menolong Bu Theresia adalah lelaki lain. Atau mungkin secara kebetulan mantan Bu Theresia."


"Saya tidak punya mantan. Berpacaran saja tidak pernah. Hanya beberapa lelaki mendekati, tapi tidak ada lebih dari mendekati. Saya mencintai satu orang pria sejak kecil. Pria yang sekarang jadi suamiku." nada suara Echa terdengar berat.


"Jadi pak Panji cinta pertama Bu Theresia. Wah keren bisa menikah dengan cinta pertama. Saya pernah baca novel judulnya "mengejar cinta Siti" karya kak Melisa Ekprisa. Dimana keduanya saling mencintai tapi terhalang restu dan sudah punya calon masing-masing. Dan akhirnya mereka ..."


"Bu Theresia harus berjuang lebih keras lagi. Karena pak Panji sudah hak milik ibu. Kenapa saya bilang begitu? karena ibu adalah istri sah nya. Jangan sampai karena kecemburuan ibu lupa untuk menjerat pak Panji agar lebih mencintai istrinya." sambung Atik.


Echa menoleh setelah mendengar ucapan Atik. Ada rasa sesal kenapa dia harus pergi begitu saja. Kenapa tidak tebal muka mendatangi suaminya. Dia melihat raut kecemasan yang mendalam dari suaminya. Memperhatikan lelaki itu yang mendekati dokter.


"Apakah jika itu aku dia akan secemas itu?" batinnya.


"Waktu saya masih kerja di rumah sakit. Pak Panji sangat cemas pada Bu Theresia. Saya ingat saya dia memilih menggendong Bu Theresia daripada meletakan istrinya di brankar." kata Atik.

__ADS_1


"Benarkah?" Echa masih tidak percaya dengan cerita Atik. gadis muda itu mengangguk. Meyakinkan atasannya kalau yang dia ceritakan benar adanya. Sewaktu melihat kejadian itu Atik merasa kagum. Se khawatirnya lelaki itu. Mereka datang ke rumah sakit masih memakai baju pengantin. Atik ingat baju Panji sudah berlumuran darah.


"Bu, saya tahu perempuan mana pun pasti cemburu sama mantan kekasih suaminya. Tapi kalau lihat sikon tadi, rasanya cemburu tidak pada tempatnya. Percaya sama saya, Bu." kata Atik. Dia bilang begitu bukan karena di gaji sama Panji. Bukan juga karena takut di pecat oleh Panji. Tapi dia ingin atasannya hidup bahagia. Apalagi katanya mantannya Panji sudah menikah. Tentu kejadian tadi ada unsur sisi kemanusiaan.


"Hmmm... Saya mau tahu bagaimana memancing kepekaan suami, Tik."


"Sini, Bu saya bisikin." Echa mendekatkan daun telinganya. Sesaat keduanya saling melempar senyum.


Echa dan Atik memilih kembali ke rumah daripada melanjutkan ke kantor Panji. Entah kenapa dia merasa malas bertemu suaminya. Mungkin rasa kesal masih mendera di dadanya. Walaupun Atik sudah memberi dirinya nasehat namun yang namanya cemburu tak bisa di kendalikan. Semua perempuan pasti merasa kecewa karena suaminya masih berurusan sama mantan.


"Bu, jadi bagaimana dengan makanan ini?" tanya Atik menunjuk kearah rantang susun tiga tersebut.


"Kita bawa pulang saja, Tik." kata Echa lirih.


"Nanti kalau Bu Laksmi tanya gimana?"


"Baik, Bu." Atik kembali memposisikan dirinya duduk sambil memandang kearah luar jalanan.


Echa dan Atik sudah sampai di apartemen. Mereka memasuki lift menuju tingkat tempat tinggal. Sedari dalam lift Echa hanya diam saja. Atik pun enggan banyak bertanya. Paham suasana hati majikannya sedang tidak baik.


Bu Laksmi menyambut kedatangan anaknya dengan muka berkerut. Echa memilih diantar ke kamar bersama Atik. Gadis muda itu keluar kamar sudah di berondong pertanyaan kenapa rantang masih utuh? Kenapa Echa jadi mendung? hingga Bu Laksmi menebak apa menantu membuat masalah. Semua pertanyaan itu hanya di jawab geleng kepala dan menaikkan bahu.


"Kamu jujur sama saya, Echa itu kenapa?" Bu Laksmi masih belum puas menginterpretasikan Atik. "Kamu nggak usah takut kalau Panji ataupun Echa marah. Saya yang akan membela kamu." sambung Bu Laksmi.

__ADS_1


"Saya tidak tahu, Bu. Tadi kami di suruh ke rumah sakit. Terus selesai periksa Bu Echa minta pulang gitu saja." lirih Atik.


"Benar tidak ada apa-apa? Saya bilang begini bukan mau ikut campur rumah tangga Echa. Tapi saya hapal raut wajah Echa seperti itu pasti ada masalah." Bu Laksmi memandang pintu kamar putrinya.


"Ibu bisa tanya langsung sama yang bersangkutan. Saya mau nanya tapi itu bukan ranah saya." Atik masuk ke kamar lalu membuka laptop. Dia harus memberi laporan pada atasannya atau seniornya di rumah sakit. Sebagai bahan agar magangnya lulus dan bisa wisuda.


Tak berapa lama Panji pun pulang. Bu Laksmi menyambut menantunya.


"Echa mana, Bu?" tanya Panji.


"Ada di kamar. Tadi dia rencana mau ke kantor kamu. Tapi di suruh ke rumah sakit tempat dia di rawat dulu. Akhirnya dia memilih pulang."


Panji mendadak pucat. Dia juga baru saja berasal dari rumah sakit yang sama.


"Sepulang dari rumah sakit, Echa hanya masuk kamar tanpa sepatah kata pun." kata Bu Laksmi.


"Apa Echa melihat aku membawa Vira tadi? Ya Allah jangan sampai dia salah paham." batin Panji.


Panji langsung berlari memasuki kamar. Sayangnya Echa sudah mengunci kamar dari dalam.


Echa sebenarnya sedang duduk di sudut ranjang. Memandang kakinya yang masih susah di gerakkan. Dia mendengar ketukan dari luar. Memilih mengabaikan ketukan pintu, suara suami dan ibunya bergantian. Echa tetap tak bergeming.


"Apa mungkin karena aku duduk di kursi roda Mas Panji bisa seenaknya sama perempuan lain? Aku harus bisa berjalan seperti biasa. Aku tidak mau suamiku berpaling ke perempuan lain."

__ADS_1


Echa menggerakkan kakinya. Tangannya bertumpu pada dinding samping ranjang. Ada nakas, tangannya kembali berlabuh diatas nakas. Echa tetap mencoba menggerakkan kakinya meskipun susah. Baru saja dua langkah.


PRAAANGG!


__ADS_2