
Lima tahun yang lalu
"Kenapa kita kesini, kak Afan? Tadi kakak bilang mau antar aku pulang..." Ayla terdiam saat lelaki itu berjongkok di depan dirinya.
Tubuh Afan sudah melipat di hadapannya. Seperti yang sering Ayla lihat di televisi kalau sikap lelaki seperti itu sudah pasti dia akan di lamar.
"Kak, ..."
"Mikayla Hidayati Binti Yatmo. Will you marry me?" Ayla mengatupkan kedua tangannya. Menutup bibirnya dengan perasaan haru.
"Apa ini sogokan? Bukankah kak Afan mau pergi ke Kalimantan. Kenapa malah mengajak aku menikah. Aku kan masih kuliah." kata Ayla.
"Jawab dulu, mau nggak nikah sama aku. Kita sudah sama-sama saling mencintai sejak 2 tahun belakangan ini. Ya meskipun aku nggak ganteng kayak bapakmu. Hehehehe...
Ayla, kamu tahu sejak pertama kali bertemu di kampus aku langsung jatuh cinta sama kamu. Ya walaupun kamu nggak cantik di mata orang-orang. Tapi bagi aku kamu sudah cantik luar dan dalam. Luna Maya lewat dah ... Apalagi itu siapa ya .... Song ...song ..." Afan menggaruk kepalanya. Mengingat nama aktris Korea idola mamanya. Yang katanya mamanya awet muda.
"Song Hye Kyo, kak." jawab Ayla.
"Ah, iya. Aku nggak hapal soal korea. Tapi apapun itu, aku tetap ingin menyatakan keseriusan hubungan kita. Kalau kamu mau menikah dengan aku. Kita sementara LDR untuk menyelesaikan kuliah kamu. Setelah itu kita akan tinggal di Kalimantan. Bagaimana?
Sekali lagi, Ayla Will you marry me?" tanya Afan.
"Kak, terimakasih atas lamarannya, aku senang banget kalau seperti ini. Aku akan kasih jawaban jika kakak mau bertemu bapak. Kalau aku setuju saja, tapi tanya dulu sama bapak. Kakak tahu sendiri kan? bapak itu rada protektif."
"Kamu tahu kenapa ayah selalu protektif pada anak perempuannya? karena dia sayang sama kamu. Kalau anak lelaki biasa di protektif sama ibu. Tentang bagaimana kekhawatirannya pada aktivitas anak lelaki. Begitu juga seorang ayah. Mereka bahkan rela memasang badan di depan agar anaknya tidak salah jalan, tidak salah dalam memilih keputusan. Makanya jangan heran kalau sudah berumah tangga orangtua masih ikut turun tangan."
__ADS_1
Ayah adalah orang yang akan sangat terluka bila melihat putrinya disakiti oleh seorang pria. Hal ini yang membuat seorang ayah biasanya cukup tegas pada pria yang sedang menjalin hubungan dengan anaknya.So, jangan heran bila kemudian seorang ayah membuat banyak peraturan bagi pria yang ingin menjadikan putrinya sebagai pasangan. Hal itu mereka lakukan untuk melindungi putrinya dari kemungkinan hal-hal buruk terjadi.
"Aku akan menemui bapak dan ibumu. Kamu tenang saja." Afan melabuhkan kecupan di dahi Ayla. Tangan Afan menggenggam erat jemari gadis yang di cintainya.
"Kak, beneran kakak mau kerja di Kalimantan. Bukankah kakak pernah bilang kalau pak Cahyadi minta mengurus di tambak udang. Kenapa tidak bantu orangtua saja." kata Ayla.
Afan hanya menunduk tanpa menegakkan kepalanya. Tentu keputusan ini sudah dia pikirkan matang-matang. Dia pernah di percaya terjun langsung ke tempat usaha keluarganya. Tambak udang di dekat pantai Gunung kidul. Tapi entah kenapa merasa jiwanya tidak ada di sana. Dia hanya tinggal duduk di kantor menunggu hasil laporan. Kalau di minta ke lapangan hanya sesekali.
Sedangkan posisi kerjanya di Kalimantan adalah mandor. Dimana dia tidak hanya duduk di kantor tapi juga bisa memantau lapangan. Mengeksplor jiwa anak gunungnya.
"Bukan bidangku." jawab Afan.
"Kakak tahu kalau aku lulusan sarjana Peternakan. Tapi aku malah mengajar pelajaran agama Islam di sekolah dasar. Kakak tahu kenapa? karena ilmu kita bukan sebatas di mana terakhir kita belajar. Tapi bagaimana kita bisa beradaptasi dengan pekerjaan kita sekarang. Aku kembali belajar dari teman-teman yang menggeluti bidang yang lebih senior. Aku juga tidak malu mengulang pelajaran SD.
Dan harusnya kak Afan juga begitu. Kakak harus belajar mendalami apa yang ada di depan mata. Bukan mengikuti selera sendiri."
"Kamu tahu, ada beberapa hal yang membuat aku mantap memilihmu. Kepribadian kamu yang sederhana itu salah satu poin yang aku genggam. Salah satu poin yang akan aku tunjukkan pada keluarga kita.
Jika suatu saat mereka memberikan pilihan sesuai keinginannya. Aku tidak akan goyah. Kamu harus percaya sama aku."
"Jangan banyak janji, kak. Buktikan saja di depan orangtua kita. Yah, mungkin suatu saat ketika di Kalimantan kak Afan menemukan yang lebih baik dari aku. Yang lebih cantik, lebih pintar, yang diatas segalanya dari aku."
"Nggak akan, Ay. Nggak akan ada yang bisa menggantikan posisi kamu dari aku. Percaya sama aku." Afan masih berusaha meyakinkan Ayla.
Di masa Sekarang
__ADS_1
Ayla baru saja terbangun dari tidurnya. Mimpi tentang kenangannya bersama Afan kembali mengusik pikirannya. Entah kenapa dia masih sakit atas apa yang di lakukan Afan dan juga ancaman pak Cahyadi.
Ayla langsung beranjak dari tempat tidurnya. Sudah masuk subuh dan bahkan sudah lewat jamnya lima belas menit. Kakinya melangkah ke arah jendela, tentu dengan bantuan tongkat penyangga kakinya. Rasanya sudah hampir dua minggu kakinya seperti itu.
Pertama saat membuka jendela Ayla membulatkan matanya melihat siapa yang berdiri. Seorang lelaki membelakanginya. Menatap langit subuh sambil duduk di salah satu dahan kayu buntung. Ayla meletakkan mukenanya, belum lima menit dia berbalik lelaki itu sudah berdiri di hadapannya. Dengan sigap Ayla menutup jendela, tangan kekar itu lebih cepat dan bahkan melompat dari jendela.
"Kak, ini kamar anak perempuan. Nanti kalau ada yang lihat..." Ayla berjalan mundur sementara Afan terus mengikuti langkahnya.
"Aku tidak peduli! Mau mereka menggerebek kita atau mungkin aku harus melakukan hal yang nekat supaya kamu tidak menghindar lagi."
"Jangan gila, Kak Afan!" Ayla masih mencoba menghindar dari sikap Afan yang membuatnya takut.
"Aku sudah gila, Ay! gila karena sikap kamu yang nggak jelas. Kamu menghindar tapi nempel terus sama Fadlan. Kalau memang aku punya salah sama kamu, kita perbaiki. Tapi jangan kamu yang gatal sama ..."
PLAAAAK!
"Kakak pikir aku perempuan apa! Hah! Aku dan Fadlan itu sudah seperti saudara. Bukankan kakak tahu itu sejak dulu. Lalu kalau kakak tidak suka jika aku bersama Fadlan, bagaimana dengan kak Afan yang malah memilih perempuan lain untuk di nikahi? Apa kakak pikir aku tidak sakit! Hah! Sekarang semuanya sudah selesai. Aku tidak mau berurusan dengan anda!"
"Oh, begitu! Jangan salahkan kalau aku nekat!" Afan mendorong Ayla keatas ranjang. Belum sempat Ayla bangkit, Afan sudah mendekap tubuh gadis itu. Sebisa mungkin Ayla melepaskan diri. Dia merasa nafas Afan bau alkohol.
"Sejak kapan kakak minum! Kak Afan yang aku kenal kuat agama." ucapnya saat Afan menggerayangi lehernya.
"Toloooong!" pekik Ayla.
"BANGSAT!"
__ADS_1
BUUUUUGHHHH!