After Wedding (Panji Dan Echa)

After Wedding (Panji Dan Echa)
BAB 61


__ADS_3

Malam terasa semakin dingin. Tentu membuat siapapun yang merasakannya pasti hanya ingin berbaring di tempat tidur. Tapi nyatanya, mata bening itu tidak mampu memejamkan indera penglihatannya. Bahkan sekuat tenaga dia ingin tidur tetap saja tubuhnya tidak mau diajak kompromi.


Dia melangkah ke sudut ranjang yang berukuran kecil. Beberapa barang yang di fasilitasi Fadlan, kakak angkatnya sekaligus sahabatnya. Lelaki yang sudah banyak berkorban dari waktu hingga jasmani. Tapi untuk cinta, dia mengakui belum tergerak membuka hati pada dokter tampan itu.


“Kak Mika,” sapa seorang gadis muda di depan pintu kamar kostnya.


“Eh, Sona. Masuk Son.” Ajak Ayla.


Gadis yang di panggil Sona itu melangkah mendekati di mana Ayla duduk. Tampak suasana kamar temannya yang rapi dan adem. Sona adalah mahasiswa semester awal di salah universitas swasta dekat kost mereka. Aslinya dari sumatera datang ke Jawa untuk menimba ilmu.


“Kak Mika sudah sehat?”


Ayla hanya mengangguk kecil. Walaupun kedatangan tamu tak membuat dirinya menghentikan aktivitasnya.


“Kak Mika katanya dapat panggilan kerja di Jakarta, ya.” Lagi-lagi Ayla mengangguk kecil.


“Sepi dong. Kenapa tidak di sini saja? Kasihan pak dokter kalau kakak jauh.” Cerocos Sona.


Ayla hanya tersenyum kecil. Sudah banyak yang meminta dirinya menerima Fadlan. Tentu bagi mereka Fadlan itu lelaki ideal bagi semua wanita. Baik, Sholeh, tampan, tapi tetap saja Ayla masih butuh waktu untuk membuka hati.


“Ya, enggaklah. Dia sudah dewasa.”


jawab Ayla sambil menyelesaikan beberapa barang yang akan di packing.


"Kapan wawancaranya kak?"


"Jumat, Rabu besok kakak sudah meninggalkan kostan ini."


"Pak dokter sudah tahu?"


"Sudah," kilah Ayla. Dia terpaksa berbohong karena tidak mau menambah pikiran Fadlan.


"Owh, kakak hari ini mau kemana? Aku suntuk di rumah terus. Kali aja kak Mika mau ajak aku jalan gitu?" tawar Sona.


"Nanti sore mau? Aku mau beli beberapa barang untuk oleh-oleh tempat familiku. Nggak enak datang dengan tangan kosong."


"Emang kak Mika mau nginap di rumah saudara? Enakan kost kak. Nggak terkekang sama aturan rumah orang. Aku sebenarnya punya adik ayah di Retno Dumilah. Tapi ya itu tadi, aku malas campur sama mereka." keluh Sona.

__ADS_1


"Orang itu tergantung bagaimana kita menyesuaikan diri dalam lingkungan. Kalau kita ringan tangan, enggak mengeluh, tahu diri pasti mereka senang menerima kita." kata Ayla sambil melipat bajunya untuk di masukkan ke koper.


"Maaf, kak Mika boleh saran? Aku ngelihat pak dokter sayang sama kak Mika. Ya memang hati tidak bisa di paksa. Yang jalani kak Mika dan pak dokter. Tapi apa salahnya di jalani saja dulu. Siapa tahu cinta itu datang dengan seiring waktu.


"Kadang segala sesuatu tidak harus sesuai keinginan kita kak. Aku ngomong gini jujur gemes sama kak Mika. Nolak tapi menerima apa yang di beri sama pak dokter. Kalau tidak mau buat sikap tidak mau." Ayla hanya menarik nafas dalam-dalam. Gadis itu bahkan bisa berpikir luas dari dirinya. Tapi kenapa dia tidak bisa berpikir seperti ucapan Sona. Karena hati tidak bisa berbalik seperti membalikkan telapak tangan.


"Aku takut kehilangan sosok seperti Fadlan. Aku takut kalau cinta bisa merubah semuanya. Dari sahabat tiba-tiba jadi pasangan. Marah, cemburu di kekang tidak enakan. Semua akan terjadi, Sona. Dan hubungan seperti itu malah akan memperburuk keadaan. Itu yang aku takutkan." kata Ayla.


"Jadi kak Mika memilih tidak menerima pak dokter? wah sayang, ya. Jarang ada lelaki sebaik dia. Kata yang lain kost ini dia bayar sampai satu tahun Lo. Sampai terus mewanti-wanti sama kami selalu menjaga kakak selama dia kerja. Eh, kakak kan kerja sama pak dokter bukan?"


"Iya dia sudah banyak membantuku. Tapi ya itu tadi, aku masih menghargai dia sebagai sahabat dan saudara. Tidak lebih."


Sona langsung pamit dari kamar Ayla. Alasannya dia mau mengerjakan tugas kuliah. Ayla pun menutup pintu kamarnya. Kembali membereskan barang-barangnya. Lusa dia harus berangkat ke Jakarta. Bekerja di perusahaan yang sesuai bidangnya, peternakan. Ayla membuka grup alumninya.


Obrolan di grup tertuju pada kakak tingkat yang katanya di penjara. Dan sekarang kritis di rumah sakit.


"Kritis? Siapa yang kritis?" tanya Ayla di grup.


"Kamu bukannya pacar kak Afan, Ayla. Masa tidak tahu kalau dia sekarang di rumah sakit mengalami kritis?" tanya Ratna.


"Owh, sudah putus, ya. Syukurlah kalau begitu, tidak menyangka saja kak Afan yang religius ternyata bejat. Makanya dia di penjara. Untung kamu tidak jadi sama dia." kata Ratna.


Kak Afan kritis?


Ayla mulai memegang dadanya. Perasaannya mulai tidak karuan mendengar berita duka tentang Afan. Dalam hal ini dialah yang membuat posisi Afan seperti ini. Kekerasan hatinya ketika lelaki itu menjelaskan duduk permasalahan yang sebenarnya. Ketakutannya pada ayah dari lelaki itu membuat Ayla tetap tidak mau mendengar apapun penjelasan Afan. Terlebih dia pun sudah di lecehkan oleh lelaki yang dicintainya.


"Rahma, bisa ke kost saya sekarang?"


"Bisa, Mbak. Kebetulan saya berada di kota tak jauh dari tempat mbak Ayla." suara Rahma terdengar semangat.


"Oke, saya sudah menunggu di depan teras kost-an."


Ayla merasa tidak perlu berganti baju. Melihat pakaiannya masih termasuk sopan untuk di bawa keluar rumah. Setelan berbahan kaos gombrong dengan celana kulot warna senada.


Beberapa saat kemudian Rahma sudah berada di kostan Ayla. Dua wanita satu generasi pun saling bersalaman. Tak ada Ayla yang seperti dia temui beberapa waktu yang lalu. Wajah gadis di depannya lebih ramah dari biasanya.


Ayla menyuguhkan beberapa cemilan kering di meja teras kost-an. Mereka pun memulai bicara atas tujuan pertemuan.

__ADS_1


"Ada yang bisa saya bantu mbak Ayla?" tanya Rahma.


"Saya mau memberikan kesaksian soal kak Afan. Saya tahu apa yang kak Afan lakukan di luar kendalinya. Apalagi dalam pengaruh obat dan alkohol yang di lakukan ibu saya."


"Syukurlah kalau mbak Ayla tergerak menolong kak Afan. Saya bicara seperti ini bukan karena di pihak Bu Saskia. Saya juga tahu kesalahan kak Afan yang sangat fatal pada mbak Ayla. Tapi saya cuma minta mbak Ayla menceritakan yang sebenarnya. Kalau anda belum di renggut mahkotanya. Karena Bu Ismi masih bungkam."


"Jadi ibu belum cerita yang sebenarnya pada pihak kepolisian?" Ayla kaget mendengar kebungkaman ibunya.


"Iya, Mbak. Aku pikir kamu sudah tahu semuanya."


Ayla hanya menggelengkan kepalanya. Tentu dia pikir ibunya sudah menjelaskan pada kepolisian.


"Ini Mbak," Rahma memberikan handphonenya.


"Tolong buka video itu. Itu dikirim Bu Saskia sebelum kak Afan kritis."


Ayla membuka video kiriman Afan. Tampak lelaki itu sangat kurus. Wajahnya banyak memar.


Assalamualaikum, Ayla.


Aku tahu kalau video ini sudah terlambat. Mungkin kamu tidak akan mau bertemu denganku lagi di masa yang akan datang. Jika waktu bisa di putar aku juga tidak mau semua ini terjadi. Aku juga tidak mau menghancurkan kamu, Ay.


Aku memang sempat kecewa sama kamu. Karena tidak pernah kamu sedikit pun menghargai penjelasanku. Kamu lebih banyak meluangkan waktu bersama Fadlan.


Tapi satu hal yang harus kamu tahu, tidak pernah terpikir untuk berpaling ke wanita lain selain kamu. Jika memang aku yang mengambil milikmu, aku siap mempertanggungjawabkan.


Tapi aku yakin kamu sudah terlanjur membenciku. Tak apa. Itu sudah resiko dari perbuatanku.


Maafkan aku, Ay. Maafkan atas perbuatanku. Mungkin bisa jadi ini pertemuan terakhir. Dan


Ayla aku masih mencintaimu.


Wajah Ayla sudah sembab. Tubuhnya bergetar hebat. Rahma pun menerima pundaknya jadi tumpuan Ayla.


"Apa aku jahat, Rahma?" Ayla sudah sesenggukan di pundak Rahma.


"Enggak, Mbak. Kamu enggak jahat, kalian sama-sama terjebak. Saya juga minta maaf kalau selama ini tidak memperhatikan perasaan mbak Ayla."

__ADS_1


__ADS_2