
Pernikahan menjadi impian banyak orang. Jangankan orang yang sudah menjalin hubungan pacaran selama bertahun-tahun, orang yang masih jomblo juga pasti ingin segera bertemu dengan jodohnya dan melangsungkan sebuah pernikahan. Terutama jika mereka sudah matang, baik dari segi usia, pemikiran, hingga kehidupan.
Namanya hidup, tidak akan pernah bisa lepas dari yang namanya masalah. Semakin dewasa, masalah yang kita hadapi akan semakin besar. Apalagi saat kamu sudah menikah, masalah yang muncul akan semakin banyak.
Nah, untuk memastikan kalian berdua siap menghadapi masalah yang akan datang, kamu harus tahu dulu nih bagaimana cara pasangan menangani sebuah masalah yang muncul, begitu juga sebaliknya. Dari cara kalian menangani masalah, setidaknya kamu punya gambaran bagaimana nantinya kondisi rumah tangga kalian saat ada masalah, dan apakah dia bisa bertanggung jawab atau tidak.
Echa membuka artikel tentang bagaimana memperlakukan suami dengan baik. Ucapan Rini hingga kemunculan Mia membuatnya pusing tujuh keliling. Dia percaya suaminya tidak macam-macam, akan tetapi seperti kata Rini kalau kejahatan datang karena ada kesempatan. Dan apalagi Echa tahu kalau Mia itu keponakan bude Leni. Mamanya Mia adik dari Leni. Sementara Panji adalah keponakan dari pakde Harsa, jatuhnya ipar sama orangtuanya Mia. Jauh kan!
Sudah memasuki jam ashar, Echa merogoh handphonenya guna menghubungi suaminya. Membicarakan titik tengah masalah rumah tangga mereka. Kakinya melangkah ke cermin di ruang tengah. Biasanya di pakai Panji untuk kembali memeriksa kerapian pakaiannya. Itu juga sekarang dia lakukan.
"Kira-kira aku harus ganti baju atau seperti ini saja?"
Echa berlatih bicara di depan kaca. Tentu memulai minta maaf untuk sikapnya akhir-akhir ini sangat tidak mudah.
"Mas maafkan aku ya ...."
Ganti!
"Mas aku minta maaf selama ini ..."
AAAAAHH ... Ganti!
Echa melemaskan otot tubuhnya. Biasanya kalau dia persentasi di depan klien lancar jaya. Tapi kenapa waktu mau bicara sama suami sendiri pun seperti terkunci.
"Ya Allah, kenapa aku takut kalau Mas Panji benar-benar mau memulangkan aku pada ibu. Takut kalau ibu kecewa dan jatuh sakit. Takut ibu malu anaknya tidak becus jadi istri. Takut..."
Echa menatap jendela apartemennya. Pemandangan dari atas Letaknya yang sangat strategis karena berdekatan dengan berbagai kantor pemerintahan. Menawarkan beberapa hal lain yang tidak mudah untuk ditolak, yaitu daerah hijau yang tidak dimiliki oleh daerah lainnya, banyaknya bangunan bersejarah, dan kawasan aman, serta nyaman untuk sebuah keluarga.
Theresia dulu adalah gadis desa yang merantau ke kota Jakarta. Berbekal ijazah Sarjana di kota kelahirannya, yaitu Jogjakarta. There akhirnya di terima bekerja pada sebuah pabrik PT. MADU BERKAH.
__ADS_1
Tidak di sangka sang pemilik adalah tetangganya semasa di kampung. There memilih tidak memberitahukan tentang dirinya, karena dia yakin Panji tidak akan ingat hal itu.
Kebanyakan orang yang sudah sukses jarang ada yang ingat tempat asalnya. Itu sudah dia buktikan pada mendiang ayahnya. There ingat saat SMA nekat ke solo, setelah mendengar kabar ayahnya sudah sukses disana.
Ayahnya merantau ke Solo saat dia masih duduk taman kanak-kanak. Ingatannya begitu lekat sosok ayah yang dikenalnya penyayang, hingga rasa kagum pada sang ayah luntur ketika ayahnya memperkenalkan dirinya sebagai keponakan bukan anak. Itu yang dia rasakan saat tinggal bersama sang ketika usia SMA. Tak berapa lama kenaikan kelas tiga Echa memilih pulang ke desanya. Masuk ke sekolah biasa tak jauh dari rumahnya.
"Ayah jahat! aku ini anak ayah, kenapa ayah tidak mengakui hal itu. Apa karena istri baru ayah?" protes There kala itu.
"Ayah dan ibumu sebenarnya sudah bercerai, Nak. Kami tidak ada kecocokan lagi, bukan tidak ada kecocokan melainkan tidak pernah ada rasa cinta. Istriku sekarang adalah wanita yang pertama ayah cintai sebelum menikah dengan ibumu,
Satu hal yang ayah tekankan sama kamu, jangan bawa-bawa tempat tinggal kita di depan keluarga ayah. Bagi ayah urusan itu sudah selesai,"
Tidak perlu waktu yang lama There langsung memutuskan pulang ke Jogja. Baginya untuk apa bertahan di sana, kalau pada akhirnya dianggap orang asing. Rasa sesak mendera di dadanya. Air matanya luruh membasahi pipinya.
"Kenapa ibu tidak cerita kalau kepergian ayah waktu itu karena sudah bercerai dari ibu? kenapa ibu membiarkan aku memupuk harapan agar ayah bisa pulang berkumpul dengan kita?" There langsung mengeluarkan isi hatinya saat tiba di rumahnya.
"Kalau ayah tidak bisa mencintai ibu, kenapa bisa ada aku diantara kalian,"
"Karena tuntutan dari dua keluarga, Nak. Keluarga ibu dan juga keluarga ayahmu. Walaupun ibu mencintai ayahmu, dan ibu tetap melakukan kewajiban layaknya seorang istri pada umumnya,"
Echa merasa rindu dengan sang ibu. Masih lekang dalam ingatannya sosok ibunya yang kuat dan tabah ketika di marahi oleh neneknya. Kala itu Echa sudah kuliah semester awal. Neneknya pihak dari ayahnya datang menuduh ibu yang menghasut putrinya pulang ke Jogja. Meskipun Echa sudah memberi penjelasan yang sebenarnya. Ada bibir lain yang membuat hati sang ibu sakit.
"Echa rindu sama ibu. Dulu Echa sempat terbuai ucapan nenek untuk tinggal sama ayah. Menganggap ibu tidak pernah berusaha membahagiakan ayah. Menyalahkan ibu atas kepergian ayah saat itu. Tapi sekarang aku merasakan apa yang ibu alami. Berusaha sendiri belajar menerima Mas Panji, walaupun sakit rasanya. Maafkan Echa yang dulu, Bu."
Echa menyandarkan tubuhnya di jendela ruang tamu. Menatap pemandangan kota Jakarta dari apartemen Panji. Pemandangan indah yang ada di depan mata tapi pikirannya entah kemana.
"Mas, jam berapa pulang?" Echa menempelkan benda pipih di telinganya.
"Belum tahu. Aku baru sampai di pabrik pak Burhan. Ada apa?"
__ADS_1
"Aku mau masak. Mas mau di masukin apa?"
"Tidak usah. Aku tidak tahu jam berapa akan pulang. Kamu kalau lapar pesan go-food saja." Panji langsung mematikan teleponnya. Echa kembali mendesah berat.
"Sepertinya kamu masih marah sama aku, Mas? maaf ya." batin Echa.
Echa merebahkan tubuhnya di atas ranjang. Memeluk tubuhnya semakin erat. Hujan dan gelegar kilat membuatnya sedikit takut. Mencoba menenangkan otak dan pikirannya.
Kakinya melangkah menuju kamarnya. Seingatnya di kamar kosong satu lagi semalam melihat satu ember besar kelopak bunga mawar merah. Entah untuk apa Echa pun tidak paham. Di bukanya plastik kelopak bunga.
Dia membuka seprai kamar mengganti dengan warna putih. Menghias kelopak itu diatas ranjangnya. Setelah selesai dia pun menaburkan kelopak itu di lantai sekitar ranjang. Senyumnya mengembang, berharap suaminya suka.
.
"Semoga Mas Panji suka."
Kakinya melangkah menuju ke dapur. Mempersiapkan menu makan malam untuk menyambut kepulangan suaminya. Kebetulan ada bahan untuk membuat wafel coklat. Dia rasa makan yang sedikit manis tidak masalah. Daripada harus membuat steak yang tidak dia kuasai. Echa membersihkan diri lalu mengganti pakaiannya yang lebih menggoda. Tentu dia lakukan semuanya untuk memperbanyak rumah tangganya.
Artinya: "Ya Allah, berkahilah aku di dalam keluargaku dan berkahilah mereka di dalam diriku. Berilah aku rezeki dari mereka dan berilah mereka rezeki dariku. Ya Allah, kumpulkan kami menuju kebaikan dan pisahkan kami bila Engkau pisahkan menuju kebaikan."
Beberapa jam kemudian, Echa menunggu kepulangan suaminya hingga jam sebelas malam. Di paksakan matanya tetap terjaga. Pada akhirnya kalah juga. Echa pun tertidur di sofa ruang tengah.
Suara adzan subuh membangunkan dirinya. Echa berjalan setengah mengantuk untuk mengambil wudhu di kamar mandi.
"Kok Mas Panji nggak bangunin aku, ya? Apa dia masih istirahat? Mungkin dia capek belum sempat lihat aku." Echa pun masuk ke kamar. Memencet sakelar lampu, netranya mengembun.
Kamar nya kosong itu artinya suaminya tidak pulang semalam.
Kejutannya gagal.
__ADS_1