
Kesedihan dan kebahagiaan merupakan dua hal yang bertolak belakang. Namun, kedua kata ini juga merupakan perasaan-perasaan yang pasti akan dialami dan dilalui oleh seorang manusia. Respons seseorang terhadap perasaan tersebut tentunya akan berbeda-beda, tergantung pengalaman yang telah dilaluinya.
Echa berjanji dalam hati akan menjadi istri yang baik. Walaupun dia masih belum mau di sentuh oleh Panji. Pernikahan biasanya terdiri dari dua hati yang saling mencintai. Tapi bagaimana kalau masih saling memendam satu sama lain. Seakan tuntutan ranjang wajib dilakukan cuma karena status sudah halal.
"Sayang, aku berangkat kerja dulu, Ya." suara Panji hendak berangkat ke pabrik.
Echa sudah menyiapkan bekal untuk suaminya muncul sambil membawa kotak makanan. Senyum sumringah terpancar membuat Panji semakin semangat berangkat kerja.
"Ini bekalnya, Mas." Kotak makan pun sudah berpindah tangan ke Panji.
"Terimakasih, Sayang." Panji melabuhkan kecupan di kening istrinya. Echa terpaku sesaat mendapat perlakuan manis. Tuluskah perlakukan itu atau sekedar basa-basi saja. Hanya Panji dan Tuhan yang tahu.
"Mas, aku boleh main ke kantor makan siang nanti?" tanya Echa sebelum suaminya membuka pintu.
"Pasti mau nemenin aku di sana. Nggak apa-apa, aku malah senang kalau kamu mau main ke sana. Oh ya sore nanti aku mau ajak kamu ke lokasi resepsi kita. Jadi beberapa hari lagi ibu akan datang ke Jakarta. Aku sudah konfirmasi sama ibu dan Paklik Malik." jelas Panji.
"Aku sudah janji sama Rini mau mampir. Nggak apa-apa kan?"
"Beneran sama Rini?"
"Ya sudah kalau Mas tidak mengizinkan." kata Echa berlalu dari hadapan Panji.
"Iya, selama itu masih ranah izinku kamu boleh pergi ke kantor bertemu teman yang lain. Tapi minggu depan kamu sudah naik jabatan menjadi manajer menggantikan Sardi."
Echa membalikkan badannya. Tentu dia masih ingin sama jabatan yang lama. Sebagai istri dia paham ada beberapa klien yang masih genit sama Panji. Apa ini artinya Panji takut terkekang jika dia menjadi sekretarisnya.
Jabatan manajer sudah pasti dia lebih banyak di kantor ketimbang ikut kegiatan Panji.
"Kenapa Mas Panji malah memindahkan jabatanku. Apa Mas keberatan aku jadi sekertaris kamu? atau ini akalan kamu saja? Lagian kenapa Sardi keluar dari perusahaan."
"Loh emang kamu nggak tahu kalau Sardi meninggal dunia karena DBD?" Echa mengatupkan kedua tangannya. Kaget teman sejawatnya sudah tiada.
"Rini kok nggak cerita sih!" rutuk Echa.
__ADS_1
"Maka itu aku lihat kamu lebih kompeten di bagian itu. Bukan aku tidak mau kamu jadi sekretaris, cuma untuk mengisi kekosongan lowongan saja. Toh kita juga bakal ketemu di rumah."
"Terserah, Mas saja!" Echa berjalan masuk ke dapur. Membersihkan bekas sarapan suaminya. Lalu membuka lemari atas untuk menyimpan lauk pauk.
"Kok belum berangkat?" tanya Echa.
"Aku cuma mau bilang sama kamu satu hal. Kalau kamu anggap aku masih cinta sama vira itu salah. Aku sudah menutup hati untuk dia, aku sekarang cuma cinta sama satu orang yaitu kamu. Aku juga tahu bagaimana perasaan kamu sekarang. Tolong buang rasa cemburu tidak pada tempatnya."
"Sudah, Mas ngomongnya?," masih dengan nada dingin dan ketus menanggapi ucapan suaminya.
"Tidak akan selesai sebelum kamu memberikan respon positif pada apa yang aku lakukan. Sampai aku lelah dan mengembalikan kamu pada ibu Laksmi." Kaki Echa terhenti.
"Mas ngomong apa? mengembalikan aku sama ibu? jadi Mas nggak ikhlas nikahi aku!"
"Ya Allah aku tadi ngomong apa sih! pasti Echa tersinggung sama ucapan aku tadi." batin Panji.
"Cha, maafin aku. Nggak ada maksud untuk bikin kamu marah tadi. Ucapan tadi spontan tanpa saring. Maafkan aku, Cha." Panji langsung memeluk Echa takut istrinya benar-benar pergi. Entah kenapa dia begitu takut kalau hal itu benar-benar terjadi.
"Mas memang nggak pernah filter apa yang di ucapkan. Itu yang buat aku mulai ilfeel sama kamu. Kamu saja menuduh serta menjelekkan Savira tanpa memikirkan perasaannya. Wajar kalau dia dan juga keluarganya nggak respect sama kamu. Dan barusan kamu mau ancam aku untuk pulangkan aku ke ibu. Itu jatuhnya ke talak, Mas." Suara pintu kencang pun menutup komunikasi mereka.
Panji terduduk di sofa ruang tamu. Tangannya terus mengacak-acak rambut cepak nya. Pandangannya menerawang ke langit dinding. Beberapa kali mengusap kasar wajahnya.
"Ya Allah aku harus bagaimana!"
Panji merapikan penampilannya. Mulai dari menata rambut dengan gel Pomade. Membenarkan dasi dan jas nya sendiri. Biasakan kalau di kantor Echa selalu reflek merapikan penampilan Panji. Tapi sekarang? boro-boro, yang ada pagi ini diawali dengan pertengkaran.
"Aku minta maaf, Cha. Mungkin ada sikapku yang memang bikin kamu ilfeel. Sikapku di masa lalu yang menyinggung perasaanmu juga." Panji menyandarkan tubuhnya di belakang pintu kamar.
"Aku berangkat, Cha. Doakan suamimu ini lancar dalam bekerja. Karena kesuksesan itu bisa ampuh berkat doa-doa istrinya." Echa mengusap wajahnya yang sudah sembab. Sepertinya tidak terdengar lagi, Echa pun keluar dari kamar.
Echa baru ingat sekarang dia harus shalat Dhuha. Paling tidak hatinya sedikit tenang setelah yang di alaminya barusan. Setelah berwudhu, dia pun membalut tubuhku dengan mukena berwarna putih. Bentangan sajadah mengartikan kalau dia akan menunaikan ibadah shalat Dhuha.
...****...
__ADS_1
Pabrik Madu Berkah, Pukul 09.00.
Panji baru saja sampai di kantornya. Beberapa staf pun menyapa dia pun membalas sapaan. Kaki Panjangnya melangkah seakan menghitung jumlah ubin putih. Meskipun hatinya sedang kacau, dia tidak ingin orang tahu kesedihannya. Masih mencoba senyum.
"Pak, Panji ada yang cari anda di dalam ruangan." sapa Jenny, salah satu staf.
"Siapa?"
"Mia namanya." kata Jenny.
"Owh. Saya sedang tidak ingin di ganggu suruh dia pergi!" titah Panji.
"Tapi, Pak dia.."
"Kenapa kamu takut sama dia apa sama saya?"
"Bukan begitu, dia ada di ruang kerja bapak sekarang."
Panji memasuki ruang kerjanya. Penglihatan pertamanya seorang wanita menatap photo di mejanya.
"Mia?" gadis itu menoleh ketika namanya di sebut.
Mia langsung berlari memeluk Panji. Suara isakan tangis kecil terdengar di balik dada kekarnya. Panji melerai Mia dari tubuhnya. Sekarang dia sudah beristri tidak gampang dekat dengan wanita yang bukan muhrimnya.
"Kakak kemana saja,sih? aku sudah satu bulan ini cari kakak. Tapi kakak seperti menghilang di telan bumi. Kakak tahu sejak papa di penjara, kak Randi dan aku hidupnya morat-marit. Kak Randi di pecat karena kampus malu punya dosen anak kriminal seperti papa. Dan aku pun juga di pecat karena masalah yang sama."
"Kamu duduk dulu, Mia." Panji menuntun adik sepupunya duduk di sofa ruang kerjanya. Panji dan Mia duduk bersebelahan tanpa ada jarak. Rasa kesalnya pada Mia hilang berganti dengan rasa iba.
"Tapi bukannya Randi bisa kerja di perusahaan mertuanya. Di hotel ternama itu. Dan kamu bisa minta sama Randi untuk berkerja di sana."
"Boro-boro, Kak. Mertuanya malu punya besan kayak papa. Rumah tangga kak Randi dan kak Mona di ujung tanduk. Harapan kami satu ya kak Panji. Tolong temukan kak Randi, dia pergi dari rumah mertuanya sudah hampir satu bulan. Bahkan kak Mona tidak ikut bersama kakakku."
"Ya Allah," Panji mengurut dadanya.
__ADS_1