
"Ya Allah, Echa." suara pertama menghebohkan rumah siang ini.
Panji dan Indri yang mendengar kehebohan Bu Laksmi langsung keluar dari kamar masing-masing. Tentu mereka penasaran kenapa sang ibu berteriak, apakah terjadi sesuatu pada Echa.
"Ada apa, Bu? Cha, kamu nggak apa-apa kan." Panji memeriksa keadaan istrinya.
"Aku nggak apa-apa, Mas. Aku juga kaget kenapa ibu heboh sekali. Ada apa, Bu?"
"Panji kamu tidak salah suruh Echa pakaian kurang bahan seperti ini?" Bu Laksmi masih mencerocos melihat penampakan Echa.
"Ini masih sopan, Bu." jawab Panji.
"Sopan bagaimana? Ini lihat punggung Echa kelihatan. Terus talinya cuma seutil, kena angin sedikit melorot baju kamu, Cha. Ibu nggak suka pakaian kamu kayak gini, kayak cewek penggoda. Bajunya warna merah pula. Terlalu mencolok." Bu Laksmi terus mengomel sementara Echa menatap suaminya merasa tidak enak.
"Nggak apa-apa, Sayang. Kamu ganti saja daripada ayat-ayat emak-emak makin panjang." kata Panji.
"Maaf, ya, Mas. Kamu sudah susah payah membelinya."
"Next time bisa di pakai lagi. Kalau perlu pakai pas kita bulan madu." Echa membulat mendengar kata bulan madu.
"Aduh, nanti aku bicara sama mas Panji kalau ibu mau tinggal bareng kami." batin Echa.
Semalam Bu Laksmi menyatakan pada Echa mau tinggal bareng anaknya. Dia merasa kesepian sendiri di rumah. Walaupun sanak saudara banyak di dekat rumah, tapi saat malam Bu Laksmi merasa di hampa kesendirian. Biasanya ada sang anak yang menghidupkan suasana rumah, kini putrinya tinggal bersama sang suami.
...****...
Waktu sudah memasuki sore hari, beberapa tamu undangan sudah memadati area lokasi. Semua yang ada disana mengetahui kalau yang menikah adalah putri bungsu Dewi Savitri. Bukan hanya kolega dekat Dewi yang datang, teman sekelas Vira pun datang ke acara tersebut. Sudah pasti Elsa lah yang menginstruksikan teman-temannya.
Salah satu tamu yang datang adalah Panji. Bersama sang istri juga ibu mertuanya. Mereka duduk di salah satu kursi. Panji sudah mendengar kalau Vira akan menikah melalui Feri. Hanya saja dia juga penasaran siapa lelaki yang akan meminang mantan kekasihnya itu.
"Wah, Cha, Ji. Ini mah pesta orang gedongan," Bu Lakshmi menatap kagum.
"Buat pesta kok di dekat pantai, apa nggak takut nanti kena tsunami atau apa gitu. Ibu lihat video band yang kena tsunami pas manggung saja sudah merinding,"
"Insyaallah enggak, Bu. Mereka pasti sudah mengantisipasi segala sesuatunya. Malah keren lo bisa bikin pesta di luar. Para undangan bisa melihat sunset secara langsung," kata Panji.
"Orang zaman sekarang aneh, ya. Kok ngelihat matahari terbenam sudah heboh. La wong tiap matahari naik dan terbenam," cerocos Bu Laksmi.
Echa tertawa mendengar ocehan ibunya. Kaki nya yang tinggi berdiri di hadapan suaminya.
"Ini dasinya sudah betul kok kacau lagi, Mas. Aku kan pengen lihat sekali-sekali suamiku terlihat keren. Ya walaupun kamu sudah ...." Panji menutup bibir Istrinya dengan jari telunjuk.
"Kamu jangan sering memuji suami di depan banyak orang. Nanti yang ada malah mereka pada jatuh cinta sama suamimu yang ganteng ini," Panji meringis mendapat cubitan kuat menyasar di perutnya.
"Sudah punya istri masih saja narsis. Yang aku takutkan bukan orang yang jatuh cinta sama kamu, Mas. Tapi kamu malah meladeni mereka yang mencoba menggodamu. Sudah rapi, paling tidak nggak malu-maluin,"
__ADS_1
Echa melihat seorang lelaki berjalan kearah mereka. Memberi kode pada suaminya akan ada menyambangi mereka.
"Kak Panji," sapa Arjuna.
Panji memutar badannya. Menyapa balik lelaki mantan calon kakak iparnya. Juna mendekati mereka sambil mengemong Fajar.
"Wah, adek ganteng namanya siapa?" sapa Echa.
"Fajar, Tante," jawab Juna menirukan gaya bicara anak kecil.
"Wah, mau gendong sama Tante," Fajar membalikkan badannya. Menggenggam erat kerah baju papanya. Dagunya bersembunyi di balik pundak Arjuna.
"Maaf, ya. Anak saya belum biasa sama orang lain,"
"Nggak apa-apa, Pak Juna," Echa harus menahan diri memegang Fajar. Jujur dia gemas melihat imutnya Fajar. Echa memang suka sama anak kecil.
Juna langsung menyampaikan tujuannya mendekati Panji. Dia meminta Panji menjadi saksi pernikahan Vira nantinya. Sebenarnya bisa saja dia yang jadi saksinya. Tapi beberapa hari ini dia terkena morning sickness efek kehamilan istrinya.
"Aku?" Panji kaget.
"Iya, itu permintaan mama Dewi,kak. Kalau nggak percaya tanya langsung sama yang bersangkutan," kata Juna.
"Gimana, sayang?" Panji meminta izin kepada istrinya.
"Emang yang nikah ini siapa nya kamu, Panji?" Tanya Bu Laksmi.
"Aduh, kamu kok nggak cemburu sama suamimu. Kalau ibu di posisi kamu sudah pasti ibu larang suami dekat sama mantannya," cerocos Bu Laksmi.
"Aku percaya sama mas Panji nggak aneh-aneh. Bukankah ibu juga sudah kenal mas Panji dari kecil. Ibu yang mengasuhnya dulu. Omongan ibu seakan baru kenal sama mas Panji,"
"Ibu percaya sama Panji, Cha. Hanya saja masih aneh di mata ibu tentang kedekatan Panji dan keluarga mantannya. Takutnya jadi duri dalam rumah tangga kalian,"
"Echa kenal sama Savira. Dia perempuan baik-baik, pokoknya ibu percaya sama kami, Insyaallah kalau ibu mendoakan anaknya yang baik berefek sama kebahagiaan kami," ucap Echa sambil melingkar di pinggang Bu Laksmi.
"Iya, ibu percaya. Tapi ibu boleh kan tinggal sama kalian di Jakarta. Kamu tahu sendiri kalau di rumah ibu hanya sendirian," Echa mengangguk menyanggupi permintaan ibunya. Apalagi suaminya juga tidak keberatan.
Masih dalam suasana acara. Setelah Juna mendatangi Panji. Lelaki itu pun berjalan menuju altar panggung dimana ada Dewi dan ketiga anaknya. Panji berdiri di hadapan Vira, masih dengan senyum khasnya. Masih menjadi sosok Panji yang humoris dan narsis.
"Kenapa lihatnya begitu? pasti aku tampan sekali kan,"
"Idihhh, GeEr benar! kenapa kakak yang maju padahal tidak di panggil juga!" cibir Vira.
"Sudahlah, jangan gengsi akui saja kalau masih terpesona, tapi sayang aku sudah menemukan ibu untuk anak-anakku," Panji mengedarkan pandangannya ke arah salah satu kursi tamu. Tampak seorang wanita cantik melambai ke arah Panji.
"Ya, mudah-mudahan kak There punya stok sabar punya suami seperti anda," Vira menjulurkan lidahnya.
__ADS_1
Setelah mereka beradu debat, keduanya tertawa lepas mengenyampingkan yang pernah terjadi diantara mereka.
"Ya, ampun kalian ini acara penting masih sempat berdebat," Mama Dewi menggelengkan kepalanya melihat perdebatan antara Vira dan Panji.
"Assalamu'alaikum, Tante Dewi. Terimakasih sudah bersedia menjadikan saya saksi pernikahan adik cantikku ini," sapa Panji sambil menyalami mama Dewi.
"Vira, saya bisa berdiri disini atas permintaan Tante Dewi. Saya juga ingin mengawal adik saya ini menuju gerbang pernikahan. Mengantarkan kamu pada seorang lelaki yang akan mendampingi kamu hingga akhir hayatnya.
Kamu itu sudah seperti adikku sendiri. Sebagai seorang kakak tentu aku ingin melihat adikku berbahagia karena telah menemukan seseorang yang akan membawanya pada fase kehidupan selanjutnya. Maka izinkan saya menjadi saksi atas kebahagiaan kalian,"
Panji duduk di dekat Feri Andreas, mantan calon kakak iparnya. Karena kabarnya ayah kandung Vira sedang sakit keras. Maka yang menjadi wali nikah Vira adalah sang kakak. Panji mengerutkan dahinya melihat mata Vira di tutup. Tak lama pengantin pria datang dengan aksen yang sama. Pakai baju pengantin dengan mata tertutup. Benar-benar aneh di matanya. Sudah tahu akan menikah kenapa harus di tutup.
( Selengkapnya baca di "Semesta merestui kami di bab 2029)
Saudara Pandawa Danuarta saya nikahkan dan
kawinkan adik saya yang bernama Savira Gayatri binti Andreas Dermawan dengan mas
kawin seperangkat alat sholat di bayar tunai."
"Saya terima nikahnya Savira Gayatri binti
Andreas Dermawan dengan seperangkat alat
sholat di bayar tunai."
"Sah!"
"Saaah!".
Wali nikah membacakan doa doa setelah ijab
Kabul selesai. Pandawa menampakkan rasa lega nya. Dia sudah memenuhi janji pada Vira, janji yang bisa di bilang cinta monyet. Keduanya saling
melempar senyum lalu menunduk malu-malu.
Cincin pernikahan pun disematkan di jari
masing-masing. Vira menyalami tangan lelaki
yang sekarang resmi menjadi suaminya.
Sementara Dawa melabuhkan kecupan di
kening wanita yang sudah sah menjadi istrinya.
__ADS_1
Selesai acara pernikahan, Panji mendekati Pandawa dan Savira. Dua lelaki yang pernah saling berebut hati Savira pun akhirnya saling berpelukan erat. Binar wajah bahagia dari Vira pun menjawab semuanya. Hati Vira memang tak pernah untuknya. Mereka jadian karena Tante Dewi yang memilih dirinya, bukan atas pilihan Savira sendiri. Walaupun sebelum ada Pandawa, dia lah yang lebih dulu memperjuangkan Savira.
"Dawa, kamulah pemenang dari pertarungan kita selama ini. Dulu dia memang wanita yang aku perjuangkan, dulu aku pernah mengecewakan Vira karena pengaruh seseorang. Tapi sejak awal hubungan kami hatinya bukan padaku. Tapi sama kamu. Tolong cintai Vira sepenuh hati, jaga dia dengan segenap jiwa ragamu. Dan kalau sampai aku dengar kamu menghancurkan perasaannya. Aku orang pertama yang akan menghabisi kamu. Dia memang bukan wanita ku, tapi dia sekarang adalah adik bagiku. Jadi ingat pesan kakakmu ini."