After Wedding (Panji Dan Echa)

After Wedding (Panji Dan Echa)
BAB 22


__ADS_3

"Kenapa kamu tidak kabari aku saat di usir dari kontrakan? beberapa waktu yang lalu aku ke kontrakan kamu. Tapi kata ibu kost kamu sudah pindah. Kan aku sudah bilang kalau ada apa-apa tolong hubungi aku. Kalian itu keluargaku juga."


"Fad, kakiku kenapa?" Ayla kaget saat kakinya di gips.


"Kakimu patah, Ay. Nggak parah kok paling beberapa bulan terapi bisa cepat sembuh. Kan ada aku yang bakal bantu kamu terapi." Fadlan duduk di samping sahabatnya.


"Terima kasih, Fad. Saat ini cuma kamu yang baik sama aku."


Fadlan hanya tersenyum kecil. Kebaikan yang dia lakukan belum sebanding dengan kebaikan ayahnya Ayla semasa hidup beliau. Fadlan hanya anak yang putus sekolah setelah kedua orangtuanya meninggal dalam letusan gunung Merapi belasan tahun yang lalu.


Pak Yatmo, ayahnya Ayla adalah pekerja tim SAR di lokasi kejadian. Beliaulah yang membawa Fadlan meninggalkan lokasi bencana. Walaupun saat itu Bu Ismi menolak menampung Fadlan, pak Yatmo tidak patah arang. Beliau meletakkan Fadlan di panti tapi tidak meninggalkan tanggung jawab. Fadlan di masukkan dalam daftar anak yang dapat beasiswa di kantor pak Yatmo.


Setiap pak Yatmo menjenguk Fadlan atau mengajak jalan-jalan, Mikayla atau biasa dia sebut Ayla selalu ikut. Sejak itulah persahabatan mereka terjalin. Ayla selalu bilang Fadlan sudah seperti saudara sendiri. Begitu juga Fadlan, meskipun ada terselip rasa cinta pada gadis itu.


"Fad," tepukan bahu membuat lelaki itu tersadar.


"Kapan aku bisa pulang ke panti?" tanya Ayla.


"Ya, tunggu kamu pulih. Kamu aja baru bangun udah minta pulang." Fadlan mengacak hijab Ayla.


"Aku tinggal dulu, ya. Mau check kerjaan, kamu baik-baik disini jangan bandel!" lagi-lagi Fadlan mengacak hijab instan milik Ayla.


Setelah kepergian Fadlan, gadis menatap jemarinya. Masih terselip cincin manis pemberian Afan. Pemberian yang katanya mengikat gadis itu ke hubungan yang lebih serius.


"Kalau memang kak Afan waktu itu sudah pulang, kenapa tidak langsung menemui aku. Kenapa aku harus mendengar kabar pernikahannya?"


Fadlan sebenarnya belum pergi. Dari balik tirai dia melihat mimik wajah Ayla. Tebakannya rasa sedih sahabatnya ada hubungan dengan Afan. Tangan lelaki itu mengepal erat. Seakan ada amarah yang ingin dia luapkan.


"Apa yang jadi pikiranmu, Ay? Apakah lelaki itu? padahal dia meninggalkan kamu untuk menikah dengan wanita lain. Ya memang pernikahannya batal, tapi kenapa tidak sejak awal sebelum pernikahan itu dilaksanakan. Kalau seperti ini sama saja menghancurkan perasaanmu."


Fadlan sangat peduli pada Ayla. Rasa peduli yang dia anggap sebagai pengganti pak Yatmo. Rasa peduli yang dia anggap tanggung jawabnya pada Ayla. Walaupun Bu Ismi tidak pernah suka kepadanya. Alasannya satu karena dia anak orang lain yang diangkat pak Yatmo.


Matahari tampak semakin tinggi, padahal sudah jam empat sore. Fadlan berjalan di lorong rumah sakit, beberapa perawat menyapa dan dia pun membalas sapaan mereka. Salah seorang ibu-ibu yang membawa kantong berisi sampah melewatinya, Fadlan pun memberikan uang untuk makan anak ibu tersebut.

__ADS_1


"Setidaknya mereka tidak seperti aku dulu. Dimana semasa ayah ibu masih ada, aku lah yang memberi mereka makan." Fadlan mengambil sapu tangan membersihkan kantung matanya. Tak ingin terlihat mewek di depan orang lain. Masih berusaha senyum walaupun di paksakan.


...****...


Sesampainya di kamar mandi. Panji meletakkan Echa di dalam bathtub. Genangan air berisi sabun membuat gadis itu menekan salivanya. Apakah ini saatnya dia menyerahkan mahkotanya pada Panji. Ketakutan itu kembali melanda. Membayangkan cerita budenya ibunya hamil tanpa pernah di tunggui ayahnya. Namun saat Echa berusia satu tahun ayahnya pulang ke rumah. Sepanjang hingga dia berusia sembilan tahun, Echa merasakan kasih sayang ayahnya. Bahkan sangat di manjakan sang ayah.


"Cha," suara bariton itu membuyarkan lamunannya. Panji bahkan sudah berada di hadapannya.


"Apa kamu masih tidak siap?" Echa menundukkan kepalanya.


"Tidak apa. Aku tidak akan terlalu jauh." kata Panji lirih.


"Mas, apakah pernikahan ini ikhlas kamu jalani?" tanya Echa tiba-tiba.


"Apakah kamu masih meragukan aku, Cha? Ya kita sama-sama kaget atas pernikahan ini. Aku kaget karena masih belum percaya kalau akhirnya menikah sama kamu. Dan minggu kamu sudah berharap banyak sama Afan, sehingga masih bingung kenapa bisa aku yang menggantikan Afan. Tapi aku memang mulai mencintai kamu sejak kedekatan kita akhir-akhir ini. Dan izinkan aku meminta hakku sebagai suami."


"Mas, bukankah kita akan resepsi beberapa hari lagi. Aku pernah dengar ketika suami istri berhubungan sakitnya bisa berhari-hari. Bagaimana aku bisa menjalani resepsi kalau aku kesakitan dan susah jalan."


Panji tampak berpikir sejenak. Ada benarnya apa yang di ucapkan Echa. Kalau Echa masih merasa kesakitan sudah tentu dia juga yang merasa tidak enak.


"Terima kasih, Sayang." Panji memulai ritual nya di awali mendekati tubuh Echa. Kecupan kening yang berujung peraduan bibir. Echa membalas ciuman panas dari suaminya. Dari dalam air tangan Panji sudah menggerayangi pinggul istrinya. Erangan panjang terdengar dari gadis itu saat Panji memindahkan ciuman ke leher Echa.


Bukan itu saja. Layaknya bayi, Panji menghisap benda kenyal kecil. Membuat dirinya semakin melambung.


"Mas," Echa mendesah setelah apa yang di lakukan Panji kali ini.


"Kamu sepertinya menikmati, Sayang." Panji menerbitkan senyuman.


"Mas," Echa terus mendesah.


"Jadi bagaimana ini, Cha?" Panji merasa dia sudah di puncak kenikmatan.


"Lakukan hak mu, Mas. Jika memang saat ini aku wajib memberikan apa harus kamu dapatkan." Echa menelisik leher Panji. Memberikan tanda kepemilikan pada suaminya.

__ADS_1


"Apa kamu ikhlas, Sayang? tidak ada keterpaksaan. Aku tidak mau kamu memberikannya secara tidak ikhlas." kata Panji.


"Aku ikhlas, Mas. Dan maaf jika selama ini aku terkesan mengulur waktu." Echa menundukkan kepalanya. Tangan Panji menegakkan kembali wajah istrinya. Senyuman terbit seakan restu dari alam semesta.


"Mas," Echa terus menggeliat saat Panji benar-benar memasukkan sesuatu di bagian sensitifnya. Walaupun masih dalam rendaman bathtub tidak menutup kemungkinan rangsangan itu semakin terasa.


Panji masih mencoba menelusup milik istrinya. Sangat susah dan kencang. Membuatnya mencari cara agar Echa tidak kesakitan. Kepala tersentak ke belakang. Menatap istrinya masih cantik walaupun dalam mode kecemasan.


Panji menaiki tubuh Echa. Posisi Echa yang sudah siap di jamah memudahkan Panji menancapkan adiknya ke milik Echa.


Echa menjerit saat merasa ada masuk ke dalam miliknya. Rasanya sakit sampai ke tulang. Tapi dengan cepat Panji mengalihkan adegan membuat istrinya mengerang nikmat. Membuat Echa terbuai bisikkan cinta menambah daya magis dalam percintaan sore hari ini.


Panji mengangkat tubuh Echa dari rendaman bathtub. Air yang tadi putih berbuih berubah berwarna merah. Tentu saja itu darah perawan milik Echa. Tangan Echa mengalung di leher suaminya. Rasa perih masih terasa membuat wanita itu mengeluh kesakitan.


"Kamu sakit, Sayang. Maafkan aku. Janji akan lebih pelan lagi." tutur Panji.


Tangan Panji cekatan membersihkan tubuh istrinya. Mencari pakaian dan dalaman milik Echa tidak membuatnya malu. Setelah selesai memakaikan milik Echa, Panji pun kembali mandi. Suara adzan Magrib sudah berkumandang.


"Mas," rintih Echa.


"Sayang, kamu pasti capek. Istirahat saja." Echa terbangun saat Panji sudah menyelesaikan sholat Maghrib.


"Maaf, ya. Kamu malah sholat sendiri." Echa merasa tidak enak.


Panji melabuhkan kecupan di dahi istrinya. Keduanya saling menatap satu sama lain. Lalu sama-sama menunduk malu.


"Kamu sudah memiliki aku seutuhnya, Mas. Jangan pernah mengkhianati apa sudah aku berikan." Panji mengangguk.


"Aku sudah berjanji sama kamu dan juga keluarga besarmu. Dan aku tidak akan melanggarnya."


"Aku mencintaimu, Theresia."


"Aku juga mencintaimu, Panji Agung Laksono."

__ADS_1


Entah dorongan apa, Panji kembali mencium bibir istrinya. Melepaskan rasa cinta yang mereka miliki. Jika memang Panji ingin lebih dari itu dia tidak akan menolak. Karena itu sudah menjadi kewajibannya sebagai seorang istri.


Echa tidak melawan ketika tubuhnya sudah berada di bawah Panji. Dan malam semakin tinggi, mereka kembali menunaikan kewajiban sebagai suami istri.


__ADS_2