
Dia namanya Suci. Gadis muda namun penuh keterbatasan. Bahkan orangtua kandungnya menitipkan suci saat usia 10 tahun sama mbok Darmi. Alasannya, Suci tak sehebat mereka, karena orangtuanya terlahir berprestasi.
Saya, Saskia dan Suci berteman sejak SMP. Bu Darmi menerima kekurangan Suci. Bukan itu saja, Rahmat dan Gundala pun menyayangi Suci seperti saudara sendiri. Beda dengan Sinta yang memang menolak kehadiran Suci.
Suci tak tamat SMA, itu pun karena ada pemuda magang yang datang melamarnya. Namanya Adrian Lesmana. Kalau kata aku tidak ada yang menarik dalam lelaki itu. Tapi kami tidak bisa mencegah saat mbok Darmi menerima lelaki itu sebagai calon menantunya.
Bukan karena dia tak sayang pada Suci. Tapi karena Suci telah lama tidak melanjutkan sekolah. Bukan karena Bu Darmi tak mampu menyekolahkan Suci. Tapi beberapa sekolah menolaknya karena record dari sekolah sebelumnya. Kata Rahmat Suci itu disleksia. Kamu tahu apa itu Disleksia? Sampai sekarang ibu belum paham kelemahan Suci di bagian mana. Yang ibu tahu ibumu hampir tidak naik kelas saat sekolah dasar. Ibu hanya tahu sebatas itu saja.
Bu Darmi juga tidak begitu paham apa kelemahan Suci. Apalagi Zaman dahulu semua serba terbatas. Tidak sama seperti sekarang. Saking sayangnya Bu Darmi pun mengizinkan Suci menerima lelaki yang mau meminang anak angkatnya.
Semua yang ada di sana menggunjing Suci. Mengatakan yang macam-macam, di bilang hamil di luar nikah lah, di bilang si lelaki matanya picek. Tapi kami menguatkan ibumu. Dia melewati masa menjelang pernikahan dengan bahagia. Tentu aku dan Saskia melindungi Suci dari hinaan dan cacian orang di luar sana.
Rahmat adalah orang yang menentang pernikahan itu. Alasannya dia takut Suci di permainkan. Apalagi Adrian ngotot membawa Suci ke Jakarta. Bu Darmi pun tak bisa menolak keinginan Suci untuk bisa ikut suaminya ke Jakarta.
"Itu sudah hak suaminya, Mat."
"Tapi Suci bukan perempuan pada umumnya. Dan jujur aku tidak percaya sama lelaki ini." Rahmat melempar pandangan ke arah Adrian. Tangannya tidak segan menunjuk ke lelaki itu" Dan kamu ... jika aku dengar kamu membuat saudaraku bersedih, aku tidak akan segan mengotori tangan ini. Camkan itu!"
Akhirnya kami semua melepaskan Suci untuk ikut ke Jakarta. Berat rasanya membiarkan ibumu ke dunia luar. Sedangkan dia dunia dalam saja dia masih sulit beradaptasi.
Tidak lama sekitar satu tahun kemudian Suci pulang diantar Adrian. Alasannya karena lelaki itu mau studi keluar negeri di biayai atasannya. Kamu tahu siapa atasannya, Clarissa,Ji. Pada akhirnya suci mengaku sudah hamil tiga bulan.
Kamu tahu, Ji setiap tukang pos lewat Suci selalu bertanya apa ada surat untuknya. Surat dari suaminya yang dia rindukan. Pada zaman itu hanya bisa berkomunikasi melalui surat atau telegram.
Kalau lihat dia selalu duduk di luar menunggu suaminya pulang, aku sampai marah sama Rahmat dan pak sopo. Suci sering aku ajak kerumah, kita bisa main bareng sambil bertukar cerita. Bahkan ibumu tidak pulang ke rumah Bu Darmi sekitar dua hari. Alasannya terlanjur betah di rumah saya.
__ADS_1
Suci juga hampir di usir dari kampung karena dianggap meresahkan. Efek ada tetua yang mengatakan kehamilan Suci itu membawa sial. Mereka takut terkena dampaknya. Padahal Suci kan menikah bukan hamil di luar nikah. Sampai akhirnya Rahmat mengakui kalau Suci sekarang istrinya. Padahal sebenarnya tidak. Itu hanya cara supaya tidak di usir dari kampung kami.
Sejak saat itu, Rahmat dan Bu Darmi yang mengurusi keperluan kehamilan Suci. Aku dan Saskia juga ikut membantu. Apalagi Saskia baru saja menikah dan belum di karuniai seorang anak. Beda dengan saya yang belum menikah.
Kamu tahu, Panji setelah kamu lahir kami bersukacita. Apalagi Bu Darmi, dia sibuk dengan semua keperluan cucunya. Beda dengan ibumu yang sering melamun.
Hari itu, usianya sudah memasuki enam bulan. Dari usia lima bulan kamu sudah di jejali MPASI dini. Harap maklum karena minimnya pengetahuan kami saat itu.
Pagi itu, Suci sangat bahagia. Surat dari suaminya yang hampir satu tahun tidak memberi kabar akhirnya tiba. Surat yang ternyata mengacaukan segalanya. Kebahagiaan yang pertama dan terakhir bagi Suci. Entah siapa yang di minta membaca isi surat pada Suci. Yang pasti keesokan paginya kami sudah menemukan Suci tergantung di atas plafon kamar. Suara tangisan kamu yang kencang membuat kami membuka kamar. ibumu gantung masih memakai gendongan kain dan kamu dalam gendongan itu.
"Brengsek!" amuk Panji sambil menggebrak meja makan. Bu Laksmi dan Echa pun ikut kaget.
"Mas, sabar." Echa menenangkan suaminya yang sudah terlanjur emosi.
"Cha, kalau aku tahu dia yang buat perasaan ibuku hancur. Aku tidak akan mau menerima kebaikan keluarga mereka. Apa ini sejenis tameng? Bertindak seolah pahlawan padahal mereka pelakunya sebenarnya."
"Mas, mau kemana!" Echa mengejar Panji yang sudah keluar kamar.
Panji sudah tersulut emosi. Dalam pikiran mendatangi lapas, melabrak Adrian sebagai penyebab ibunya meninggal dunia. Persetan dengan status lelaki itu sebagai ayah kandungnya.
"Cha, jangan di kejar. Dia lagi emosi biar tenangkan diri dulu." cegah Bu Laksmi.
"Bu, justru karena dia dalam keadaan emosi pergi dengan kendaraan. Aku takut terjadi sesuatu sama mas Panji. Aku akan cegah dia, Bu." Echa tetap mencari keberadaan Panji.
Sayangnya dia tak menemukan keberadaan suaminya. Echa memasuki lift memencet tombol ke lantai bawah. Dalam pikirannya Panji kalau lagi emosi membawa kendaraan lebih kencang. Ketakutan itu terus memutar dalam otaknya.
__ADS_1
"Mas," teriak Echa saat berada di lantai bawah. Echa berteriak seperti orang linglung. Kepalanya teras pusing. Namun dia masih mencoba kuat.
"Bu, kepalaku pusing sekali." keluh Echa. Di paksakan matanya terbuka demi mencari keberadaan Panji. Sayang dia tidak menemukan suaminya. Dia tidak tahu lagi, hanya mendengar suara beberapa orang dan pandangannya gelap.
...****...
PLAAAAK!
"Kamu lihat, Kan, Ji. Saking dia mengejar kamu. Saking dia khawatir sama kamu. Sampai drop seperti ini, baru saja ibu minta kamu fokus sama Echa. Kamu sudah melanggarnya.
Ibu tahu perasaan kamu, Ji. Tapi apa itu akan mengembalikan keadaan. Tidak, Ji. Ibu tidak tahu kamu tadi mau kemana? Apa mau menemui Adrian? Atau pergi ke kantor. Yang ibu minta cuma satu pikirkan perasaan Echa. Orang hamil itu sensitif."
"Maaf, Bu." Panji hanya menundukkan kepalanya. Di alihkan pada Echa yang berbaring di tempat tidur.
"ibu sudah sering dengar kamu minta maaf. Dan kamu mengulanginya lagi. Apa perlu ibu bawa Echa pulang ke Jogja biar kamu fokus sama urusan pribadimu." ancam Bu Laksmi.
"Dokter bagaimana keadaan istri saya?" tanya Panji saat dokter Melati hendak meninggalkan apartemen.
"Kandungan Bu Theresia kurang kuat. Kalau bisa jangan terlalu banyak pikiran. Sangat dianjurkan untuk mengonsumsi makanan yang mengandung zat besi, kalsium, asam folat, serta protein untuk membantu pembentukkan janin dengan sempurna."
"Baik, Dok Terimakasih."
"Rini, hari ini saya tidak masuk. Echa sedang kurang sehat. Tolong instruksikan sama Mia pertemuan pak Indra tetap berjalan, saya percaya sama kalian berdua."
"There kenapa, Pak."
__ADS_1
"Biasa bawaan hamil. Pokoknya seperti yang saya instruksikan tadi."
"Baik, pak." Panji menutup sambungan telepon.