
"Cha!" Bu Laksmi mengetuk pintu kamar putrinya.
Ini merupakan hari pertama anak gadisnya menunaikan tugas menjadi seorang istri. Setelah semalam Panji pamit untuk menginap di rumah Mbok Darmi.
"Iya, Bu." Echa keluar kamar masih setengah mengantuk.
"Kamu kenapa tidak ikut sama suamimu?" tegur Bu Laksmi.
"Echa tidak tahu kalau Kak Panji pulang ke rumah mbok Darmi. Semalam setelah acara walimah, Echa ngantuk sekali. Jadi tidak tahu kalau ...."
"Sekarang kamu bersihkan diri dan susul suamimu. Kamu itu sudah menikah, tidak boleh bersikap seperti itu sama suamimu." Echa menelan salivanya.
Sebenarnya Echa sangat yakin kalau Panji hanya terpaksa menikahinya. Bisa jadi ibunya yang mendesak atau bisa jadi lelaki itu kasihan kepada dia dan keluarganya.
Dugaan demi dugaan terus bermunculan. Sejak Echa kenal Panji versi dewasa, dan dia tahu kalau bosnya adalah Panji Agung Laksono kakak yang selama ini dalam harapnya. Tentu Echa mempersiapkan agar bisa mengetuk serta memberi kode siapa dirinya yang sebenarnya.
Saat ini dia sudah berdiri di depan pintu rumah mbok Darmi. Pintu yang terbuka lebar mendorong kakinya masuk ke dalam, Echa memandang di sekelilingnya. Beberapa photo Panji dari balita hingga SMA memenuhi ruang tamu.
Kakinya terhenti saat melihat photo gadis SMA terpajang di sebelah photo SMA Panji.
"Sejak kapan photo ini ada?"
"Tadi malam, sejak aku mengikrarkan janji sehidup semati sama gadis yang ada di photo ini,"
"Kak," Echa menunduk malu.
Panji memegang kedua jemari Echa. Tampak cincin pernikahan kedua seperti menyatu.
"Kenapa tidak bilang sejak awal kalau kamu Echa? paling tidak aku bisa bantu kamu ke posisi lebih baik,"
"Kalau anda tahu aku adalah Echa, apa yang anda lakukan? apakah akan mempengaruhi semuanya, aku rasa tidak kak?" Echa melepaskan tangan Panji dengan paksa.
"Mempengaruhi apa?"
"Nggak apa-apa, Kak. Saya pulang ..." Echa kaget Panji mengunci pintu.
"Kak Panji mau apa?"
Panji berjalan mendekati Echa. Tentu gadis itu berjalan mundur hingga tertahan dinding. Tangan Panji menahan tubuh istrinya hingga tanpa jarak antara keduanya.
__ADS_1
"Apa aku harus melakukan sesuatu supaya kamu sedikit hormat pada suamimu. Aku memang tidak akan bisa kasar pada wanita, tapi aku juga manusia yang punya batas kesabaran, Theresia,"
Panji baru sadar kalau yang dilakukannya membuat Echa takut. Perlahan-lahan tubuh jangkungnya menjauhi gadis itu. Menghempaskan diri di atas sofa. Tangan Panji memijit dahinya.
"Maaf," cicit Panji.
"Kak Panji sudah sarapan?"
Echa mengalihkan pembicaraan sambil memasuki dapur. Ia melihat bungkus Indomie berserakan di meja makan. Kepalanya menggeleng seketika. Ada rasa heran kenapa banyak yang berantakan. Seingatnya Panji pintar masak dan sangat pembersih.
"Kak Panji habis masak mie?" Panji mengangguk.
"Cha!" Ia pun menoleh merasa namanya di panggil.
"Yap!"
"Kamu belum jawab pertanyaanku tadi, kenapa tidak bilang kalau kamu Echa? saya sudah pernah janji sama mbok Darmi akan bantu sekolah kuliah kamu dan ..."
"Dan apa?" Echa dengan santai melipat kedua tangannya.
"Dan memenuhi janji saya pada mbok Darmi untuk menikahi kamu," Panji hanya bisa berkata dalam hati. Bisa kembang kempis hidung Echa kalau dia jujur.
Tapi takdir berkata lain, efek karena Afan mundur untuk menikahi Echa. Tanpa terduga dia yang diminta menggantikan posisi mempelai pria.
"Tidak apa-apa, saya sudah lupa apa yang mau di katakan," Panji berjalan mendekati Echa di pintu dapur. Pintu yang hanya bersekat dengan tirai.
"Cuma mau bilang, kalau memang semua ini terasa dadakan. Pernikahan ini mungkin masih menjadi beban pikiran kamu. Tapi satu hal yang harus kamu tahu, saya akan belajar menjadi suami yang baik sama kamu,"
"Lalu bagaimana dengan Savira? bukankah anda sangat mencintainya. Bagaimana saya bisa percaya pada anda kalau di pikirannya hanya ada dia?"
"Cha, please! Jangan bahas Savira lagi, dengan status kita sekarang itu sudah menandakan bahwa Vira itu sudah masa lalu. Masa depan saya adalah wanita di hadapan saya. Jadi saya mohon jangan bahas soal itu lagi,"
Panji menatap gemas sikap jutek istrinya.
"Kamu kalau kayak gini bikin aku makin sayang dan cinta sama kamu. Teruskan kecemburuanmu!" Panji menggempur kedua pipi istrinya. Dengan tatapan jarak dekat membuat keduanya jadi canggung.
"Jika Vira sudah menikah apakah kamu akan tetap secemburu ini?"
Echa hanya diam serta menyibukkan diri di dapur. Dia tentu tidak akan secemburu ini kalau rivalnya sudah menikah. Dia tidak pernah cemburu pada Vira justru ia merasa kalau Panji yang belum move on dari mantan kekasihnya.
__ADS_1
Panji membuka pintu rumah agar ada pencahayaan. Meskipun ada jendela tetap saja masih kurang terang.
Rumah sederhana di kampung memang tidak semegah rumah yang ada di kota, tetapi suasana sekitarnya lebih menyejukkan dan lebih nyaman. Bagi mereka yang memiliki kampung halaman jauh dari Jakarta, tentunya bisa merasakan perbedaan antara kota besar dan desa.
Rumah Panji berada di pelosok desa. Kalau kata orang tinggal di daerah pegunungan itu dingin dan sejuk. Justru desanya sangat berbeda, terletak di area mendekati jalan kota tempatnya justru terasa panas. Udara tropis khas Jogjakarta juga berdampak ke desanya.
Terletak di Gunung Kidul tak jauh dari Pantai Indrayanti terletak di sebelah timur Pantai Sundak, pantai yang dibatasi bukit karang ini merupakan salah satu pantai yang menyajikan pemandangan berbeda dibandingkan pantai-pantai lain yang ada di Gunungkidul.
Kalau dari tempat tinggalnya hanya berjarak satu jam saja. Dulu sewaktu SMA, dia dan teman-temannya suka kesana hanya dengan berjalan kaki. Walaupun terbilang jauh dari rumah namun tak menyurutkan niatnya untuk sekedar melepas penat disana.
"Kak, ini teh nya," Echa masih memanggilnya dengan sebutan kak.
"Apa bisa kamu mengganti panggilan itu, Cha?"
"Mas, gitu kan?"
"Mulai sekarang kamu panggil aku, Mas. Karena aku suami kamu sekarang. Dan kamu aku sudah dianggap resign,"
"Nggak bisa gitu, Mas. Masa aku di suruh resign, aku masih mau kerja. Lagian kalau kita di Jakarta, Mas pasti sering pulang malam. Aku bakal sendirian di rumah," protes Echa.
"Kamu istriku jadi sudah tanggung jawab saya untuk memberi kamu nafkah,"
"Ya ampun, Echa, Panji, kalian baru sehari menikah sudah bertengkar. Nggak bagus dilihat tetangga," suara Bu Laksmi.
Wanita paruh baya itu datang membawa rantang makanan.
"Maaf, Bu." ucap keduanya kompak.
Echa mengalihkan perhatian dengan mengambil rantang bawaan ibunya.
"Ibu bawa ini karena tadi pikir kalian pasti belum sarapan. Dan pasti stok disini tidak ada. Biasanya kalau ada pakde dan budemu kesini. Tapi pakde dan budemu sudah beberapa tahun tidak pulang ke Jogja. Oh ya kabar Leni dan Harsa bagaimana?"
Leni dan Harsa adalah keponakan dari mbok Darmi. Mereka lah yang membawa Panji setelah mbok Darmi meninggal dunia. Harsa dan Cahyadi adalah saudara kandung. Cahyadi kakaknya Harsa.
"Pakde meninggal dunia saat menjalankan ibadah haji lima belas tahun yang lalu. Saat itu saya baru kuliah semester awal. Sementara bude Leni juga sudah meninggal dunia lima tahun yang lalu karena sakit keras," jelas Panji.
"Apakah pakde Galih dan bude Sinta sering kesini?" tanya Panji.
"Tidak pernah sejak mbok Darmi meninggal dunia. Terakhir yang kesini anaknya Sinta bernama Raka. Itu juga dia meninggalkan rumah dalam keadaan berantakan. Dia bawa teman banyak dan bawa perempuan yang bukan muhrimnya. Pak Sopo membersihkan rumah menemukan ****** di kamar kamu. Kayaknya mereka hidup bebas. Tapi jangan juga di rumah neneknya, kan?"
__ADS_1