
Echa duduk di sebuah kuda besi yang berwarna
hijau. Terbayang di pikirannya dengan apa yang terjadi pagi tadi. Kata-kata Panji seakan menusuk ke dalam hatinya. Tidak di sangka lelaki itu mengancamnya dengan memulangkan ke ibunya. Dadanya semakin terasa sesak. Masih belum percaya dengan apa yang dia lihat tadi. Akan tetapi jika dia meratapi dan berdiam diri di apartemen akan membuatnya semakin terpuruk.
"Sudah sampai, Mbak." Sapaan si pembawa
kendaraan.
Echa pun turun dari kuda besi yang mengantarkan ke tujuan. Di keluarkan uang lembaran satu lembar uang berwarna biru. Menyerahkan pada sang pengemudi. Beberapa saat dia sudah berdiri di
depan pintu pabrik tempat dia mengais rezeki.
"Rini, aku tunggu kamu di lapak kebab dekat kantor." Echa mengirimkan pesan pada rekannya.
Tak lama ada balasan dari Rini. Echa membulatkan matanya saat Rini beralasan tidak bisa keluar kantor.
"Pasti Mas Panji kasih tugas berat supaya aku tidak bisa ketemu Rini." umpat Echa.
"Re, maaf aku tidak bisa keluar. Habis jam makan siang kami diminta untuk ke pabrik pak Burhan. Katanya ada proyek kerjasama. Pak Panji juga ikut kok. Bagaimana kalau kamu saja yang main ke kantor sebentar. Aku tunggu di warung gado-gado langganan kita." Pesan singkat dari Rini.
"Iya, aku masuk ke sana. Lagian aku tidak bisa lama juga." balas Echa.
"Ya sudah. Aku sudah warung gado-gado. Kamu cepat kesini!" balas Rini.
Echa pun memasuki pabrik. Beberapa satpam menyapa ramah. Echa kenal semua staf di sana.
"Mbak Theresia sudah lama tidak kelihatan." sapa pak Darul satpam gerbang pabrik.
"Iya, pak. Saya lagi ada urusan keluarga jadi sudah seminggu belum masuk kantor." sapa Echa.
Siang ini Echa sudah berjalan memasuki area pabrik. Rute kantor dan pabrik satu tempat. Dia langsung berjalan menuju warung yang jaraknya tidak jauh dari gudang.
Rini melambaikan tangannya menandakan kalau dia sudah menunggu. Echa pun langsung menghampiri temannya. Mata Rini langsung terfokus pada kedua jemari Echa yang masih memakai Inai pengantin.
Rini langsung menarik Echa duduk bersama. Masih tentang ke kepoannya. Langsung to the point pada pembahasan utama.
"Kamu sudah nikah, Re?" tanya Rini sambil menyomot mendoan di meja.
"Sudah. Tapi nikahnya juga terpaksa." jawab Echa.
__ADS_1
Rini langsung menyanyikan lagu Malaysia favoritnya.
"Terpaksa ... terpaksa aku lalukan. Bukan niat ku untuk meninggalkanmu.
Re, kamu nikah bukan karena dengar pak Panji sudah jadi suami orang kan?"
"Hey, kamu saja ngabarin Kak eh maaf pak Panji nikah baru kemarin. Masa iya aku langsung nikah karena itu. Cepat amat aku nyarinya.
Aku minta cuti awalnya dapat kabar bude ku sakit dan ingin bertemu. Tapi pas ada yang mau jodohkan malah sembuh dia nya."
"Mungkin karena umur kamu kali, Re. Wajar kalau orangtua resah. Yah aku juga bakal di buat begitu kalau orangtuaku masih ada." ucap Rini yang tadinya riang mendadak sendu.
"Jadi kamu nikah sama yang di jodohkan dengan keluargamu, Re." Echa menggeleng. Pandangan merawang ke dinding kantin.
"Dia datang malah membatalkan pernikahan. Itu pun sebelum akad. Hingga ada orang lain yang menggantikan posisi kak Afan. Sekarang aku tinggal di rumahnya, harus beradaptasi dengan kehidupannya." Rini memeluk Echa menenangkan temannya.
"Pasti sulit ya, Re. Harus satu rumah dengan orang yang tidak kita kenal sama sekali. Orang kita kenal saja masih banyak yang tidak kita ketahui apalagi lelaki asing yang menjelma menjadi suami kamu."
"Iya. Aku memang kenal sama mas Agung soalnya kita tetanggaan rumah. Aku juga tahu kalau mas Agung juga punya seseorang. Aku merasa jadi orang ketiga dalam hal ini."
Rini mendesah pelan. Dia mencoba memberikan semangat pada temannya.
"Kamu tahu, Re. Suamimu itu sudah jadi hak kamu. Bukan hak perempuan lain. Kalau sikap kamu seperti ini akan mudah bagi pelakor masih ke hubungan kalian. Kalau dia mau menikahi kamu meskipun terpaksa, itu artinya dia sudah siap sama konsekuensinya.
Aku balik dulu, ya. Kapan kamu masuk kantor lagi? eh tapi suami kamu izinkan kamu kerja lagi nggak."
"Belum tahu, Rin. Belum di bicarakan. Yasudah kalau kamu mau balik kerja lagi. Aku juga mau pulang ..." Tatapan Echa terhenti saat melihat dua anak manusia berlainan jenis keluar dari gerbang pabrik.
"Itu Mia kan? bukannya Mas Panji kurang suka sama Mia. Kenapa mereka malah berduaan disana." batin Echa. Gadis itu hanya menyembunyikan diri dalam kantin. "Iya, mereka kan saudara. Wajar akrab." lagi-lagi Echa mencoba untuk positif thinking.
"Bu berapa gado-gadonya?"
"Mbak Rini tadi sudah bayar kontan, Non." kata ibu pemilik warung.
"Oh, saya beli satu bungkus untuk makan di rumah." Echa menyerahkan uang berwarna biru ke pemilik warung.
"Non There sudah nikah ya?" pertanyaan yang sama terlontar dari Bu Pur, pemilik warung gado-gado.
"Alhamdulillah sudah, Bu."
__ADS_1
"Kok nggak ada undangannya. Biasanya kalau mereka yang kerja disini pasti kasih undangan."
"Saya nikah di kampung, Bu." Echa langsung menjawab cepat.
"Oh ya, selamat ya non There. Semoga langgeng sampai kakek nenek." Bu Pur menepuk pundak Echa.
"Sama-sama,Bu. Saya pamit dulu." kata Echa berjalan meninggalkan pabrik.
Echa mencoba menghubungi grab untuk mengantarnya pulang ke rumah. Akan tetapi di depannya tampak mobil yang dia kenali. Mobil itu berhenti tepat di depannya.
"Kamu mau pulang, kan? yasudah masuk ke mobil. Aku juga mau pulang soalnya." Suara bariton itu memanggil dirinya.
"Kenapa ajak dia, kak?" suara perempuan menyahut di belakang.
"Dia kakak ipar kamu, Mia. Masuk!" suara Panji nada memerintah.
"Iya, Mas." Echa langsung membuka pintu mobil. Duduk di samping Panji. Lelaki itu langsung memasangkan sabuk pengaman pada istrinya.
"Terimakasih, Mas." jawab Echa.
Mobil melaju membelah jalanan kota Jakarta. Jarak dari daerah Srengseng Jakarta Selatan menuju ke Menteng Jakarta pusat sangat jauh. Entah bagaimana bisa Istrinya bisa datang ke pabrik dengan jarak sejauh itu.
"Tadi kamu ke sini naik apa?" tanya Panji datar.
"Gojek motor," jawab Echa tanpa menatap kearah suaminya.
"Motor! kamu apa tidak mikir kalau jarak apartemen dari pabrik kan jauh. Kalau ada apa-apa siapa yang mau tanggung jawab. Kenapa kamu tidak hubungi saya dulu? biar saya suruh yang di pabrik jemput kamu. Tadi di rumah saya kan sudah bilang, kalau mau ke pabrik bareng atau bisa kamu kabari terlebih dahulu. Saya ini suami kamu, apapun walau secuil pun pada dirimu menjadi tanggung jawab saya."
"Dengar itu, There. Jadi istri harus nurut sama suami. Kalau ada apa-apa kan' kak Panji juga yang repot. Lagian kamu itu masih pengantin baru tidak boleh sembarang keluyuran." Mia ikut menyemprot Echa.
"Diam kamu, Mia. Ini urusan saya sama istriku. Kalau masih ikut mengoceh saya turunkan kamu di jalan!" Hardik Panji pada Mia.
"Mia, mulai besok kamu kerja jadi sekretaris kakak." ucap Panji memberhentikan mobil di depan kontrakan tempat tinggal Mia sekarang.
"Turunlah!" perintah Panji. Mia dengan berat hati turun dari mobil kakak sepupunya.
"Mas, kok Mia tinggal disini. Bukannya mereka ada rumah sendiri?" tanya Echa.
"Aku antar kamu pulang dulu sebelum nanti balik lagi ke kantor." kata Panji terkesan dingin.
__ADS_1
Echa menoleh kearah suaminya. Beda dengan beberapa hari yang lalu yang terkesan manis padanya. Apa karena pertengkaran mereka tadi pagi? Echa sedikit merasa bersalah, namun masih menyembunyikannya.
"Mas, aku minta maaf sudah bikin kamu kesal tadi pagi. Terimakasih sudah mengkhawatirkan aku barusan dan membela aku dari Mia. Maaf aku kurang setuju kalau Mia jadi sekretaris kamu. Bukan aku cemburu, tahu kalau dia sepupu kamu, tahu kalau kalian tidak akan mungkin punya hubungan lebih dari saudara. Tapi feeling aku mengatakan kalau bukan keputusan yang bagus untuk menjadikan Mia sebagai sekertaris." Echa langsung turun dari mobil masuk ke gedung apartemen.