After Wedding (Panji Dan Echa)

After Wedding (Panji Dan Echa)
BAB 50


__ADS_3

BEBERAPA JAM YANG LALU


Panji membenarkan jas nya lalu berjalan memasuki ruang kerjanya. Baru saja selesai untuk pertemuan klien di aula pabrik. Beberapa bulan yang lalu Panji merenovasi salah satu bangunan lama di dekat pabriknya. Mengingat selama ini dia sering mendapat kunjungan dari berbagai instansi. Dia senang kalau pabriknya sudah banyak di lirik untuk bekerjasama.


Masih dalam ruangan Panji menginstruksikan Mia sang sekretaris. Meminta laporan kerja karena beberapa hari sebelumnya dia sibuk dengan pindahannya. Gadis usia 26 tahun itu menyelinap masuk ke ruangan Panji.


"Ada yang bisa saya bantu, pak?" sapa Mia. Panji pun mempersilahkan adik sepupunya untuk duduk.


"Bagaimana perkembangan selama saya tidak masuk?" tanya Panji.


"Alhamdulillah, Pak. Beberapa supplier puas dengan pelayanan kita. Ada beberapa yang komplain karena tidak mendapatkan madu stok kita. Tapi semalam ada yang komplain dapat madu rusak."


Panji yang tadi menyandarkan tubuhnya di kursi mulai menggeser posisi duduknya. Baru kali ini dapat komplain.


"Madu rusak? punya kita madu alami. Tidak bersentuhan dengan mesin. Di dalam hanya mesin cetak kemasan saja. kenapa bisa rusak? Jangan mengada-ada, Mia."


"Maaf pak. Tapi itu yang di laporkan salah satu klien kita. Tapi dia tidak membawa barangnya hanya datang untuk komplain." Adu Mia.


"Kalau begitu jangan di tanggapi. Sekarang apa aku ada schedule?"


"Ada pak, tapi bukan bapak. Melainkan saya." kata Mia.


Panji mengerutkan dahinya. Sejak kapan ada anak buah yang mementingkan urusan lain di jam kerja.


"Kamu kenapa lagi?" Panji mencoba menurunkan volume suaranya.


Mia baru saja mencoba memberi alasan sebenarnya. Dia dapat informasi kalau kunci pemecatan kakaknya ada Vira. Satu-satunya korban kasus yang di buat papanya adalah Savira. Mia merasa harus menemui Vira.


"Saya ke kampus tempat kak Randi dulu kerja. Saya mau bertemu dengan Savira, satu-satunya korban penculikan yang papa lakukan. Dan kak Panji tidak lupa siapa yang memotivasi papa menjadi seorang penculik." kata Mia kali ini bukan sebagai sekertaris melainkan sebagai saudara.


"Jangan usik Vira dengan permasalahan ini, Mia. Kalau kamu mau kakakmu kembali coba cari tahu dari Mona. Atau orang terdekat Randi. Aku tidak mau Vira trauma lagi karena kamu membuka masalah ini." kata Panji.


"Bukan papa saja yang buat Vira trauma. Tapi juga lelaki yang menjadi calon suaminya dulu." kata Mia terdengar sinis. "Kak Panji jangan bahas soal trauma kalau belum berkaca dari. Yang saya bahas sama dia bukan kasus penculikan. Tapi mengembalikan nama baik kakakku." Mia berjalan meninggalkan ruang kerja Panji. Namun dia merasa lengannya ada yang menahan.

__ADS_1


"Biar aku yang ke kampus. Bukankah Randi seperti ini juga karena aku. Jadi izinkan saya yang pergi menyelesaikan masalah ini."


"Kakak mau menyelesaikan masalah atau cari kesempatan menemui Vira. Biar aku saja yang kesana. Takutnya kak Panji bukan menyelesaikan masalah tapi malah melepas rindu." kata Mia.


"Mia, saya itu atasan kamu. Biasakan kamu mendengar perintah saya sekali ini saja. Saya bicara bukan sebagai sepupu tapi sebagai atasan kamu! saya minta kamu jangan menggunakan urusan lain di luar jam kerja. Atau saya benar-benar akan memecat kamu!"


"Tapi bapak juga akan meninggalkan kantor kalau ikut mendatangi kampusnya Savira. Apa bedanya anda dengan kami? Bapak juga mementingkan urusan pribadi di jam kerja."


"Yasudah, saya akan ke sana jam istirahat. Ingat saya sudah mengirimkan beberapa Intel menyelidiki keberadaan Randi. Jadi kamu tinggal duduk manis. Saya melakukan ini sebagai balas budi kebaikan Tante Clarissa dan om Adrian." kata Panji.


Kualitas udara di wilayah Indonesia selama beberapa pekan belakangan ini terus menjadi sorotan. Polusi udara di wilayah Jakarta dan sekitarnya belakangan ini juga sedang disorot. Polusi di Jakarta bahkan dianggap sudah semakin memburuk hingga dikeluhkan oleh masyarakat luas dari berbagai kalangan.Kabut menyelimuti langit Jakarta hingga menutupi gedung-gedung tinggi hingga siang ini.


Proses meningkatnya suhu udara pada ketinggian tertentu. Suhu udara di bawah lebih rendah dibandingkan yang di atasnya. Kondisi itu membuat udara di bawah permukaan kondisinya stabil sehingga seolah-oleh tampak seperti kabut.


Kabut menyelimuti langit Jakarta hingga menutupi gedung-gedung tinggi hingga siang ini.


Panji baru saja melajukan mobilnya menuju kampus tempat Randi bekerja. Setelah sempat terhenti di pom bensin. Langit sudah semakin terang. Jakarta akhir-akhir ini di penuhi kabut tebal tapi bukan kabut yang dingin. Berbekal informasi dari Mia, titik permasalahan yang membuat Randi di pecat adalah Savira. Sambil menemui pihak kampus dia pun juga ingin membicarakan masalah ini pada Vira.


Tepat di salah titik lampu merah. Panji di kejutkan dengan kemacetan yang begitu parah. Entah apa sebabnya dia pun enggan mencari tahu. Kepalanya menyembul sejenak mengecek apa yang sedang terjadi. Tampak asal menyembul di atas langit.


"Katanya ada motor listrik meledak sendiri. Yang bawa perempuan muda. Perempuan itu terpental ke aspal." kata sang pembawa motor.


"Ooh," Panji kembali memasukkan kepalanya ke dalam mobil. Sembari menunggu lelaki itu membuka gawai melihat berita yang lagi trending.


"Gila nih orang, prewed kok bikin rusuh!" oceh Panji melihat berita kebakaran di Bromo efek prewedding.


Prewed? Panji tetiba membuka sosmednya. Ada photo yang dia simpan di sosial media. Tentu prewedding dadakan bersama istri tercinta. Senyum Panji mengembang, membayangkan bagaimana aktivitas istrinya saat ini.


"Masih lama?" tanya Panji pada pemotor di samping mobilnya.


"Masih kayaknya." Bakal macet total soalnya motor listriknya terbakar.


Panji akhirnya keluar dari mobil. Rasa penasaran tentang apa yang terjadi semakin menjadi. Sempat ri tampik merasa bukan urusannya. Tapi langkahnya sudah terlanjur jauh. Beberapa orang tampak berkerumun sementara di sudut sana tampak kobaran api.

__ADS_1


"Kenapa ada motor di jalan ini?" batin Panji.


"Ah iya ini kan bukan jalan layang." Panji mendekati kerumunan tersebut.


Panji melihat darah mengalir di pelipis kaki korban. Hanya terlihat kaki polos tanpa alas kaki. Tubuhnya telah sampai di depan korban kecelakaan tersebut. Masih belum bisa melihat seperti apa wajah sosok itu. Tapi melihat sebagian tubuhnya banyak mengalami luka-luka.


Mata Panji membulat sempurna ketika seorang wanita mengangkat sosok itu.


"Vira!" pekiknya.


"Anda kenal?"


"ini adik saya." kata Panji.


Panji mengguncang tubuh Vira. Memperhatikan begitu banyak luka-luka di tubuh Vira. Panji memeriksa denyut nadi Vira. Ada rasa syukur setelah tahu denyutnya masih baik. Dia langsung membuka jas nya. Menutupi kaki Vira yang banyak mengeluarkan darah.


Dengan sigap dia membawa Vira menuju ke mobilnya. Tentu dia akan mengabari keluarga Vira saat nanti tiba di rumah sakit. Sekarang lebih fokus dengan penanganan Vira.


"Kamu harus bertahan, Vira!" Panji terus menguatkan sambil menggenggam erat tangan Vira. Jika terjadi sesuatu pada Savira dia akan merasa sangat bersalah.


Beberapa saat kemudian dia sudah duduk di ruang ICU. Menunggu kabar dari dalam sana. Pakaiannya tadi rapi sekarang terlihat kacau. Layaknya suami yang cemas dengan keadaan istrinya.


"Panji!" suara wanita yang dia kenal. Panji menyalami wanita itu. Dia tidak sendirian, ada wanita muda yang ikut menemaninya.


"Tante, Tina, Vira sedang di tangani dokter." jawab Panji lirih.


"Kenapa bisa terjadi? apa kamu menabraknya?" tuduh Dewi.


"Tidak, Tante. Coba Tante baca berita hari ini. Barusan saya baca kecelakaan Vira lagi trending. Di mana Pandawa? kenapa hanya Tante yang datang? Suami macam apa itu istri celaka malah...."


"Lalu apa bedanya sama kamu Panji? Kamu suami macam apa yang sibuk mengurusi istri orang. Kalau istri mu tahu bagaimana? Tentu Pandawa lambat datang karena belum sempat kami kabari. Jadi kamu tidak usah bicara hal yang bukan urusanmu" sahut Tina menatap Panji tajam.


"Terimakasih, Panji kamu sudah menyelematkan Vira. Tapi karena kami sudah di sini. Saya minta kamu sebaiknya pulang. Jika Pandawa lihat ada kamu, Tante takut ada kesalahpahaman." kata Dewi.

__ADS_1


"Izinkan saya mengetahui kabar Vira sebelum pulang." mohon Panji.


__ADS_2