After Wedding (Panji Dan Echa)

After Wedding (Panji Dan Echa)
BAB 8


__ADS_3

Echa baru saja hendak pulang ke rumah. Langkah kakinya terhenti ketika sang ibu sudah berjalan menuju rumah mbok Darmi.


"Ibu mau ambil rantang ya?" tebak Echa.


"Enggak, Cha. Ibu mau antar baju kamu ke sini. Untuk beberapa hari ini sebelum Panji bawa kamu ke Jakarta, tinggal disini saja dulu. Kalian saling mengenal satu sama lain." ujar Bu Laksmi langsung masuk ke rumah.


"Suami kamu mana?" tanya Bu Laksmi.


"Ke rumah teman SMA nya di gang bawah." sahut Echa sambil berjalan ke dapur.


"Kok kamu nggak ikut? yang namanya pengantin baru itu harus bersama-sama." kata Bu Laksmi.


"Cha, boleh ibu ngomong sama kamu mumpung Panji belum pulang," Bu Laksmi sudah di dapur berdiri dekat dengan Echa.


"Iya, Bu mau bicara apa?" Echa pun duduk di kursi makan bersama Bu Laksmi.


"Ibu lihat kamu masih acuh sama Panji. Ada apa, sih? bukannya kamu juga cinta sama dia. Dulu kamu sendiri kan yang..."


"Mas Panji sudah punya seseorang di Jakarta, Bu. Mereka bahkan sudah mau merencanakan pernikahan. Dan aku tidak mau di posisi merebut punya orang lain." kata Echa melempar pandangan ke lain arah.


"Oke, mungkin situasinya terasa mendadak. Kamu dan Afan yang harusnya menikah. Tapi ibu yakin ini jalan Allah mempersatukan kalian. Banyak yang menjalin hubungan lama tapi kalau ..."


"Aku paham kalau yang kami alami juga karena keterpaksaan. Dia mungkin terpaksa menikahi aku karena tidak mau ibu malu. Tapi bagaimana kalau nanti kami pulang ke Jakarta dan mendapati mas Panji masih berurusan dengan mantannya.


Aku melihat ibu yang tersiksa mencintai ayah. Tapi ayah malah meninggalkan ibu dan menikahi wanita pilihannya. Aku nggak mau seperti itu, Bu,"


Bu Laksmi menggelengkan kepalanya. Seharusnya dengan status Echa seorang sarjana bisa berpikir lebih luas daripada ibunya yang tamatan SMA.


"Perempuan itu kodratnya menerima. Bukan berarti terlalu pasrah, tapi dia harus menerima garis yang sudah di tentukan. Seperti pernikahan kamu dengan Panji, itu sudah ketentuan yang diatas. Terima Panji sebagai suami kamu, tunjukkan bakti kamu sebagai seorang istri. Ibu yakin lambat laun kamu Panji akan melupakan mantannya." Ibu Laksmi memberikan petuahnya.


Jatuh cinta dan mencintai seseorang merupakan satu di antara perasaan yang paling indah. Itu mengubah duniamu dan juga mengubahmu sebagai pribadi. Ada yang bilang, saat kamu mencintai seseorang dan orang itu memiliki perasaan yang sama denganmu, saat orang itu juga balas mencintaimu, itu seperti keajaiban dalam hidup.


Ketika kamu mencintai seseorang, kamu ingin melakukan yang terbaik buatnya. Kamu melakukan hal-hal yang mereka inginkan dan adalah yang terbaik, kamu belajar untuk berkorban, dan membuat cintamu bahagia.


Saat mencintai seseorang sering kali mengalami naik dan turunnya suasana hati. Ada kala di mana kita sering kali merasa tidak dihargai, ada kala juga saat kita merasa sangat dicintai.


Menjalin hubungan sendiri bukan hanya soal kamu dan pasanganmu, tapi bagaimana caranya agar keduanya saling memahami. Namun yang sering kali menjadi kendala adalah setiap orang memiliki kesibukan masing-masing dan hal tersebut sering kali mempengaruhi hubungan.


Cinta dan kasih sayang yang baik adalah cinta dan kasih sayang yang mampu membuatmu menjadi orang yang lebih baik tanpa merubah kamu menjadi orang lain. Cinta dan kasih sayang yang baik adalah dia yang mampu menerima kamu apa adanya. Jadi, jika kamu telah menemukan orang yang menerima kamu apa adanya, dan membuatmu menjadi orang yang lebih baik, pertahankan lah karena tidak semua orang mampu menerima orang lain apa adanya.


Belajar untuk mencintai itu ternyata benar-benar


sulit. Namun, jika belajar mencintai untuk


seseorang yang telah mencintai kita dan sudah

__ADS_1


menunggu kita selama ini dengan hati yang


terbuka, mungkin tak sesulit bagi orang yang


telah mencintai terlalu dalam namun tak kunjung


dicintai.


Jika Savira belum masuk ke kehidupan Panji. Mungkin Echa akan menerima sosok Panji sebagai suaminya. Walaupun pernikahan mereka dadakan, Panji pun pernah bilang kalau akan mencintai Echa sepenuh hati.


"Maafkan Echa, Bu. Saya akan belajar jadi istri yang baik untuk kak Panji eh Mas Panji."


"Assalamualaikum." suara sapaan terdengar dari depan pintu.


"Tuh suami kamu pulang, layani dia."


Echa menelan salivanya "Layani?"


Entah kenapa dia malah membayangkan aku di boyong ke dalam kamar. Lagi-lagi dia menepis pikiran seperti itu. Echa beranjak dari sisi ibu Laksmi untuk menyambut kepulangan Panji.


"Sudah pulang, Mas." sambut Echa langsung menyalami Panji.


"Sudah. Aku tadi belikan ini, di dekat rumah Hafiz ada orang jualan gudeg komplit. Tentu aku juga belikan sambal krecek favorit kamu." Panji menyerahkan satu kantong plastik hitam pada istrinya.


"Aku sudah makan bareng Hafiz tadi. Ini buat kamu sama ibu. Tadinya mau kasih yang ibu. Tapi orang disana bilang ibu kesini.


Cha."


Echa menoleh saat namanya di panggil.


"Iya, Mas?"


"Lusa kita pulang ke Jakarta, Ya. Tadi ada pesan dari pak Barata minta ketemu sebelum beliau mau berangkat ke Malaysia,"


"Kayaknya arsip pak Barata ada di laptop deh. Nanti aku pulang sebentar untuk ...." Echa menoleh kearah Panji. Jarak mereka sangat dekat membuat gadis itu ketar-ketir.


"Cha, mau kan malam ini nginap disini? kita kan sudah menikah." lengan Panji sudah merangkul pinggang Echa.


"Mas," cicit Echa.


"Iya, Sayang." Panji mengerlingkan mata genitnya. Kata sayang yang di lontarkan Panji membuat Echa gelisah.


"Ada, ibu. Di dapur." bisik Echa.


"Kamu tahu tidak? nafas kamu saya sudah membuat aku melayang ke langit ke tujuh. Apalagi kalau ..." Panji kaget ketika istrinya sudah menghilang dari pandangannya.

__ADS_1


"Ya Allah, sabar ... sabar ..." Panji mengelus dadanya. Dia masih berusaha mendapat hati Echa. Wanita yang baru satu hari jadi istrinya masih bersikap acuh.


"Dia sama kayak Vira, nggak gampangan dengan lelaki. Tuhan memang adil, saat aku masih berperang rasa pada Savira. Setelah sekian lama hatiku tertutup saat di kecewakan Kanaya. Gadis itu datang membawa harapan, di tambah restu dari Tante Dewi Savitri. Tapi ternyata om Adrian mengacau segalanya.


Dan aku kembali di pertemuan wanita yang hampir serupa dengan Vira." kata Panji lirih.


"Jadi kak Panji masih belum move on dari Savira?" batin Echa.


"Bu," Panji menyalami ibu mertuanya.


"Kamu sudah pulang, Panji? ibu kesini antar barang-barang Echa, mulai sekarang kalian tinggal bersama. Sudah waktunya kalian saling mengenal satu sama lain. Memang sih kalian sudah saling kenal. Tapi, kenal sebelum nikah dan sesudah nikah beda rasanya.


Ibu titip Echa, Nak Panji. Tugas ibu sudah berpindah sama kamu, tolong didik anak ibu dengan baik. Dia masih belajar menjadi istri yang baik. Cha, ibu pulang dulu, kami baik-baik sama suami kamu." Pamit Bu Laksmi.


Waktu terus berjalan, Echa dan Panji sekarang hanya berdua di rumah mbok Darmi. Seperti layaknya istri Echa pun mempersiapkan baju sholat suaminya. Karena waktu sudah masuk sholat isya.


"Mas, ini aku siapkan baju untuk ke mesjid." sahut Echa.


"Kenapa harus ke mesjid? bukankah aku harus jadi imam salat kamu. Jadi kita salat berjamaah di rumah saja." Echa pun pamit untuk berwudhu. Di susul Panji juga berwudhu.


Panji pun menjadi imam. Echa pun menjadi makmum di belakang suaminya dengan khusyuk. Echa berdoa agar dia bisa menjadi istri yang baik. Begitu juga Panji, harapannya sama ingin menjadi suami yang baik.


Selesai salat Echa mencium tangan suaminya. Lama Panji memandang istrinya. Membalas dengan kecupan di pucuk kepala Echa.


Bismillah, Allahumma jannibnaassyyaithaana wa jannibi syaithoona maarazaqtanaa.


Artinya: Dengan menyebut nama Allah, ya Allah jauhkanlah kami dari (gangguan) setan dan jauhkanlah setan dari rezeki yang Engkau anugerahkan kepada kami.


"Echa."


"Iya, Mas Panji?" Pandangan mereka saling bertabrakan. Echa langsung memalingkan wajahnya.


"Aku boleh minta hak-ku sebagai suami?" Echa merenggangkan tubuhnya dari Panji. Untuk apa dia menyerahkan diri pada lelaki yang belum move on dari mantannya.


"Jangan sekarang, Mas. Aku belum siap." lirihnya pada Panji.


"Iya, tidak apa-apa. Toh kita sudah sah. Bisa kapan saja. Boleh aku tanya sesuatu?"


"Apa, Mas?"


"Apa kamu bahagia menikah denganku?" Echa hanya menunduk tanpa berani menegakkan kepalanya.


"Ya aku tahu, kamu terpaksa menerima aku. Mungkin aku belum sesempurna Afan. Tapi percayalah aku akan menjadi suami yang jauh lebih baik dari Afan. Asal kamu mau bantu aku menjadi sosok yang lebih baik dari sebelumnya."


"Maaf, ya, Mas." ucap Echa lirih.

__ADS_1


__ADS_2