
SATU MINGGU KEMUDIAN
"Ibu tinggal di rumah saja, Cha. Kamu kalau mau ke kantor suamimu sekalian kamu bawa ini. ini sudah jam sepuluh pagi, kalau sampai di sana kan sudah keburu siang." Bu Laksmi memberikan rantang susun tiga tingkat untuk sang menantu.
"Banyaknya, Bu."
"Kalau kamu lapar kalian bisa makan berdua. Kata orang sepiring berdua itu romantis. Walaupun ibu belum pernah seperti itu." suara Bu Laksmi yang tadi semangat mendadak mengecil. Echa menggenggam erat jemari sang ibu. Dia paham apa yang di rasakan ibunya.
"Ibu bisa saja, aku berangkat ke kantor mas Panji. Siapa tahu dia berubah pikiran suruh aku kerja lagi." sahut Echa di selingi guyon pada sang ibu.
Bu Laksmi menyodorkan tangannya pada Echa. Selesai acara pamitan dia pun masuk ke dalam mobil. Di bantu oleh Atik, sebab Echa belum terlalu pulih. Kakinya masih di topang sama kursi roda.
"Maaf, Bu. saya lupa kasih tahu kalau hari ini ada kontrol dengan dokter baru di rumah sakit." kata Atik yang duduk di samping Echa.
"Jadi kita ke rumah sakit dulu, Tik? Apa ke tempat mas Panji?" Pandangan Echa menjurus pada rantang di bawah kakinya.
"Sepertinya kita ke rumah sakit dulu, Bu. Kan lebih dekat dari daripada kantor pak Panji. Oh ya, Bu. Apa saya harus hubungi pak Panji. Biar dia menyusul ke rumah sakit."
"Tidak usah. Dia pasti sibuk sekali." Echa mengalihkan pandangan ke luar.
Langit di tengah hari terlihat berjalan dibalik jendela mobil, cerahnya langit biru membuat mata elok di pandang, awan putih tebal nampak berjalan saling mengejar. Echa dan Atik kini sudah berada di dalam mobil, sang sopir sudah memutar arah arus jalan dari ke Margonda kini beralih ke rumah sakit kota.
Sudah seminggu dia di boyong Panji pulang ke apartemen. Dia dan juga Bu Laksmi serta Atik yang ikut tinggal bersama. Ada dua kamar di apartemen. Kamar yang dulu pernah di tempati Pandawa saat lelaki itu di depak dari perusahaan. Kini di tempati Bu Laksmi dan Atik.
"Tik, kalau ibu ada bilang macam-macam jangan di dengarkan. Dia seperti itu karena masa muda kan beda sama kita." kata Echa memulai pembicaraan.
"Saya senang mengenal Bu Laksmi, Bu Echa. Dia walaupun rada cerewet tapi orangnya baik. Saya seperti sedang dekat dengan ibu sendiri. Ibu saya jauh di kampung, dia juga sama baiknya seperti Bu Laksmi. Hanya saja ibu saya jauh lebih kolot dari Bu Laksmi." cerita Atik.
"Karena generasi kita dan mereka beda. Kita sudah di suguhkan alat-alat teknologi canggih serta informasi lebih akurat. Beda zaman dulu, mereka di dikte pemikiran oleh orang yang terlebih dahulu menjadi dewasa. Satu pesan saya apa yang di ucapkan oleh orangtua jangan di bantah. Iyakan saja pelan-pelan kita kasih pengertian pada mereka." jelas Echa.
__ADS_1
"Tapi apa kita juga harus menelan mentah-mentah sikap mereka?"
"Tujuan mereka seperti itu karena keyakinan yang dianggapnya baik. Jadi buang buruknya ambil sisi baiknya. Ibu ku juga begitu, tapi aku juga pelan-pelan kasih pengertian sama beliau." Atik mengangguk kecil. Dia kembali memposisikan duduknya lebih rapi. Sejak menjadi perawat Echa, Atik merasa punya keluarga baru. Baik Panji maupun Echa tidak memperlakukan dia seperti bawahan. Keduanya selalu mengajak Atik makan satu meja bersama. Itu yang dia rasakan sudah sejak tinggal bersama pasangan suami-isteri tersebut.
Mobil sudah memasuki area rumah sakit. Sopir dan Atik pun membantu Echa keluar hingga duduk di kursi roda. Setelah mengucap terimakasih, Echa dan Atik melenggang masuk ke dalam rumah sakit.
"Tik, untung kamu sampai." sapa Tia pada teman sejawatnya.
"Emang ada apa, Tia?"
"Kamu masih ingat Oki, dokter yang dulu sempat kamu taksir dulu. Dia sekarang kerja di sini." kata Tia.
"Masa? Ya kalaupun iya juga bukan urusan aku." Atik mencoba cuek.
"Yakin?" Atik mengangguk.
"Ini Bu Theresia, kan? Kebetulan anda sudah di tunggu dokter Oki karena dia yang akan menangani anda sekarang." kata Tia. "Tik, antar Bu Theresia ke ruangan dokter Oki." Atik pun mendorong kursi roda Echa menuju bekas ruangan dokter ananda.
"Waalaikumsalam, masuk Bu. Oh ini Bu Theresia, ya. Yang akan ikut terapi kaki sama saya. Perkenalkan saya Oki. Saya sudah di instruksikan menangani anda. Oh ya ini asisten saya namanya Dona," Echa menerima uluran tangan gadis yang di panggil Dona tersebut. Echa memperhatikan cincin Dona dan milik Oki serupa. "Maaf, kalian sudah menikah?" tanya Echa.
"Belum Bu Theresia, saya baru saja melamarnya beberapa hari yang lalu." kata Oki menoleh kearah gadis di sampingnya.
Atik yang mendengar hal itu hanya menunduk. Perasaan sesak setelah tahu lelaki yang dia sukai sudah punya pasangan.
Dona berdiri mengantarkan Echa di duduk di brankar. Walaupun dia sebenarnya bukan lulusan kesehatan. Dona dibantu Atik membaringkan Echa. Echa memperhatikan wajah sang perawat, sedari tadi tampak mendung.
"Mbak sebagai petugas kesehatan tidak boleh muram." celetuk Atik.
Echa menyikut Atik. Menurutnya tidak etis kalau bicara seperti itu. Mau cemberut atau tidak asalkan tidak kasar sama pasien. "Maafkan asisten saya, Mbak." kata Echa. "Sama-sama, Mbak. Saya lagi banyak pikiran. Maafkan saya." jawab Dona lembut.
__ADS_1
Pembicaraan mereka terhenti ketika Oki mulai melaksanakan tugasnya.
"Alhamdulillah Bu Echa sudah lebih baik. Harus tetap rajin terapi jalan. Ini sudah satu bulan Lo, Bu. Masa masih betah di kursi roda. Saya tidak akan memberikan anda resep apapun cuma di rutinkan terapi kakinya." kata dokter Oki.
"Iya, Dok. Saya masih menjalankan terapi di rumah." kata Echa.
"Coba Bu Echa berdiri." Echa pun menyanggupi permintaan dokter tersebut. Pelan-pelan dia berjalan tapi kakinya masih terasa kaku. "Dok, kaki saya kok kaku?" tanya Echa. Sambil melayangkan pertanyaan dia masih mencoba berdiri. "Karena aktivitas masih banyak di kursi roda, Bu. Seakan saraf di kaki merasa di manjakan. Dona tolong ambil tongkat penuntun jalan." Dona langsung mengambil barang yang di instruksikan Oki. "Coba Bu Echa pegang ini."
"Maaf pak dokter, tapi bukannya ini hanya kontrol saja." sela Atik.
"Iya, saya mau memastikan kondisi kaki Bu Echa dulu. Jujur ini termasuk lambat kalau hanya luka tusuk saja. Ayo, Bu coba turun dari brankar." kata dokter Oki.
Echa pun menuruti permintaan dokter Oki. Pelan-pelan dia bangkit dari brankar pasien. Tangannya bertumpu pada salah satu besi penyangga kaki. Benar, kakinya terasa kaku. Itu di buktikan ketika dia mencoba menggerakkan kakinya.
" Dok, susah sekali." keluh Echa.
"Pelan-pelan saja Bu Theresia. ibu sudah bisa menggerakkan kaki satu dua langkah malah bagus. Jadi sekarang coba Bu Theresia selangkah lagi." Echa kembali melangkahkan kakinya. Baru saja satu langkah dia terjatuh, untungnya di tahan sama dokter Oki.
Selesai kontrol dengan dokter Oki, Echa dan Atik pun pamit meninggalkan rumah sakit. Tak lupa mengucapkan terima kasih pada dokter muda tersebut. Atik mengingatkan tujuan Echa untuk ke kantor Panji.
Mata Echa menjurus pada seorang lelaki yang berlari menggendong perempuan muda. Tampak rasa cemas di wajah lelaki itu. Kaki perempuan itu tampak luka-luka.
"Dokter! Tolong!" suara pekikan bariton menggema di lorong rumah sakit.
Echa mengayuh kursi rodanya mendekati lelaki itu. Dalam hati ada gemuruh panas melihat lelaki itu menggendong gadis muda. Dia tidak pernah seperti ini, tapi ini seperti sakit menjalar dalam tubuhnya.
"Tik," Atik yang tadinya asyik dengan gawainya menoleh kearah Echa. Matanya mengurus kearah pandangan Echa. "Bu, itu bukannya ...."
"Kita pulang, Tik!" wajah Echa sudah berurai air mata.
__ADS_1
"Tapi, Bu."
Diam-diam kalian masih saling bertemu.