
"Tina kamu tidak sopan bicara seperti itu!" tegur Dewi dengan nada tegas.
Tina yang mendapat teguran dari ibu mertua menundukkan kepalanya. Dia juga tidak tahu kenapa begitu emosi mendengar ucapan Panji. Seakan ingin menyalahkan anggota keluarganya yaitu Pandawa. Sebagai ipar, Tina merasa Panji sudah banyak ikut campur urusan keluarganya. Walaupun mama Dewi selalu bilang kalau Panji sudah seperti anak sendiri.
"Maaf, Ma." cicit Tina.
"Kak Panji maafkan ucapan saya tadi. Saya terlanjur emosi mendengar ucapan kamu yang menyalahkan Pandawa. Apalagi kami juga tidak tahu kalau Vira membeli motor listrik." ucap Tina sambil duduk di kursi ruang UGD. Wanita itu mendaratkan tubuhnya di samping ibu mertuanya.
"Saya paham, Tina. Tapi kalian seperti menuduh saya yang menyebabkan Vira seperti ini. Saya hanya menemukan Vira yang sedang terluka. Itu saja. Kalau soal menghormati istri, sudah pasti saya lakukan. Karena saya sangat mencintainya. Dan maaf kalau saya tadi terkesan emosi. Saya mengkhawatirkan Vira karena sudah anggap seperti adik sendiri." ucap Panji.
Yang Panji ucapkan memang benar adanya. Dia menyelamatkan Vira berdasarkan rasa kemanusiaan. Bukan karena soal perasaannya pada Vira. Dia memang sempat marah pada Pandawa karena dianggap tidak becus menjaga Vira. Marah seorang kakak pada adiknya. Itu yang dia rasakan saat ini.
"Tante, Tina, saya pamit. Rasanya tugas saya sudah cukup disini." kata Panji.
"Terimakasih nak Panji. Kamu sudah menolong Vira. Kalau tidak ada kamu mungkin apa jadinya." ucap Dewi Savitri.
"Sama-sama, Tante. Saya pamit dulu." Panji menyalami tangan Dewi.
"Hati-hati di jalan, Nak. Sampaikan salam Tante pada istrimu."
"Iya, Tante. Nanti aku sampaikan salamnya." Panji pun meninggalkan area UGD. Vira sampai saat ini belum tahu seperti apa kondisinya.
Lelaki itu pamit pada Dewi dan Tina. Karena di rasa sudah cukup urusannya di rumah sakit. Memang tadinya dia ingin tahu kondisi Savira. Namun sesaat dia tersadar kalau itu bukan ranahnya lagi.
Setelah pamit Panji pun berjalan menelusuri lorong rumah sakit. Melihat beberapa orang duduk di taman area rumah sakit. Ada yang bersama suster, ada yang berpasangan, ada juga yang bersama sanak famili yang lain. Senyumnya mengembang melihat pemandangan di depannya.
Mata Panji menjurus pada lelaki yang berjalan menggunakan tongkat. Di dampingi lelaki berusia 50-an. Panji mengenal kedua langsung menyambangi dua pria beda generasi.
"Kak Panji." sapa Pandawa.
"Wa, kamu lekas ke UGD. Vira sangat membutuhkan kamu." ucap Panji sambil menepuk pundak Pandawa.
__ADS_1
Mata Pandawa berkaca-kaca. Rasa cemas membelenggu dirinya. Mencemaskan wanita yang dia cintai.
"Pak Deka." sapa Panji. Deka hanya menganggukkan kepalanya. Lelaki itu terus meminta Pandawa berjalan menuju UGD yang masuk jauh dari gerbang rumah sakit.
Panji sudah berada di dalam mobilnya. Rencana untuk ke kampus pun urung mengingat objek yang di tuju tidak memungkinkan. Panji membuka gawainya untuk menelepon Echa. Sayangnya, Echa tidak bisa di hubungi.
"Tumben dia tidak aktifkan teleponnya. Semoga tidak ada sesuatu yang membahayakan Echa. Apa aku pulang saja? iya lebih baik aku pulang." oceh Panji sambil menghidupkan mesin mobilnya. Lelaki itu melaju meninggalkan area rumah sakit.
Panji sudah sampai di rumah di sambut mertuanya. Tubuh tingginya melenggang masuk ke apartemennya. Setelah mendengar keterangan dari Bu Laksmi kalau Echa baru pulang dari rumah sakit. Panji bergegas menuju ke kamarnya. Tentu dia takut kalau istrinya salah paham. Seperti yang di ketahui Echa sangat sensitif kalau berurusan dengan Savira.
PRAAAANGGG!
Suara pecahan kaca terdengar nyaring dari dalam. Bu Laksmi dan Panji kaget. Wanita paruh baya itu meminta Panji mendobrak kamar. Rasa cemas yang melanda dua generasi tersebut.
"Mana Atik! kenapa dia meninggalkan Echa sendirian saja! ATIK! ATIK!" suara Panji menggelegar menumpahkan amarah pada suster istrinya.
"Ji, lebih baik kamu dobrak dulu pintunya. Atik katanya tadi mau bikin laporan pada pembimbingnya. Biarkan saja, toh mana berani dia masuk ke kamar kalian." bela Bu Laksmi. Panji pun menuruti permintaan ibu mertuanya.
BRAAAAKK!
"Cha, kamu kenapa?" tanya Bu Laksmi.
"Kaca... kaca ..." suara Echa terbata-bata.
"Aku disini sayang, aku disini!" Ucap Panji berbisik pada indera pendengaran Echa. Echa memutar pandangan ke arah Panji.
"Bu mana Atik? Aku mau sama Atik. Aku mau sama Atik." Echa terus mengulang ucapannya.
Bu Laksmi langsung memanggil Atik sesuai permintaan Echa. Gadis muda itu sudah duduk di samping Echa. Sebelumnya Panji sudah memindahkan tubuh Echa ke atas ranjang. Melihat kedatangan Atik, Panji menggeser posisinya supaya Atik bisa menjalankan tugasnya.
"Ya Allah, Bu Echa kenapa?" tanya Atik.
__ADS_1
"Tadi kenapa kamu tinggalkan Echa sendirian di kamar. Saya tidak masalah kalau kamu temani dia disini. Karena itu sudah tugas kamu. Kamu lihat kan tadi? Gara-gara keteledoran kamu, Echa jadi seperti ini. Kamu gimana sih!" Panji terus mengomel pada Atik.
"Maaf, Pak. Saya tidak tahu kalau Bu Echa mengunci dirinya. Tapi saya rasa bapak yang harus mengintrospeksi diri kenapa Bu Echa bisa seperti ini. Saya memang di bayar anda untuk menjaga Bu Echa, tapi yang membuat Bu Echa seperti ini adalah anda." Kata Atik.
"Maksud kamu apa, Tik?" Bu Laksmi mencium sesuatu sebagai biang masalah kejadian hari ini.
"Selama saya kerja di sini Bu Echa mengeluh pak Panji kurang waktu. Pak Panji pulang malam ketika dia sedang tidur. Mereka hanya bertemu pagi saja. Itu yang pernah saya dengar dari Bu Echa. Puncaknya ...."
"Tik, tolong tinggalkan saya berdua sama istri saya." Panji memotong ucapan Atik. Panji menebak Atik akan cerita pada Bu Laksmi kalau mereka melihat dirinya membawa Savira. "Atik belum selesai bicara Panji! Biar dia menjelaskan duduk permasalahan yang sebenarnya. Memang benar kata Atik kamu terlalu sibuk. Memang ada saya dan Atik di rumah. Tetapi yang Echa butuhkan adalah kehadiran suaminya. Dengan kondisi Echa yang seperti ini support kamu lebih penting. Kalau begini jadinya ibu lebih baik bawa Echa pulang ke Jogja."
"Maaf, Bu. Tapi Echa itu istri saya. Sudah jadi tanggung jawab saya. Dan tanpa izin saya ibu tidak bisa membawa Echa seenaknya jauh dari suaminya."
"Kalau begitu lakukan tugas kamu sebagai suami seharusnya Panji. Jangan mengandalkan saya dan juga Atik. Saya memang ibunya tapi melihat kondisi Echa tidak ada perkembangan sama sekali, saya yang akan turun tangan sebagai ibunya." jawab Bu Lakshmi lantang.
"Bu," suara Echa lirih.
"Nak, kalau kamu merasa tertekan disini bilang saja." Bu Laksmi menggenggam erat jemari Echa. Echa memutar pandangan ke arah Panji. Kembali menurunkan pandangannya ke dua perempuan yang mengapit dirinya.
"Bu, aku mau bicara penting sama mas Panji, boleh?" Bu Laksmi melonggarkan genggam tangannya.
"Tapi kalau ada apa-apa kamu teriak, ya." Echa menggangguk pelan. "Ibu tenang saja. Mas Panji tidak akan mungkin macam-macam sama aku." Bu Laksmi dan Atik meninggalkan kamar. Panji pun menutup pintu kamar mereka.
"Cha," tubuh Panji bersimpuh di lutut Echa.
"Mas, apa aku merepotkan kamu selama ini?"
"Enggak, Sayang. Kamu tidak pernah merepotkan aku. Yang aku lakukan selama ini tentu sudah tanggung jawab sebagai suami. Kenapa kamu bicara seperti itu?"
"Tidak apa, Mas. Aku merasa pernikahan kita hanya sekedar kewajiban saja. Tidak di landasi ketulusan atas cinta. Mas Panji suami yang baik memperlakukan aku penuh kasih sayang. Tapi apa itu di landasi cinta atau sekedar kewajiban? hanya kamu yang tahu jawabannya."
"Cha, aku pernah bilang sama kamu kan? kalau seandainya aku ada salah mohon beri tahu. Kita saling introspeksi sama-sama walaupun tahu ini salahnya pasti di aku. Jika kamu marah karena melihat aku bersama Savira, izinkan aku menjelaskan semuanya."
__ADS_1
"Buat apa, Mas. Aku bisa melihat kecemasan saat kamu menggendong Vira. Kecemasan yang entah kalau di posisiku kamu juga akan melakukannya atau mungkin. Sakit mas, sakit sekali rasanya!" Echa merasa butiran air matanya menetes.
"Kamu salah paham, Cha. Aku menemukan Vira dengan kondisi luka-luka di jalanan. Sebagai orang yang mengenalnya aku mencoba menolong. Setelah itu aku langsung pulang ke rumah. Tidak ada yang seperti kamu pikirkan. Kalau kamu tidak percaya kita ke rumah sakit sekarang! kalau perlu ibu dan Atik juga ikut supaya mereka juga tidak berpikir yang tidak-tidak."