
Mobil melaju dengan kecepatan sedang di jalanan kota Jakarta. Tampak Panji masih fokus dengan setirannya sementara Mia duduk di kursi belakang membuka laptop memeriksa berkasnya. Mata Panji melirik ke arah belakang kursi sedikit menyunggingkan senyum. Sejak beberapa beberapa hari ini gadis itu bekerja, Panji tidak meragukan hasil kerja keras sepupunya.
Dia kenal Mia sejak tinggal bersama pakde Harsa. Meskipun dia cuma dekat dengan pakde dua tahun saja, lebih banyak dekat dengan keluarga bude Leni. Adik bude Leni adalah Clarissa ibu kandung Randi dan Namia, keluarga yang menyandang nama Alatas.
Dari yang dia tahu kalau bude Leni itu masih keturunan Arab. Tapi kerena ibu mereka asli Betawi, jadi tidak terlihat wajah arabnya. Semua anak Tante Clarissa mengikuti wajah ayahnya, Adrian. Dari Randi maupun Mia tidak menurunkan wajah dari mama mereka. Puncaknya saat Mia Masih SMA, Tante Clarissa hamil anak ketiga. Itu pun di protes Mia karena malu. Beda dengan Randi yang tetap welcome sama calon adik barunya.
Ternyata om Adrian selingkuh dengan Tante Anne, anak dari teman Tante Clarissa. Usia Tante Anne lima tahun diatas Panji. Tentu kabar itu mengganggu pikiran Tante Clarissa mempengaruhi kehamilannya. Tepat saat kandungan lima bulan kandungannya keguguran. Di tambah setelah kuret, Tante Clarissa menyusul bayinya. Apalagi usia Tante Clarissa memang rawan untuk kehamilan.
Sejak saat itu hubungan Adrian dan anak-anaknya renggang. Apalagi setelah Adrian menikah dengan Tante Anne, semakin jauh hubungan keduanya. Satu hal yang membuat Panji heran, dia diperlakukan Adrian lebih baik dari Mia dan Randi. Untung saja tidak ada kecemburuan diantara kedua sepupunya. Bahkan Panji pernah di minta menikahi Mia oleh Adrian.
Tentu saja dia menolak, karena baginya tidak ada kamus punya ikatan pernikahan dengan keluarga sendiri. Seperti tidak ada orang lain saja. Angin segar ternyata berpihak padanya, dia di tawari pak Burhan untuk cucunya yang berstatus janda. Namun saat kencan seseorang mengaku suami cucu pak Burhan.
(Yang ingat Panji di dekatkan dengan Dira dalam novel semesta merestui kami)
Namun hatinya mulai terketuk saat di pertemukan dengan gadis manis di kediaman Dewi Savitri. Gadis yang selalu cuek bebek setiap bertemu, beda dengan gadis lain yang selalu antusias mengejar dirinya. Walaupun dia akui sendiri ketampanannya.
Dia jatuh cinta pada pandangan pertama pada seorang gadis muda bernama Savira Gayatri. Usia Savira yang setengah dari usia Panji. Perasaannya ternyata di restui oleh mamanya Savira. Perlahan-lahan dia sudah membaur dalam keluarga itu. Panji bahkan sudah di gadang-gadang menantu idaman di keluarga gadis idamannya.
Tapi sayangnya dia merasa Savira tidak jujur dengan kondisinya. Kondisi di mana gadis itu kabarnya pernah di lecehkan ayah kandungnya. Katanya Savira saat itu masih kecil. Tapi apapun itu Panji termakan hasutan Adrian tentang semua keburukan keluarga Dewi Savitri.
Benar kalau penyesalan ternyata selalu datang belakangan. Panji baru tahu kalau Vira bukan di lecehkan tapi hampir. Di selamatkan sama kakaknya Feri Andreas. Itu yang dia dengar sebenarnya dari pak Burhanuddin Harahap atau biasa di panggil opa Han. Setelah itu mempertanya kembali pada Vira.
"Kenapa kamu tidak jujur sejak awal, Vira!"
"Kak Panji tahu kan apa artinya sebuah hubungan. Kepercayaan! dan itu tidak aku dapatkan dalam diri kakak. Iya ataupun tidaknya soal keperawanan aku. Itu bukan masalah yang perlu di ungkit dalam hubungan kita. Tapi nyatanya apa kakak menghilang saat kita mau bertunangan."
"Kalau kamu jujur sejak awal aku tidak masalah. Aku benci kebohongan."
"Setelah kak Panji tahu nyatanya anda ingin mengakhiri semuanya. Setelah apa yang aku alami gara-gara om Adrian. Setelah kak Pandawa mengorbankan nyawanya demi aku. Anda malah muncul seolah menjadi pahlawan."
"Vira maafkan aku. Mungkin aku dulu lelaki yang bodoh karena percaya sama om Adrian. Hatiku semakin sakit saat tahu Pandawa juga mencintaimu. Padahal dia sudah aku beri perkejaan yang layak. Kenapa kalian menikung aku dari belakang."
__ADS_1
"Tidak ada yang menikung anda om Panji. Tapi anda yang tidak pernah percaya dengan saya. Dari hal dasar saja anda sudah terlihat. Anda malah menerima perjodohan dengan Elsa, padahal anda tahu Elsa adalah sahabat saya.
Dan sekarang setelah Elsa dan keluarganya menolak anda. Datang kemari dan meminta kembali. Maaf, aku nggak bisa." Vira meninggalkan Panji di pelataran taman kampus.
Setelah berbagai cara dia coba menyakinkan Vira dan keluarganya. Termasuk meminta Pandawa menjauhi Vira. Panji akhirnya menyerah. Dia memilih merelakan Vira bersama lelaki yang di cintai gadis itu. Bersama dengan kebersamaan dan kedekatannya dengan There sekretarisnya sendiri. Panji sadar dia coba mendekati Theresia karena berharap bisa move on.
"Aku memang salah kalau mendekati There sebagai pelarian. Dan sepertinya There juga tidak gampang baper sama semua perhatian yang aku berikan."
By
"Kak," suara lantang dari belakang kursi sopir membuyarkan lamunannya. Panji baru sadar sejak tadi dia sudah memberhentikan mobilnya di depan sebuah gedung.
"Ini bukannya kantor milik suaminya Delia, kan? eh maaf almarhumah Delia." Mia menunjuk gedung bertingkat berlabel "Event Organizer Anca"
"Iya," jawab Panji lirih.
"Oh, kakak mau urus resepsi pernikahan kalian, begitu kan? sebenarnya dari kemarin aku mau nanya soal ini. Kenapa kak Panji menikah dengan Theresia? apa yang sudah kakak buat pada There atau apa yang There lakukan sampai kalian bisa menikah."
"Enggak. Karena aku tahu selera kak Panji nggak pernah kaleng-kaleng. Dari Kanaya, Astrid yang terakhir Savira, itu mereka bukan dari keluarga sembarangan. Nah ini There, dia asalnya dari kampung. Kok bisa?"
"Jika Tuhan sudah mengatur semuanya manusia tidak bisa mengelak. Jalani garis yang sudah di berikan yang maha kuasa."
"Kak Panji! aku nanya serius kok malah jawab lebay begitu?"
"Jika suatu saat kamu jatuh cinta, nanti juga akan paham. Dan ingat kamu jangan memusingkan apa yang aku jalani. Urus diri kamu sendiri!" Panji keluar dari mobilnya. Mia hanya melototi atasannya dari belakang.
"Kak Panji kok begitu sih? nggak ingat siapa yang membantu sekolahnya sampai bisa buka pabrik Madu?" Mia pun mengikuti Panji yang sudah masuk ke gedung EO.
Langkah kaki Panji terhenti saat deringan telepon dari kantor. Dahinya mengerut salah satu staf nya menelepon.
"Apa Theresia dan Lani berkelahi di ruangan saya!"
__ADS_1
...*****...
Echa tampak terkejut saat tahu ada memanggilnya.
Berusaha menyembunyikan keterkejutannya. Tampak wanita muda yang di kenalnya berdiri menatap sinis. Echa membuang nafas kasar, kenapa dia selalu apes bertemu wanita itu. Apa karena mereka satu kantor atau mungkin efek persaingan diantara mereka. Echa tahu betul kalau Lani sempat suka dengan Panji dulu. Bahkan pernah menekan dirinya supaya jaga jarak dengan Panji.
"Aku kira tadi siapa?" ucap Echa sambil membuang nafas kasar.
"Heh, sok santai padahal kelihatan kamu gugup." Lani duduk di kursi milik Panji.
"Eh, ngapain kamu duduk di sana?" Echa mengusir Lani dari kursi Panji.
"Kamu sendiri ngapain masuk di ruangan pak Panji. Kamu bukan sekretarisnya lagi." Lani tidak mau kalah.
"Saya cuma meletakkan berkas di meja pak Panji." jelas Echa pada Lani.
"Oh, ya? mana berkasnya nggak ada apa-apa cuma bekal ini doang. Jangan bilang kamu mau menggoda pak Panji. Sudah punya suami masih juga gatal sama lelaki beristri." kata Lani.
"Ya Allah andai aku bisa bilang siapa istri pak Panji yang sebenarnya. Tapi kenapa mulut saya seperti terkunci." Echa terus bermonolog.
"Bukan urusan kamu juga, Lani." sahut Echa menarik Lani dari kursi Panji.
"Eh, ..." Tubuh Lani langsung terjungkal dari kursi. Gadis itu langsung mengeluh kesakitan. Suara Lani berteriak dari dalam ruangan Panji.
Lani pun tidak mau kalah. Dia langsung menarik jas milik Echa dan menendang bokong Echa. Seketika tubuh jangkungnya tersungkur ke lantai ruangan. Lani pun menampar Echa sebanyak dua kali. Bak maling tertangkap warga, Lani menggiring Echa hingga keluar kantor.
"Kalian lihat perempuan ini, diam-diam dia masuk ke dalam ruangan pak Panji. Ngasih bekal sama atasan kita. Padahal kita semua tahu kalau pak Panji itu sudah punya istri! dia mau jadi pelakor padahal sudah punya suami. Dasar pelakor! pelakor! yang mau video kan nggak apa-apa! Biar orang-orang di luar sana atau mungkin suaminya tahu kalau Theresia adalah penggoda suami orang!"
"Kamu apaan sih? ngapain juga kamu di ruangan pak Panji. Dia mungkin ada urusan, tapi kamu, Lani! nggak ada urusan sama pak Panji." Rini membela temannya.
"Aku masuk kesana karena melihat dia mencurigakan di tempat pak Panji. Coba kalian pikir ngapain dia masuk ke sana padahal pak Panji tidak di tempat. Mau maling atau mau pasang guna-guna untuk pak Panji!"
__ADS_1
"LANI!"