
"Kak Echa selamat ya, akhirnya kakak menikah juga," ucapan itu terlontar dari suara Indri, sepupunya.
Harusnya dia bahagia ketika tahu ada lelaki lain yang menikahinya. Tapi kalau soal Panji, bukankah saat ini lelaki itu masih memperjuangkan untuk kembali bersama Savira. Kenapa malah menikah dengan dirinya.
"Cha, saya akan memperbaiki riasan kamu. Setelah itu kita akan menemui suamimu," kata mbak periasnya.
Echa hanya menurut saja. Tampak di cermin kalau riasannya sudah kacau. Akibat menangis saat Afan membatalkan pernikahan mereka. Eyeshadow pun sudah luntur. Berasa kayak kuntilanak abis menangis.
"Sepertinya make up kamu harus di rombak dari awal. Ndri, tolong kasih tahu sama Buklik kalau riasan Echa harus di tata ulang,"
Sang perias adalah Tika, sepupu Echa dan juga kakaknya Indri. Tika satu angkatan sekolah dengan Panji. Bahkan mereka sempat di gadangkan couple goals karena sering pulang dan berangkat sekolah bersama.
Padahal kenyataannya, Tika saat itu sudah punya kekasih. Hanya saja dia masih backstreet di belakang orangtuanya. Alasannya sang ibu melarang pacaran selama sekolah. Bahkan Panji sering di tegur agar tidak terlalu dekat dengan Tika.
Kembali ke masa sekarang. Tika sudah menyelesaikan riasan wajah adik sepupunya. Echa sudah kembali cantik paripurna. Lama dia memandang Echa, tidak menyangka bakal menikah dengan Panji. Setahu Tika Echa termasuk tertutup pada lawan jenis. Efek karena Echa dari keluarga broken home.
"Cha sekarang kita keluar, temui suami kamu. Terima dia apa adanya. Walaupun pernikahan kalian terkesan dadakan,"
"Siapa suami pengganti kak Afan?" tanya Echa.
Tika hanya menyunggingkan senyum. Lalu meminta Echa melihat sendiri siapa suaminya sekarang. Echa pun keluar dari kamar diiringi beberapa gadis sebagai pengiring pengantin.
"Jadi, aku menikah dengan kak Panji?" batin Echa.
"Benar kata orang, Cha. Kalau jodoh tidak akan lari kemana-mana. Kamu sempat menolak aku kan, dan sekarang tanpa pacaran kita sudah terikat dalam tali pernikahan.
Vira, maaf aku melangkah lebih dulu. Kamu bisa bersatu dengan Pandawa," batin Panji.
__ADS_1
Echa maupun Panji masih menundukkan kepalanya. Kedua bak patung pengantin yang terpajang di toko barang antik. Echa dengan kebaya jawa sementara panji masih memakai batik. Sesekali lelaki itu mencuri pandang ke samping. Baru dia sadari kalau Echa ternyata cantik. Bahkan lebih cantik dari Savira.
Savira? ah, nama gadis yang sampai sekarang belum bergeser di hatinya. Tapi Panji yakin seiring dengan waktu dia bisa mencintai Echa sebagai istri sah nya.
"Cha, kamu cantik sekali," bisik Panji membuat gadis itu melambung tinggi. Tapi dia kembali ke mode dingin. Menjadi Echa yang jual mahal meskipun statusnya halal bersama Panji.
"Terimakasih," balas Echa sikapnya masih datar.
"Senyum, dong," Panji masih berusaha menggoda Echa padahal dia sendiri sudah tidak karuan.
Selesai pesta tibalah acara sungkeman. Hanya ada ibu Laksmi dan pak Malik, pamannya Echa pihak ayahnya. Prosesi akad nikah yang sederhana tanpa resepsi pun berjalan dengan baik.
Bu Laksmi menitikkan air matanya. Hatinya sudah tenang Echa berada di lelaki yang tepat menurutnya.
"Cha, sekarang kamu sudah menjadi seorang istri. Bersyukur dan bersabarlah. Anda adalah sepasang anak manusia dan bukan sepasang malaikat.
Echa dan Panji duduk di lesehan diantara para tamu. Rasanya dia masih seperti mimpi, lelaki cinta pertamanya kini jadi suaminya. Meskipun bertahun-tahun memendam cinta untuk Panji. Lelaki yang sejak kecil menjadi pelindungnya. Tapi dia yakin dulu dan sekarang perasaan Panji belum ada untuknya.
Panji merasa di tatap menoleh sesaat. Echa memalingkan wajahnya. Echa masih mode malu seakan dia tidak ingin Panji tahu perasaannya.
Selesai acara akad nikah, baik Panji maupun Echa masih seperti orang asing. Mereka diminta beristirahat karena sehabis Magrib akan ada walimah. Tidak ada resepsi karena keterbatasan biaya.
"Bu, kalau soal resepsi saya bisa mengadakan pas di Jakarta. Mungkin minggu depan saya akan membawa Echa tinggal di Jakarta," kata Panji.
"Bagaimana, Cha?" tanya Panji pada wanita yang baru saja menjadi istrinya.
"Terserah kak Panji saja!" ucap Echa ketus.
__ADS_1
"Cha, jangan begitu sama suami kamu," tegur Bu Laksmi.
"Eh, iya maaf, Bu," Echa meralat ucapannya.
"Sudah kalian istirahat. Nanti habis isya kita ada acara walimah. Maaf, acaranya tidak semeriah di kota," Bu Laksmi masih tidak enak pada Panji.
"Nggak apa-apa,Bu. Cha kalau kamu mau istirahat di kamar nggak apa-apa. Aku mau balik ke rumah si mbok dulu," pamit Panji.
"Loh, nggak apa-apa kalau mau istirahat di sini. Kalian kan sudah sah, mau berduaan sampai malam juga nggak apa-apa," Echa membulatkan matanya. Bagaimana mungkin dia akan sekamar sama Panji.
"Enggak apa-apa, Bu. Atau mungkin aku bawa Echa ke rumah mbok saja,"
Aduh nanti dia malah mau yang aneh-aneh lagi.
"Oh, nggak apa-apa. Itu sudah jadi hak kamu sebagai suaminya Echa,"
Aduh ibu!
"Aku mau ke kamar saja. Kak Panji kalau mau pulang juga nggak apa-apa. Aku masih butuh sendiri," Echa menjinjing bawahan baju pengantinnya. Lalu menutup pintu dengan keras.
"Nak, maafin Echa, Ya. Ibu rasa dia masih kaget,"
"Nggak apa-apa, Bu. Aku paham perasaan Echa. Mungkin dia sudah berharap banyak pada Afan, tapi nyatanya malah menikah dengan lelaki yang tidak dia cintai," cicit Panji sambil menarik nafas dalam-dalam.
Salah Panji! Echa justru sejak lama mendambakan kamu. Harusnya dia senang kalau kamu menikahinya. Tapi ibu juga bingung Echa juga masih bersikap ketus sama kamu.
Bu Laksmi hanya bisa bicara dalam hati. Dia ingin tahu seberapa perjuangan Panji membuka hatinya Echa. Wanita paruh baya itu berbaur dengan sanak famili yang masih berada di tempat acara.
__ADS_1