After Wedding (Panji Dan Echa)

After Wedding (Panji Dan Echa)
BAB 10


__ADS_3

...Cinta bukanlah soal fisik yang sempurna, melainkan hati dan penerimaan seutuhnya....


...****...


"Re, kamu kapan masuk kantor?" Pesan masuk ke ponselnya. Sudah pasti itu dari Rini rekannya.


"Senin aku masuk, Rini." Balas Echa.


"Owh, ya udah kalau begitu. Tapi disini lagi heboh, Lo."


"Heboh kenapa?"


"Pak Panji sepertinya sudah menikah. Ada yang lihat cincin di jemari bos kita. Aku penasaran perempuan mana yang beruntung nikah sama dia. Secara record terakhir dia sama Savira kan?"


"Mungkin sama pacarnya dia nikah?" tebak Echa.


"Yaaaa, kan dia sebelum berangkat mudik sempat uring-uringan. Menurut info mereka sudah lama putus. Tapi yang jadi penasaran siapa perempuan yang di nikahi pak Panji? Aih, pokoknya aku cerita pas kamu masuk kantor nanti. Dah dulu, ya. Kerjaan aku banyak nih!" Rini menutup pesannya.


Echa menyunggingkan senyum. Rini termasuk teman yang periang. Rini punya banyak sebidang cerita kalau sedang bersama Echa.


Soal pernikahannya dengan Panji, biarlah suaminya yang menjelaskan sendiri pada orang-orang. Ia enggan bertindak mendahului suaminya. Kalau Panji gentleman sudah pasti mengakui pernikahan mereka.


Ting!


"Sayang aku pulang agak terlambat. Kalau mau makan duluan saja. Aku sudah makan bareng pak Deka tadi. Sama Pandawa juga. Maaf, Ya, istriku"


Pandangannya beralih pada menu makanan yang sudah di masaknya. Tak disangka dia akan menghabiskan makanan itu sendirian. Tadinya dia cukup bersemangat menghidangkan untuk suaminya. Sekarang lihat menu itu saja sudah kenyang.


Echa baru saja mendaratkan tubuhnya di sofa ruang tamu. Pandangannya mengedar ke apartemen milik Panji. Bersih dan terawat, padahal ini hanya jadi tempat peristirahatan buat lelaki itu. Dulu, Panji sering meminta Echa mengambil barang di apartemen. Sementara Panji menunggu di kantor. Dalam dua tahun dia bekerja belum ada lelaki itu mengajaknya pergi bersama.


Echa tahu waktu Panji lebih banyak bersama Randi dan Mia, sepupunya. Bahkan di kediaman Dewi Savitri Panji sudah di perlakukan seperti keluarga sendiri. Makanya Echa paham betul bagaimana perjalanan cinta Panji dan Savira.


Ini hari kedua dia tinggal bersama Panji sebagai suami istri. Meskipun Echa masih mencoba jaga jarak dengan suaminya. Masih ada segudang keraguan tentang perasaan Panji padanya. Masih menemukan semua hal yang disimpan Panji tentang Savira.


Di hari pertama dia menempati tempat itu, malah menemukan beberapa barang yang memiliki kenangan bersama Savira. Gaun yang pernah di belikan Panji untuk Savira, semua barang yang di kembalikan Savira kepada lelaki itu masih tersimpan di rapi dalam lemari pakaian Panji.

__ADS_1


"Mungkin Mas Panji belum sempat membuangnya," Echa mencoba positif thinking. Meskipun dalam hatinya masih sesak terasa.


Echa berjalan menuju balkon kamarnya. Pemandangan lampu kelap-kelip dari kendaraan baik roda dua maupun roda empat. Lampu-lampu gedung-gedung bertingkat yang menambah syahdu suasana malam.


"Ternyata hanya dengan pemandangan seperti ini juga terlihat indah, Ya." Gumam Echa.


Jika sudah begini perasaan sudah sedikit tentang. Setiap orang pasti pernah merasakan lika-liku kehidupan. Seakan dibuat seimbang, ada kalanya seseorang merasa bahagia dan tidak memiliki masalah apapun dalam hidupnya. Namun ada pula kalanya seseorang merasa di bagian paling bawah saat sedang mengalami masalah.


Salah satu masalah yang sering timbul di setiap kalangan, terutama generasi muda, adalah merasa galau tentang percintaan. Perasaan galau memang telah diidentikan dengan masalah hati dan percintaan kawula muda masa kini.


Fisik memang dapat membuat seseorang mengalami cinta pada pandangan pertama. Namun, untuk bisa mendapatkan jalinan cinta selama-lamanya, kebaikan hati dan penerimaan pasangan dengan seutuhnya adalah kuncinya.


Matanya sudah tidak bisa di kompromi. Echa tertidur di meja makan. Kalau suaminya pulang nanti kan ada kunci serep. Echa tidak perlu khawatir jika tidak bangun nanti.


Sebuah langkah kaki memasuki unit apartemen. Menatap senyum ada rasa bersalah karena tidak bisa menemani istrinya makan. Apalagi banyak makanan yang masih utuh.


"Maaf, Sayang. Aku nggak tahu kalau kamu sudah masak banyak. Terimakasih sudah memasakkan untukku. Kamu pasti lelah sekali hari ini."


Panji menggendong Echa ala bridal style. Membaringkan istrinya diatas ranjang. Setelah selesai membersihkan diri, Panji pun mengambil selimut untuk berbaring di sofa kamar. Dia tahu Echa masih mencoba jaga jarak. Walaupun dia sudah mulai geli untuk berbaring di samping Istrinya.


"Kak Ji," jantung Panji berdesir saat Echa menyebutkan nama kecilnya. Nampak Echa masih tertidur. Menandakan istrinya sedang mengigau. Panji kembali duduk di samping pembaringan Echa. Membelai rambut wanita yang sudah lima hari jadi istrinya.


"Aku disini, Cha." Batin Panji.


Malam ini Panji memilih tidur di samping Echa. Tanpa kontak fisik tak masalah, cukup dengan memandang wajah istrinya masih terlelap. Jemarinya menjelajahi wajah cantik di sampingnya.


"Kenapa aku baru sadar kalau kamu bahkan lebih cantik dari Vira. Kenapa aku tidak pernah sadar kalau kamu juga punya perasaan yang sama denganku." ucap Panji lirih. Dia membalikkan tubuhnya membelakangi Echa. Matanya terfokus pada photo yang belum dia simpan sejak pulang dari Jogja.


"Apakah Echa melihat ini?" Panji cepat-cepat membuang photo itu ke tempat sampah. Beberapa barang yang berhubungan dengan Savira pun di enyahkannya.


Waktu terus berjalan, sang dewa malam pun beristirahat di gantikan sang penerang siang. Echa pelan-pelan membuka matanya. Posisinya saat ini sudah berada di pundak milik Panji. Lama dia memandang lelaki halalnya. Jemarinya menelisik setiap lekuk wajah suaminya.


"Astaga, apa yang sudah kami lakukan!" Echa baru menyadari kalau tangan memeluk tubuh Panji. Dengan cepat dia berdiri memeriksa apakah ada yang di lakukan suaminya.


"Dia belum ngapa-ngapain aku. Syukurlah, aku tidak menyerahkan tubuhku kalau hati dan pikirannya masih untuk wanita lain." gumam Echa dalam hati.

__ADS_1


Pagi ini Echa langsung membersihkan diri, karena sudah terlanjur wudhu, Echa shalat tanpa menunggu suaminya bangun.


"Mas, bangun sudah subuh. Ini bahkan sudah hampir jam enam pagi." Echa membangunkan suaminya dengan tenang.


"Hmm..." Panji hanya berdehem tanpa mengubah posisinya.


Echa meninggalkan suaminya di kamar. Dia menebak suaminya pulang malam serta kelelahan. Setelah melipat mukena, Echa pun memeriksa bahan untuk sarapan.


Kakinya terhenti membaca catatan kecil di tempel pada dinding kulkas.


"Tidak usah masak. Makanan tadi malam panaskan saja dengan microwave. Masih enak kok untuk di makan."


Panji membuka matanya tidak mendapati istrinya di kamar. Langkah lelaki itu berayun menuju dapur. Aroma selai hazelnut memancing indera penciumannya. Seakan ada magnet menarik dirinya ke dapur.


"Mas Panji sudah bangun?" tanya Echa sambil memberikan susu jahe untuk suaminya.


"Kenapa tidak bangunkan aku shalat subuh?" Panji menyeruput susu jahe buatan istrinya.


"Mas, aku bingung biasanya sarapan pagi kamu pakai apa? jadi aku nggak masak nasi goreng. Itu satu-satunya roti yang selamat dari jamur. Kalau beli roti jangan banyak-banyak nanti cepat rusak." Echa terus mengoceh tanpa peduli reaksi wajah suaminya.


"Cha..." Panji sudah berada di belakang punggung istrinya.


"Iya, Mas." Dia menelan salivanya. Jarak mereka sangat dekat.


"Aku minta maaf kalau tadi malam pulang larut dan tidak tahu kalau kamu menunggu makan bersama. Lain kali aku janji akan menemani kamu makan di rumah." Echa mengangguk.


Seketika Panji menyambar dagunya. Dalam sekejap keduanya terlibat peraduan bibir. Echa malah tidak bisa berkutik saat Panji langsung mencium bibirnya. Bagaimana suaminya mengekploraai bibirnya. Lidah Panji menari-nari hingga hisapan kuat nan menuntut. Tanpa Echa sadari dia menikmati apa yang di lakukan suaminya. Cengkraman tangan Panji menahan tubuh Echa yang hampir oleng.


"Cha, aku tahu kita saling mencintai. Aku tahu kamu masih menutupi perasaanmu yang sebenarnya." ucap Panji melepaskan bibirnya dari milik Echa. Echa menundukkan kepalanya. Jantungnya makin tidak karuan.


"Kenapa rasanya aku enggan ke kantor? rasanya aku masih ingin di sini bersama kamu, Cha. Bersama ibu untuk anak-anakku nanti."


"Maaf, Mas." Echa langsung melepaskan diri dari pelukan Panji.


"Aku memang istrimu, Mas. Tapi selama hati dan pikiran kamu masih untuk orang lain jangan anggap aku menerima kamu." ujar Echa meninggalkan suaminya sendirian di dapur.

__ADS_1


__ADS_2