After Wedding (Panji Dan Echa)

After Wedding (Panji Dan Echa)
BAB 24


__ADS_3

Panji sudah berada di terminal kereta api. Di mana dia harus menjemput ibu mertuanya bersama keluarga besar yang lainnya. Seharusnya besok ibu Laksmi datang bersama Indri. Namun, Panji berpikir tidak ingin membuat istrinya kesepian selama dia pergi kerja.


Tubuh tegapnya sudah berada di antara ratusan mungkin juga ribuan manusia. Ada yang pulang kerja dengan menggunakan kereta api, ada yang mau keluar kota, ada yang menjemput sanak keluarganya. Semua ada di tempat itu. Tidak terkecuali Panji, pandangannya masih terjaga menunggu kereta dari Jogjakarta.


Cukup hampir satu jam Panji duduk seperti orang hilang. Menunggu datangnya keluarga istrinya. Perempuan yang sudah seperti ibunya sendiri. Kereta jurusan Jakarta-Yogyakarta tiba juga. Beberapa orang dengan tujuan yang sama keluar satu persatu. Mata Panji yang setengah mengantuk mulai mengencangkan pandangan. Dia takut mertuanya kesasar, atau mungkin nanti ada taksi khusus yang menawarkan.


Kereta sudah berhenti, pintu gerbong terbuka dan terjadilah desakan-desakan dari orang-orang yang tidak sabaran. Melihat cara para perempuan masuk ke gerbong membuat Panji menarik nafas dalam-dalam. Belum penumpang yang turun di Manggarai keluar, orang-orang sudah masuk lebih dulu sehingga tidak bisa dihindari lagi desakan-desakan yang menyesakkan itu. Beberapa ada yang terdorong, tersikut, tersandung, terjatuh, bahkan ada yang tertinggal.


"Ibu mana, Ya?" Panji masih mencari keberadaan ibu mertuanya.


"Mas, kamu sudah sampai kantor?" Pesan singkat dari Istrinya.


"Sudah." kilahnya.


"Oh, ya sudah, Mas. Aku cuma mau nanya itu saja kok."


"Kirain kangen sama aku." balas Panji.


"Nggak kok, biasa saja." balas Echa.


"Masa? Setelah malam yang sudah kita lalui?"


"Nggak perlu di bahas juga, kan? Yasudah, Mas kamu lanjut kerja lagi. Aku mau masak dulu. Mau aku kirim ke kantor atau nanti kamu pulang?"


"Nggak usah kirim, aku pasti pulang sayang. Sudah dulu ya, aku kerja dulu. Mmuuaaaah."


"Astaga suamimu ini Theresia!"


Panji tersenyum kecil ketika membaca pesan saling balas berbalas dengan istrinya. Dia senang hubungannya dengan Echa ada kemajuan. Lelaki itu kembali fokus mencari keluarga istrinya.


"Ibu, Indri!" teriak Panji ketika melihat sosok yang di yakininya mertua dan sepupu Iparnya.


Panji merasa mereka tidak mendengar panggilannya. Sekali lagi dia memanggil keduanya sambil berlari mengejar dua wanita beda generasi itu.


Bu Laksmi menoleh kearah Panji. Senyumnya mengembang ketika sang menantu mendekati dirinya sambil ngos-ngosan. Tak lama Panji menyalami Bu Laksmi sebagai tanda hormat.


"Sini, Bu." Panji mengarahkan kemana harus keluar dari stasiun.


"Buklik, kenapa tidak naik pesawat saja?" kata Indri.

__ADS_1


"Mahal, Indri. Buklik naik kereta saja sudah berasa mewah. Biasanya Buklik naik travel kalau mau nengokin Echa." kata Bu Lakshmi pada keponakannya.


"Ibu cuma berdua saja?" tanya Panji.


"Iya, Paklik Malik sama keluarga yang lain besok baru berangkat. Echa di rumah kan, Ji." Panji mengangguk.


Setelah Bu Laksmi dan Indri duduk manis di dalam mobil. Semua barang-barang sudah di simpan di jok belakang. Mobil pun melaju meninggalkan stasiun. Bu Laksmi duduk tenang karena sudah biasa melihat kota jakarta. Beda dengan Indri, gadis itu terus berdecak kagum melihat gedung pencakar langit menjulang tinggi.


Tak berapa lama mereka akhirnya sampai di depan gedung apartemen. Bu Laksmi mengerutkan dahinya. Selama ini dia kira Panji dan Echa tinggal di sebuah perumahan. Tapi ternyata tinggal di dalam sebuah gedung.


"Ji, kenapa kalian tinggal di tempat seperti ini?" tanya Bu Laksmi.


"Ini tuh apartemen, Buklik. Biasanya di dalamnya kayak rumah lengkap gitu." cerocos Indri.


"Kamu tahu, Indri?" tanya Panji.


"Kan aku sering nonton TV. Terus ada saudara suami kak Tika yang tinggal di apartemen kayak gini. Aku pernah diajak kak Tika kesana. Kak Panji jangan pikir kalau aku tinggal di kampung nggak tahu soal ini." Panji hanya terkikik sembari mengacak rambut sepupu iparnya.


"Tapi tempat seperti ini rawan bencana. Kalau ada apa-apa gimana, Ji?" raut kecemasan terpancar dari wajah ibu mertuanya.


"Bu, yang namanya bencana tidak bisa kita hindari. Tapi percaya sama kuasa yang di atas. Kalau Tuhan menginginkan kita selamat pasti sudah di lindungi apapun caranya." Panji menjelaskan pada mertuanya.


"Kamu masih sama kayak dulu. Sok tahu tapi benar. Yuk kita masuk, Echa pasti senang kalau ibu datang lebih cepat." Mereka sudah di depan pintu apartemen milik Panji.


"Emangnya kak Panji masih ingat sama aku yang dulu. Sama kak Echa aja nggak ingat." kata Indri.


"Sudah. Kamu ini Indri, tidak sopan bicara sama yang lebih tua." tegur Bu Laksmi.


"Maaf, Buklik. Maaf ya kak Panji."


"Ibu!" pekik Echa ketika membuka pintu.


Ibu dan anak itu saling berpelukan melepas rindu satu sama lain. Sang anak haru dengan pemandangan yang dilihatnya tersebut.


Cinta orangtuanya tak luntur meski keduanya sudah lanjut usia. Cinta yang diperlihatkan oleh kedua orang ini menjadi bukti bahwa cinta sejati tetap hidup tanpa memandang usia dan waktu. Cinta dalam pertalian darah.


"Kamu sehat-sehat saja, Nak?"


"Iya, Bu. Aku sehat dan bahagia. Lebih bahagia ibu ada di sini." Echa kembali memeluk sang ibu dengan manja. Panji melihat kejadian itu tersenyum penuh haru. Dia senang kalau bisa membuat istrinya bahagia. Anak manapun pasti sangat bahagia kalau bertemu orangtuanya.

__ADS_1


Setelah meletakkan barang-barang Bu Laksmi dan Indri di kamar sebelah. Echa pun menemui suaminya. Mengucapkan terima kasih karena sudah membawa ibunya.


"Kamu tahu, satu hal yang ingin aku lakukan setelah menikah nanti. Yaitu membahagiakan orang-orang yang aku sayangi. Termasuk membahagiakan wanita yang sangat aku cintai, Wanita yang akan jadi ibu dari anakku nanti. Apapun akan aku lakukan demi kamu, Cha."


"Terimakasih, Mas." cicit Echa.


"Aku balik ke kantor dulu, ya sayang." Panji melabuhkan kecupan di dahi istrinya.


"Iya, Mas. Hati-hati." Echa melepas suaminya di depan pintu unit apartemen.


...****...


Panji baru saja sampai di depan kantornya. Sedikit tenang setelah dia melakukan tugasnya sebagai menantu pada keluarga Istrinya. Perlu waktu bernafas sejenak. Entah kenapa dia merasa di kejar waktu. Bahkan meluangkan waktunya untuk Echa saja masih susah.


Netra Panji berotasi pada sosok yang dia kenal. Secepatnya dia langsung keluar dari mobil. Menemui salah satu stafnya yang berjalan kearah mobil berwarna kuning tersebut.


"Kalian mau kemana?"


Lani yang sudah sampai di parkiran tertahan ketika suara bariton menyapa mereka. Sosok yang mereka segani kini ada di hadapan Lani dan beberapa utusan dari Wedding Organizer. Lani menarik nafas panjang, kalau Panji datang rencana dia untuk tahu siapa Istri atasannya gagal sudah.


"Ke rumah bapak." jawab Lani menunduk takut-takut.


"Buat apa? Saya tidak akan membawa urusan kantor di rumah. Bukannya kamu sudah tahu itu, Lani." Panji terkesan tidak suka kalau ada yang membahas pekerjaan di rumahnya. Kalau memang mau di bahas luar kantor maka Panji akan mengajak membicarakan di cafe atau di manapun selain di rumah.


"Maaf, Pak. Mia yang suruh kami kesana. Saya kan hanya menuruti saja." jawab Lani.


"Oke, kamu kembali ke dalam. Saya akan bicara sama mereka ( Wedding Organizer ). Tolong panggil Mia ke kantin."


"Baik." Lani pun undur diri.


Panji mengajak kliennya untuk duduk sejenak di kantin. Sengaja dia tidak ajak ke kantor karena takut orang tahu siapa istrinya. Tentu tidak akan jadi kejutan lagi kalau sudah ketahuan. Tamunya berjumlah tiga orang. Dua wanita dan satu lelaki. Ketiga tamu tersebut mengernyit heran, kenapa mengadakan pertemuan di kantin berbentuk gubuk tersebut.


"Kedatangan kami kesini mau membicarakan soal fitting baju pengantin ibu Theresia." kata salah satu utusan Wedding Organizer.


"Oh iya, saya sudah di konfirmasikan sama pak Rian. Katanya kalian mau langsung ke rumah. Kenapa malah ke kantor?"


"Bukannya anda yang minta kami ke kantor?"


"Enggak. Dalam kamus saya urusan kantor tidak boleh di bawa ke rumah. Jadi bagaimana mungkin saya minta ke kantor sementara yang mau di selesaikan ada di rumah."

__ADS_1


Jangan-jangan ini kerjaan Mia.


__ADS_2