After Wedding (Panji Dan Echa)

After Wedding (Panji Dan Echa)
BAB 57


__ADS_3

Panji sudah berada di rumah sakit. Berjalan menelusuri lorong rumah sakit. Langkahnya terhenti pada pintu kamar rawat. Beberapa saat dia membenarkan pakaiannya lalu mengetuk pintu kamar rawat yang di tempati Afan.


"Assalamualaikum," sapanya.


Tak lama kemudian pintu pun di buka. Pemandangan pertama tampak Afan tubuhnya berbalut perban. Hanya matanya saja yang terlihat. Suara alat pendeteksi jantung pun berbunyi. Panji tidak terlalu mengenal Afan. Pertama kali bertemu sewaktu di rumah Echa.


"Bude apa yang sebenarnya terjadi?" tanya Panji.


Bu Saskia menatap putranya yang masih berbalut alat medis. Wajahnya terlihat sembab tapi tidak melunturkan kecantikannya. Wanita paruh baya itu mengajak Panji duduk di dekat ranjang Afan.


"Ini semua karena kekasihnya Afan yang bernama Ayla. Dia dan ibunya menjebak Afan, sehingga terlibat kasus asusila. Tuduhan yang membuat Afan harus mendekam dalam penjara. Di penjara Afan malah di siksa sama teman lapas nya." kata Bu Saskia.


"Apakah saat kejadian ada kontak fisik. Sejenis menyentuh tubuh si wanita." Bu Saskia mengangguk.


"Tadinya aku kira tinggal menikahkan mereka. Tapi ternyata Afan belum mengambil milik perempuan itu. Itu terbukti saat hasil visum keluar. Ini salah saya yang tidak mendengarkan omongan suami."


"Bude yang sabar, Ya. Aku ada teman yang bisa bantu kasus Afan. Mungkin kalau bebas tuntutan masih kecil kemungkinan. Karena sudah terlanjur ada kontak fisik. Tapi seandainya si perempuan mau mencabut tuntutan Afan akan bebas." Jelas Panji.


"Saya berharap Ayla mau bicara jujur sama pihak kepolisian. Bukan saya tidak percaya sama dia. Selama dia bungkam, selama itu juga Afan akan tetap di lapas. Wajah Afan seperti di parut sama mereka."


Bu Saskia melemparkan pandangan ke arah putranya. Putra semata wayang yang dia sayangi. Andai adiknya Afan masih ada mungkin masih lengkap hidupnya. Adik Afan laki-laki yang di yakini meninggal dunia saat sebuah pusat perbelanjaan di Jogja roboh rata dengan tanah.


Kalau saja dia tidak mendukung hubungan Ayla dan Afan, mungkin putranya sudah pulang ke Kalimantan meneruskan pekerjaannya. Begitu berat ujian dalam keluarganya.


"Maafkan mama, Nak. Andai mama percaya pada ucapan papamu. Mungkin kejadiannya tidak seperti ini." Panji mendengar ucapan Bu Saskia hanya bisa menenangkan wanita itu.


"Apa alasan mereka melakukan hal itu pada Afan?"


"Tidak tahu. Sepertinya sudah biasa. Itu kata salah satu petugas lapas."


"Sudah biasa tapi tidak ada penanganan dari mereka. Kalau begitu mereka yang memasukkan Afan ke lobang buaya." ucap Panji geram. "Bude tenang saja saya akan usut kasus ini. Pakde mana?"


"Pakde pulang ke rumah Harsa. Tadi di jemput sama gadis yang namanya Mia. Katanya ponakan Leni. Cuma bude mau nanya, apakah kamu tahu siapa ayah dari Mia?"


"Tahu, bude. Om Adrian ..."

__ADS_1


"Lesmana?" tebak Bu Saskia. Di sambut anggukan kepala dari Panji.


Benar berarti. Wajahnya seperti tidak asing. Ya Allah apa Panji tahu identitas yang sebenarnya.


"Maaf bude saya permisi sebentar mau bertemu pihak rumah sakit. Kalau Afan bisa di pindahkan rumah sakit yang lebih bagus. Pokoknya bude tenang saja."


"Terimakasih, Nak Panji." ucap Bu Saskia.


"Sama-sama, Bude. Saya hanya melakukan semampunya. Saya permisi sebentar." Pamit Panji.


Panji berjalan menuju area rumah sakit. Menemui pemilik rumah sakit, membicarakan penanganan lebih lanjut pada Afan. Sayangnya sang pemilik sedang ada urusan darurat. Kata mereka sang direktur juga termasuk dokter laris. Sekarang sedang merujuk pasien ke rumah sakit lain.


Panji menarik nafas dalam-dalam. Berharap urusannya cepat selesai dan cepat pulang. Tangannya meraba gawai dari kantong jas. Dari tadi kepikiran soal istrinya yang di yakini sedang tidak sehat.


"Assalamualaikum dokter Panca, saya Panji Agung Laksono. Kalau tidak salah anda pernah datang ke rumah saya untuk memeriksa. Bisakah anda datang ke rumah. Istri saya sepertinya demam. Tadi dia sempat mengeluh kepalanya pusing. Saya sedang di luar rumah."


"Waalaikumsalam, pak Panji. Iya saya ingat, anda kakaknya Mas Randi kan? Kalau memang urgen untuk ke rumah saya tidak bisa di jam sekarang. Bagaimana kalau nanti sore. Lagian kalau saya main datang saja juga tidak baik. Jatuhnya fitnah nanti. Kalau anda sudah di rumah saya baru akan datang." jawab dokter Panca.


"Ya Allah, maaf dok. Saya lupa soal itu. Walaupun saya percaya anda tidak akan aneh-aneh. Tapi ada benarnya juga. Saya sedang di rumah sakit Bhayangkara. Sepupu saya sedang di rawat dan lumayan parah kondisinya."


Waktu terus berjalan. Panji sudah menunaikan shalat Zuhur di musholla rumah sakit. Dia mendapati Bu Saskia sedang duduk di saf perempuan. Mendoakan anaknya melewati masa kritis.


Panji mendadak teduh. Andai dia bisa merasakan kasih sayang sang ibu. Andai sang ibu tidak memilih gantung diri saat dia masih bayi. Itu yang dia dengar ketika masih kecil. Mereka mengatakan ibunya gila setelah melahirkan Panji. Kata orang baby blues. Ada yang percaya kalau ibunya kena kutukan pulo gantung. Kalau murni gantung diri apa penyebab? tidak mungkin karena ayahnya, selama ini Panji mendapatkan limpahan kasih sayang dari sang ayah yaitu Rahmat. Dan juga sang nenek yaitu mbok Darmi.


"Jadi tidak mungkin ayah menyakiti perasaan ibu? Aku ingin tahu seperti apa ibuku selama ini." batin Panji.


Panji langsung kepikiran soal Echa. Dia mendaratkan tubuhnya di lantai beralas karpet sajadah. Masih di dalam mushola Panji mencoba menghubungi Echa. Sayangnya tidak diangkat oleh istrinya. Terpikir membuka sambungan cctv rumah. Memantau kegiatan sang istri.


Laman pertama Panji membuka cctv kamar. Tampak Echa sedang tidur dengan pulas. Menutupi tubuhnya dengan selimut.


"Sepertinya kamu memang demam, Cha." Panji mengerutkan dahinya. Echa seperti terbangun buru-buru ke kamar mandi. Tak lama keluar sambil memegangi perut.


"Jangan-jangan sebenarnya Echa sudah mulai. Tapi dia tidak menyadarinya. Semoga saja benar."


Flashback on

__ADS_1


"Tumben, Cha kalender bulan ini bersih," tanya Panji saat memeriksa tanggal merah di kalender.


Bulan yang lalu saat minggu pertama mereka menempati apartemen. Kalender sudah penuh coretan. Lalu setelah resepsi karena tragedi kekacauan pesta. Panji melihat coretan belum menghiasi kalender. dan sekarang kalender pun masih bersih setelah dua bulan mereka menikah.


"Aku biasa lompat bulan, Mas." Sahut Echa.


"Sering atau kadang-kadang?"


"Kadang rutin, kadang lompat. Jadi sudah tidak kaget." Echa langsung menenggak air putih dinginnya.


"Kamu sering minum air dingin. Nggak bagus itu. apa perlu kita periksa?"


"Aku nggak sakit, Mas."


"Tapi apa salahnya kita periksa. Nggak bagus sering lompat haid. Atau aku cari madu yang bagus buat kesuburan kamu. Kan ada yang produksi sebelum kita menikah dulu."


"Masa aku di kasih produk lama, Mas."


"Kita bikin produk baru lagi. Biar kamu dan pembeli lainnya bisa ikut merasakan manfaatnya. Bagaimana? kalau mau aku telepon Mia biar mengintruksikan bagian pabrik." kata Panji.


"Terserah kamu saja, Mas."


Flashback off


Panji membuka sisi lain apartemen. Dia punya link cctv untuk pintu gerbang apartemen. Dan pastinya link cctv pintu depan unit apartemennya. Mata Panji menangkap sosok yang dia kenal. Matanya membulat saat tahu tujuan wanita itu kemana. Panji langsung pulang tanpa pamit pada keluarga Cahyadi. Rasa panik membuatnya lupa segala. Baginya sekarang keselamatan istrinya. Yakin seyakin-yakinnya kalau si tamu itu punya maksud jahat.


Sesampainya di apartemen Panji mendapati pintu sudah terbuka. Benar saja kalau sang tamu mengatakan macam-macam pada istrinya. Echa pun hampir ambruk dan pada akhirnya ambruk dalam pelukan Panji.


PLAAAAK!


"Apa yang kamu lakukan pada istriku!" amuk Panji pada Riana.


"Saya hanya mengatakan yang sebenarnya. Apa itu salah. Lagian mereka memang bersaudara." Riana masih cuek bebek walaupun diamuk sama Panji.


"Saya tidak peduli dengan status kamu dan anakmu. Itu juga bukan urusan Echa. Sekarang keluar dari tempat saya. Atau saya panggil pihak keamanan!"

__ADS_1


__ADS_2