
Echa menutup wajahnya dengan bantal. Terbayang bagaimana perasaan ibunya ketika tahu kalau Afan membatalkan pernikahannya.
Dia tidak peduli make up nya luntur. Tidak peduli lagi riasan kepalanya rusak. Toh, semuanya sudah selesai.
Tatapannya beralih pada orang-orang yang masih berkumpul di teras rumahnya. Tentu mereka ingin menyaksikan pernikahannya. Tatapannya hampa Pernikahan yang sudah direncanakan dari jauh-jauh hari harus batal tanpa alasan yang jelas. Afan hanya bilang kalau lelaki itu sudah punya pilihan sendiri. Lalu kenapa dia malam itu menerima perjodohan.
Perasaannya tentu sangat sakit. Dulu dia membayangkan membina rumah tangga yang bahagia bersama Afan. Meskipun baru dekat dengan Afan. Tapi dia sempat yakin kalau Afan bisa membuat dirinya menggeser sosok Panji di hatinya.
Sementara Afan sudah keluar dari kamar Echa. Kepalanya hanya menunduk. Dia juga tidak enak sama keluarganya dan juga keluarga Echa.
"Bu Laksmi," Afan duduk bersimpuh di kaki calon mertuanya.
"Kenapa, Nak?" Bu Laksmi masih bingung.
"Saya minta maaf,"
"Iya, apa Echa ada bersikap tidak mengenakkan," Afan menggeleng.
"Justru saya yang sudah menyakiti perasaan Echa. Bu maaf saya tidak bisa menikahi Echa. Saya mencintai perempuan lain."
"Afan!" suara tinggi bariton memecahkan keheningan di rumah Bu Lakshmi. Para undangan yang mendengar hal itu mulai saling bisik-bisik.
"Maaf saya tidak bisa melanjutkan rencana pernikahan kami." kata Afan pada Bu Laksmi.
__ADS_1
BUUUUUUGHH!
Panji yang mendengar hal itu langsung naik pitam. Sebagai seorang kakak sudah pasti dia kecewa pada keputusan Afan. Apalagi menyangkut wanita yang sudah seperti adiknya sendiri.
Afan mendatangi keluarganya. Mendatangi semua yang ada di ruang tamu. Saat ini yang dia pikirkan adalah jujur pada semua orang. Wajahnya yang sudah babak belur di hajar Panji membuat semua yang di ruangan terkejut.
"Aduh, kasihan si Echa tidak jadi menikah," kata para tetangga.
"Maksud kamu apa, Afan. kamu selingkuh makanya membatalkan semua ini? saya benar-benar tidak menyangka atas apa kamu lakukan sama Echa,"
"Bu Laksmi dan semua hadirin disini. Saya minta maaf. aku tidak bisa melanjutkan pernikahan kami, kata Afan lirih.
"Ya Allah, Echa," Bu Laksmi langsung kepikiran anak semata wayangnya. Bergegas menuju kamar Echa tapi sayangnya pintu di kunci.
"Nak, buka. Ibu tahu yang kamu rasakan. Tapi jangan seperti ini, nggak bagus," Bu Laksmi takut anaknya melakukan yang macam-macam.
"Bu, percaya sama aku, Echa tidak akan melakukan hal yang bodoh. Echa itu sayang sama ibu," ucap Panji memenangkan Bu Laksmi.
"Nak, kamu mau kan bantu ibu,"
"Bantu apa, Bu?"
"Nikahi Echa,"
__ADS_1
"Saya!" Panji menunjuk dirinya sendiri.
"Tapi bukannya Echa itu pacaran sama Taufan. Mana dia mau sama saya yang terlalu tua untuk dia,"
"Echa dan Taufan tidak pernah pacaran. Justru mereka baru kenal karena di jodohkan. Ibu mohon sama kamu, Nak,"
Dalam sekejap Panji sudah duduk di depan penghulu. Ada pamannya Echa yang sudah di duduk di samping bapak penghulu. Panji masih mengenakan batik dengan memakai peci. Sudah siap berjabat tangan dengan pak Wardana, Pamannya Panji.
"Saudara Panji Agung Laksono, saya nikahkan kamu dengan anak saya yang bernama Theresia bin Wahyu Ramadhan dengan seperangkat alat sholat di bayar tunai,"
"Saya terima nikahnya Theresia binti Wahyu Ramadhan dengan seperangkat alat sholat di bayar tunai,"
"SAH!"
"Saaaah!"
Echa yang tadinya masih bertumpu pada bantal kini tergerak membangkitkan tubuhnya. Dia mendengar suara lelaki mengucapkan ijab kabul. Suara yang sangat dia hapal. Terdengar lelaki itu menyebutkan namanya. Echa mencubit pipinya apakah dia sedang bermimpi. Tapi sesaat terasa sakit, harusnya dia menikah dengan Taufan. Kenapa pemilik suara itu persis sama dengan bos nya.
Ceklek!
Echa membuka pintu. Rasa penasaran masih merasuki pikirannya. Dia tak ingin menduga-duga siapa lelaki yang menikahinya.
"Cha, kamu di dalam saja," Indri dan beberapa gadis menahan Echa.
__ADS_1
Echa pun menuruti permintaan Indri. Walaupun rasa penasarannya lebih besar.
Sekarang aku adalah seorang istri. Dari lelaki yang mungkin terpaksa menikahiku. Siapapun dia aku akan belajar menerima kekurangan dan kelebihannya. Tapi aku merasa itu suara pak Panji, apakah benar pak Panji jadi suamiku.