
Waktu sudah menunjukan pukul sepuluh malam. Panji sudah memarkirkan mobilnya di garasi. Ini hari ketiga dia dan keluarga istrinya menempati kediaman Pakde Harsa. Mau bagaimana lagi, dia ingin istrinya mendapatkan ketenangan. Untuk sementara tugas Echa di kantor dia yang handle.
Tadi saat di kantor dia baru tahu kalau Echa menerima proposal dari pabrik jamu ternama. Pabrik yang di wakilkan oleh Bintang. Siapa yang tidak kenal sama Bintang, yang Panji ingat Bintang adalah mantan kekasih Mia. Lelaki yang pernah dia pergoki bareng Randi saat di luar kantor.
Panji sudah sampai di depan pintu rumah. Pelan-pelan dia membuka pintu tanpa harus membangunkan orang lain. Suasana masih tampak lenggang dan sepi. Mengingat memang sudah terlalu malam. Lampu di ruang tamu juga sudah dimatikan. Pertanda penghuninya sudah istirahat malam.
Langkah kakinya bersinggah ke dapur. Rasa haus sangat menyiksa kerongkongannya. Belum habis satu gelas dia pun kembali meneguk satu kali lagi. Setelah itu Panji terduduk di meja kitchen set. Sesaat menarik nafas dalam-dalam, setidaknya dia lega. Urusan soal kasus Lani sudah dia serahkan ke pihak kepolisian. Apalagi dia sudah membungkam Riana yang ngotot membebaskan anaknya. Tentu dengan rahasia masa lalu wanita itu.
"Sudah pulang, Ji." suara bariton menyapa dirinya. Lelaki itu membenarkan cara duduknya. Panji pun membuka satu kursi agar bisa ngobrol dengan Paklik Malik.
"Sudah Paklik, baru saja sampai. Kok Paklik belum tidur? ini sudah malam." Panji melirik jam dinding. Waktu sudah masuk hampir jam sebelas malam. Tentu harusnya lelaki di depannya sudah beristirahat.
"Paklik nunggu kamu pulang. Orang-orang sudah pada Istirahat. Paklik takut tidak ada yang membuka pintu. Kamu tumben pulang malam. Bukannya kata Echa kamu biasanya paling lama menjelang magrib baru pulang."
"Macet Paklik, kalau dulu cepat pulang karena nggak jauh dari rumah. Kalau di sini kan melewati tiga rute, Margonda, jakarta pusat dan Jakarta Selatan. Apalagi perumahan jauh dari perkotaan." jelas Panji.
"Kenapa kamu tidak ambil rumah dekat pabrik? kenapa harus yang jauh-jauh. Kan kasihan Echa. Tadi dia beberapa kali menelepon kamu tapi nggak aktif. Dia cemas sekali. Apalagi dari tadi hujan tidak berhenti." Ucap Paklik Malik.
"Maaf, Paklik tadi handphoneku lowbat. Kalau soal rumah aku sudah pernah cari tapi belum dapat lokasi yang sreg, Paklik. Ini juga kalau Echa sudah sembuh total bakal pulang ke apartemen lagi. Kan apartemen tinggi takutnya kalau aku pergi kerja dan ada apa-apa kan berabe. Jadi sementara di sini dulu. Aku juga sudah cari ...."
"Ji, terimakasih, ya." sambung Paklik Malik.
"Untuk apa? Saya melakukan hal ini sudah kewajiban sebagai suami dan memantu."
Paklik Malik menghela nafas dalam-dalam. Dia tidak salah pilih untuk mendaulatkan Panji sebagai suami untuk keponakannya. Sudah banyak yang Laksmi dan Echa lalui akibat kelakuan kakaknya. Dia dan Wahyu satu ayah beda ibu.
Wahyu adalah anak dari pernikahan pertama dari ayahnya. Sedangkan dirinya dari anak istri kedua. Hanya saja ibunya Malik sudah meninggal dunia saat melahirkan anak keduanya. Sayangnya sang anak kedua menyusul sang ibu setalah satu jam di lahirkan.
__ADS_1
Malik akhirnya tinggal bersama ibu tiri dan kakaknya. Tahu sendiri bagaimana sikap ibu tiri pada sang anak tiri. Itulah yang Malik alami. Wahyu dan Malik tidak terlalu dekat. Hanya saja, dulu dia mendekati Laksmi teman SMA nya. Bedanya Laksmi sudah kelas dua sedangkan Malik baru kelas satu. Mereka akrab karena satu rombongan di Pramuka.
Beberapa tahun setelah menyelesaikan sekolah menengah atas, Malik mendapat kabar kalau Laksmi akan di lamar. Lebih kaget si pelamar adalah kakaknya sendiri. Malik belum sempat menyatakan perasaan pada Laksmi harus menelan pahit kenyataannya.
"Tapi bukannya mas Wahyu sudah punya Riana? Kenapa malah menikahi wanita lain?" pertanyaan itu muncul saat ibu Widarsih, selaku ibu sambungnya mengumumkan kabar itu.
"Kamu harusnya menerima keputusan saya. Riana itu bukan perempuan baik-baik. Dari cara pakaiannya saja sudah kelihatan. Sok kekotaan padahal dari kampung. Si Laksmi walaupun dari keluarga sederhana. Tapi background keluarganya sangat bagus. Jadi mas mu itu harus menerima Laksmi sebagai istrinya. Suka tidak suka mau tidak mau dia harus nurut!"
Dan seperti yang di takutkan, Wahyu sering pergi keluar kota. Tentu dengan alasan pekerjaan, padahal Wahyu terus mendatangi Riana, terakhir dia dengar kabar Wahyu menalak Laksmi dengan alasan sudah tidak ada kecocokan. Padahal Malik tahu kalau Riana sudah terlanjur hamil.
"Kamu tidak becus menyenangkan suamimu, makanya dia lebih memilih wanita lain. Lihat penampilan kamu, Laksmi! Seperti orang Udik, saya menerima kamu sebagai menantu supaya Wahyu tidak pacaran sama mantannya. Tapi ternyata kamu mengecewakan saya!" amuk Widarsih.
Malik yang melihat hal itu ikut terenyuh. Pada dasarnya tabiat sang kakak yang tidak baik. Laksmi dan Echa kena imbasnya.
"Ji, Paklik berharap kamu bisa membahagiakan Echa. Menjadi sandaran pertama dan terakhir buat Echa. Harapan Paklik adalah harapan dari semua orangtua."
"Saya akan berusaha semampunya, Paklik."
"Paklik mau pulang? Kenapa cepat sekali? aku minta maaf sama Paklik karena jarang di rumah."
"Saya sudah lama di sini. Di desa sudah banyak pekerjaan yang di tinggalkan. Jadi PR saya tambah banyak. Paklik ke dalam dulu, Nak Panji. Kamu juga harus istirahat. Bukankah besok kamu harus kerja lagi."
"Besok biar saya yang antar Paklik."
"Tidak usah, Ji. Besok Paklik ikut rombongan keluarga suaminya, Tika. Sama pak Hermansyah yang katanya ada pekerjaan di Jogja." lelaki paruh baya itu meninggalkan Panji berjalan ke lantai atas. Karena di bawah cuma ada kamar Panji dan kamar asisten rumah tangga. Sedangkan diatas ada dua kamar yang menganggur. Salah satunya pernah di gunakan sang pemilik rumah.
Setelah mengobrol sejenak dengan Paklik Malik dia menuju ruang kerjanya. Diletakkannya tas, ponsel dan kunci-kunci di meja kerja. Setelah itu, barulah ia menuju kamar mandi untuk membersihkan diri dan berganti pakaian. Sejauh ini, tidak ada satu orang pun anggota keluarga yang terbangun. Rupanya semua tertidur pulas. Segera ia beranjak menuju kamar tidur. Pelan-pelan dibukanya pintu kamar, ia tidak ingin mengganggu tidur istrinya. Benar saja istrinya tidak terbangun, tidak menyadari kehadirannya.
__ADS_1
"Kamu sudah tidur sayang, maaf ya aku lama pulangnya." Panji melabuhkan kecupan di dahi istrinya. Istri yang dia sayangi, istri yang dia nikahi dengan sepenuh hati. Walaupun terkadang dia merasa masih ada sisa cinta pada Savira.
Panji pun melepaskan bajunya lalu masuk ke kamar mandi. Tubuhnya sudah merasa lengket dengan keringat. Di dalam kamar mandi Panji menghidupkan shower hangat kuku. Karena udara hari sangat dingin efek hujan tak berhenti. Selesai mandi Panji pun hanya berbalutkan handuk di pinggang. Kakinya terhenti saat Echa duduk asyik dengan gawainya.
"Kok bangun?" tanya Panji.
"Tadi mau ke WC, tapi kamu lagi mandi kayaknya. Jadi aku tunggu dulu." jawab Echa. Tatapannya menyala melihat tubuh atletis suaminya. Di tambah aroma tubuh Panji yang membuatnya semakin gelisah.
"Mas, aku mau ...." Langkahnya tertahan saat Panji menahan tangannya.
"Biar aku yang bawa kamu ke kamar mandi." Echa mengangguk. Menyiapkan tubuhnya di gendong Panji. Namun baru saja lelaki itu hendak duduk handuknya tiba-tiba terlepas.
Panji mengartikan tatapan Echa. Langkahnya semakin mendekat dengan tubuh polos.
"Cha, bisa kah aku meminta hak ku malam ini..." Tanpa menunggu persetujuan istrinya. Panji sudah bersiap menjamah tubuh istrinya. Mengeksplor bagian tubuh Echa yang membuatnya candu.
Echa melerai tubuh Panji.
"Kenapa?" tanya Panji heran.
"Mas, sudah sholat belum?"
"Cha, aku ..."
Echa membalik badannya. Membelakangi Panji.
"Ingat, Mas. Sholat itu juga kewajiban. Jangan hanya karena nafsu kamu melupakan yang wajib."
__ADS_1
"Jadi aku harus mandi lagi?" nada suara Panji mendadak lesu. "Tapi bukannya menolak permintaan suami juga dosa, Cha. Jadi itu juga wajib kan."
"Aku hanya mengingatkan kamu, Mas." suara Echa lirih.