After Wedding (Panji Dan Echa)

After Wedding (Panji Dan Echa)
BAB 31


__ADS_3

Sehari sebelumnya


Sore ini rencananya Pak Cahyadi dan istrinya beserta Taufan akan ke Jakarta. Menghadiri pernikahan Panji dan Echa. Sebenarnya Bu Cahyadi malas kesana. Dia sudah tidak punya muka di depan mantan calon besannya.


Namun, suaminya ngotot akan membawa mereka ke pesta itu. Alasannya satu, karena Panji masih keponakannya serta mendiang Wahyu, ayah kandung Echa punya hutang banyak pada Cahyadi.


"Mas, apa tidak malu datang kesana? kita yang sudah merugikan mereka. Pihak kita yang sudah membatalkan pernikahan itu. Kenapa kamu malah mau kesana?" ungkap Bu Cahyadi.


"Malu? kesana? Kita kan keluarga Panji. Sinta tidak mau datang ke nikahan Panji. Katanya dia masih banyak urusan yang tidak bisa di tinggalkan padahal itu keponakannya." kata pak Cahyadi.


"Sinta dan Rahmat kan tidak dekat. Apalagi waktu Rahmat memilih Suci yang jelas sudah jadi janda beranak satu. Mereka semua menentangnya, aku masih ingat hal itu, Mas."


"Kamu dulu sangat sayang sama Suci kan, Ma. Ingat saat Suci mau menikah dengan lelaki itu. Pria yang sedang magang di desa kita. Suci itu masih sangat muda bahkan baru saja tamat SMA. Ingat kamu, Suci dan juga Laksmi akrab satu sama lain. Karena persahabatan itu aku percaya pada anaknya Laksmi daripada anaknya Ismi."


"Kenapa kamu membahas hal itu, Mas?"


"Karena aku dapat info kalau Ayla mau menikah dengan pria tua Bangka supaya bisa hidup enak. Padahal tua bangka itu sudah punya istri empat. Apa itu yang bisa kita percayakan untuk Afan? Apa aku salah ingin Afan dapat perempuan baik-baik?"


"Tidak salah, Mas. Tapi aku kenal sama Ayla, dia gadis yang baik. Agamanya bagus, beberapa kali ikut pengajian di masjid kota. Hanya saja saat itu aku tidak tahu kalau Ayla gadis yang di cintai anak kita."


"Apapun alasannya, aku tidak mau berbesan sama Ismi!" ucap pak Cahyadi tegas dan lantang. Bu Cahyadi hanya menarik nafas dalam-dalam. Mungkin suatu saat ada momen yang bisa membuka pikiran suaminya.


"Terserah kamu, Mas. Yang menjalani itu Afan bukan kita. Jika Afan tidak bahagia menikahi Echa bagaimana? Apalagi suaminya Echa ternyata anaknya Suci. Bukankah bagus, Mas."


"Hah! bagus apanya kalau ayah kandung Panji saja pergi dan menikah dengan wanita lain. Apa tidak mungkin anaknya akan menurunkan sifat ayah kandungnya. Buah tidak jatuh dari pohonnya. Dan kalau itu terjadi aku akan suruh Afan maju lagi.


Sudah, kasih tahu Afan untuk siap-siap. Kita berangkat ke Jakarta."


"Aku tidak akan pergi!" kata Afan muncul di tengah kedua orangtuanya.

__ADS_1


"Kamu harus pergi! Rebut kembali Echa dari Panji! Ingat Wahyu punya hutang sama keluarga kita. Jadi Laksmi dan Echa harus menyelesaikannya." Pak Cahyadi meninggalkan istri dan anaknya.


"Papa tinggal tagih uangnya. Tidak perlu merusak kebahagiaan orang lain!"


"Ini bukan soal uang saja, Afan! ini soal hutang budi yang harus mereka bayarkan pada kita."


"Mas, sudah! Kalau Afan tidak mau pergi kita saja yang kesana. Jangan meributkan masalah yang kecil. Kamu jaga rumah, kontrol panti selama kami pergi."


"Baik, Ma."


Kesempatan aku untuk menemui Ayla. Aku ingin tahu kenapa dia terus menghindar. apa karena dokter itu?


Afan membuka photo segerombolan mahasiswa. Tampak salah satu gadis berhijab berdiri di antara para mahasiswi lainnya. Dengan atribut aneh selama masa pengenalan kampus.


"Aku rindu kamu, La." batinnya.


...****...


Salah satu anak panti yang masih bertahan di sana adalah Rahma. usianya sudah menginjak 22 tahun tidak menciutkan hatinya untuk tetap tinggal di sana. Saat usianya 13 tahun kedua orangtuanya meninggal dunia tertimbun gempa besar di Jogja. Rumahnya tak jauh dari lokasi panti, dan anak-anak yang di tampung memang korban gempa.


Anak-anak duduk melingkar di lantai mushola. Sebelah kanan anak perempuan dan sebelah kiri anak laki-laki. Jumlah anak laki-laki lebih sedikit dari anak perempuan. Hanya ada lima anak laki-laki dan 10 anak perempuan. Yang rata-rata usia mereka lima tahun keatas.


Ayla ikut dalam kegiatan di mushola. Sungguh hatinya ikut adem mendengar anak-anak kecil melantunkan ayat suci Alquran.


Dulu dia di gambleng sama ayahnya belajar mengaji usia SD. Padahal keinginannya mengaji sejak taman kanak-kanak. Tapi ibunya melarang dengan alasan masih kecil hidupnya adalah bermain. Memang kalau soal agama, ayahnya lebih keras dari ibunya. Bahkan ibunya sempat protes saat Ayla memutuskan berhijab ketika SMP.


"Masya Allah, mereka anak-anak surga." puji Ayla.


"Dan kamu adalah bidadari surga, Ay!" suara itu terdengar dekat. Ayla menoleh dan tersenyum pada sosok di sampingnya.

__ADS_1


"Amin. Terimakasih doanya, Fad. Kamu mau ikut bergabung." Fadlan mengangguk lalu mengikuti langkah Ayla membaur bersama anak-anak panti.


"Saya boleh bergabung?" suara bariton membuyarkan konsentrasi mereka. Semua menoleh ke arah pagar kecil di mushola.


"Silahkan mas Afan, semakin ramai semakin bagus. Mas Afan sendirian? nggak sama Bu Cahyadi?" Anik pengurus panti memberikan pertanyaan bertubi-tubi.


"Mama sedang ke Jakarta. Sepupu saya menikah." mata Afan menjurus ke sepasang anak manusia tampak fokus membaca Alquran. Tangan Afan mengepal dari belakang. Layaknya harimau yang menemukan mangsanya, Afan pun seperti tersulut amarah.


"Om, nggak boleh melihat mbak Ayla seperti itu. Kata guru ngajiku di sekolah, laki-laki memandang wanita saja sudah zina. Apalagi dekat dengan wanita." celetuk anak yang bernama Farid.


"Tapi dia dekat-dekat dengan Ayla." bisik Afan menunjuk ke arah Fadlan dan Ayla. Afan langsung beranjak dari mushola. Dia tidak kuat memandang keakraban Ayla dan Fadlan.


Afan duduk di teras panti. Pandangannya beralih ke langit malam polos tanpa bintang. Rasanya hatinya mendadak mellow setelah melihat kedekatan Ayla dan Fadlan.


Dia mencoba kembali ke dalam panti. Tubuhnya terpaku saat gadis itu berdiri di hadapannya. Hatinya senang ketika Ayla menemuinya.


"Ay,"


"Kakak kalau mau pulang silahkan! tapi kalau anda datang hanya untuk buang waktu di sini saya minta anda berpikir lagi."


"Ay,"


"Saya pikir anda benar-benar serius. Tapi nyatanya saya yang terlalu berharap. Ketika ibu anda datang ke rumah dengan tujuan melamar. Saya senang sekali, saya berharap anda menepati janji untuk datang. Tapi nyatanya anda memang pulang untuk perempuan lain. Itu tandanya semua sudah selesai. Selesai..." Ayla tercenung saat tubuhnya sudah berlabuh di balik dada lelaki.


"Kamu mau marah silahkan! aku tahu kesalahan yang membuat pemikiran kamu seperti itu. Aku tahu tidak bisa tegas setelah di minta menerima wanita pilihan mereka. Tapi aku sudah berusaha memperjuangkan kamu, dengan membatalkan pernikahan itu. Tolong, Ayla, percaya padaku." pelukan itu semakin erat.


Ayla bahkan mulai luluh mendengar pengakuan Afan. Sesaat dia teringat ancaman seseorang. Akan ada mata-mata yang mengintainya. Ayla langsung melepaskan diri.


"Dan anda merasa berkorban buat saya. Meminta saya memberikan pamrih atas apa yang anda lakukan. Good job tuan Afan! Good job! Terimakasih atas pengorbanannya tapi lelaki plin plan akan tetap plin plan!"

__ADS_1


Ayla pergi meninggalkan Afan sendirian. Terbayang lelaki itu tak bisa di hubungi saat Ayla membutuhkan pertolongan. Ketika dia mau kabur dari pernikahan dengan Bahar. Ayla pasrah dan menebak Afan sudah bahagia bersama istrinya.


__ADS_2