After Wedding (Panji Dan Echa)

After Wedding (Panji Dan Echa)
BAB 1


__ADS_3

"Fan, ibu mau bicara sebentar sama kamu?" kata ibu Cahyadi dengan mimik serius.


"Baik, Bu," sambil menyudahi makannya.


Sekarang Taufan sudah di ruang tamu bersama kedua orangtuanya.


"Begini, Nak. Ibu sedang memikirkan hal ini dalam beberapa hari ini. Soal lamaran dan pernikahan kamu sama anaknya Laksmi. Ibu lihat dia anak yang baik, sopan dan pintar. Hanya saja ibu masih merasa ada yang mengganjal di hati, Nak,"


Taufan mengerutkan dahinya. Bukankah Echa adalah pilihan sang ibu saat itu. Dia memang terpesona dengan Echa. Dia pun menerima gadis itu karena permintaan sang ibu. Tapi entah kenapa tiba-tiba ibunya bilang seperti itu.


"Sebenarnya ada gadis lain yang pernah ibu lamarkan untuk kamu. Masih ingat sama Ayla? yang dulu pernah kamu sukai sejak kuliah. Ibu pernah datang ke rumahnya. Tapi beberapa hari yang lalu ibu kembali menemui Ayla. Mereka sudah pindah, Nak,"


Taufan sedikit terperanjat. Selama ini dia menganggap kalau ibu nya tidak suka sama Ayla, gadis pujaan hatinya.


"Ibu pernah datangi Ayla?"


"Iya, Nak, kamu ingat saat ibu bernazar ingin melihat anaknya menikah sebelum ibu meninggal nantinya,"


"Tapi kenapa ibu baru cerita sekarang?"


"Maafkan ibu, Nak,"


"Kamu tidak perlu minta maaf,Bu. Mereka saja yang tidak tahu diri. Sudah di kasih angin segar malah nolak, lagian mereka tidak sepadan dengan kita, Bu," pak Cahyadi muncul di tengah obrolan ibu dan anak.


"Apa karena kabar tentang pernikahan aku dan Echa membuat mereka pergi?"


"Apapun itu bapak lebih respect sama anaknya Lakshmi daripada anaknya Ismi," Pak Cahyadi tegas.


"Bapak sudah kabari anaknya Rahmat?" tanya Bu Cahyadi.


"Sudah, tapi dia bilang mau pulang ke rumah bude Darmi, padahal rumah kita lebih nyaman daripada rumah bude," kata pak Cahyadi.


"Ya kan dia besar disana, Pak," kata Bu Cahyadi.


"Iya, sudah sepuluh tahun dia tidak pulang kesini. Mumpung Taufan mau nikah," tambah pak Cahyadi.


"Fan, kamu masih ingat sama Panji, cucunya nenek Darmi?" tanya Bu Cahyadi.


"Yang punya pabrik madu itu, ya, Bu?" Bu Cahyadi mengangguk.


"Aku lupa-lupa ingat, Bu,"


Taufan meninggalkan kedua orangtuanya di ruang tamu. Diayunkan kakinya menuju teras depan rumahnya. Memang dia sedang di pingit, akan tetapi soal Ayla mengganggu pikirannya. Gadis yang dia cintai sejak kuliah di Universitas ternama di jogjakarta. Walaupun usia Ayla sangat jauh darinya. Bahkan dibawah Echa.

__ADS_1


Sebentar lagi dia akan melepaskan statusnya dari lajang menjadi seorang suami. Suami dari perempuan yang tidak terlalu dekat dengannya. Mungkin bagi sebagian orang ini konyol, tapi demi baktinya pada kedua orangtuanya dia rela mengikhlaskan perasaannya pada Ayla.


Ting!


"Selamat ya, kak Afan. Semoga menjadi keluarga yang sakinah mawadah warahmah. Maaf, Ay tidak bisa datang," pesan dari ayla di laman sosmed milik Taufan.


Beberapa orang mengucapkan selamat atas rencana pernikahannya dengan Echa. Walaupun sebagian temannya tahu kalau Taufan sedang mengejar cinta seorang Ayla.


"Kamu dimana,Ay?"


"Di suatu tempat yang pasti saya disini baik-baik saja," balas Ayla.


"Ay, saya mau bertemu dengan kamu, boleh?"


Tak ada balasan dari gadis itu. Afan semakin gelisah setelah saling berbalas pesan pada Ayla. Mereka memang tidak pernah pacaran, tapi setidaknya Ayla tahu bagaimana perasaan Afan kepadanya.


****


Panji sudah sampai di depan rumah neneknya. Rumah tua yang masih terawat sampai sekarang. Lelaki itu meletakkan tas ranselnya di depan pintu rumah.


Tampak seorang lelaki paruh baya berjalan tergopoh-gopoh mendekati Panji. Lelaki yang menyebut dirinya pak Sopo menyalami Panji.


"Rumah Mbah masih sama seperti yang dulu, pak Sopo. Tidak ada yang berubah sama sekali,"


Panji menatap rumah seberang yang terlihat ramai.


"Itu rumah Bu Lakshmi, Bukan, pak?"


"Iya, itu rumah Bu Lakshmi,"


"Kok ramai sekali, ada apa disana?"


"Non Echa mau menikah, tiga hari lagi"


"Echa? anaknya Bu Laksmi yang gendut itu?"


"Sekarang enggak lagi, dia malah cantik dan modis sekarang. Malah saya dengar dia kerja di Jakarta dan pulang untuk menikah,"


"Oh,"


"Kenapa aku jadi penasaran sama acara itu, ya?" batin Panji.


"Nak Panji silahkan masuk,"

__ADS_1


Panji memasuki rumah berbahan kayu, semua aksesoris masih terjaga dengan baik. Hanya dapur pun sudah di ganti sama dinding semen. Padahal neneknya dulu mempertahankan dapur asap. Kenapa disebut dapur asap? karena neneknya lebih memilih masak dengan kayu bakar daripada pakai kompor.


Makanan yang dimasak menggunakan arang atau kayu bakar memiliki citarasa dan aroma yang khas, berbeda dengan makanan yang dimasak menggunakan kompor. Orangtua zaman dulu memang lebih percaya semua dengan khas tradisional.


"Dulu sempat ada gempa mengguncang Jogja. Banyak rumah yang rusak salah satunya dapur ini. Ini bahan-bahannya pakai uang anaknya Bu Laksmi. Waktu itu non Echa kerja di toko bangunan pas baru tamat SMA,


Saya, Bu Laksmi dan non Echa sering membersihkan tempat ini. Terutama kamar nak Panji,"


Panji berdiri di depan pintu kamarnya. Kamar yang mengisi masa kecilnya hingga remaja. Kamar yang banyak sekali kenangan, di kamar ini dia sering menjadi guru Echa, gadis kecil yang dia asuh sejak bayi.


"Kamu sudah besar, Cha. Sebentar lagi akan menikah. Ya Allah, kenapa rasanya seperti ada yang berat?"


Panji menemukan photo seorang gadis memakai baju SMA. Ada surat kecil di dekat photo tersebut. Tentunya dia mendahulukan membaca surat dari Echa.


Kakak, Echa sudah tamat SMA. Nanti Echa mau kuliah di UGM, kalau Echa sudah tamat kuliah mau ke Jakarta cari kak Panji. Echa mau kakak lihat kesuksesan aku nanti. Terimakasih atas motivasinya selama ini.


Kalau nggak ada kakak mungkin Echa akan tinggal kelas untuk yang kedua kalinya.


"Ini kan?" Panji membulatkan matanya saat tahu siapa Echa sebenarnya.


...*****...


Di pagi hari tampak menyejukkan hati. Dari kecil dia suka sekali melihat awan putih bersih, namun saat ini langit yang dia lihat belum seterang biasanya. Masih terlihat kelap kelip bintang yang bertebaran di langit. Bintang yang berkilauan di matanya tampak seumpama mata ribuan malaikat yang mengintip penduduk bumi. Bulan terasa begitu anggun menciptakan kedamaian di dalam hati.


Theresia atau biasa di sebut Echa masih betah memandangi langit subuh. Menghirup udara segar sebelum udara siang panas melanda. Sekarang sudah jam setengah enam pagi. Setelah salat subuh dia tidak bisa tidur lagi.


"Cha, kamu sudah ngaji? biasanya kamu ngaji sehabis salat," tegur Bu Laksmi melihat anaknya melamun di dekat jendela kamar.


Echa beranjak dari dekat jendela. Lalu berjalan menuju ibunya. Tadi dia sudah mengaji paling tidak satu halaman saja.


"Bu, rumah nek Darmi kok lampunya hidup," Echa menunjuk ke rumah yang berseberangan di depan rumahnya.


"Oh beberapa hari ini kan di bersihkan sama pak Sopo. Mungkin ada keluarga nek Darmi yang mau datang. Beberapa hari yang lalu pak Sopo bilang. Salah satu cucu nek Darmi mau pulang,"


"Apa mungkin Kak Panji?" batin Echa.


"Emang anak nenek Darmi ada berapa sih?" tanya Echa.


Selama ini dia hanya tahu cucu nenek Darmi hanya Panji saja. Sejak kecil Echa sudah di asuh sama Panji. Itu yang dia ingat.


"Empat dan ayahnya Panji anak bungsu,"


Echa mengerutkan dahinya, "Kenapa ibu bahas soal Panji?" Bu Laksmi tertawa, sejak dilamar Taufan sepertinya Echa sedikit alergi membahas soal Panji.

__ADS_1


"Emangnya kenapa? suka-suka ibu dong, ya kan kamu fokus saja sama Taufan," Echa semakin kesal dengan jawaban ibunya.


__ADS_2