After Wedding (Panji Dan Echa)

After Wedding (Panji Dan Echa)
BAB 35


__ADS_3

Panji berdiri di ruang ICU. Di dalamnya ada istrinya yang sedang di tangani pihak medis. Sesekali menghanturkan kepalanya. Puing-puing penyesalan terus berperang di hatinya. Andai saja dia ada di sana, mungkin apa yang dialami Echa tidak akan terjadi.


Suara decitan pintu menandakan ada yang keluar dari pintu itu. Sosok lelaki berjas putih berdiri seakan ada yang dia cari.


"Keluarga ibu Theresia?" panggil dokter.


"Saya suaminya. Dokter bagaimana keadaan istri saya?" tanya Panji.


Dokter yang bername tag "Muhammad Iqbal" hanya menarik nafas dalam-dalam. Sepertinya harus ada tindakan lebih serius untuk pasiennya. Di tatapnya orang-orang yang berkumpul menunggu kepastian.


"Pak, istri bapak sepertinya harus di tangani lebih serius. Kaca yang menusuk paha atas istri anda masuk sangat dalam. Dan kami tidak bisa asal cabut."


"Apakah parah, Dok?"


"Tancapan kaca sangat besar dan masuk ke dalam daging. Jika tidak di tangani lebih cepat akan berpengaruh pada lukanya. Maaf kalau boleh tahu kenapa bisa terkena kaca?"


"Ada insiden di resepsi kami, Dok. Lakukan apa yang menurut dokter terbaik. Tolong selamatkan Istri saya." mohon Panji sambil menggenggam erat jemari dokter.


"Saya usahakan, Pak. Benda asing yang dibiarkan menancap dapat mencetuskan timbulnya infeksi. Sebelumnya dokter akan melihat titik luka terlebih dahulu. Besarnya luka yang tertancap kaca, seberapa dalamnya luka, perdarahan yang timbul maupun ada tidaknya infeksi.


Dari hasil pemeriksaan tersebut akan dapat ditentukan penanganan yang terbaik. Pecahan kaca yang menancap ke jaringan mungkin saja perlu diambil melalui prosedur operasi kecil dengan bius lokal. Selain mengeluarkan pecahan kaca, akan dilakukan tindakan pembersihan daerah yang luka, dijahit jika perlu dan diberi antibiotik maupun antinyeri. Pemberian vaksin tetanus akan dipertimbangkan pada luka yang kotor terkena karat." Panji mengangguk setelah mendengar penjelasan panjang lebar dari dokter.


Setelah dokter pergi masuk kembali ke dalam. Panji kembali duduk di kursi tunggu. Jas nya sudah kotor dengan darah dari luka Echa. Kepalanya menengadah ke atas langit malam. Sejenak mata memejam.


Resepsinya malah kacau karena tragedi tadi. Mau menyalahkan anak kecil? rasanya tidak etis. Apalagi anak itu juga terluka.


"Anak kecil itu bagaimana keadaannya?" batin Panji.


Panji melihat Mia diantara keluarga Echa. Untung saja Mia menoleh kearah dirinya sehingga tidak susah untuk memanggil sepupunya.

__ADS_1


"Ada apa, kak?"


"Tolong cari tahu soal anak kecil tadi. Cari tahu juga tentang kejadian ini melalui cctv hotel." ucap Panji lirih.


"Baik, kak. Ada lagi?" Mia harus memastikan instruksi atasannya. Siapa tahu masih ada yang kurang.


"Kak, maaf. Lusa aku tidak bisa masuk kerja." kata Mia sambil menyandarkan kepalanya di dinding rumah sakit. "Kenapa?" tanya Panji. Tidak biasanya adik sepupunya seperti ini.


"Lusa peringatan kepergian mama. Hanya aku saat ini yang bisa menjalankan kegiatan ini. Papa di penjara, kak Randi entah ada dimana. Aku harap kak Randi datang ke peringatan kepergian mama."


"Andai sikonnya memungkinkan aku pasti datang bareng Echa. Kamu tahu sendiri sekarang keadaan sedang genting. Bagaimana keadaan anak kecil itu?"


"Kata orang dia langsung di bawa seorang wanita. Aku rasa itu ibunya. Soalnya aku tidak lihat langsung. Kok bisa anak kecil berada di pesta orang dewasa. Kalau aku jadi ibunya mending datang acara siang saja. Kan kasihan anaknya." ucap Mia.


Bukan hanya Mia yang heran. Panji pun berpikiran yang sama. Kenapa bisa ada anak kecil di resepsi malam. Harusnya tidak boleh membawa anak kecil di jam tersebut. Bukankah sudah di kasih pilihan acara siang dan juga malam. Kepala Panji mendadak mumet mengingat kejadian di luar nalarnya.


"Aku kalau sudah tidak suka sama seseorang akan susah menilainya jadi baik. Itu yang aku rasakan saat papa mengenal si Anne pada mama yang sedang hamil saat itu.


Teman baikku Delia di khianati sama Dira. Selama Delia di luar negeri, Dira malah menikung dan berpacaran dengan Arjuna. Sejak saat itu aku tidak suka orang yang pernah melakukan pengkhianatan." Mia ingat saat Eka menceritakan semua yang dialami Delia karena Dira dan Arjuna.


"Kenapa membenci pada yang bukan urusan kamu? Kalau pun temanmu itu tidak jadi sama pasangannya tandanya tidak jodoh. Lagian aku sudah dengar cerita mereka versi Arjuna. Delia sudah punya anak sewaktu di luar negeri. Dan yang bikin kaget lelaki biologis anaknya adalah Rian, calon suami Dira. Tuhan kalau punya kuasa pasti akan membuka semuanya.


 Oke kalau soal om Adrian, aku juga setuju. Bagaimana bisa dia menolak kehamilan mama kamu karena takut fisiknya berubah. Parahnya malah sama yang tidak jauh dari usiaku selingkuhannya." bukan dia sok bijak. Tapi menurut Panji kebencian Mia tidak berdasar. Juga tidak pada tempatnya.


"Nak, Panji apa yang terjadi sama Echa." Bu Laksmi muncul di tengah obrolannya dengan Mia.


Laksmi datang bersama suaminya Tika. Gurat kecemasan terpancar di wajah wanita paruh baya tersebut. Siapa yang tidak sedih mendapat kabar putri semata wayangnya terluka di hari resepsi pernikahannya. Sepanjang perjalanan suaminya Tika di berondong pertanyaan bagaimana bisa Echa terluka. Sayangnya lelaki itu tidak bisa menjawab. Dia tidak ada di dekat kejadian.


"Bu, maafkan saya teledor tidak bisa menjaga Echa. Maafkan saya, Bu." Panji bersujud di kaki ibu mertuanya.

__ADS_1


"Ibu tanya apa yang terjadi sama Echa! Bukan mendengar rasa sesal dari kamu. Memang ini bentuk keteledoran kamu, Panji!" suara Bu Laksmi meninggi.


Indri akhirnya menceritakan apa yang dia lihat. Kejanggalan melihat ada kecil ada di pesta malam. Apalagi menabrak gaun belakang Echa. Padahal ekor gaun Echa tidak mengganggu lalu lintas jalanan.


"Ya Allah ini pertanda apa? Kenapa harus ada kejadian seperti ini di hari bahagia anakku. Panji kamu harus melakukan sesuatu, ibu ingin penanganan yang terbaik untuk Echa. Jika terjadi sesuatu pada Echa, kamu yang bersalah dalam hal ini." Bu Laksmi semakin emosi setelah tahu apa yang terjadi pada putrinya.


"Maafkan saya, Bu." Panji hanya bisa menundukkan kepalanya. Rasa bersalah atas apa yang menimpa Istrinya tentu bersarang di hatinya. Tatapan amarah Bu Laksmi kepadanya.


...***...


"Assalamualaikum," sapa Fadlan di depan teras panti.


Hari ini jadwal Fadlan untuk terapi kaki Ayla. Tentu dia akan menepati janjinya akan membantu Ayla sampai sembuh. Suara decitan pintu menandakan ada yang menyambutnya. Tampak wanita paruh baya yang sangat dia hormati berdiri di hadapannya.


"Ibu," Fadlan menyalami ibu angkatnya. Meskipun dia tahu Bu Ismi tidak pernah suka padanya sejak kecil.


"Oh, kamu, Fad. Kebetulan kamu datang. Ibu boleh bicara sama kamu." Nada suara Bu Ismi masih sama seperti biasanya. Dingin dan datar. Tak pernah Fadlan mendapati wanita itu senyum padanya.


"Baik, Bu. Kita ke dalam."


"Kita bicara di sini saja. Kalau di dalam Ayla dengar." kata Bu Ismi.


"Baik, Bu." Fadlan dan Bu Ismi sudah duduk berdampingan di kursi panjang berbahan rotan.


"Saya berterimakasih kamu mau membantu pengobatan Ayla sampai sembuh. Kamu itu lelaki yang baik, Fad. Tapi maaf kalau ibu belum bisa sepenuhnya menerima kamu sebagai anak angkat. Ibu langsung ke inti pembahasan. Kalau Ayla sudah sembuh kakinya, saya minta kamu jangan sering mendatangi Ayla."


"Kenapa, Bu. Saya sudah menganggap Ayla ..."


"Saya tahu kamu suka sama Ayla. Memang hati tidak bisa di paksa. Tapi kamu tahu kan cinta Ayla itu untuk siapa? Untuk Taufan. Nak Taufan sedang berusaha memperbaiki hubungannya dengan Ayla. Ibu mohon sama kamu, jangan ada perasaan apapun pada Ayla."

__ADS_1


__ADS_2