After Wedding (Panji Dan Echa)

After Wedding (Panji Dan Echa)
BAB 40


__ADS_3

"Aku ikut, ya, Mas." Echa menahan tangan Panji.


Panji duduk sejajar posisi Echa di pinggir ranjang. Wajah tegas di tambah jambang sekitar dagunya mulai tumbuh. Senyuman khas yang menurut Echa tak pernah berubah sejak dia kecil dulu.


"Kamu di rumah saja, Sayang. Aku akan mengurusi sama teman yang sudah menunggu."


"Teman?" Echa berpikir keras siapa teman yang di maksud suaminya. Seumur dia kenal Panji versi dewasa, lelaki itu hanya dekat dengan keluarga Dewi Savitri. Sering ketemu dengan pak Burhan atau opa Han. Sering jalan bareng Feri Andreas, cucu pak Burhan.


Lalu teman yang mana?


Echa masih berspekulasi tentang siapa sosok yang dianggap teman. Entahlah kenapa dia selalu di liputi rasa curiga. Entah juga itu dianggap berlebihan atau memang curiga yang normal. Benar kata Randi kalau sikap Panji baik namun misterius.


Ya Allah, jauhkanlah hamba dari rasa curiga seperti ini.


"Sayang," panggil Panji.


Echa sedikit tersentak saat Panji mencubit hidungnya. Memberi reaksi dengan sedikit meringis karena cubitan yang cukup kuat.


"Eh, istriku sudah bangun?"


"Aku kan nggak tidur, Mas?"


"Iya, tapi kamu tidur dalam bengong. Iya aku tahu kamu pasti masih terpesona sama ketampanan suamimu ini, kan? hayo ngaku!"


"Apaan, sih, Mas? Masih aja narsis!" Echa hanya menggelengkan kepalanya. Sesekali tertawa kecil melihat tingkah suaminya.


"Jadi..."


"Jadi aku minta kamu istirahat saja, kan ada Atik yang menjaga kamu. Ada ibu dan yang lainnya. Aku hanya mau mengecek soal penangkapan Lani.


Aku hanya pergi sebentar, bukan untuk main-main. Tapi kamu harus nurut sama yang lain. Kalau di suruh istirahat, ya kamu istirahat. Kalau sudah waktunya minum obat, harus nurut." bujuk Panji. Padahal tidak ada yang ngambek. Tapi Panji merasa Echa seperti punya kegelisahan.


"Mas.." Echa mengayuh kursi rodanya.


"Iya, Sayang."


"Kamu hati-hati, ya. Jangan ngebut, berdoa sebelum pergi perjalanan. Apalagi kantor polisinya pasti jauh. Bukankah perumahan ini jauh dari pusat kota."


"Dan tolong doakan aku juga sayang." Panji melabuhkan kecupan di dahi istrinya.

__ADS_1


Panji meninggalkan kamar. Berselisih dengan kemunculan Atik yang akan menjalankan tugasnya.


"Saya pergi dulu, kamu tolong kontrol istri saya. Kalau dia mau sesuatu di turuti saja. Dekat sini ada taman bermain. Kamu bisa ajak dia jalan-jalan keliling komplek. Tapi jangan berdua saja. Ajak satu orang untuk ikut dengan kalian. Karena jika nanti Echa mau sesuatu kamu pasti harus meninggalkan Istriku. Paling tidak ada yang menemani Echa. Paham!"


"Paham, Pak." Atik langsung pamit masuk ke kamar.


Panji sudah berada depan pintu rumah. Sudah siap menghidupkan mobilnya. Langkahnya terhenti saat suara lembut menyebut namanya.


"Ibu boleh ikut?" suara Bu Laksmi.


"Jangan, Bu. Biar aku saja. Lagian Atik kan masih harus di pantau pekerjaannya." tolak Panji.


"Ada Paklik Malik, ada Indri dan ibunya. Saya mohon ikutkan untuk memberi pelajaran pada mereka yang mencelakai Echa."


"Tapi, Bu." Panji melihat tatapan Bu Laksmi penuh harap. Bak seorang ibu yang melabrak anak lain. Bu Laksmi pun sudah duduk di kursi samping sopir. Panji tidak bisa menolak. Dia pun masuk ke mobil untuk ke kantor polisi.


Selama perjalanan Panji sibuk dengan headsetnya. Menghubungi beberapa relasi bisnisnya, membatalkan beberapa urusan demi menemani istrinya.


Bu Laksmi memperhatikan kegiatan menantunya. Sejak Echa di rumah sakit, Panji tidak bisa diam. Bolak-balik menemui dokter untuk kebutuhan perawatan Echa. Mendampingi para staf yang mau menjenguk istrinya.


"Halo, Indri. Kakak bisa minta tolong kamu temani Atik dan Echa. Soalnya kami maksudnya kakak dan Ibu Laksmi kini sedang perjalanan menuju ke kantor polisi. Menemui orang terduga yang mengacaukan pesta beberapa hari yang lalu."


"Oke, terimakasih, Indri. Kamu mau di bawain makanan apa?"


"Oke, berarti Dunkin' donuts, ya." Panji langsung menutup teleponnya.


"Ji," sapa Bu Laksmi.


"Iya, Bu." Panji tetap fokus dengan setiran mobil. Langit sudah mulai sedikit gelap. Bu Laksmi melirik ke kaca mobil menatap jalanan. Laju jalan besar terlihat sepi.


"Ibu boleh tanya sama kamu, Nak?"


"Ada hadiahnya nggak, Bu?" tanya Panji.


"Ada. Kamu jawab dulu, pertanyaannya saja belum sudah nanya hadiah." Panji tersenyum kecil. Obrolan seperti ini bisa mendekatkan mereka.


"Yasudah, pertanyaannya apa, Ibu ku yang cantik?"


"Kamu tuh, ya. Dari dulu suka banget guyon. Oke ibu boleh nanya sesuatu.

__ADS_1


Nak, apakah kamu mencintai Echa?"


"Kenapa ibu nanya seperti itu? apa ibu meragukan menantu yang tampan ini?"


"Panji,.."


"Iya, Bu, Maaf. Saya mencintai Echa sepenuh hati. Bukan karena dia sudah menjadi istri saya saat ini. Jujur saat tahu Echa adalah Theresia, sekretaris saya sendiri. Gadis yang tengah saya dekati dan saya menaruh hati padanya. Saya sedih karena merasa cinta saya akan bertepuk sebelah tangan.


Apalagi lelaki yang akan menikahinya sepupu saya sendiri. Saya mantap menerima permintaan ibu, karena yakin akan lebih bagus memulai pacaran setelah menikah. Kan seru, Bu." jawab Panji sambil mengulum senyum.


"Karena itu? bukan karena patah hati?" tanya Bu Laksmi.


"Jika ibu meminta aku menggantikan Afan. Itu tandanya ibu sudah percayakan Echa sama saya. Saya juga manusia biasa. Yang masih banyak kekurangan dan mungkin kelebihan.


Bagi saya jika sudah mengikat hubungan lebih sakral. Tentu menjadi tanggung jawab yang wajib di jalankan."


Bu Laksmi tersenyum mendengar jawaban Panji. Paling tidak, dia lega apa yang di takutkan Echa tidak terbukti. Beberapa kali Echa bilang kalau Panji masih menemui mantannya. Jangan sampai apa yang dia alami dulu bersama Wahyu juga menimpa putrinya.


"Bagaimana kabar Riana si pelakor itu? Apa dia masih bisa tidur nyenyak setelah menghancurkan rumah tanggaku. Membuat Echa sempat kehilangan figur seorang ayah.


Mas, kamu lihat kan diatas sana. Echa sudah bahagia dengan pilihan hatinya. Seburuk apapun kamu di masa hidup, saya tetap mencintai kamu." batin Bu Laksmi.


Mobil akhirnya bertemu di kantor polisi. Panji langsung melepas safety belt melilit tubuh mertuanya. Setelah itu mereka bersamaan masuk ke kantor polisi.


"Permisi, saya Panji Agung Laksono. Saya pelapor atas perbuatan nona Melani."


Lelaki berseragam coklat pun mempersilahkan Panji dan Bu Laksmi menemui Lani. Mereka meminta menunggu karena Lani masih dalam tahap interograsi.


Salah satu petugas kepolisian mendapatkan tugas menjelaskan pada Panji. Motif di balik perbuatan Lani hanya sekedar ingin mempermalukan Echa. Dan menurut pengakuan Lani kejadian pecahan kaca di luar rencananya.


"Di luar rencana?" Panji tertawa sinis. "Bukankah dia memang selalu berusaha menyakiti Echa. Dan sekarang apalagi alasannya!"


"Jadi dia sudah sering seperti ini sama Echa! kenapa tidak kamu pecat saja! Kenapa kamu masih mempertahankan karyawan seperti itu! Kamu terlalu lama bertindak, Panji!


Oh mungkin karena Echa saat itu sebagai karyawan biasa. Jadi seolah kamu menutup mata, seolah kamu mau bilang bukan urusan kalian. Ibu kecewa sama kamu, Panji!" amuk Bu Laksmi.


"Maafkan saya, Bu." Panji hanya bisa berucap tanpa berani menegakkan kepalanya. Dia membenarkan apa yang di ucapkan ibu mertuanya. Karena dia pikir itu hanya masalah persaingan dan mungkin urusan pribadi, Panji tidak mau ikut campur.


"Sekarang mana perempuan itu! ibu harus kasih pelajaran! Kalau perlu hukum seberat-beratnya!" Bu Laksmi masih meluapkan emosi.

__ADS_1


"Bu, sabar. Dia sudah di tangani pihak berwajib. Kita serahkan semuanya pada pihak kepolisian." Panji masih berusaha menenangkan ibu mertuanya.


"Sabar kamu bilang? Setelah apa yang terjadi sama Echa kamu bilang sabar? Kamu itu suami yang tidak becus menjaga anak saya!"


__ADS_2