After Wedding (Panji Dan Echa)

After Wedding (Panji Dan Echa)
BAB 60


__ADS_3

"Ingat, Ya. kalau kamu butuh sesuatu kabari aku. Atau bisa minta tolong sama yang lain seperti sama Rini." cerocos Panji dalam sambungan telepon.


"Iya, Mas. Tumben kamu bawel banget hari ini."


"Ya karena kamu kan masih dalam pemulihan dan ngotot mau pergi kerja. Aku tidak mau kamu drop lagi. Aku mau istriku ini sehat selalu."


"Terimakasih, Mas. Atas perhatiannya." Echa merasa heran dengan sikap Panji yang mulai protektif sejak dia baru sembuh dari demam. Sikap itu bentuk rasa sayang suaminya. Sejak semalam dia masuk kantor bisa terhitung belasan kali suaminya menelepon.


Echa baru saja sampai di ruang kerjanya. Sudah di minta Panji menempati ruang kerja suaminya. Memeriksa beberapa berkas di meja kerja. Echa langsung bergegas ke ruang kerja Panji. Sebelum itu dia meminta ob untuk membersihkan ruang kerjanya.


"Bu Theresia tidak menunggu sampai saya selesai kerja?" kata Mpok Alpha, OB senior di madu berkah.


"Nggak, Mpok. Saya percaya sama kerja Mpok. Saya ke ruangan pak Panji dulu, ya." Echa pamit meninggalkan ruang kerjanya.


"Pagi, Bu Echa." sapa salah satu staf kantor.


Echa baru saja sampai di perusahaan tanpa pendampingan dari Panji. Suaminya sedang sibuk mengurusi Afan di rumah sakit. Sebelumnya Echa sudah minta izin untuk masuk kerja. Walaupun tadi Panji sudah mengajaknya untuk ke rumah sakit. Ada rasa segan bertemu keluarga Cahyadi. Setelah kejadian pembatalan pernikahan beberapa bulan yang lalu.


"Pagi, Sasya. Apa ada schedule hari ini. Sementara perkerjaan pak Panji akan saya handle." Sasya menyerahkan beberapa berkas akan di pelajari Echa.


Wajah Echa berkerut saat membaca satu berkas di depan yang sedang di pegangnya.


"Ini berkas pak Bintang kok belum di ACC?"


"Ini, Bu. Pak Panji menolak kerjasamanya dengan pak Bintang. Soalnya pak bintang mau Bu Echa terlibat dalam proyek ini." jelas Sasya.


"Saya? Kok gitu. Kan bukan ranah saya." Echa masih heran dengan alasan dari Bintang.

__ADS_1


"Saya tidak tahu, Bu. Saya hanya menjalani tugas." Echa meminta Sasya kembali ke tempat kerja.


Beberapa orang yang menguping pembicaraan Echa dan Sasya. Mereka memanggil teman kerjanya minta referensi bagaimana bertemu Istri bos. Apalagi Echa dulunya sekretaris Panji. Malah duduk di ruangan Panji tanpa beban. Mereka berharap Echa tetap seperti yang dulu. Gadis yang humble dan supel.


"Kalian ngapain?" Rini yang lewat merasa aneh rekan kerjanya berkumpul di depan pintu tuanya Panji.


"Nggak ngapain, kok." sanggah Amel.


"Terus ngapain di depan ruang kerja pak Panji. Orangnya lagi di luar." Rini masih mencoba mengorek informasi dari temannya.


"Bukan urusan kamu, Rin!" Mereka memilih bubar daripada meladeni Rini.


Semua di kantor sudah tahu keakraban Rini dan Echa. Dari sejak Echa pertama kali masuk ke perusahaan, hingga sampai saat ini pun keakraban masih terjalin. Efeknya setelah mereka melihat Rini sebagai pendamping pengantin di resepsi. Anggapan mereka kalau Rini antek-antek Echa dan Panji pun berhembus. Echa dan Rini kini menjalin hubungan dekat layaknya saudara.


Rini tahu bagaimana jatuh bangun antara Echa dan Panji. Bagaimana Echa memperlakukan Panji saat masih jadi sekretaris. Bagaimana Echa pernah cerita kalau Panji mendekatinya hanya karena patah hati di tinggal Savira. Bisa dibilang Rini lah yang memotivasi Echa menghadapi berbagai pemberitaan miring yang seolah tak ada hentinya menghampiri.


"Belikan aku kedondong, Rin. Pengen banget makan kedondong." Rini mengerutkan dahinya. Ada apa istri bosnya minta kedondong. "Kamu ngidam, Re?" Echa menggelengkan kepalanya. Dia hanya pengen makan kedondong. Rasanya sudah di ujung lidah.


"Yakin kamu bukan ngidam? Kalau iya juga tidak apa-apa kan kamu punya suami."


"Enggak, Rin. Aku lagi pengen saja."


"Yasudah, nanti aku belikan. Sekarang aku mau tanya, mereka tadi ngapain di depan pintu?"


Echa mengerutkan dahinya. Dia tidak merasa memanggil staf lain untuk ke ruangan.


"Mereka maksudnya bagaimana? Aku tidak bertemu staf lain selain Sasya."

__ADS_1


"Hati-hati, Re. Mereka saat ini sedang carmuk sama kamu. Karena takut nasib mereka di tangan Pak Panji. Kamu tidak lupa kan, mereka sempat mencemooh saat jadi sekretaris dulu. Bahkan semua di pihak Lani. Dan sekarang mereka tiba-tiba ramah sama kamu."


"Semoga saja tidak. Lagian mereka tidak ada yang aneh-aneh selama ini." Echa masih mencoba positif thinking.


"Semoga, Re. Aku cuma ngingetin kamu harus lebih hati-hati sama mereka. Yasudah aku balik ke ruangan, sekalian beli kedondong pesanan kamu." Rini bergerak meninggalkan ruangan atasannya.


"Nggak usah, Rin. Aku sudah tidak pengen lagi." Echa pun berjalan meninggalkan ruang kerja suaminya.


"Fix, kamu hamil, Re." bisik Rini. Echa tertawa menanggapi ucapan Rini. "Amin terimakasih doanya." Kakinya terhenti pada kalender di meja kerjanya. "Bulan ini aku belum mens. Tapi siapa tahu seminggu lagi. Kan biasanya begitu kadang awal bulan, kadang pertengahan, kadang akhir bulan. Tapi kalau memang bulan ini melompat bagaimana?"


Aku ingin kita punya anak, Cha.


Tubuh Echa melemas seketika. Terbayang di ingatannya kalau Panji berharap dirinya segera hamil. Bayangan Panji yang masih care sama keluarga Savira, ingatannya pada kisah ibunya yang hamil tanpa dampingan sang ayah kembali membuat Echa merasa takut. Langkahnya terhenti pada sebuah lorong perlengkapan barang. Memeriksa pekerjaan staf disana. Rasanya dia melihat kunang-kunang. Echa berpegang pada kotak barang, semakin lama tubuhnya kehabisan daya.


"Dok, bagaimana keadaan istri saya?" tanya Panji di kamar rawat Echa.


"Bapak tenang saja, istri anda hanya kecapekan. Di jaga yang benar jangan banyak aktivitas dulu." kata dokter Pratama. "Dan hasilnya sudah ada sama dokter Melati." Panji mengerutkan dahinya. Dia tahu dokter Melati adalah dokter kandungan. Apakah istrinya mengandung? kalau iya dia sangat berharap banyak pada kehamilan Echa.


"Bapak Panji Agung Laksono?" tebak dokter Melati.


"Iya, Dok. Tadi kata Pratama saya di suruh menemui anda. Kalau boleh tahu kenapa dengan istri saya? apa dia hamil? Secara saya tahu anda adalah dokter kandungan."


"Selamat ya, Pak Panji. Istri anda sedang mengandung terhitung usia kandungan saat ini berusia 3 minggu." jelas dokter Melati.


"Hamil, Dok? 3 Minggu!" Panji masih dalam mode kaget.


"Iya, pak. Tadi saya mendeteksi dari hasil USG. Selamat ya, Pak. Saya akan memberi resep seperti vitamin, dan ini buku KIA."

__ADS_1


Panji meminta Atik untuk membantunya membawa Echa pulang ke rumah. Dalam perjalanan Echa masih tertidur pulas. Tangan Panji tak pernah lepas dari genggamannya. Air matanya menetes tanda dia bahagia.


__ADS_2