After Wedding (Panji Dan Echa)

After Wedding (Panji Dan Echa)
Novel baru : Jika Fajar tanpa Embun


__ADS_3

Matahari sedang menampakkan sinarnya di ufuk timur. Kalau muncul bagian barat sudah habislah dunia. Matahari mengajarkan kita bahwa kehidupan ini tidak selamanya terang, atau selalu kebahagiaan. Dan tidak selamanya gelap, atau kesedihan. Matahari juga mengajarkan kita bahwa tidak selamanya kita berada di atas dan tidak selamanya kita berada di bawah.


Matahari juga menjadi sebuah simbol kecerahan dan kebahagiaan bagi banyak orang.Matahari merupakan salah satu sumber kehidupan dan energi bagi manusia. Panas matahari bisa digunakan dalam berbagai hal dalam kehidupan alami hingga teknologi canggih. Bahkan matahari di pagi hari menjadi salah satu pengawal hari yang luar biasa.


Kenapa harus matahari yang menjadi penyemangat hidupku. Kenapa bukan sosok lain yang harus lebih nyata? nyata? Iya, kehampaan sangat terasa di pagi hari. Seharusnya aku bahagia jika adikku akan menikah dengan pilihan hatinya. Tapi kenapa saat tahu siapa calon istrinya aku sangat sakit? Apa ini karma?


Saat ini aku sedang memperhatikan bersinarnya raja siang dari ufuk timur. Tampak embun bertengger di pucuk-pucuk daun. Ia merasakan hidupnya bagai bunga, ketika segar tampak indah mempesona saat layu dibuang.


"Fajar," suara itu memanggilku. Suara wanita yang sangat aku sayangi. Wanita pertama di rumah kami setelah adikku Mentari.


"Mama," aku langsung menyalami mama. Kami kembali duduk di pondok dekat pabrik di mana aku sekarang adalah pemimpin di sana.


"Kamu baru sampai dari Jakarta kenapa menghilang begitu saja. Mama sudah masak gulai kepala ikan kesukaan kamu. Nanti habis sama papa. Tahu sendiri kamu dan papamu sama-sama penggila ikan."


"Ya kalau di habiskan sama papa berarti bukan rezeki aku, Ma. Angkasa kan tidak suka sama ikan. Mentari apalagi. Paling aku sama papa doang. Lagian papa nggak mungkin habiskan porsi sebanyak itu."


"Iya juga. Kamu susah bertemu Pakde?" aku mengangguk kecil.


"Kamu sampaikan pesan mama kan kalau belum bisa jenguk pakde? pakde sakit apa, Nak?"


"Pakde stroke, Ma. Saat ini yang menjalankan perusahaan pakde adalah Tante Vira. Harry belum bisa diandalkan, kerjanya keluyuran terus. Sedangkan Mimi kan sudah menikah, sementara Hyolin masih SMA."


"Astaga, anak itu, Ya. Jauh banget sama kak Feri masih muda." Ku dengar mama seperti ikut marah.


Ini mamaku namanya Dira. Perempuan yang terbaik sepanjang hidupku. Perempuan yang kadang bisa jadi teman dan orangtua. Paling tiap tahun dia sering senewen soal pasangan hidup. Adik sepupuku Andara sudah punya suami namanya Keenan. Kakak sepupuku Hermina juga sudah menikah. Hanya Mentari yang belum. Kak Salsa dan adiknya Nabila pun sudah punya pasangan hidup.


Perkenalkan namaku Muhammad Fajar Bramantyo. Seperti yang kalian tahu embel embel-embel belakangku milik siapa. Adikku Angkasa pun menyempatkan nama itu. Usiaku saat ini sudah menginjak kepala tiga. Entah kenapa sejak putus dari dia tak ada yang bikin aku tertarik pada wanita lain. Dan sepertinya tidak ada yang berusaha mendekati.

__ADS_1


Dia, namanya Embun. Sebening Embun, jangan harap dia seindah namanya. Embun ku beda dari yang lain. Gadis yang penuh percaya diri, semangat yang bikin aku jatuh cinta. Dan sekarang dia akan menjadi calon istri Angkasa.


"Kita pulang, Yuk. Mama ingin dengar cerita yang banyak selama kamu di Jakarta." Aku mengangguk sambil mengikuti langkah mama.


"Ma, aku ingin cari istri seperti mama." batin ku.


Kami sudah sampai di rumah. Di mana suasana sudah terlihat ramai. Aku menatap ke arah mama. Tadi saat aku sampai tidak seramai ini. Ada apa?


"Ayo kita masuk, malam ini ada acara dua lamaran. Antara Angkasa dan Embun. Mentari dan Arya."


"Apa aku harus minta pelangkah sama mereka?"


"Hey, ini 2052, nggak ada ceritanya pelangkah lagi. Tidak zamannya lagi. Sudah kamu masuk ke dalam." Aku hanya bisa menarik nafas dalam-dalam. Teganya dua adikku mendahului kakaknya.


"Kamu tahu, Nak. Saat Tante Vira mau di lamar pacarnya. Oma langsung pusing minta mama cari pasangan. Karena pakde kamu sudah pernah menikah dan status duda."


"Papa pastinya," jawabku setengah malas.


"Iyalah, la wong cita-cita mama kamu cuma satu."


"Iya, jadi istrinya papa." cerita yang sejak remaja aku dengar. Sudah hapal endingnya bagaimana.


"Dan itu yang papa harapkan buat kamu, Jar. Lupakan si bening itu. Dia yang ninggalin kamu waktu itu kan? walaupun papa dan mama belum pernah bertemu dengan gadismu."


"Aku harus tahu apa yang sudah membuat bening alias embun pergi meninggalkan hubungan kami. Tanpa kata putus sekalipun. Jika aku tanpa Embun rasanya seperti layangan tanpa tali. Terbang melayang tertiup angin."


Waktu terus merambat, tak terasa gelap pun menyapa. Semua keluarga besar dua calon menantu Bramantyo pun berkumpul di rumah. Sekarang rumah kami bukan di lokasi dekat perkebunan. Kini kami tinggal di perumahan elit yang di prakarsai Angkasa. Hebat kan adikku, di usianya yang terbilang muda dia menjadi eksekutif muda.

__ADS_1


Angkasa selesai kuliah arsitektur dalam kurun lima tahun. Untuk jurusan dia lima tahun termasuk cepat. karena saat itu teman angkatannya belum ada yang selesai. Hanya dia dan tiga mahasiswa yang tamat lebih cepat.


Tanpa embel-embel papa sebagai pemilik pabrik PT. Bramantyo. Tanpa orang tahu dia anak no 1 pengusaha di Lembang. Angkasa berdiri sendiri bekerja di sebuah perusahaan property. Hingga dua tahun dia pun di percaya mengelola pembuatan perumahan. Milik papanya Embun.


Iya, yang aku dengar papanya Embun tertarik pada Angkasa, adikku. Padahal dulu sewaktu aku mendekati Embun hingga pacaran selama lima tahun. Tidak ada mereka menyambut aku dengan baik. Andai aku bilang kalau ini adalah anak dari pengusaha no 1 se- Lembang apa mereka masih bersikap seperti itu.


"Assalamualaikum," suara sapaan terdengar memasuki rumah kami. Aku hanya mengintip dari dapur tanpa harus menampakkan diri.


"Jar, itu tamu sudah datang kok kamu masih di dapur," itu suara Buklik Ayu, adik papaku.


"Lapar, Buklik. Ini makanan enak semua. Jadi lapar." kilahku. Padahal aku malas ketemu mereka.


"Jar, kamu temani papa di depan sebagai anak tertua di keluarga kita." Haduh, malas banget berada di sana.


"Iya, Pa."


Dua keluarga besan pun berkumpul di ruang tamu. Papa pun membaurkan aku di tengah keluarga Arya dan Embun.


"Assalamualaikum, Mas Trias. Ini anak saya yang paling tua. Namanya Fajar Bramantyo."


Aku menebak raut wajah si calon besan papa yang matre itu pucat.


"Om, saya Fajar Bramantyo, anak papa Arjuna Bramantyo yang paling tua." kata paling tua aku sengaja tegaskan pada keluarga itu.


"Oh, iya." sikap mereka berubah datar.


"Kamu tahu, Nak. Papa sangat suka sama Angkasa karena dia anak yang mandiri. Bukan anak yang berkembang karena sekedar menggantikan papanya. Itu sama saja dengan sembunyi di ketiak induk."

__ADS_1


Aku tahu kalau yang di maksud om Trias siapa. Kasihan Angkasa dapat mertua seperti mereka.


__ADS_2