
Dalam hubungan kita dengan orang terdekat, seperti pasangan, anak, atau sahabat, kita terkadang tidak bisa menghindari konflik yang sangat mungkin terjadi. Salah satu cara untuk menyelesaikan konflik tersebut adalah berbicara dari hati ke hati. Banyak hal kecil yang menjadi permasalahan besar akibat adanya kesalahpahaman.
Ketika kita mampu berbicara dari hati ke hati dengan orang terdekat, hal itu akan dapat menjernihkan kesalahpahaman dan kita bisa melihat permasalahan dengan lebih jelas.Tak hanya itu, berbicara dari hati ke hati akan menghilangkan prasangka buruk.
Sebab, hal yang semula ada dalam pikiran kita tentang seseorang, mungkin saja tidak demikian keadaannya. Prasangka buruk yang terus kita pelihara hanya akan membuat hubungan sosial kita menjadi buruk dan tidak adanya kepercayaan satu sama lain.
Berbicara dari hati ke hati akan memudahkan seseorang mengungkapkan perasaan sejatinya, apalagi jika dilakukan pada waktu yang tepat, serta dengan hati yang tenang dan pikiran yang dingin. Tentu saja, bukan sekadar mengetahui, kemampuan untuk bisa saling menerima dan memahami perasaan satu sama lain juga penting.
"Aku tidak tahu kalau kamu suka sama hamster, Mas. Ini pasti belinya mahal." Echa memulai obrolan.
"Ini punya Randi. Dia bilang aku tuh mirip hamster, nggak bisa diam.
Cenderung asyik diajak seru-seruan bareng. Meski begitu, terkadang juga suka menunjukkan sifat kekanak-kanakan dan cenderung tidak mau mengalah. Kata Randi aku juga punya sisi lain yang cocok sama hamster, cenderung memiliki sisi gelap dan misterius atau masalah yang ingin di sembunyikan."
"Itu ciri khas yang pertama penilaian Randi atau pemikiran Mas Panji sendiri?"
"Maksudnya?"
"Ya, aku kan tahu kamu suka narsis, Mas. Merasa ganteng, senang jadi pusat perhatian. Walaupun.." Echa menarik nafas dalam-dalam. Ingin dia mengiyakan soal penilaian terakhir. Seribu kata cinta terucap dari Panji. Tetap saja masih ada sisi gelap suaminya. Seperti romantis yang di paksa keadaan.
"Walaupun apa?"
"Tidak apa-apa, Mas. Aku sudah lupa mau ngomong apa. By the way bus way, kamu baik juga mau memelihara hewan kesayangan Randi. Kenapa tidak di kembalikan pada orangnya saja. Oh ya, aku tidak pernah lagi lihat Randi main ke kantor. Biasanya kan Mas yang kesana atau dia yang main ke kantor."
Echa tidak salah bicara. Randi dan Panji itu sangat dekat untuk ukuran sepupu. Malah Echa merasa keduanya memiliki wajah yang sangat mirip. Padahal kata Panji, baik Mia maupun Randi menurunkan wajah Adrian.
Echa memperhatikan mimik wajah suaminya. Apa kah yang dia bahas agak sensitif sehingga Panji mendadak sendu.
"Mas, ada apa? apa kamu dan Randi ada masalah?" tanya Echa.
"Aku rindu Randi, Cha. Kamu tahu? setiap aku ada masalah Randi selalu ada. Dia sudah seperti adikku sendiri. Ketimbang sama Mia, aku merasa kedekatan lebih dalam pada Randi. Mungkin karena kami sama-sama lelaki.
Aku merasa bersalah setelah tahu apa yang terjadi pada Randi. Dia merasa terasing di keluarga mertuanya. Kata Mia, saat Randi pindah ke kontrakan, belum dua bulan Mona pulang sendiri ke rumah orangtuanya. Alasannya, kehidupan Randi bukan makanannya. Mona tidak betah tinggal di lingkungan barunya. Sementara kalau Randi ikut pulang ke rumah mertuanya, dia akan kembali di injak harga dirinya oleh mereka."
__ADS_1
"Kok bisa begitu?" Echa masih belum paham cerita suaminya.
"Karena sejak om Adrian masuk penjara, sikap mereka berubah. Tadi nya yang menerima Randi sebagai menantunya kini malah memandang sebelah mata. Hanya karena besannya sudah masuk penjara dan jatuh miskin."
"Mas tahu dari mana?"
"Dari Mia, dan aku baru tahu dari Elsa kalau Randi sudah di berhentikan oleh kampus. Karena mereka malu dengan kasus om Adrian."
Echa mengerutkan dahinya. Menurutnya kebijakan memecat orang karena kesalahan keluarga tidak etis. Kecuali kalau si pekerja atau pegawai yang melakukan kesalahan.
"Mas, aku pikir ketidakadilan hanya untuk orang kecil seperti kami. Ternyata orang kaya seperti kalian pun mengalaminya. Kenapa kamu tidak bantu Randi memberikan pekerjaan?"
"Aku terlalu sibuk sama urusanku sendiri. Bahkan untuk melihat apa yang terjadi di sekeliling saja aku tidak peka. Seandainya aku tahu sejak awal, sudah pasti akan aku bantu." kepala Panji menunduk.
Tampak rasa bersalah yang mendalam. Dia terlalu asyik memperbaiki citranya di keluarga Savira. Dia terlalu sibuk dengan dunia perempuan yang di cintainya.
Echa mencoba menenangkan suaminya. Tangannya menggenggam erat, seakan dia ingin bilang akan selalu ada buat Panji.
"Maaf, Mas. Karena ucapanku kamu jadi teringat sama Randi."
"Terimakasih, Sayang." sambung Panji.
"Aku nggak ngapa-ngapain, Mas. Kok malah terimakasih?"
"Karena kamu hadir untuk menguatkan aku. Aku minta maaf karena sering bikin kamu kecewa. Aku juga ..." Echa meletakkan telunjuk tangannya di bibir Panji.
"Mas, aku juga minta maaf atas semua pikiran nethink ku. Karena aku merasa kamu masih di bawah kenangan bersama Savira. Bukan aku cemburu tidak berdasar, tapi aku takut jika memang kamu belum benar menerima pernikahan ini. Aku takut seperti ibu, yang sering di tinggalkan ayah demi mantan pacarnya."
"Cha, aku masih berusaha menjadi suami yang baik buat kamu. Kalau aku ada salah arah tolong ingatkan."
"Iya, Mas. Begitu juga sebaliknya." Panji berdiri melabuhkan kecupan di dahi Echa.
Panji mengangkat Echa menuju sudut taman belakang rumah. Mendudukkan Echa di salah satu blok tangga pintu belakang. Ada tiga blok penurunan. Echa dan Panji duduk di blok paling atas.
__ADS_1
Langit masih menampakkan warga kuning pekat terlihat bagian barat. Menampakkan indahnya keagungan Allah SWT, masih jam dua siang. Masih duduk berdampingan, sambil saling menggenggam erat jemari. Echa menyandarkan kepalanya di bahu Panji. Tak berapa lama langit berubah menjadi abu-abu.
"Cha, kalau kita pindah ke sini kamu mau?"
"Kenapa?" tanya Echa menatap manja ke arah suaminya.
"Tidak apa-apa, sepertinya lebih bagus di sini. Suasananya lebih tenang ketimbang di tengah kota." Panji membalas tatapan Echa. Tiada jarak diantara mereka, Panji pun menarik dagu Echa lebih dekat lagi.
"Cha, Ji .. . Makan dulu." Bu Laksmi sudah berdiri di depan mereka.
Panji dan Echa sontak memisahkan diri. Mereka dibuat salah tingkah setelah kedapatan hampir berciuman oleh Bu Laksmi. Wanita paruh baya itu bersikap cuek bebek mengulang panggilannya pada anak dan menantunya.
"Cha, Ji. Kalian makan dulu, apalagi kamu Echa, kan harus minum obat."
"Mas, kursi ku mana?"
"Aku yang akan jadi kursi kamu, Cha." kata Panji.
Panji sudah menggendong Echa ala bridal style. Tangan Echa sudah mengalung di leher suaminya.
"Kita ke dalam ya, sayang. Kamu harus makan lalu minum obat biar cepat sembuh. Nanti aku temani."
Baru saja mereka duduk di kursi Panji merasa ponselnya bergetar.
"Iya, Pak."
"Sudah di tangkap? Oke, Pak. Saya sebentar lagi akan kesana."
"Ada apa, Mas?"
"Lani sudah di tangkap sama pihak kepolisian. Dia terlibat atas kekacauan di acara resepsi pernikahan kita."
"Alhamdulillah," semua yang ada di ruang makan berucap penuh syukur.
__ADS_1
...***...
Ada yang kangen sama kisah Ayla? part depan bakal di up.