After Wedding (Panji Dan Echa)

After Wedding (Panji Dan Echa)
BAB 20


__ADS_3

"Jadi kamu tinggal di sini, Re?" kata Rini yang mengantarkan There pulang ke apartemen.


"Iya, suamiku tinggal disini. Sebagai istri ya ikut kemana suaminya." jawab There singkat.


"Wah, kalau tinggal di apartemen begini jabatan suami kamu pasti bukan kaleng-kaleng. Kalau aku jadi kamu, Re nggak akan mau kerja. Tinggal di tempat seperti ini aja udah wah dan pasti pakai pelayan."


"Enggak, kok. Kami cuma tinggal berdua. Ya suamiku juga kerja bukan jabatan besar. Katanya dia lagi cari perumahan gitu."


"Kenapa harus di perumahan, Re. Disini juga enak." Rini belum melepaskan kekagumannya terhadap gedung besar di depannya.


"Aku kedalam dulu, Rin. Maaf aku belum bisa ajak kamu ke tempatku. Segan sama yang punya rumah." Rini mengangguk kecil. Dia juga paham kalau temannya belum membiasakan diri.


There hanya tersenyum tipis. Dia hanya minta Rini menunggu di lobby saja. Sementara dirinya pulang ke apartemen untuk meletakkan tasnya saja. Saat ini dia belum berani mengajak Rini masuk ke apartemen Panji. Takutnya ketahuan kalau Panji lah suaminya.


Dia bisa saja ajak Rini masuk ikut melihat tempat suaminya. Namun, dia baru ingat kalau Panji saja belum mau publikasi tentang mereka. Echa merebahkan tubuhnya di atas ranjang. Pandangannya menerawang ke dinding langit kamarnya. Memejamkan mata sesaat. Tersadar saat handphonenya berdering.


"Iya, Rini. Tunggu bentar aku susul ke lobby." kata Echa.


"Re, aku pulang duluan, Ya. Tadi pak Panji menelepon suruh aku balik ke kantor. Aku sekarang sudah di taksi. Nggak apa ya, Re."


"Iya, nggak apa-apa. Terimakasih kamu sudah belain aku tadi. Sudah antar aku pulang."


"Enggak apa-apa, Re. Kamu kayak siapa saja. Kita kan teman. Aku pamit ya, kamu istirahat. Jangan kerjakan dulu tugas pak Panji." Echa dan Rini saling menutup telepon. Sekarang dia kembali merebahkan tubuhnya di atas ranjang.


Echa ingin menenangkan diri sejenak namun deringan telepon membuatnya terbangun.


"Ibu." batin Echa.


Secepatnya mengangkat telepon dari ibunya. Mungkin seperti kata suaminya kalau Bu Laksmi akan pergi ke Jakarta.


"Assalamualaikum, Bu." sapa Echa melalui video call.

__ADS_1


"Waalaikumsalam, Nak. Kamu sudah di rumah, bukannya kata suamimu kamu sudah masuk kerja."


"Iya, Bu. Soalnya sudah tidak ada yang di kerjakan lagi. Jadi aku di suruh pulang sama mas Panji. Ibu kapan kesini?" suara Echa setengah manja.


"Ibu, kesini besok lusa, Nak. Bareng keluarga yang lain. Ibu tadi telepon kamu tapi nggak aktif. Makanya telepon nak Panji, katanya kamu sudah masuk kerja."


"Iya, Bu. Soalnya masih ada yang belum selesai pas aku sebelum nikah dulu. Jadi harus profesional."


"Cha, ibu harap kamu tetap profesional ya, Nak. Jangan mentang-mentang suamimu mengizinkan kerja terus mengabaikan tugas sebagai seorang istri. Jangan mentang-mentang suami kamu adalah atasan di kantor kamu seenaknya di sana. Kerja ya kerja, selama dia di kantor atasanmu. Saat di rumah dia suami kamu. Paham!" Nada tegas ibu Laksmi membuat Echa tertohok.


"Paham, Bu." jawab Echa lirih.


"Kamu mau ibu bawakan apa, Cha? biar ibu buatin kesukaan kamu."


"Ibu datang saja itu sudah kado buat aku. Nggak perlu bawa apa-apa. Aku kangen banget sama ibu. Pengen punya teman juga selama di rumah. Kalau ibu tinggal di sini aku akan resign dari pekerjaan." kata Echa.


Ibu merupakan sosok paling berjasa dan berarti bagi kehidupan setiap orang. Mulai dari kandungan hingga tumbuh dewasa, seorang anak dirawat dan dididik oleh ibu dengan tulus dan penuh keikhlasan.


Bahkan, kasih ibu tidak akan pernah terbalaskan dengan segala harta benda yang ada di dunia. Namun, setidaknya seorang anak perlu mengucapkan rasa terima kasih atas semua jasa-jasa ibu.


Itulah yang Echa rasakan pada ibunya. Sejak tahu masalah sebenarnya dalam rumah tangga orangtuanya. Echa selalu berhati-hati ketika beberapa pria mendekatinya. Jujur dulu dia memang pernah terselip rasa damba pada Afan saat SMA. Walaupun begitu harapannya untuk menyusul Panji ke Jakarta tetap besar.


Harapan yang dia pupuk sejak mengenal lelaki itu ketika usia sekolah dasar. Sempat down ketika mendengar kabar Panji pulang membawa seorang gadis bernama Kanaya. Gadis yang katanya bakal jadi calon istri Panji.


Di kala itu ibu lah yang menguatkan dirinya. Sayangnya Echa masih memusuhi sang ibu. Karena kata neneknya ibu lah yang membuat ayahnya pergi dan tidak kembali. Tangisan ibu Laksmi saat neneknya membawa Echa ikut tinggal bersama sang ayah. Tak membuat gadis itu tergugah, bisikan cerita jelek dari sang nenek terus merasuki pikirannya. Dia percaya semua cerita neneknya.


"Jangan bawa Echa, Bu! ibu boleh benci sama saya karena sudah membuat mas Wahyu berpaling ke wanita itu. Tapi jangan pisahkan saya dengan anak kandungku!"


Ucapan permohonan dari Laksmi tidak mengurungnya niat Echa yang mau tinggal sama ayahnya. Bahkan ibu Laksmi memohon pada anaknya sendiri tetap saja tidak merubah apapun.


"Kalau ibu sayang sama Echa, ibu tidak akan buat ayah pergi. Ibu tidak akan biarkan Echa tidak punya ayah. Ibu jahat! ibu jahat membiarkan ayah sendirian di perantauan." amuk Echa yang saat itu berusia 15 tahun.

__ADS_1


Di masa sekarang, dia baru sadar betapa kasih sayang ibunya teramat dalam. Banyak hal yang membuat matanya terbuka. Termasuk saat sekolah di solo dia tidak naik kelas. Keluarga ayahnya memintanya pulang ke Jogja sendirian. Pada masa itu dia memberanikan diri mengabari sang ibu.


Echa berjalan menuju balkon kamar. Menatap aktivitas Jakarta karena sudah masuk jam pulang kerja.


Pemandangan teralih melihat sepasang suami istri paruh baya berjalan menggeret gerobak jualan. Tak jelas yang ada di dalam gerobak tersebut. Yang membuat Echa takjub saat istrinya melepaskan sendal. Sang suami meminjam sendal jepit untuk di pakai istrinya.


"Seandainya mas Panji seperti itu pasti senang sekali"


"Ya Allah mudahkanlah semua pekerjaan Mas Panji." doanya.


"Terimakasih doanya." Echa kaget sebuah tangan melingkar di pinggangnya.


Seketika dia berbalik melihat suaminya sudah di depan mata.


"Aku minta maaf soal di kantor tadi. Aku harus adil karena statusku adalah atasan. Di mohon kamu mengerti posisiku ini. Lagian kita akan mempersiapkan resepsi pernikahan. Aku sengaja memberi kamu skors karena kalau kerja akan susah jadinya. Maafkan aku ya, Cha." Panji mengecup siku jemari Echa.


"Apa aku salah kalau ingin orang tahu tentang pernikahan kita? aku bukan maksud mau pamer ke orang kalau suamiku bos ku sendiri. Hanya saja, aku takut ada orang yang berusaha menyusup dalam rumah tangga kita."


"Kamu tidak percaya sama aku?" tanya Panji.


"Bukan aku tidak percaya sama kamu, Mas. Cuma boleh kan sebagai istri aku harus waspada. Jaga-jaga karena lelaki sejatinya manis di bibir saja. Maaf, Mas." Echa melepaskan pelukan dari Panji.


"Tapi aku juga mau bukti kalau kamu benar-benar mencintai aku. Seperti yang pernah di bilang Paklik Malik."


"Jangan bilang kalau ...."


"Maaaas turunin!" Echa terus menepuk dada Panji.


"Aku mau mandi tapi temenin, ya" Panji mengedipkan mata.


Astaga!

__ADS_1


__ADS_2