
Di depan sebuah kaca tampak seorang wanita dengan wajah polosnya. Polos tanpa riasan apapun. Tadinya saat dia berangkat pagi sekali dari apartemen bersama ibu dan suaminya. Dia di pesan pada sang ibu tidak usah rias dari rumah. Toh nanti bakal ada MUA dan juga desainer pilihan Panji yang akan merubah penampilannya. Bukan hanya sang ibu yang berpesan, suaminya pun mengatakan hal yang serupa.
Matanya memandang langit pagi di kota Jakarta, Fajar di bulan awal Agustus 2023 dengan cahaya kekuningan menaungi gedung-gedung bertingkat menjulang tinggi. Sedikit dia membuka jendela guna menghirup udara segar.
Mobil Panji terbuka dari atap, membuat dirinya ingin menyembulkan kepalanya di atas sana. Seketika dia baru ingat ada ibunya, tentu dia harus menjaga sikap agar tidak mendengar ayat-ayat emak-emak.
Panji paham keinginan istrinya, dia juga paham kalau Echa segan dengan sang ibu. Sama, dia masih canggung atas keberadaan sang ibu mertua. Hal ini dia sampaikan saat Echa mengutarakan keinginannya mengajak sang ibu tinggal bersama mereka.
Untuk saat ini Panji masih agak keberatan dengan kehadiran ibu mertua. Bukan karena takut terkekang, melainkan karena Echa juga masih bekerja serta dia masih butuh momen pendalaman antar pasangan.
Flashback on
Malam tadi saat semua sudah terlelap, Panji duduk di samping istrinya. Setelah masalah tentang cincin untuk Savira menjadi perdebatan panjang antara mereka berdua. Panji tahu tidak segampang itu istrinya mau mendengarkan penjelasannya. Pasti dia akan tetap berusaha meyakinkan Echa kalau hanya istrinya yang di cintainya.
"Cha, apa kamu masih marah sama aku?" tanya Panji menyelip di balik punggung istrinya.
Tak ada respon dari Echa, mata wanita itu masih terpejam. Panji paham Echa tidak tidur, tampak dari wajah wanita itu terlihat sembab. Jemarinya mengusap wajah mulus wanita halalnya.
"Aku tahu kamu tidak tidur, Cha. Tapi satu hal yang wajib kamu tahu! Aku mencintaimu bukan karena sejak kamu jadi istriku. Aku mencintai sejak kedekatan kita setelah putus dari Savira. Sejak kamu memilih cuti dalam beberapa hari aku merasa hilang. Lebih sesak saat kamu bilang mau resign karena akan menikah. Tapi tidak terpikirkan kalau Echa dan Theresia adalah orang yang sama."
"Sakit Ku semakin terasa saat Afan membatalkan rencana pernikahan kalian. Sakit Ku semakin sesak melihat kamu terluka karena gagal menikah. Tapi aku merasa bahagia saat Bu Laksmi menawarkan menggantikan Afan menjadi suamimu."
Echa membalikkan punggungnya. Tak ada gunanya dia menyembunyikan perasaannya. Pura-pura tidur pun bisa ketahuan, apalagi perasaannya. Sekarang dia sudah duduk di hadapan suaminya. Kedua saling melempar pandangan dengan jarak yang sangat dekat.
"Mas, aku tidak tahu kenapa setiap berurusan dengan Savira rasanya sakit. Sakit saat melihat kamu bahagia ketika kamu membelikan gaun untuk dia. Kamu ingat, Mas, aku memilih gaun itu sesuai kata hatiku. Berkhayal bisa memakainya, tapi nyata itu hanya mimpi. Perlahan-lahan aku sadar kalau itu tidak mungkin terjadi."
"Cha, sejak kapan rasa itu mulai tumbuh?" tanya Panji.
"Sejak kecil." kata Echa lirih.
"Pernahkah kamu berpikir membuka hati pada pria lain?"
"Pernah? Pria idamanku saat itu kak Afan. Tapi cuma bisa mengagumi dari jauh dan tidak sampai mencintai lebih dalam. Saat tamat kuliah, aku sudah ancang-ancang ke Jakarta mencari kamu. Tapi tidak terpikirkan saat itu kalau bos ku adalah kak Ji."
"Dan sekarang bagaimana perasaanmu setelah menikah denganku, Cha."
"Maaf, Mas. Aku rasa pertanyaan itu cocok buat kamu. Bagaimana perasaan mas setelah tahu aku adalah Echa? bagaimana perasaan Mas Panji setelah menjadi suamiku. Aku bertanya seperti ini karena merasa kamu masih di bayangi sosok Savira.
__ADS_1
Ya, aku tahu kalau Savira sudah memilih pria lain. Aku juga sudah lama tahu kalau Pandawa juga suka sama Savira. Namun aku memilih bungkam karena berharap ada slot mendapatkan kamu, Mas. Jahat kedengarannya, tapi itu salah satu usaha dan harapanku. Dan nyatanya tanpa aku berusaha kita malah jadi suami istri."
"Cha, Besok kita akan mengadakan resepsi pernikahan. Dan dari saat itu kamu sudah jadi istriku seutuhnya. Istri dari seorang pengusaha kecil, Panji Agung Laksono. Tidak ada lagi yang akan kita sembunyikan dari orang banyak. Hanya saja semua itu butuh proses juga."
"Mas, maaf. Aku boleh tanya sesuatu?"
"Kamu mau nanya apa, Sayang?" tangan Panji mengusap rambut wanita halalnya. Sesekali Panji memijit siku jemari Echa.
"Mas, bolehkah mengajak ibuku tinggal bersama kita? aku kasihan lihat ibu tinggal sendiri di desa. Kamu tahu sendiri kan satu-satunya yang ku punya hanya ibu." lirih Echa.
"Iya, aku tahu keluargamu hanya ibu Laksmi. Tapi ..."
"Apa Mas Panji keberatan?"
"Sebenarnya aku senang kalau ibu tinggal bersama kita. Kamu ada yang menemani dan rumah jadi ramai. Tapi untuk saat ini aku belum bisa menerima ibu. Aku ingin menciptakan waktu hanya untuk kita berdua. Saling mengenal lebih dalam satu sama lain. Tanpa campur tangan tangan orangtua. Dan kalau memang kamu ingin ibu disini. Tandanya kamu harus berhenti kerja. Percuma ibu tetap disini kalau dia sendiri di rumah."
Echa melepaskan tangan dari genggaman suaminya. Entah kenapa mendengar permintaan resign sangat berat di rasa. Dia masih ingin kerja, berkarir sesuai cita-citanya. Apalagi satu kerja dengan suaminya. Mengawasi Panji dari beberapa wanita ataupun klien yang mencoba menggoda suaminya.
Salahkah pemikirannya?
Echa berdiri menatap langit di penuhi bintang-bintang. Langkahnya sudah tertahan di pagar balkon kamarnya. Melipat kedua tangan di atas pagar besi berwarna putih.
"Iya, Maaf ya, Mas. Aku akan berhenti jika aku hamil."
"Tak apa. Aku juga tidak mau kamu merasa bosan di rumah. Walaupun sebenernya aku ingin sekali kamu tetap di rumah. Mengirimkan masakan untukku, atau datang ke kantor untuk mengantarkan bekal untukku. Aku juga mau kamu mendampingi aku di setiap kegiatan perusahaan. Bukan sebagai
manejer ataupun sekretaris. Tapi sebagai nyonya Panji Agung Laksono."
"Tapi bagaimana dengan ibu?" Echa terpikir ibunya akan sangat kesepian di rumah.
"Kalau sementara ini jika ibu mau tinggal lama di sini tak masalah. Dia tahu kamu kerja, sudah pasti akan sendirian di apartemen. Atau aku akan kasih kamu jam pulang cepat supaya bisa menemani ibu. Bagaimana?"
"Mas, jangan terlalu menonjol. Karyawan lain bisa curiga nantinya."
"Setelah pesta pernikahan kita mereka tidak akan berani curiga sama kamu. Aku pastikan itu."
"Mas, jangan pakai kuasa mu. Di kantor aku tetap pegawaimu, di rumah aku istrimu. Jangan mentang-mentang kita suami istri kamu memperlakukan aku terlalu istimewa. Samakan saja"
__ADS_1
"Baik tuan puteri kesayangan mas Panji." Panji bergaya memberikan tanda hormat kepada Echa.
"Sudah malam. Bukankah kita akan mengadakan resepsi besok. Ingat kita akan mengadakan acara dari jam 10 pagi sampai malam."
"Haa... Sampai malam, Mas. Kasihan ibu dong kalau ikuti sampai jam segitu."
"Pokoknya kamu tenang saja. Terima beres!" Echa sudah berada dalam rentangan kedua tangan suaminya. Tangannya mengalung di leher Panji. Tanpa pamit keduanya sudah bergelut di bawah selimut.
Flashback off
Mobil sudah berhenti di depan sebuah hotel ternama. Lokasi yang sudah termasuk daerah wisata alam kota jakarta. Echa dan ibu Laksmi sudah turun dari mobil di iringi gandengan tangan oleh Panji. Di sebelah kanan Echa menggandeng lengan suaminya. Di sebelah kiri ada ibu Laksmi yang di minta Panji juga menggandeng sebagai seorang ibu.
Di depan pintu kamar sudah menunggu MUA yang siap merubah penampilan Echa.
"Ibu saya antar ke ruangan di mana Tika dan keluarga lainnya menunggu."
"Iya, Nak Panji."
Setelah Echa masuk ke ruang make up. Panji pun mengantarkan mertuanya ke sebuah ruangan di mana keluarga lainnya sudah lebih dulu berkumpul.
...****...
Sementara di ruangan lain beberapa orang perempuan duduk di lobby. Mereka sudah datang lebih cepat dari acara di mulai. Salah satu dari mereka menerima telepon.
"Kalian dengar, kerabatku saat ini sedang merias Istri dari pak Panji. Aku minta dia untuk photo tapi tidak di balas. Penasaran bagaimana paras istrinya pak Panji. Kalian penasaran nggak?" kata Lani setelah menutup teleponnya.
"Penasaran sih, tapi kan kita bisa lihat pas acara nanti. Kalau sudah tahu sekarang nggak surprise lagi." kata Amel.
"Nah bener tuh," sahut Sasya.
"Apa yang benar, Sya?" sahut Lani.
"Benar yang di bilang Amel." kata Sasya.
"Jadi nggak ada yang mau gerebek kamar rias pak Panji. Ya sudah aku saja yang pergi."
"Pergi saja. Kalau pak Panji tahu kamu bukan lagi di letakkan di gudang. Tapi di turunkan posisi paling bawah. Atau mungkin jadi butuh pabrik." sahut Amel.
__ADS_1
"Kemungkinan terburuk ya di pecat." tambah Amel.